
Mendengar teriakan Pram, ibu Nur hanya tersenyum. "Kenapa mesti teriak ibu pasti akan membantu, ibu juga penasaran secantik apa Hanifa atau bahkan lebih cantik anak ibu. Ibu kok jadi penasaran Pram sama Hanifa itu?"
"Sudah.Tidur sana! lagian ibu juga sudah selesai, mimpi yang indah pram!"
Belum sampai aku masuk kamar, ibu sudah mematikan lampunya mengambil ponsel mengulir bagian galeri. Pram tersenyum saat menatap foto yang di buat bersama Rian, berdiri tengah sawah. Secara tak sadar bibir Pram berguman," ternyata ganteng juga.Tetapi kenapa kau suka dengan aku yang jelek ini Rian."
Pram menatap foto itu sembari tersenyum senyum sendiri. Setelah puas Pram menatap fotonya, Pram memilih mematikan ponsel dan tertidur dengan cepat karena rasa lelah di tubuh.
Masih subuh Pram sudah terbangun dengan malas mengambil wudhu, tak berapa lama Pram sudah mengakhiri shalatnya.
Mengawali pagi dengan malas. "Ikut ke sawah Pram? tanya Bu Nur. Kok malas Bu, hari ini mager sekali."
"Badanku sedikit meriang," ucap Pram sembari bersender di kursi. Mendengar ucapan Pram Bu Nur langsung mendekat dan menyentuh kening Pram.
"Kamu sakit Pram? Badanmu panas."
Bergegas bu Nur menuju dapur dan membuat teh hangat. "Aduh. Mana persediaan obat Ibu habis Pram. Sudah minum tehnya dulu, Ibu ke apotik sekalian cari obat yang cocok buat kamu. Setelah minum teh nya balik ke kamar Pram tidur," ucap ibu panjang lebar.
Masih menatap Ibu berlalu keluar hingga terdengar ibu menutup pintu. Setelah minum teh, Pram kembali masuk kamar.
Betul kata ibu, tak lama aku sudah meraih selimut dan merasa kedinginan.
"Huf ... dingin sembari menghembuskan napas. Benar juga terasa panas.
Meriang. Kini tubuh Pram tak lagi meriang dan berubah menjadi semakin panas. Hingga badan Pram bergetar di antara sadar dan tidak kini tubuh Pram serasa mengambang.
"Ya, sukma Pram serasa berjalan. Kini bukan ke tempat yang jauh tapi Pram berjalan di pematang sawah, Pram melihat para pekerja sangat sibuk tangannya tak henti mengerjakan ini dan itu. Pram merasakan matahari sangat terik dan menyengat serasa badan Pram pun kini sudah berkeringat. "Buuh, panasnya."
Sukma Pram kini menuntunnya berjalan menuju batu besar di mana terdapat sumber mata air. Keringat yang seakan membasahi tubuh Pram, serasa sedikit terkikis oleh hembusan angin. Pram memilih duduk di atas batu yang lebih kecil dengan kaki terjuntai masuk dalam kubangan air. Menggoyang goyangkan kaki hingga menimbulkan riak-riak kecil dalam kubangan.
Pram duduk dengan tatapan kosong dan madih menggerak-gerakkan kaki. Pram menghentikan gerakan kakinya saat ada suara yang menegur. "Jangan kau goyang goyangkan kaki mu itu, ikan peliharaan Simbah jadi takut dan kenapa juga kamu termenung di sini pulang," ucap Simbah yang pernah Pram lihat waktu datang ke sumber mata air ini.
Pram medongakkan wajah untuk melihat. Pram yang menyadari siapa Simbah ini kemudian berdiri untuk memberi hormat. Mendapat perlakuan istimewa Pram, Simbah ini tersenyum.
__ADS_1
"Apa yang kau risaukan, semua sudah kau miliki." Pertanyaan yang membuat aku sedikit terhenyak, tak berapa lama Simbah sudah duduk mendekat. "Angkat kakimu biar ikan itu berenang bebas."
Setelah menegur sejenak Simbah ini tersenyum. "Berhubung kau di sini Simbah akan cerita sedikit siapa Simbah."
"Nduk, memang berat membawa amanat leluhur tapi semua sudah jadi kodratmu."
"Ingat Nduk, semua yang terjadi bukan lah kesalahan leluhurmu saja, ada beberapa pihak yang mendukungnya."
"Mbah. Panggil Pram lemah, Simbah menatap Pram sejenak," Kenalkan aku Simbah leluhur Rian." Mendengar penuturannya aku menatap Simbah lekat.
"Dulu. Rumah Simbah ada di balik pohon bambu itu Nduk. Sebenarnya Simbah dan leluhurmu tinggal berdekatan hanya sawah dan ladang ini yang memisahkan dan menjadi jarak antara rumah kami."
