
Melihat Rian langsung masuk membuat aku sedikit geram," seperti di rumahnya saja."
Begitu aku masuk kamar," eh ... kok masuk kamar aku, nggak sopan," ucap Pram sembari sedikit mendorong tubuh Rian keluar.
"Aku mau mandi, sana! aku bisa terlambat Rian!" sungut Pram sembari kembali mendorong tubuh Rian keluar, tetapi Rian kembali masuk dalam kamar.
"Lima menit lagi," sahut Rian kemudian mematut diri di kaca dan menyisir rambutnya lalu keluar sembari tersenyum menatapku.
"Awas kalau masuk lagi," omel Pram, kini sudah mengunci pintu kamarnya.
Sedikit bergegas sudah pukul sepuluh seperempat, meraih tas dan memakai sepatu, berjalan keluar kamar aku tak melihat Rian, mencari di dapur, ruang tengah tapi juga nggak terlihat bayang tubuhnya.
"Ah ... masa bodoh," ucap Pram kini sudah mengunci pintu rumah dan menyimpannya di tempat biasa.
"Aku terkejut saat Rian sudah berdiri di depan," ayo, aku antar," ucapnya sembari mengenakan helm di kepala Pram.
Aku sedikit terkejut," kamu nggak kuliah? sahut Pram. "Santai," hanya itu yang Pram dengar. "Setelah mengantar tuan putriku aku akan berangkat," ucap Rian memastikan.
Masih bingung dengan ucapan Rian," kan itu jauh Rian, awas jangan ngebut," ucap Pram mengingatkan. Namun, Rian yang aku ajak bicara hanya senyum-senyum.
"Dengan secepat kilat pasti aku datang," ucapnya memastikan. "Jangan ngaco Rian!"
"Berangkat atau terus berdebat," ucapnya mengingatkan, seketika aku melihat jam "Kan ... sudah setengah sebelas," sahut Pram sedikit cemberut.
"Naik," hanya itu yang aku dengar setelahnya Rian melajukan motornya dengan sedikit kencang.
Seketika aku memeluk bahu Rian karena takut dengan kecepatannya.
Merasa aku memegang bahunya, seketika Rian melajukan motornya sedikit pelan dan menarik tangan Pram," jangan di bahu Pram, disini tempatnya," sedikit menarik tangan Pram untuk mendekap tubuhnya.
"Tangannya kok dingin Pram? tanya Rian pelan. Masih dengan wajah cemberut sudah keburu telat aku," sembari Pram melepaskan tangannya.
"Jika kau lepas akan aku lajukan lebih kencang dari tadi," ucapnya mengancam.
"Baik-baik jangan kencang-kencang," kini aku yang mengalah, karena di depan aku ada penampakan yang sangat menyedihkan.
"Tutup saja matamu Pram jika kau merasa jijik," ucap Rian tiba-tiba.
Tak lama kemudian Rian berhenti di gerbang kampus masih menatap Pram hingga masuk kelas. Masih dengan napas terengah aku memasuki ruang kelas semua sudah hadir, melihat sejenak deretan bangku yang kosong, akhirnya pandangan Pram tertuju pada bangku yang sedikit ke belakang, untuk menghindari Nurdin dan Hardan.
Setelah duduk sejenak tak berapa lama Pak Dosen jurusan masuk bersama seseorang, hanya memoerhatikan sekilas kemudian Pram sibuk menyiapkan tugasnya.
"Siang anak-anak, kenalkan ini ada mahasiswa pindahan dan silahkan perkenalkan diri anda," ucap Pak Dosen.
Aku yang dari tadi tidak memperhatikan langsung terkejut saat melihat wajahnya.
"Rian ... guman Pram pelan."
__ADS_1
"Perkenalkan saya Rian, senang berkenalan dengan semuanya," ucap Rian sembari tersenyum dan menatap pada Pram.
Setelah sesi perkenalan singkat, Pak Dosen mempersilakan Rian untuk duduk, masih terlihat jelas wajah Pram sangat terkejut, sampai Rian berjalan di samping meja Pram, dan pandangan Pram terus tertuju pada Rian.
"Kejutan," ucap Rian setengah berbisik.
Nampak Pak Dosen memperhatikan Rian, hingga teguran di lontarkan," Rian ... cepat cari tempat duduk," ucap Pak Dosen mengingatkan.
Karena semua bangku dekat Pram terisi akhirnya Rian memilih duduk di dekat dengan wanita yang terlihat cantik. Pram masih melihat hingga Rian duduk.
"Bisa di mulai," ucap Pak Dosen, setelah mengabsen kami, akhirnya Pak Dosen memberikan materi hingga dua jam, tanpa istirahat," buih ... capeknya," suara beberapa murid mengeluh setelah Pak Dosen keluar.
Kini pandangan Pram tak tertuju lagi pada Rian, tapi dia tengah sibuk dengan ponselnya.
Sesaat kemudian menatap Rian dan menunduk lagi dengan asyiknya dan kini malah senyum-senyum.
Beberapa saat kemudian memasukkan ponselnya lagi karena ada dosen yang masuk lagi dengan materi yang lainnya.
