OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 102 . PENASARAN


__ADS_3

Mendapati kinara yang memiliki keunikan yang sama seperti ku, secara diam-diam aku pun menjaganya dengan tersendiri memberikan perhatian ekstra, ada yang membuatku sedikit bersedih, kenapa aku baru menyadarinya sekarang atau memang baru baru ini Kinara memperoleh anugrah ini.


Ternyata perlindungan yang ku buat untuk anak anak ku tak berlaku untuk Kinara, seakan aku membuka jalan untuknya ada sedikit perasaan


bersalah di hatiku.


Ku tatap sosok Kinara seakan aku mengalami dejavu, ya, Kirana ku yang pendiam.


Tak ada tanda tanda seperti ku dulu yang sering sakit-sakitan.


Aku masih belum melihat perubahan pada diri Kinara atau memang dia menutupinya dariku atau dia merasa ketakukan.


Atau Kinara takut bercerita padaku dan bapaknya, semua jadi membuatku penasaran.


Hari hari berjalan seperti biasanya, tak ada yang aneh pada Kinara, hingga malam ini ku lihat Kinara menundukkan wajahnya dalam dan duduk lebih merapat ke Kinanti.


Tak lama Kinara sudah kembali mengangkat wajahnya, Kinanti juga seperti biasa dengan tingkah Kinara.


Pagi ini saat semua saudaranya pergi ke sawah Kinara memilih diam di rumah untuk tidak ikut.


Dia lebih memilih duduk sembari membaca buku.


Sesaat aku tersenyum, melihatnya dan aku jadi mengingat masa kecilku dulu, lebih memilih bermain dengan anak laki dan petakilan ke sana kemari.


Ada rasa syukur di hatiku, karena dua anak gadisku tak menuruni sifat tomboy ku.


Mendekatinya "tumben gak ikut ke sawah?"ucapku seraya duduk mendekat.


Melihatku duduk mendekat Kinara tersenyum "malas bu, enakkan di rumah, toh di sawah Kinara sudah bosan"jawabnya sembari masih membaca.


Sedikit melirik buku yang di bacanya, sesaat aku tersenyum "memang suka dengan komik?" tanyaku ingin tahu.


"Hem .... ceritanya bagus bu" jawabnya singkat.


"Boleh ... baca buku asal gak lupa dengan sekolahnya ya"


Kinara menatapku seakan tak percaya "sungguh? "iya lah, boleh boleh saja."


"Kalau Kinanti sukanya apa? "hem, m....tanya Kinanti sendiri saja" ucapnya sembari menatap keluar.


Aku masih menatapnya, seketika aku merasa ada sesuatu yang Kinara tutup-tutupi toh nyatanya Kinara sangat menyukai sawah dan yang lainnya.


"Ibu mau nyusul bapak dan yang lainnya ke sawah, Kinara ikut nggak? tak menjawabku hanya menunduk saja.

__ADS_1


Sesaat kemudian Kinara tersenyum dan mengangguk dan meletakkan bukunya begitu saja.


Sepanjang perjalanan Kinara tak banyak bicara hanya mengekorku kemana aku melangkah.


Begitu memasuki area persawahan baru nampak perubahan Kinara sembari menutup telingannya dia berjalan merapat padaku.


Sesaat aku terdiam dan berhenti , karena aku tahu sejak aku masuk area sawah ada sosok yang berdiri menatapku dan Kinara.


Ku tatap wajahnya "kenapa kok telinganya di tutup? tanyaku pelan sembari ku lepas tangannya.


Hanya gelengan kepala yang ku dapat "Kinara ada apa nak?bKinara melihat apa? tanyaku lagi.


Hanya menggeleng saja, ternyata Kinara masih belum mau bercerita meskipun aku berusaha mengajaknya untuk bicara.


Beberapa saat kemudian dari kejauhan


nampak mak sunar, mas Rian dan ibu dan yang lainnya berjalan mendekat "pulang yuk ?"


ajakku lagi.


Hanya mengangguk dan tersenyum


berjalan pulang kembali, kali ini Kinara tak menutup telingannya lagi, padahal sosok itu masih berdiri dan menatapku dengan Kinara.


Tak berapa lama yang lainnya juga menyusul dan berebut mencuci tangan dan kaki mereka.