"Apapun yang terjadi aku dan Rian akan selalu ada di sisimu dan beruntungnya perjodohan yang di gadang-gadang sejak dulu akhirnya terjadi juga."
Kemudian Simbah diam sejenak. "Persahabatan kami bertiga harus putus karena hal yang tak kami sangka-sangka."
"Sengaja aku mengusir keturunan Simbah dari dusun ini. Hanya tinggal Simbah yang ada di sini untuk menjaga apa yang menjadi hak Simbah."
"Nduk, untuk perjanjian yang di buat oleh Simbah buyutmu itu akan hilang bersamaan dengan matinya pohon sawo. Tetapi sebelumnya akan ada hal-hal di luar nalar dengan datang dari orang luar kampung ini dan itu juga ulah dari keturunan S."
"Simbah tak ragu akan kekebalan dirimu akan senjata tajam atau benda-benda bersifat duniawi. Ingat setelah semua rapal yang Simbah bacakan kau akan lebih tajam menilai orang dan dapat mengetauhi niat mereka."
"Yang Simbah takutkan hanya hati culas, sifat iri, serakah dan egois Pram. Sepertinya kau masih ragu." Bersamaan Simbah melepas tangannya dari kepala Pram.
"Bertanyalah jika aku bisa membantumu pasti akan Simbah jawab."
"Mbah. Apa Hanifa itu masih keturunan leluhur S?"
"Sepertinya Simbahmu sudah menjelaskan dan sampai kapan pun keinginannya tak akan pernah terwujud karena keculasan hatinya.
"Mbah. Apa rapal mantra di daun pintu itu Simbah ikut membuatnya? Kulihat wajah Simbah Rian tersenyum puas."
"Hahahaha ... Tawa Simbah Rian terlepas begitu saja. "Ternyata belum ada yang bisa membacanya, kenapa kau tanyakan itu."
__ADS_1
Pram terdiam. "Kata Simbah leluhur, belum waktunya dan belum saatnya aku membacanya dan itu yang akan mengusir sosok di pohon sawo itu."
Kini tawa Simbah Rian kembali terdengar. "Masih sama saja Simbahmu itu."
"Betul Pram. Simbah yang memasang mantra itu agar jiwa-jiwa jahat tak mengusik."
Setelah mengatakan itu. "Pulanglah, kasihan ibumu dan Rian sudah menunggumu tiga hari dan kau juga sudah membuat cucuku terus berdoa untuk kesembuhan mu."
"Jika nanti tiba saatnya Simbah sendiri yang akan menuntun, ingat ada yang lebih jahat dari semuanya Pram, sifat serakah,culas dan egois."
"Pulang. Pulang kau sudah menganggu ikan ikan ku saja."
untuk kedua kalinya Simbah leluhur Rian mengusir. "Pram masih betah di sini Mbah," ucap Pram dengan sedikit lemas.
Mendengar jawaban Pram, Simbah menatap Pram lekat.
"Ono seng kurang ajar iki." Sesaat Simbah Rian sudah duduk bersila dan kemudian melempar sesuatu ke kubangan air, sesaat kemudian tersenyum menatap Pram.
"Pulang. Simbah Rian mengambil sesuatu dari balik bajunya. Ini telanlah karena kau sudah di sini selama tiga hari, lihat badanmu juga mulai lemas." Secara cepat Simbah Rian sudah memasukkan benda berbentuk bulat seperti kelereng berwarna hitam pekat langsung kemulut Pram. Secara cepat benda itu langsung masuk ke kerongkongan.
Tak berapa lama badan Pram serasa ringan dan berangsur dingin. Benar kata leluhur Rian ibu sudah nampak lelah dengan mata sembab sementara Rian duduk bersila di sisi Pram dan di sebelahnya Ibu Asih terus berdoa sembari memegang tangan Pram.
Seperti di dorong dari atas Pram melesat dan sukma Pram masuk kembali dalam tubuhnya. Beberapa saat kemudian Pram tersengal dan berusaha mengatur napas.
Ibu Asih yang merasakan pergerakan tangan Pram seketika tersenyum melihat. "Bocah bandel," ucap Ibu Asih sembari menjawil ibu dan Rian.
Ibu langsung berhambur memeluk sementara Rian langsung merubah posisi duduknya. "Alhamdulillah Pram." Itu selikas yang Pram dengar.
"Perlahan Pram membuka mata. Ibu langsung memegang kening Pram. "Asih, badan Pram
dingin dan nggak panas lagi," ucap ibu sedikit terkejut.
"Pram ... "panggil ibu saat benar-benar melihat mata Pram terbuka lebar.
__ADS_1
"Biarkan dia istirahat Nur! buatkan saja teh hangat, pasti Pram haus dari jalan-jalan," ucap ibu Asih lagi.
"Rian. Awasi sekitar ibu," ucap Bu Asih sesaat kemudian.