
Akhirnya setelah makan malam aku dan Kinanti mengantar Kak Ardan dan Kak Ilham.
Udara terasa dingin dan suasana terlihat sepi, masih selepas isya, warga kampung pun terlihat sudah menutup pintu dan jendela.
Kami berjalan dengan perlahan, Kinara yang keluar sendiri dengan sukmanya tak pernah merasakan keadaan yang seperti ini. Langkah kinara terasa berat, melihat Kak Ardan sibuk dengan kameranya sementara Kak Ilham mengekor saja di belakang Kak Ardan.
"Kinanti, kenapa suasananya beda? Tapi !!belum selesai Kinara berucap, secara perlahan kabut tipis mulai turun, suasana jadi sedikit gelap, hanya nampak bayangan gelap pohon di kanan kiri jalan. Seakan kabut ini terus mengikuti langkah kami. Kinara makin mengenggam erat tangan Kinanti.
"Mana gelangmu?" tanya Kinara pelan.
Seakan Kinanti tersadar dan dengan cepat merogoh kantung bajunya, mengambil gelangnya dan memakainya.
"Kinara, kenapa jalannya berubah?" tanya Kinanti pelan.
Benar, kini Kinara memilih untuk fokus dan teringat akan pesan Ibu.
"Kinanti ingatkan Kinara jika ada sesuatu yang kau lihat mencurigakan," ucap Kinara sembari menarik Kinanti mendekat. Sebelum sampai di pertigaan Kinara menghentikan langkahnya sesaat, memanggil Zubaid dan dua pelindung Kinara.
"Dengan cepat Zubaid datang tapi memilih untuk menunggu di pertigaan.
"Masuklah dengan dua pelindungmu, Zubaid akan berjaga di sini," ucap Zubaid dengan menunduk dan mundur beberapa langkah.
Masih terlihat Kak Ardan yang sibuk dengan kameranya dan tak menyadari perubahan suasananya. Sementara Kak Ilham memilih menjaga jarak dan makin mendekatkan langkahnya pada kami.
"Kak Ardan jangan berjalan terlalu cepat, tunggu!!" panggil Kinara sedikit kencang.
"Ini, dimana Kinara?Jalan menuju mushola tak seperti ini, tapi ... jangan berisik tarik saja Kak Ilham sedikit mendekat dan Kinara akan berusaha menarik Kak Ardan," ucap Kinara sembari berjalan sedikit cepat menuju Kak Ardan, sementara Kinanti mengikuti di belakang.
"Belang tuntun Kinara menuju mushola," ucap Kinara tenang sembari, berjalan menyusul Kak Ardan. Merasa tubuhnya tertarik Kak Ardan seketika menoleh tersadar. Memindai tempat ini, masih dengan kameranya seakan tak percaya dengan yang di lihatnya.
"Ilham ... lihat," teriak Kak Ardan. Kabut turun semakin tebal, jalan yang kami lalui bukan jalan beraspal bersih, masih berupa jalan tanah dan beberapa pohon besar serta rumpun bambu. Dengan Loreng berjalan di depan seperti membuka jalan untuk kami.
Hingga langkah kami terhenti di sebuah rumah dengan dua pohon yang berdiri bersebelahan, pohon besar dan satu pohon mangga, rumah kuno dengan pintu terbuat dari ukiran kayu jati, suasana terlihat petang dan suram, benar-benar rumah kuno dan besar.
Langkah Kinara terhenti saat terdengar suara berbisik dari sisi Kinara.
"Jangan melangkah masuk ke dalam halamannya, Ibumu sudah memasang pagar dan setelah ini cepatlah pergi."
Namun, terlambat Kak Ardan kini sudah masuk dalam halaman dan tak berapa lama kak Ardan sudah terlempar keluar dari halaman.
"Dengan gesit Kak Ardan bangun dari jatuhnya, mengambil kameranya kemudian memeriksanya, seketika terlihat raut wajahnya berubah. Nampak, ketakutan terlihat dari wajahnya, matanya sedikit terbelalak, wajahnya menegang, hingga tiba-tiba Kak Ardan berlari dengan kencang. Melihat perubahan sikap dari Kak Ardan. Kinara, Kinanti dan Kak Ilham langsung berlari mengejarnya.
'Zubaid, cegah Kak Ardan dan buat Kak Ardan berhenti,' ucap hati Kinara pada Zubaid, bersamaan menghilangnya kabut yang menyelimuti jalanan yang Kinara lalui.
Begitu kabut tipis mulai menghilang, dua Harimau Loreng ku pun ikut menghilang hingga tiba di pertigaan, Kak Ardan masih dengan napas nya yang terengah-engah, berhenti dengan mengusap keringatnya dan sesekali menoleh ke belakang.
"Kak," panggil Kinara sembari menepuk bahunya. Mundur beberapa langkah dari Kinara kemudian menatap dengan bingung.