Beberapa saat setelah mereka masuk, kini aku menarik ibu dan mak Sunar untuk duduk di teras.


Mak Sunar dan ibu hanya menurut saja dan langsung duduk dengan posisinya masing masing.


"Ada apa Pram? tanya ibu curiga.


Sesaat ibu dan mak Sunar saling bertatapan.


"Bu...panggilku pelan, apa ibu pernah melihat Kinara bersikap aneh atau yang lainnya?"


"Aneh apanya, toh setiap hari Kinara seperti itu


anakmu itu terlalu pendiam Pram, aku terkadang juga takut melihatnya, sesekali ajak dia berbicara, meskipun ada Kinanti setidaknya biasakan Kinara untuk bercerita.


"Kebiasaan Kinara seperti ini pun menurutku sangat aneh, kau pun juga harus punya waktu untuk anak anakmu Pram" ucap ibu sembari berdiri masuk rumah.


Mak Sunar masih diam dan melihatku kemudian tersenyum "menurut mak diamnya Kinara karena dia membunyikan sesuatu, dulu dia sebelum kamu melahirkan Lintang dia mirip Kinanti."

__ADS_1


Aku sedikit mengkerutkan kening ku "maksud emak?" Karena kehamilanmu yang agak rewel Kinanti dan Kinara itu dekat dengan ibumu dan aku Pram, meski tak ada yang aneh tapi mak sering lihat Kinara ngomong sendiri, aku pikir biasa bocah seumuran Kinara dan Kinanti ngomong sendiri dan cerita-cerita sendiri, isih kemedan( ini untuk istilah jawa ) Pram."


Aku menghela napasku dalam-dalam "mak kok gak pernah cerita!!" tanyaku pelan.


"Lah .... mau cerita gimana, wong kamu juga sibuk ngurus anakmu, terus kamu hamil lagi.


Untung ada ibu mertua kamu dengan sabar menemani mereka, memang Kinara lebih dekat dengan ibumu waktu itu, cerita mak Sunar lagi.


"Ya, coba tanya ibu mertua kamu, mungkin ibumu tahu, Pram."


"Masak kamu gak bisa mencari tahu sendiri, ucap mak sunar sembari menatapku.


"Mak.... aku hanya ingin tahu saja."


"Ya sudah, mak, terima kasih, Pram mau cari bu Asih dulu."


"Kau itu, jam segini ibumu itu masih ngaji."


Kini ku lihat mak Sunar berdiri sembari tersenyum "Pram .... gak usah heran, kamu sendiri bisa seperti itu, jika Kinara mirip denganmu apa salahnya, jaga dan arahkan dia jangan sampai Kinara merasa sendirian menghadapi ini, jangan seperti dirimu dulu" ucap mak Sunar sembari melangkah masuk ke dalam.


Aku hanya menghela napasku dalam, menatap mak Sunar masuk ke dalam.


Karena hampir mendekati dhuhur dan jam makan siang, aku pun masuk dan ku lihat anak anak sudah rame di bawah, tetap Kinara yang hanya melihat dengan senyum nya.


Melihat aku masuk Arion langsung berhambur mendekat "sudah mandi?" tanyaku pada Arion.


"Sudah sama mbak Yas" jawab Arion.


"Pintar, ucapku sembari mendekat pada Kinara dan Kinanti.


"Sudah mandi dan bersiap untuk shalat dhuhur, mereka berdua mengangguk.


"Bapak mana? "di halaman samping bu, bersih-bersih mushola" ucap Kinanti dan Kinara barengan.


"Lintang dan Arion bantu bapak sana, sedang kan untuk dua putri yang cantik ini bantu ibu di dapur, hayuk .... sembari ku gandeng tangan mereka berdua sembari menuju dapur.


Tak butuh waktu lama menyelesaikan semuanya, hingga adzan dhuhur.


Terdengar suara mas Rian memanggil untuk bergegas shalat berjamaah, selesai shalat ku lihat anak sudah berhambur keluar, kini tinggal aku, ibu dan ibu mertua dengan mas Rian sementara mbak Yas dan mbak Ning sudah keluar.


"Bu .... kita bicara sebentar mumpung di sini dan anak anak tidak ada" sembari aku mendekat pada mereka.


Begitu juga dengan mas Rian duduk merapat di sisiku.

__ADS_1


__ADS_2