
Mendengar sesuatu di seret simbah tersenyum. "Biarkan Pram, ayo Nur! ajak Simbah.
Mendorong kursi roda hingga ke area parkiran, menunggu taxi yang lewat.Tak berapa lama ada taxi yang berhenti.
Ibu langsung membantu berjalan pelan,
melihat Simbah sudah duduk di depan dan sopir taxi sibuk memasukkan tas dan kursi roda.
Sebenarnya tak jauh rumah yang Simbah beli tak sampai lima belas menit kami sudah sampai. Berhenti di depan rumah kecil yang asri mungkin ini perumahan tipe 21 tapi sudah di rombak.
Sopir taxi membantu memasang kursi roda dan selanjutnya sibuk mengeluarkan tasnya.
Setelah membayar Simbah langsung membuka pintu pagar dan ibu langsung mendorong untuk masuk rumah.
"Rasanya nggak sabar Bu, pingin lekas jalan," ucap Pram pelan.
"Kan mulai," ucap Ibu. Memasuki rumah Pram sedikit terkejut, benar-benar rumah yang berbeda.
"Bu...gimana kalau terapinya di rumah saja biar ibu tak repot dan maunya terapisnya cewek Bu," ucap Pram tiba-tiba.
Ibu menoleh ke arah Simbah seperti meminta persetujuan.
"Biar Nur, Ibu melihatnya juga kasihan," ucap Simbah lagi.
kemudian ibu mengangguk.
"Bu, Pram kok kesannya jadi manja," ucap Pram pelan.
"Nggak apa-apa toh kamu lagi sakit," sahut Ibu.
Ibu sudah mulai melihat setiap ruangan.
"Pram ... kamarnya ada dua, kamu mau yang di depan atau di sana tunjuk ibu.
"Depan saja Bu, biar bisa lihat jalan ucap Pram."
Mendengar jawaban Pram, ibu langsung mendorong ke kamar depan.
Sudah ada kasur dan yang lainnya.
"Kapan ibu beli ini ?" tanya Ibu sedikit heran.
"Kemarin minta tolong Rian juga," jelas Simbah.
"Anak itu cekatan Nur, Ibu suka ngeliatnya padahal umurnya sepantaran dengan Pram," ucap Simbah sembari melihat ke arah Pram.
"Bu, bolehkan Pram belajar berjalan selangkah saja? Pinta Pram pada ibu. Ibu tak segera menjawab hanya melihatku dan tersenyum. "Ayo kita coba," ucap ibu.
Sesaat kemudian Ibu sudah merangkul dan mengangkat tubuh Pram.
"Coba angkat kakinya."
"Ayo dan satunya. Ya ... begitu," ucap Ibu menyemangati.
"Agak kaku Bu", jawab Pram .
"Mangkanya Dokter bilang kan harus terapi Nak! Kemudian kembali mendudukkan Pram di kasur.
"Ibu kebelakang dulu Pram! Nanti kalau perlu sesuatu panggil ibu ya."
Aku langsung memundurkan tubuhku di sandaran ranjang. "Huf ... sangat merepotkan," ucap Pram pelan.
Sudah siang saat ibu melihat Pram di kamar.
"Kok melamun, memikirkan apa, hem?"
Pram tak menjawab tetapi hanya air matanya sudah turun.
"Maaf kan Pram Bu, sudah merepotkan ibu," ucap Pram sembari terisak.
Sembari mengikis air mata Pram.
:Semua sudah ada yang ngatur Pram, nggak boleh gitu," ucap ibu pelan.
Kini pandangan ibu beralih ke dua kakiku.
__ADS_1
"E ... pinter kakinya sudah naik di kasur, pelan pelan tadi naik ke kasur?" tanya ibu saat melihat kedua kakiku sudah naik di ranjang.
Kemudian ibu mengambil tasnya. "Pram ... sama simbah dulu, ibu mau cari sesuatu di luar! Mendengar ucapan Ibu aku hanya mengangguk.
Setelah ibu berangkat dan beberapa menit kemudian. "Gimana Pram? suara Simbah Rum mengagetkan.
Masih dengan terkejut aku menjawab pertanyaan Simbah.
"Rumahnya bagus Mbah," jawabku.
Sembari mendekat kini Simbah sudah berdiri di sisi ranjang.
"Seng ngati-ngati Pram!! Pram .... ingat pesan Simbah jangan pulang ke kampung kalau Simbah tidak memanggil
Aku hanya mengangguk. "Mbah, di kampung baik-baik saja kan?" tanya Pram pada Simbah dan nampak Simbah sedikit terkejut mendengar ucapanku.
"Ada Simbah, Pram ... semuanya pasti baik baik saja."
"Kenapa sekarang Mbah sering ngajak Rian?" tanya Pram pada Simbah.
Seketika Simbah tertawa.
"Kamu ... jangan curiga sama Simbah nanti kamu tahu sendiri jawabannya.
"Sssssttttt .... "
"Dengarkan Pram, kini Simbah sudah keluar mencari sumber suara.
"Sssssstttttt .... "
Terdengar lagi suara itu, Pram tersenyum saat melihat kelebat bayangannya.
"Mbah ... biar anak kecil," ucap Pram.
"Hem ... Simbah kira kau sudah lupa Pram.
"Mbah, boleh tanya? Ini tentang Srikanti.
Seketika Simbah menoleh jangan bahas Srikanti Pram. "Tapi aku jatuh karena dia Mbah!"
