
Aku masih tersenyum mengingat tingkah Mas Rian. Begitu masuk dapur. "Ada yang bisa Pram bantu Bu? Ibu melihat sembari tersenyum. "Sana, nggak usah ikut di dapur Pram! Sudah jam berapa ini?" tanya ibu tiba tiba. "Jam dua Bu," jawab Pram sembari tangannya mengelap piring.
"Mak, panggil Ibu. "Mak Sunar ... kembali ibu memanggil."
"Mak Sunar, mendengar teriakan ibu dengan sedikit tergesa Mak Sunar menghampiri. "Ya Nur," jawab Mak Sunar. "Apa sudah datang Mbaknya Mak? Lha belum Nur. Terlihat ibu sedikit mengerutkan keningnya. "Pram mandi !! Sebentar lagi para tamu juga datang .
"Mak Sunar, Mak Sara, tolong sesuai pesanku tadi ! Sembari bergegas ke luar dapur. Tolong juga nanti kalau Mbaknya datang panggil saya Mak!!"
Tak berapa lama terdengar suara seorang wanita mengucap salam. "Assalammualaikum, dengan suara sedikit keras." Mendengar ini Mak Sunar segera ke depan. "Eeh, Mbaknya, sudah di tunggu dari tadi , silahkan Mbak duduk dulu, saya panggilkan Nur dulu.
Setelah mengetauhi orang yang di tunggunya datang. Mak tolong langsung di bawa ke kamarnya Pram tinggal satu jam lagi dan jangan lupa bajunya yang kemarin itu Mbak," terdengar suara ibu mengingatkan.
Dengan tergopoh Mak Sunar mengantar dan mengetuk pintu kamar. "Pram, Pram," Sembari sesekali mengetuk pintu, hingga beberapa saat terdengar suara sahutan dari dalam kamar. "Sebentar Mak," sembari sedikit membuka pintunya. "Ini Mbaknya suruh masuk dulu, nanti ibumu marah Pram."
Tak perlu aku membuka pintu lebih lebar Mak Sunar sudah mendorongnya begitu saja. "Maaf nak Pram, ini sesuai perintah ibu," ucap Mak Sunar menjelaskan.
"Lah Mbak nya ini?" tanya Pram sedikit heran. "Kenalakan saya di pesan ibu untuk sedikit merias wajah Mbak," sembari mengeluarkan semua alat-alat rias dan bajunya.
"Mak tolong panggilkan ibu, mesti ibu nggak ngomong dulu sama aku," ucap Pram sedikit marah. "Ibumu bilang kamu pasti menolaknya dan kali ini harus menurut," ucap Mak Sunar sembari mendudukkan aku di kursi. "Mak ... nggak boleh protes dan Mbak monggo jamnya sudah mepet," kembali Mak Sunar memberi perintah.
"Eh, kok maksa Mak," protes Pram."
"Ini perintah," ucap Mak Sunar sembari duduk di sisiku.
Akhirnya. "Jangan tebal-tebal Mbak," ucap Pram dengan cemberut.
Sudah pukul tiga kurang lima menit saat ibu datang ke kamar, menatap sejenak sembari tersenyum. "Betul kan, anakku ayu," ucap ibu sembari terus tersenyum.
"Wah, bakalan nggak di lepas ini sama Nak Rian," ucap Mak Sunar sembari menatapku.
"Bu, kenapa mesti di rias begini? Ini kan hanya tunangan," ucap Pram pelan.
"Wes, pokok e anakku manut," sembari berkali kali ibu mengelus bahuku.
"Sudah duduk di sini dulu, biar di temani Mak Sunar," ucap ibu sambil berlalu.
Tak lama samar-samar terdengar suara ramai di ruang tamu. "Mak bawa Pram keluar, tuh Rian sudah datang," panggil Mak Sara.
__ADS_1
Mendengar rombongan Rian datang tiba-tiba tubuhku sedikit gemetar. "Mak ... panggil Pram sedikit gemetar.
"Kenapa? Sembari tangan Mak Sunar meraih tangan Pram
"Kenapa Pram? Kok tanganmu dingin? Tak menjawab pertanyaan Kak Sunar hanya
berkali-kali aku hembuskan napas untuk menghilangkan rasa debar di hati.
"Mak, aku kok gemetar dan sini kuraih tangan Mak Sunar dan meletakkan di dadaku, Mak Sunar hanya tersenyum sembari menuntunku keluar kamar.
"Itu namanya tegang dan ini minum dulu, sudah cantik jangan sampai nanti pingsan goda Mak Sunar."
Benar begitu memasuki ruang tamu dadaku semakin berdesir hebat, nampak Rian tengah tersenyum melihat kedatangan Pram dan terus menatapku.
Duduk berhadapan dengan Rian membuatku semakin malu, nampak tetangga kanan dan kiri hadir, begitu juga dari pihak Rian hanya membawa beberapa tetangga dan satu sosok laki-laki yang nampak lebih tua dari Ibu dan Tante Asih.
