
Hampir satu jam menunggu, akhirnya terapis itu datang juga terlihat dari pintu pagar yang terdorong terbuka dan tertutup lagi dan baju yang di pakainya, tak lama terdengar pintu di ketuk.
"Bu ... ada tamu," teriakku karena ibu ada di belakang.Tak lama ibu keluar dengan menggunakan apron.
"Pagi," saat pintu terbuka dan aku tersenyum menyambutnya, Silakan Mbak," ucap ibu.
Duduk di ruang tamu dan menatapku sesaat
"Perkenalkan saya Cintya, ini kartu ID saya sesuai rekomen dari Dokter yang menangani," ucap Cintya sembari mengeluarkan lembar kertas dari tasnya.
"M ... Prameswari, aku mengangguk
menghiyakan."
"Mulai hari ini saya terapi adik Prameswari."
"Boleh kita mulai Bu, silakan, "ucap ibu.
"Untuk pertemuan pertama ini saya akan memijat dulu, untuk menghilangkan rasa sakit dan kaku, agar tubuhnya rileks dan sirkulasi darahnya lancar."
"Oke ... bisa memakai ruangan yang mana ?"
"Silakan di ruang tengah saja Mbak, juga sudah saya siapkan matrasnya."
"Terima kasih Bu," ucap Mbak terapisnya.
Mendorong Pram ke ruang tengah, membantu turun dan membaringkan di matras pendek.
Mengeluarkan sesuatu di tasnya, lalu menaruh di sisiku.
"Maaf Bu, punya kain untuk menutupi tubuh adiknya," pintanya dengan sopan.
Tak berapa lama ibu sudah keluar membawa kain yang di minta.
Setelah semua baju yang ku pakai terlepas kini tubuhku di tutup dengan kain di bagian tertentu, tangan dan kaki di biarkan terbuka, lalu menengkurapkan tubuhku.
Menuangkan sesuatu di punggung, wangi serasa tenang dengan sabar dan telaten Mbaknya memijat dengan hati-hati dan lembut, rasa kantuk tiba-tiba datang, aku berusaha menahan rasa kantuk dan merasakan pijatan Mbak terapis yang kini sudah berpindah ketangan dan kemudian ke kaki.
Lalu dengan pelan Mbak terapis membalik tubuhku dan memijat lagi seperti tadi, hingga berkali-kali aku menguap.
Melihatku menguap Mbaknya tersenyum.
"Ngantuk ya? Nggak apa-apa habis ini boleh tidur."
"Nggak usah mandi juga nggak apa-apa, biar merasuk goda Mbaknya."
Tak lama Mbak terapis sudah mengakhiri sesi pijatannya. Kini mulai mengangkat dan menurunkan kaki ku pelan.
"Sakit?" tanya Mbak terapis.
Aku hanya menggeleng.
"Sebenarnya adik ini sudah sembuh, tapi adik ini masih takut untuk mulai belajar berjalan.
Besok mulai belajar berjalan ya?" ucap Mbak terapis sembari tersenyum.
"Oh ya, lanjutkan apa yang sudah di sarankan Dokter ya?" ucap Mbak terapis sembari menepuk pundakku pelan.
"Sudah bisa pakai bajunya Dik?" tanya sang terapis. Pram hanya menggeleng untuk menjawab.
__ADS_1
"Coba lihat tangannya?" ucap Mbak terapis sembari memberikan baju itu padaku.
"Coba angkat," ucap Mbak terapis lagi.
Dengan perlahan Pram mencoba mengangkatnya. Sedikit bergetar tapi Pram akhirnya bisa juga. Melihat usahaku, Mbak terapis kemudian tersenyum.
"Ayo semangat pasti bisa pelan-pelan saja," ucap Mbaknya.
"Berlatih dan semangat ya? Apa ibu sudah membeli alat bantunya?" tanya Mbak terapis dan aku lihat ibu mengangguk untuk menjawab.
"Untuk hari ini sekian dulu, besok saya datang lagi. Besok Mbak mau lihat gerak tangannya ada kemajuan apa, hari ini sudah bisa mengangkat meski pelan, semangat ya Prameswari," ucap Mbaknya ramah.
Aku kembali mengangguk dan tersenyum
setelah mencuci tangannya, Mbak terapis berpamitan pulang. Karena semangat yang di berikan, meskipun pelan aku berusaha untuk menggerakkan tanganku, ibu yang kembali dari depan tersenyum melihatku.
"Gimana Pram?" tanya Ibu. Aku melihat ibu dan tersenyum.
"Badanku rasanya enak Bu."
"Mau disini atau tidur di kamar?" tanya ibu.
"Di sini Bu, sebenarnya aku penasaran dengan taman belakang."
Aku masih rebahan di matras pendek ini.
Berkali-kali menguap, tak terasa mataku terpejam juga.
Sebelum benar-benar tertidur ibu memberiku bantal dan menyelimutiku dengan kain tadi.
Sudah pukul empat sore tiba-tiba aku terbangun, mengerjapkan mataku. Seketika aku terkejut saat melihat sosok yang duduk di sisiku sembari tersenyum.
