OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 75 . KEADAAN TAK SEPERTI PERTAMA KALI DATANG


__ADS_3

"Anak Pak Lurah? Seketika Pram tertegun sejenak. 'Mengerjai? Kembali timbul tanya di hati Pram.


Setelah di antar Pak Paijo kami langsung beristirahat Mbah Lasmi sosok wanita tua dengan raut wajahnya yang masih terlihat cantik. Meraih tangannya untuk salim begitu juga dengan Sinta dan Kaila.


"Maaf, Mbak tempatnya sederhana dan alas tidurnya pun sederhana.


Kami tersenyum mendengarnya. "Istirahat saja dulu, mulai besok Simbah temani ke ladang.


"Kamu," sembari menunjuk Pram. "Ya, Mbah," jawab Pram pelan. Simbah menatap Pram sejenak. "Ingat Simbah?"


Aku diam tak menjawab pertanyaan Simbah tapi langsung mengenalkan nama. Saya Prameswari, ini Sinta dan ini Kaila," ucap Pram sembari menjabat tangannya.


"Ya-ya," ucap Simbah seperti mengetauhi maksud Pram.


Tempat yang indah, sejuk dan sangat nyaman di mana mata memandang terpampang warna hijau dan jika bergeser sedikit ke barat nampak gunung tinggi menjulang. "Eeh. Mbaknya kok bengong," suara seorang gadis mengejutkan aku. Ini minumnya, kenalkan saya Ida cucunya Simbah Lasmi," ucap Ida ramah.


Kata Pak Paijo Mbak kuliah di kampus xxx ya? berarti sama dengan anak Pak Lurah. Hanifa itu, sayang orangnya sombong," ucap Ida tanpa di tutup - tutupi.


Seketika Sinta dan Kaila mendekat. "Maksud nya?" tanya Kaila. Bener gadis sombong itu," ujar Ida.


"Hm, hanya karena ayahnya saja yang berkuasa jadi warga desa sedikit takut.


"Da, selain jalan terjal apa ada akses menuju desa ini yang lebih bagus? Seketika Ida tertawa. "Lah, Pak Paijo tidak cerita kalau Mbak dan Masnya di kerjai?


"Bagaimana dengan lampu dan jaringan ponsel tanya Pram tiba tiba. Kalau itu bener Mbak, jangan kaget kalau tiba-tiba tengah malam lampunya padam dan kalau jaringan ponsel." Cerita Ida terputus saat Nurdin datang.


"Eee. Seru sekali cerita apa celetuk Nurdin tiba-tiba.


"Maaf Mbak saya permisi kalau perlu sesuatu saya di belakang," ucap Ida sembari melangkah ke dalam.


Melihat Ida masuk, Nurdin cs, langsung duduk di antara kami.


"Besok kita mulai bekerja dan sekarang kita harus menyusun langkah agar kita dapat menyelesaikan sesuai target.


Berbicara dengan serius membahas ini dan itu serta menyiapkan semuanya dengan teliti mengingat tempatnya yang jauh dan penuh perjuangan saat kami tiba.


Hingga sore menjelang kami membahas apa yang perlu kami kerjakan hingga sebulan mendatang. Setelah di rasa semua beres Nurdin cs, masih duduk bersama kami. Sementara Santi dan Kaila memilih masuk lebih dulu, tak lama Nurdin cs, juga ikut masuk.


Hingga panggilan Mbah Lasmi membuat Pram terkejut. "Pram, panggil Mbah Lasmi. "Ya Mbah," jawab Pram mendekat karena kini hanya aku dan Mbah Lasmi yang ada.


"Sudah ingat? Aku mengangguk dalam mimpi," ucap Pram pelan.


Menatap wajah Pram dan tersenyum

__ADS_1


"Ladang Mbah ada di sana dan besok Mbah akan membawamu ke sana.


"Sudah bertemu cucu Simbah? Sudah Mbah.


"kasihan gadis ini," ucap Mbah Lasmi.


"Ida sekolah Mbah?" tanya Pram. "Hiya, masih kelas dua SMA .


"Hm," hanya ini yang ke luar dari mulut Pram.


"Masuklah sebentar lagi kabut turun udara akan sangat dingin, beritahu teman-temanmu untuk memakai jaket dan kamu juga Pram."


Memilih masuk lewat pintu belakang dan sudah muncul kembali di ruan tengah.


"Pram masuk dan kalian juga panggil simbah sembari menutup jendela."


"Jika kabut datang masuklah sejenak hingga kabut nya menghilang," ucap Simbah menjelaskan.


"Mbah bagaimana jika kita berada di ladang," tanya Santi tiba-tiba.


"Pejamkan saja mata kalian dan tutup telinga kalian dan ingat ini," ucap simbah lagi.


"Ya mbah," jawab kami serentak.


Mereka berjalan beriringan berjoget dan ada yang ngidung sangat menyayat hati.


