
Bukan Arion namanya kalau pagi ini sudah ngambek gak mau sekolah "Arion, sekolah nanti ibu tungguin sampai pulang, ucapku memastikan.
"Ayo, habiskan makannya, Lintang sudah di tunggu kakak buruan."
Mas Rian hanya menatapku dengan heran dan dua ibuku hanya menggelengkan kepalanya saja, " ajari mereka untuk mandiri Pram jangan terlalu mendiktenya" ucap ibu bersamaan.
"Setelah kejadian Arion, aku jadi sedikit takut bu" sembari ku lanjutkan membereskan Arion.
Sudah pukul enam empat lima pagi aku mengajak Arion berangkat, hari ini aku benar benar menunggunya hingga pulang sekolah.
Dan saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Arion berhenti, "ada apa? tanyaku, Arion kemudian kembali menggeleng dan meneruskan langkahnya, tak ada apa-apa di situ, tapi sepertinya Arion mengingat sesuatu.
"Bu, aku kemarin di ajak jalan lewat sini dan berbelok ke jalan itu" sambil tangannya menuju jalan menuju makam.
"Memang Arion di ajak siapa nak? tanyaku lagi.
"Emak, emak... "wajahnya mirip emak."
"Aku di jemput emak di luar halaman, emak melambai lambai padaku bu."
"Nak, emak kan sudah meninggal dan mulai sekarang siapapun yang mengajak Arion baik kenal maupun tidak kenal, tidak boleh ikut tanpa seijin ibu, ingat itu!" ucapku sembari meraih tangannya untuk melangkah lagi.
Mungkin dengan pengertian sederhana ini Arion akan mengerti meskipun belum paham.
Hingga tiba di rumah, nampak Arion sudah kembali sedia kala, kembali menjadi Arion ku.
"Nak, tidur yuk ajakku, karena memang aku sudah sangat mengantuk, sebelum naik ke atas aku berpesan pada mbak, mbak di rumah.
"Arion ayo, kalau Arion gak tidur mainan di atas saja" ucapku yang mulai over protec.
"Pram, biarkan dia bebas bermain toh di dalam rumah ada ibu, toh sebentar lagi juga Arion tidur" ucap ibu sembari duduk nonton televisi.
"Tidurlah, ada ibu."
Ini seperti hari tenang untukku tertidur hingga sore menjelang magrib "anak-anak sudah berangkat mengaji bu" ucap mbak Ning saat melihatku turun dari tangga, "terima kasih mbak" ucapku sembari aku menguap beberapa kali.
Kemudian kembali naik ke atas untuk mandi dan melaksanakan sholat yang terlewatkan.
__ADS_1
Hingga selepas magrib, anak-anak datang bersama ibu, setelah meletakkan tas mengaji mereka, Lintang dan Arion kembali membuat ulah sementara Kinanti dan Kinara memilih naik ke atas.
Aku pun masih sibuk memeriksa bon-bon yang harus ku selesaikan.
Belum juga aku berdiri mas Rian tiba-tiba datang dengan wajah tegangnya dan memanggil dua ibu.
"Mas, kenapa, kok serius sekali?" kemudian aku meletakkan pekerjaan ku begitu saja dan menghampiri mas Rian.
"M .... duduk dulu, ibu juga"kata mas Rian lagi.
"Gini bu, Rian dengar akan di bangun jalan tol di daerah kita dan sawah kita akan terkena dampaknya, mungkin hingga separoh dari sawah kita yang kena bu dan itu pun nantinya akan di ganti rugi" jelas mas Rian.
"Masih lama memang, ini hanya sekedar wacana pemerintah tapi peta birunya sudah ada di pak camat dan yang memberi tahu juga mereka-mereka, menunggu para pemilik sawah setuju dengan harga yang di berikan pemerintah" jelas mas Rian lagi.
Seketika aku dan ibu berpandangan "lalu gimana para pekerja Rian, kasian mereka sudah seperti saudara" ucap ibu sembari menunduk.