"Maafkan Simbah karena dia, kamu jadi begini."
"Dia sudah hilang Pram!!"
"Kenapa kamu takut?" tanya Simbah lagi."
"Tidak Mbah, cuma penasaran," jawab Pram pelan.
"Dan kalung itu? Kalau kamu mau pakai nggak apa-apa Nduk."
"Kamu nggak pingin lihat-lihat rumah ini Pram?"
"Nanti saja Mbah sama Ibu, Pram masih pingin di kamar."
"Ibumu kok lama ya?" tanya Simbah tiba-tiba."
"Simbah juga harus cepat pulang," ucap Simbah terlihat sedikit gelisah.
"Nginep saja Mbah," ucap Pram lagi.
"Ish ... kau itu," jawab Simbah lagi.
Melihat Simbah gelisah. "Simbah sudah nggak nginang?"
"Mangkanya Pram Simbah pingin pulang sudah nggak tahan pingin nginang."
"M ... kenapa nggak di bawa Mbah? Simbah mendekat langsung menyentil keningku.
"Bodoh kamu, bisa-bisa aku di ketawain orang-orang Pram! Mereka makin aneh melihat Simbah mu ini."
Mendengar jawaban Simbah akhirnya aku tertawa sembari mengusap-usap keningku. Melihat Pram tertawa Simbah langsung beringsut ke depan, kini sudah mondar mandir di ruang tengah dengan sesekali mengomel.
Tak berapa lama melihat pintu pagar di buka
"Mbah itu ibu datang," ujarku pelan.
__ADS_1
"Tapi ... siapa yang di belakang ibu, aku menatapnya dengan sedikit heran.
Begitu pintu di buka Simbah langsung marah
"Nur, berhenti di situ jangan masuk," hanya itu yang Pram dengar.
"Kamu ini dari mana?"
"Kenapa dia bisa ikut? Siapa Bu? Itu yang di belakangmu," ucap Simbah lagi.
"Siapa?" tanya ibu bingung.
"Diam," ucap Simbah yang Pram dengar, kemudian sepi sejenak dan akhirnya terdengar suara ibu mengucap salam.
Melihat ibu menuju dapur dan tak terlihat lagi. "Ngerti Pram? Suara simbah kembali mengejutkan.
"Aduh, Mbah," ucap Pram sembari mengusap dadanya.
"Jangan banyak melamun ini tempat baru," ucap Simbah, aku hanya mengangguk tanda mengerti.
Keluar dari kamar dan berbicara dengan ibu sebentar, kemudian Simbah pamit pulang kepadaku.
"Simbah pulang, hati-hati Pram! Setelah sembuh biar Ibumu daftar sekolah di sini Pram," ucap Simbah kini sembari mengelus kepala.
Melihat rambut Pram yang tak sama panjangnya.
"Pendekin saja Pram, rambutnya!! Biar sama nanti tumbuhnya," ucap Simbah sambil keluar dari kamar. Tak berapa lama melihat Simbah sudah menutup pagar dan sudah pergi.
Pram masih termenung di kamar, masih enggan ke mana-mana hingga tertidur.
Sudah hampir magrib saat aku terbangun dan tak lama suara adzan sudah terdengar.
Menurunkan perlahan satu persatu kaki dan berusaha menggerakkan tangan pelan pelan.
"Bu ... panggil Pram pelan. Masih dengan mukenanya ibu berjalan mendekat.
"Mau ke kamar mandi tolong? Bantu awasi Pram, dari depan kamar mandi," ucap Pram pelan.
Toh memang kamar mandi itu letaknya ada di dalam kamar. Tak berapa lama Pram keluar dari kamar mandi dan kembali ke kasur ternyata tirai jendelanya sudah di tutup sama ibu.
"Pram mau tidur lagi Bu, besok saja lihat-lihat rumahnya," ucap Pram sembari berbaring.
Ibu tersenyum mendengar ucapan Pram.
"Pram pintunya tidak Ibu kunci rapat, kini menutupnya dengan memberi sedikit celah.
Berkali-kali Pram menguap dan tak lama pun sudah terlelap dengan tenang.
Masih malam, tiba-tiba Pram te bangun, lampu yang tiba-tiba berkedip cukup lama.
"Hussssss ... "
"Huuuusss .... "
kemudian terdengar suara tawa terkikik dan sesaat kemudian terdengar suara.
Kletek ...
Kletek ...
Sreet ...
Sreeet ...
Seperti barang yang di pindah di ruangan kamar, lampu masih berkedip-kedip, mata Pram kini makin terbuka lebar saat meja kecil di depannya bergeser sendiri, sesaat bulu Pram meremang dan Pram makin terkejut saat melihat sosok gadis kecil berdiri di depan Pram sembari tersenyum.
Pram mengambil napas panjang dan menghembuskan pelan, setelah sedikit tenang, Pram menatap sosok ini.
"Jangan menganggu Dek, aku mau istirahat pulang gih," pinta Pram pelan.
"Jangan buat keributan nanti kakak hukum kini dengan wajah sedikit garang."
Hanya suara decitan panjang yang ku dengar.
Ciiiiiiìiiiit ...
__ADS_1
Tetapi sangat menganggu pendengaran.
Pram sedikit lega saat lampu sudah terang kembali, semoga Ibu tidak merasakan hal-hal aneh ini pikir Pram, cemas.