Tanpa banyak basa basi laki-laki ini langsung berbicara pada intinya serta maksud dan tujuannya datang ke rumah, masih dengan terkejut saat laki-laki ini bertanya. Apakah Nak Pram menerima lamaran ini?
Sedikit lama hingga ibu menepuk bahuku. "Pram ... Kembali Ibu memanggil. Eee, hi-hiya Bu, Pram terima lamaran ini." Tapi kini aku fokus menatap sosok yang berdiri sedikit menjauh dari teras.
Ibu menatapku dengan heran begitu juga dengan Rian.
setelah mendengar ini. Ibu ikut tersenyum tapi masih menatapku dengan heran.
Mempersilahkan para tamu menikmati hidangan yang di sediakan dan aku sedikit beringsut mundur ke belakang, duduk di tempat yang tak di lalui orang.
Melihat ini Rian langsung mendekat. Tolong jaga aku ucap," Pram pelan. "Pram jangan aneh-aneh," ucap Mas Rian mengingatkan. "Sebentar saja," ucap Pram lagi.
Dengan mengatur napas sesaat kini sukmaku telah menghampiri sosok ini, laki-laki muda dan tersenyum menatap ku, wajahnya tak asing bagiku, ya, hampir mirip-mirip denganku.
Aku sedikit tersenyum. "Kenalkan aku Sipun ayahmu, ingin melihatmu dari sini!!berbahagialah," ucap sosok ini sembari tersenyum.
Tak ada kata yang terucap dari mulutku karena setelah itu sosok ini telah menghilang, lama terdiam hingga Rian mengguncang tubuhku dan badan ku kembali tergetar.
"Pram, panggil Rian lembut sembari memelukku. "Sssstt, jangan seperti ini, masih dengan memelukku, aku sudah melihatnya saat aku masuk ke rumahmu Pram," ucap Rian membenarkan penglihatanku.
"Dia, dia Bapakku," ucap Pram pelan dan sedikit tercekat.
__ADS_1
Kini tangis Pram tak bisa di bendung ada rasa haru dan bahagia, akhirnya aku bisa mengenali seperti apa wajah Bapak wajah yang selama ini ingin aku ketauhi.
"Jangan menangis berbahagialah," ucap Mas Rian sembari menyerahkan tisu padaku.
Masih dengan tawa dan celoteh para tamu.
"Loh, kemana yang tunangan kok langsung menghilang?" tanya laki-laki tua ini yang di kenal dengan nama Pak Kamidi.
Dengan malu Rian melangkah keluar dari ruang tengah dan kembali duduk di tempatnya. "Lho, kemana juga gadisnya seloroh para tamu.
Dengan sedikit menunduk aku kemudian keluar dan duduk di tempatku. "Wah, nggak usah lama lama Bu Nur langsung halalkan saja," ucap para tamu hampir bersamaan.
"Ya, sudah untuk sementara ini saya ikat dulu biar erat, kuat dan nggak bisa lari, seloroh bu Asih sembari membuka kotak cincin.
Memanggilku dan memasangkan cincinnya begitu juga dengan ibu, memasangkan cincinya pada Rian juga.
Semua acara telah terlewati hingga pukul lima sore saat mereka berpamitan dan memberi selamat.
Aku masih duduk terdiam setelah semua para tamu telah pergi. "Kenapa belum pulang Mas? tanya Pram. Saat melihat Mas Rian masih duduk di ruang tamu. "Aku tak ingin pulang jika masih melihat mu menangis Pram."
"Maaf bukan maksud Pram, ingin membuat Mas ikut bingung dan sedih, tapi jujur saat ini aku sudah bahagia. Terima kasih," ucap Pram pelan.
"Mas, laki-laki yang berdiri tadi, itu Bapak, Bapak Sipun," ucap Pram sembari tersenyum.
"Aku bahagia ternyata bapak masih mau melihatku meski sekilas."
Mendengar celoteh ku Mas Rian tersenyum.
"Jangan menangis lagi, karena cantikmu akan hilang dan berjanji lah padaku, jika terjadi
apa-apa ceritalah, ini ada bahuku untuk bersandar dan ini sembari meraih tangan Pram ada hatiku yang selalu untukmu jangan pendam sendiri Pram," ucapnya sembari menatapku.
"Mau kan berjanji, kita lalui semuanya sama sama dan aku akan berusaha untuk itu Pram."
"Cincin ini hanya simbol Pram!" tapi yang terpenting adalah ini Pram, cintaku."
Aku semakin menunduk malu mendengar ucapan Mas Rian hingga suara ibu mengejutkan aku dan Rian. "Masuk, mau maghrib jangan di luar Pram!!
__ADS_1
Mendengar ini aku langsung menyikut Rian dan sama-sama tersenyum
"Ayo ... "