Aku masih terdiam sesaat, "kira kira kapan itu mas tanyaku lagi, "mungkin rencananya dua tahun kedepan.
"Bu, gimana kalau kita bikin usaha dan itu kan sawah kita masih ada setengahnya, kita tawarkan pada para pekerja siapa yang masih ingin kerja di sawah dan siapa yang ingin ikut kerja di usaha kita nantinya.
"Usaha apa yang bisa di rintis dalam setahun dua tahun Pram? tanya ibu lagi.
"Ibu setuju, setuju saja Pram" ucap ibu dengan tersenyum.
"Bu dan bu Asih mau naik haji atau umroh dulu" tawarku lagi.
Mendengar ini ibu hanya saling pandang dan tersenyum "Sudah, Pram uruskan Insyaallah tahun depan ibu bisa berangkat" ucapku sembari merangkul ibu.
"Terimakasih ya nak ,ternyata secara diam-diam kau memikirkan ini.
Mas Rian tersenyum menatapku dan langsung merangkulku , "terima kasih" ucapnya lagi.
Sudah hampir malam Lintang dan Arion ternyata sudah keatas saat kami berbincang seperti rutinitas biasanya aku selalu melihat ke kamar anak-anakku, senyumku terkembang saat melihat anak-anakku sudah terlelap dalam mimpinya.
Kini aku menuju kamarku dan mas Rian, nampak masih belum tidur.
"Kok belum tidur mas? sembari aku naik dan ikut bersandar sandaran ranjang.
__ADS_1
"Pram...aku hanya khawatir dengan sawah kita,
apa ibu benar benar setuju, aku jadi takut.
" Ya nanti mas ajak saja ibu saat pak camat ngasih informasi, biar ibu juga tahu" jawabku seenaknya.
"Sudah tidur mas, hari ini aku capek sekali" ucapku sembari meraih selimut.
"Hem, tapi aku belum bisa tidur Pram dan aku belum capek, buat aku capek Pram."
Sesaat Pram menatapku kemudian tersenyum
"Sini mas aku bikin capek dengan gesit Pram naik ke tubuhku, "hem, ini rasakan tahu istrinya capek kok maunya aneh-aneh " sembari terus mengelitik perut dan kakiku.
" Hahaha .... tawaku langsung lepas begitu saja, "ampun Pram sudah, sudah, ayo tidur perutku sampai kaku Pram" ucap mas Rian sambil terus tertawa.
Tawa mas Rian benar-benar berhenti saat Arion mengetuk pintu dengan keras "bu ... bu ... bu kini sambil berteriak memanggil.
Dengan sedikit berlari aku membuka pintu
"ada apa, Arion? tak menjawab tapi langsung lari dan naik ke kasur.
"Ada hantu tertawa, hahaha ....aku jadi takut" ucapnya sembari memeluk mas Rian.
"Arion mau tidur di sini, Arion takut nanti hantunya tertawa lagi."
Aku hanya senyum-senyum saja sementara mas Rian melotot menatapku.
"Hem, boleh, boleh tidur di kamar ibu, biar hantu ketawanya pergi" ucapku sembari memeluk Arion.
"Tidur mas, besok kesiangan loh" ucapku sembari tersenyum penuh kemenangan.
Sementara mas Rian, masih menatapku penuh harap dan tak lama kemudian ikut berbaring di sisi Arion.
Hingga tengah malam nampak mas Rian masih belum terlelap dan masih terus menatapku.
Aku yang pura-pura tertidur pun akhirnya tak tahan juga sana Arion sudah tidur pindah saja ke kamarnya, asal besok pagi jangan salahkan Arion, jika cerita sama kakak-kakaknya kalau ada hantu ketawa dari kamar bapak dan ibu.
__ADS_1
Ternyata ancamanku ampuh mas Rian tak jadi memindahkan Arion ke kamarnya tapi malah menggeser tubuh Arion di samping dan mas Rian kini tidur sembari merangkulku.
"Mas, mas, gak mau kalah sama anaknya" setelah itu aku benar benar tertidur hingga pagi menjelang.