"Kenapa kamu kemari Sofia? Sana pergi!" usirku. Sekilas kulihat dia menggeleng.
Aku berusaha duduk dengan usahaku sendiri, karena tangan dan kakiku terasa ringan.
Menekuk kakiku dan meluruskan lagi. Aku tersenyum melihat ini, mengingat pesan ibu harus pelan dan hati-hati aku mengulangnya sekali lagi, seketika ada rasa bunga di hatiku.
Ternyata ucapan Mbak Cintya betul harus semangat dan berusaha, kini kugerakkan pergelangan kakiku, merentangkan, menekuknya dan meluruskan lagi.
"Bu ... panggilku di rumah ini kenapa ibu lebih suka duduk di belakang batinku."
Tak berapa lama ibu datang. "Kok teriak Pram!Tanya Ibu heran.
"Coba lihat Bu," ucap Pram sembari memamerkan ke ibu setiap gerakan yang Pram bisa.
Terlihat senyum ibu dan wajah bahagiannya
"Aku pingin sembuh dan lekas sekolah Bu."
"Andai dua minggu kedepan aku bisa jalan dan melakukan yang lain. Aku pingin nyusul ujian Bu, aku nggak pingin tinggal kelas," ucapku lagi.
"Eee ... sembuh dulu nanti itu bisa di pikirkan lagi Pram," ucap ibu sembari memelukku.
Sofia berlalu pergi melihat ibu memelukku.
Waktu bergulir begitu saja sesuai dengan janjinya kini Mbak Cintya sang terapis datang lagi melihat kemajuan yang ku alami. Mbak Cintya tersenyum saat melihat banyak kemajuan dari usahaku.
"Begitu semangat."
__ADS_1
Kini bukan pijat tetapi melatih gerakku
mengajariku mengangkat, membawa barang, menggerakkan jari-jariku dan mengenggam benda dengan benar.
"Dan sekarang kita latih gerak kakinya ya!
cukup di atas matras dulu, nanti kalau sudah yakin kita praktekkan dengan alat bantu yang di beli ibu Pram, ya?"
"Ayo, rentangkan kakinya diamkan hingga hitungan kedelapan kemudian menekuk kakiku hingga hitungan kedelapan baru di lepas."
"Jangan bosan-bosan mengulang gerakan yang Mbak ajarkan ya!"
"Bu, tolong kruknya." Tak berapa lama ibu sudah membawa alat itu dan menyerahkan nya.
"Kita belajar pelan-pelan ya! Praktekkan yang Mbak ajarkan."
Mengajakku berdiri dengan pelan kemudian mendekatkan kruk itu di depanku.
Menaruh tanganku di pegangannya, ikuti arahan Mbak ya! Memberikan contoh gerakan dan kemudian aku di suruh mengikutinya, tidak terlalu sulit hanya belum terbiasa. Ibu menatapku dengan tatapan senang.
Setelah tiga kali percobaan akhirnya aku bisa mengikuti semuannya dengan benar.
"Sudah cukup, anak hebat cepat bisa."
"Ini masih awal jangan di porsir Pram, cukup untuk hari ini, besok Mbak akan kembali."
Beginilah kegiatanku sampai satu minggu kedepan hingga aku benar-benar bisa dan tanpa menggunakan alat bantu.
"Selamat ya, Mbak ikut senang Pram."
"Hati hati !! Ucapnya sembari mengusap kepalaku. Aku tersenyum bahagia dan langsung memeluk ibu.
"Jangan lari Pram, pelan-pelan dulu," ucap Mbaknya.
"Terimakasih Mbak," ucapku lagi.
Duduk berdua di ruang tamu sedang ibu masuk ke dalam mengambil sesuatu.
Tak ada pembicaraa yang kami lakukan
kami sama-sama diam, tiba-tiba Mbaknya berdiri dan dan pindah tempat.
"Ada apa mbak?" tanyaku pelan.
"Ihh, tiba-tiba kok tangan Mbak seperti ada yang pegang Pram!"
"Ah, perasaan Mbaknya saja," ucap Pram kini sembari melihat ke sisiku.
"Sofia .... batinku, sesaat bocil sofia langsung melesat pergi."
Tak berapa lama ibu juga sudah kembali keruang tamu dan menyerahkan amplop kepada Mbak Cintya.
"Sesuai dengan kesepakatan, terima kasih atas bantuannya," ucap ibu sembari memeluk tubuhku.
"Saya permisi Bu, terima kasih," ucap Mbak Cintya berdiri dan menuju ke luar. Ibu meghantarkan hingga teras depan dan menutup kembali pagarnya.
"Pram ....hati-hati," ucap ibu, jangan lari dulu.
Karena melihatku berjalan dengan sedikit cepat. "Bu ... Pram ingin ikut ujian biar naik kelas, nanti kelas tiganya Pram pingin sekolah di sini saja."
__ADS_1
Mendengar ucapanku ibu menatap dengan heran.