Perlahan kabut itu mulai menipis dengan menghilangnya wajah-wajah seram, bersamaan nyanyian kidung dan menghilangnya suara gamelan.


"Masnya kembali ke rumah pak Tojo mumpung belum isya," ucap Mbah Lasmi lagi.


"Ya mbah," ucap mereka bersamaan.


Tak terasa waktu bergulir dengan cepat, waktu berjalan dengan cepat melakukan semua kegiatan sesuai dengan saran Mbah Lasmi. Beberapa warga membantu dengan antusias, dua minggu sudah terlewati tanpa terasa, tak bisa menghubungi via Ponsel, Pram hanya bisa mengecup berulang kali cincinnya.


Ada rindu yang Pram tahan selama dua minggu dan tak ada kabar yang membuat Pram setiap saat bisa berubah fikiran.


Tapi semua itu tertutup dengan jaringan ponsel yang tak tersambung.


"Belum tidur suara Simbah mengejutkan.


"Masih ingin lihat bintang Mbah," ucap Pram pelan. "Kau merindukan seseorang Pram?Pasti berhubungan dengan cincin itu," ucap Mbah Lasmi.


"Duduklah," ucap Simbah yang kini sudah duduk berselonjor di samping Pram.

__ADS_1


Mengikuti duduk berselonjor hingga menatap bintang yang kini lurus di depan, tanpa perlu Pram mendongak ke atas untuk melihatnya. "Indah bukan?" tanya Simbah. "Ya, Mbah," jawab Pram.


"Pram, kau belum menjawab pertanyaan Simbah.


"Hehehehe, hanya tawa kecil Pram yang terdengar. Apa yang harus Pram jawab Mbah?Itu hanya mimpi saja," jawab Pram pelan.


"Itu bukan mimpi, memang aku yang sengaja mengundang mu Pram ada yang ingin Mbah berikan padamu dan simpan baik-baik.


"Mbah, kenapa Mbah Lasmi memilih Pram masih ada Ida Mbah, tolong berikan saja pada Ida Mbah aku tak bisa menerimanya dan aku juga bukan orang yang seperti Mbah lihat."


"Mereka yang memilih Pram bukan Mbah dan jangan kau kira mata tua ini tak mampu melihat siapa dirimu meski kau menutupinya dariku Pram."


"Ada Ida Mbah! ucap Pram berulang kali."


"Pram ini bukan sesuatu yang seperti yang kau pikirkan, lihatlah kini simbah membuka tangannya nampak sinar berkilau memancar dari tangan simbah. Pram ini akan sangat berguna nantinya, untukmu kelak."


"Meskipun kau menolak mereka tetap akan memilihmu," kembali Simbah berucap.


"Maaf Mbah simpan saja untuk Pram dan jaga untuk Pram," ucap Pram sedikit melunak.


"Pram, umur Mbah bukan muda lagi, aku hanya menunggu kedatangan mu dan lihatlah ! kini Simbah menunjukkan sesuatu pada Pram.


"Mbah, tunggulah hingga Ida sanggup hidup sendiri, kasihan dia Mbah pada siapa Ida nantinya akan berkeluh kesah," ucap Pram sembari sedikit berbisik dan menolak.


Kini aku kembali menutup tangan Mbah Lasmi. "Pikirkan Ida Mbah, suatu saat pasti mereka mencari Pram dan dengan sendirinya mereka akan menemukan aku Mbah dan jika itu memang waktunya dengan ikhlas aku menerimanya dan maaf untuk saat ini bolehkan Pram mu ini menolaknya dan itu semua demi Ida Mbah."


Berbeda dengan Prameswari, berbeda juga dengan Rian laki-laki ini sibuk menghindar dari kejaran Hanifa, memilih tinggal di rumah Prameswari dan menempati kamarnya.


Toh, nyatanya Hanifa lebih memilih tinggal di rumah Rian bersama timnya.


Masih berdiri di depan jendela berkali-kali mengulir ponselnya menekan tanda hijau namun tak ada balasan sedikit pun.


"Pram, aku rindu," ucap Rian kini menatap cincinya dan mengecupnya berulang kali.


"Hai orion aku rindu Pram ku," ucapnya sedikit keras.


Mengingat semua pesan Pram sebelum berangkat, membuatnya sedikit tersenyum semua masih aman Pram, semoga semua itu hanya firasatmu saja.


"Apa kau di sana baik-baik saja? Mencoba kembali mengulir tanda hijau, namun hasilnya tetap sama tak ada jawaban.


"Masih dua minggu lagi, kini memilih menutup jendela kamar merebahkan diri di ranjang mencoba memejamkan mata dengan menahan rindu di hati, mencoba bersabar dengan keadaan.


"Ahh !! Andaikan tugasku di sini selesai pasti aku akan menemuimu, pram apa kau juga merindukan aku?"

__ADS_1


__ADS_2