Hingga satu jam kemudian, semua materi sudah di selesai dan boleh pulang.
Aku melihat Pram berjalan sedikit tergesa menuju gerbang kampus, Pram yang sedang di area parkir segera mengeluarkan motor, saat aku keluar area parkir aku melihat Pram sudah naik angkot .
"Ih ... jauh-jauh aku mengejar dan rela pindah kampus demi Pram. "E ... malah di cuekin wah bahaya ini," ucap Rian sembari melajukan motorku.
Setibanya di rumah Pram, aku lihat masih sepi dan kini memilih untuk pulang.
Ibu yang melihatku pulang dengan lemas nampak sedikit tersenyum," kenapa? tanya Ibu.
Tapi kini, aku mencium bau sesuatu," ya, ini seperti mie buatan Pram.
"Siapa Bu yang di dapur? nggak ada siapa- siapa? lalu bau ini? tanya Rian lagi.
"Oh ... itu," terlihat ibu sedikit bingung menjelaskan.
Aku langsung menuju meja makan, ada semangkuk besar mie di meja makan.
"Betul kan Pram di sini," ucapku lagi
Kini aku sudah berjalan mengitari rumah tetapi sosok yang aku cari tak nampak.
Aku hanya menemukan secarik kertas di samping mangkuk mie, saat aku membukanya dan membacanya," ini hukuman karena tak jujur padaku dan sudah berbohong, harus di habiskan dan jangan ke rumah apalagi menghubungi aku jika mie ini nggak habis."
"Oh ya, kamu masih hutang satu penjelasan padaku," tulisnya lagi.
Setelah membaca kertas di meja, nampak Rian duduk termenung," Bu, bantuin makan mie nya ya? mana mungkin aku menghabiskan sendirian."
"Ibu nggak ikut-ikut Rian, kamu kan sudah ibu ingatkan untuk cerita dulu," ucap Ibu sembari berjalan.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti ibu bantu bicara dengan Pram."
Berbeda dengan Rian beda pula dengan Pram, yang kini sudah masuk ke kamarnya duduk termenung," entah mengapa hatiku sedikit resah," gumannya pelan.
Mengambil lagi kalung yang beberapa minggu ini Pram lepas dan saat keinginan untuk memakai kembali kalung itu sangat kuat, menggengam dengan erat kalung itu.
"Apakah Srikanti masih ingin menuntut balas seperti ucapnya dahulu atau ... sekilas Pram mengingat Hanifa, mengapa melihat Hanifa aku menginggat Srikanti."
"Apa ada hubungannya mereka berdua? kini Pram berdiri mematut diri di depan cermin sesaat, kemudian,' Pram pasang lagi kalung ini Simbah,' ucap Pram dalam hati.
"Semoga semua hanya ketakutan Pram saja."
Masih isya saat ibu memanggilku," Pram ...
ada Rian," ucap ibu.
"Suruh pulang saja Bu, aku ngantuk," jawab Pram malas.
Kini ibu sudah membuka sedikit pintu kamar," ih nggak boleh begitu, harus di selesaikan Pram, jangan sampai tiga hari kau tak bertegur sapa dosa," ucap ibu lagi.
"Ayo temui dia kasihan Pram, toh ini semua juga demi kamu,"ucap ibu berusaha membujukku.
Dengan malas aku ke luar dari kamar, aku melihat Rian sudah duduk di ruang tengah. Melihat aku keluar kamar ibu tersenyum," selesaikan masalah kalian ibu pergi ngaji dulu," ucap ibu sambil berlalu. "Ingat jangan aneh-aneh selama Ibu nggak di rumah belum mukhrim."
Melihat Ibu ke luar dari rumah," gimana mie nya? tanya Pram tiba-tiba. Seketika Rian tertawa," dosa kamu Pram, masak mie empat kau jadikan satu," buih ... segitu banyaknya, ucap Rian pelan.
"Habis? tanya Pram lagi. Jujur aku nggak bisa makan semua nya aku bagi-bagi ke anak mengaji."
"Mau tahu kata mereka? enak bahkan ada yang mau nambah," ucap Rian jujur.
"Terus kenapa pindah kampus nggak cerita cerita Rian? aku melihat Rian hanya menggaruk kepalanya. "Maaf sebenarnya aku hanya ingin membuat kejutan untukmu."
"Ya, aku sangat terkejut dengan kejutanmu," ucap Pram lagi.
"Pram maaf ya? janji nggak lagi-lagi," ucap Rian bersungguh-sungguh.
"Lantas apa yang membuatmu nekat, aku tahu kuliah di kota adalah impianmu dan aku tak ingin menjadi penghalangnya Rian.
Seketika Rian menatapku dalam," tapi nyawamu lebih penting dari segalanya Pram."
"Maksudmu?!"
"Nyatanya kau juga memakai kalung itu lagi," seketika aku meraba leherku mendengar ucapan Rian.
"Jangan di lepas lagi," ucap Rian sembari menatapku, aku juga sedikit khawatir.
"Pram ... maaf ya? kalau aku tak jujur dan mulai dari sekarang aku bisa mengawasimu
__ADS_1
dari dekat.
"Aku juga minta maaf kalau aku juga salah paham Rian.