
Dengan sedikit tergesa Pram menyusul di belakang ibu, shalat yang sudah terlewat satu rakaat, setelah menambah satu rakaat yang tertinggal dan mengucap salam Pram langsung melipat sajadah dan mukenaku.
Melihat ibu juga sudah selesai berdoa."Bu, pulang yuk," ajak Pram dengan berbisik.
"Pulanglah dulu Pram ibu masih mengaji dan masih ada sesuatu yang pingin ibu bicarakan dengan Asih," ucap ibu pelan juga.
Tak menunggu lama Pram berpamitan. Melihat Rian masih berdzikir begitu juga bu Asih.
Kini badan Pram serasa capek setelah apa yang Pram lakukan tadi siang, berjalan dengan sedikit pelan hingga sampai di belokan.
"Aduh, jangan sekarang badan aku sudah sangat capek," ucap Pram lirih.
Berjalan dengan menunduk, menghindar dari apa yang Pram lihat. "Waduh, ucap Pram lirih tanpa melihat sosok yang ada di depannya.
Hingga cukup jauh dari sosok itu kembali Pram mendongakkan kepalanya dengan berjalan sedikit tergesa tapi serasa tak kunjung sampai. Langkah Pram menuju rumah. "Ah, sudah aku bilang, aku capek, masih ngotot saja," ucap Pram sembari berbalik.
Dan saat aku berbalik betapa terkejutnya, "Kamu ... ucap Pram terkejut. Hanya tawa sosok ini yang Pram dengar.
'Nggak usah menghalangi. Sudah aku bilang, aku capek, kamu sekarang pergi lah," ucap hati Pram'.
Kini sosok ini sudah menghilang. Ada apa?dengan rumah Mak Siti ini !! Kini Pram melihat sekitar, rasa capek yang tadi datang tiba-tiba sedikit terlupakan.
Nampak sosok ini bukan manusia, wajahnya sedikit keriput, mulutnya sedikit terbuka, lidahnya sedikit panjang dengan air liur yang sesekali menetes dan sosok ini tengah berdiri di depan toko Mak Siti, menjilati semua barang dagangan Mak Siti dan dengan angkuhnya sosok ini duduk di antara barang dagangan di toko.
'Duh, Kenapa Mak Siti pakai beginian juga pikir Pram.' Pram segera berlalu pergi setelah tahu penyebabnya.
Tiba di rumah langsung menuju kamar menaruh semua barang yang Pram bawa tadi, merebahkan diri sejenak hingga tanpa sadar tertidur dengan lelapnya.
Terbangun di pagi hari, sinar mentari menyapa dengan cerahnya. "Pram ...
panggil ibu saat melihat aku keluar kamar.
"Jangan kuliah pagi ini, bantu ibu saja toh, nanti sore kamu juga akan di lamar Rian."
Mendengar ibu berbicara aku hanya diam saja, kini Mak Sunar dan Mak Sara juga sudah datang untuk membantu ibu.
"Eee, yang mau di lamar kok diam saja," sembari mengelap daun pisang. "Mau bikin apa Mak?" tanya Pram. "Ini akan di gunakan untuk pembungkus kue Pram," jawab Mak Sunar.
Terlihat beberapa kesibukan di rumah, ibu tengah sibuk menyiapkan ini dan itu. "Pram, panggil ibu dari dapur. "Pram ... kembali Ibu memanggil tapi aku tak menjawab. Melihat aku diam saja kini Mak sunar datang menghampiri. "Nak Pram, di panggil Ibu," ucap Mak Sunar sembari menoel bahu Pram.
"Eee, hiya Mak!" Maaf Pram nggak dengar," ucap Pram sembari beringsut masuk ke dapur.
__ADS_1
Ibu menatap dengan sedikit heran. Ada apa ? aku hanya tersenyum saja tak menjawab pertanyaan Ibu.
"Apa kau tak senang dengan lamaran ini Pram? Kini aku hanya menggeleng.
"Kau sakit? Aku diam tapi merangkul ibu dengan erat."
"Ada apa? Cerita lah! ucap ibu lagi.
Hanya rangkulan yang makin aku eratkan. "Lho kok nangis?"ucap ibu lagi. Kini bukan ingin bercerita tapi air mata Pram sudah turun begitu saja.
"Pram ... panggil ibu sembari mengangkat wajah Pram. Kenapa?"
"Pram, ingat Bapak Bu, mestinya saat seperti ini ada Bapak, lalu siapa nanti yang akan jadi wali saat aku nikah nanti?"
Dengan terisak aku semakin erat merangkul ibu, tak ada yang keluar dari mulut ibu, hanya tatapan kesedihan yang di berikan padaku. "Pram, sembari merangkul dengan erat.
Lama hanyut dengan perasaan masing masing. "Sekarang apa yang kau inginkan tanya ibu tiba-tiba? Sembari melepaskan pelukannya. "Melanjutkan pertunangan ini atau ... "
"Bukan, bukan seperti itu Bu, hanya saja tiba tiba Pram teringat Bapak," ucap Pram pelan sembari mengusap ingus dan air matanya.
"Maaf ," ucap Pram lagi.
"Yakin kau akan melanjutkan ini? Hanya napas Pram saja yang dihembuskan sejenak kemudian tersenyum. "Ya Bu, aku akan melanjutkan pertunangan ini, maafkan Pram," ucap Pram sekali lagi.
Menatap Pram sejenak kemudian tersenyum. "Istirahatlah, nanti ibu panggil jika memerlukan bantuanmu.
" Aku ingin di sini Bu," ucap Pram sembari menatap dapur ini.
"Pram, ini hanya acara biasa saja, mungkin kau dan Rian sudah dari kecil kenal, tapi nanti ibu juga akan mengundang tetangga kanan kiri untuk menyaksikan."
"Hiya Bu," jawab Pram lagi.
"Sudah nangisnya? Tiba-tiba suara ini mengejutkan Pram." Masih dengan wajah sembab Pram menoleh ke sumber suara.
"Kan, Pram jadi malu kalau gini, Pram langsung menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Sana temui dulu mungkin ada yang penting," ucap ibu mengusir Pram dari dapur .
Berdiri kemudian menuju teras. Mas Rian dari tadi?" tanya Pram malu. "Hiya," jawab Rian sembari duduk di sisi Pram.
"Kenapa? Tiba tiba aku teringat Bapak Mas." Kini pandangan Pram menatap jauh ke depan, "Baru sekarang aku sadar dengan tak adanya bapak ... Pram tak melanjutkan ucapannya. Kini Pram menunduk, hanya air matanya saja yang turun.
__ADS_1
"Eee, kok nangis lagi," ikhlaskan Pram.
"Tapi Mas. Ssssttt, sudah jangan seperti ini Pram! Mas janji besok Mas temani ke makam Bapak," ucap Mas Rian dan kini sudah merangkul dan berusaha menenangkan Pram.
"Pram, aku tahu seperti apa kesedihanmu aku juga merasakan nya, Bapakku juga sudah pergi untuk selamanya saat usia ku lima tahun dan memang terasa berat Pram."
Mendengar ucapan Mas Rian aku sedikit menghela napas. "Benar ternyata bukan aku saja yang tak memiliki Bapak tapi calon tunanganku juga sama."
Masih dalam rangkulan Mas Rian. Sudah tenang sekarang?" tanya Mas Rian. "Pram sudah mengerti sekarang, kita lalui bersama ya? Ikhlas menerima Pram? Kini Pram hanya mengangguk tanda mengerti."
"Gadis pintar," ucap Mas Rian lalu menatap wajah Pram.
"Lihat," sembari melirik jam tangannya. "Kurang lima jam pertunangan wajahnya sembab gini ! Kini sembari mengusik kepala Pram.
"Kan mesti begitu," ucap Pram sembari cemberut.
"Nggak kuliah Mas! Nggak Pram, males aku, apalagi kepikiran terus akan tunangan gini kok berdebar ya? Seketika aku melihat tangan Mas Rian sudah menyentuh dadanya.
"Aku khawatir kalau nanti di tolak sama gadisnya," ucap Mas Rian sembari melirik kearahku.
"Ya, mana mungkin aku tolak," ucap Pram sembari berdiri.
"Pulang sana, lima jam lagi kemari lagi dan aku pastikan bakalan di terima."
Melihat Mas Rian senyum-senyum sembari menatap. "Nggak usah gr, masih lima jam dan semuanya bisa saja berubah," ucap Pram sembari masuk ke dalam.
"Eee, Pram, kok gitu! Nggak, nggak lucu," ucap Mas Rian kini sudah mengejar langkah Pram, sedikit tersenyum melihat tingkah Mas Rian.
"Pulang dulu sana," ucap Pram sembari mendorong tubuh Rian, keluar dari dalam ruang tamu.
"Sungguh Pram nggak lucu, jangan aneh aneh!"
"Pram, aku serius," kini ucap Mas Rian sembari melangkah keluar. "Pulang, awas nanti kalau datangnya terlambat dan jawaban bisa berubah lagi," ucap Pram sembari tersenyum.
Hanya jempol tangannya yang di angkat, kemudian melangkah pergi. Menatap Mas Rian hingga hilang di balik pagar.
"Ya, laki-laki ini yang sebentar lagi menjadi teman hidupku hingga menua.
....................................................................................
maaf jika up nya sedikit terlambat karena badannya lagi nggak fit , di tunggu ni like , komentar yang membangun .
__ADS_1