"Ayo, bawa aku pergi dari tempat ini," ucapnya dengan napas tersengal.
"Tenang ... ambil napas kakak!" ucap Kinara pelan.
__ADS_1
Sementara aku menenangkan Kak Ardan, berbeda dengan Ilham dan Kinanti nampak wajah lelah mereka mengikuti lari kami.
Aku sedikit tersenyum, melihat Kak Ardan, sesaat Kinara melihat jalanan kampung ini, kini terlihat pintu beberapa warga terbuka dan ada satu dua orang berlalu lalang.
"Duduk kak, tenang ambil napas pelan-pelan," ucapku sembari mengajaknya untuk duduk.
Setelah sedikit tenang.
"Ilham coba lihat kameraku," ucap Kak Ardan sembari menyerahkan kameranya. Dengan takut-takut Kak Ilham menerima kamera itu, kemudian dengan hati-hati memeriksa isinya.
Karena terkejut akhirnya kamera itu terlempar ke tanah begitu saja.
"Astafifullah," ujar Kak Ilham sembari mendekat ke arah Kinanti.
"Sudah aku bilang Ardan, kau sungguh-sungguh paham sekarang, hapus saja," ucap Kak Ilham sembari mengambil kamera yang terjatuh tadi.
Sedikit heran, apa yang membuat mereka seperti itu, sementara saat aku dan Ibu tak menemui keanehan apapun saat melihat ke sana? Masih dengan heranku, kini aku memilih duduk dekat mereka.
"Ada apa kak?"
Kak Ilham hanya menggaruk kepalannya saja sementara, Kak Ardan langsung menatapku
"Kinara, sungguh aku minta maaf sudah tak menghiraukan ucapanmu dan coba lihat ini."
Menyerahkan kameranya padaku, sejenak aku melihatnya. "Kinanti sini lihat ini," ucapku pelan. Namun, dengan santai Kinanti menolak. "Nikmati saja, aku tak tertarik," ucapnya sembari duduk di dekat Kak Ilham.
Kami sama-sama terdiam beberapa saat dan hanya saling melihat.
Melihat Kak Ardan langsung menggeleng.
"Hm ... memang benar yang di ceritakan orang tuaku Kinara dan ternyata cerita mereka tak bohong, sekali lagi aku minta maaf dan aku akan menghapusnya saja, untuk menghargai orang tua kalian dan leluhur kalian," ucapnya lirih dengan menunduk dan mengotak atik kameranya.
Aku tersenyum mendengar ucapan Kak Ardan
"Untung para leluhur sudah memberi ijin jadi mereka bisa mereka bisa membantu kita," jelasku sembari berdiri.
"Ayo Kinanti kita pulang, kasihan Ibu dan Bapak menunggu kita, Kakak masih mencari cerita yang lain atau pulang," ajakku pada yang lainnya sembari berdiri dan berjalan lebih dulu.
Udara malam kini sudah berubah, bukan udara gelap dan dingin menggigit, udara sedikit hangat dan tenang. Berjalan dengan tenang.
"Arrgghh ... apalagi ini," ucapku pelan sembari menoleh kebelakang.
Melihat kak Ardan berjalan sedikit melambat, Zubaid yang ada di sisiku hanya tersenyum.
"Ada yang ikut ingin di gendong sama anak itu, biarkan saja kita kerjai, aku akan mengawasi sosoknya," ucap Zubaid setengah berbisik di telingaku.
Ilham, yang sedari tadi sudah sedikit ketakukan kini memandang heran ke arah Ardan.
"Ardan kamu baikkan?Tanyanya sembari terus melihat dengan heran.
Sambil sesekali bergidik Ardan menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Lihat bulu tanganku meremang dan punggungku terasa berat, seperti ada sesuatu yang menindiku," jelas Kak Ardan dengan keringatnya yang mulai terlihat.
Hingga tiba depan rumah, aku menyuruhnya berhenti.
"Kakak mau lihat siapa yang ada di punggung kakak?" tanyaku memastikan sebelum aku benar-benar mengusirnya.
Kak Ardan terlihat sedikit bingung, kemudian mengangguk dan sesaat berubah menggeleng, aku tersenyum sembari berjalan mendekat, secara cepat ku tutup mata Kak Ardan dan membukanya lagi.
"Ih ... kenapa kau menutup mataku," ucapnya sedikit kasar.
"Kak Ilham juga mau?" tanyaku sembari tersenyum. Sementara Kinanti sudah berlari ke arah teras lebih dulu.
"Ah ... kakak kelamaan jawabnya.
"Kini tanganku sudah menjitak kening Kak Ilham.
Melihatku sejenak, kemudian melihat ke arah Kak Ardan dengan langkah pelan dan teratur Kak Ilham meninggalkan halaman dengan wajah ketakutannya dan tangannya menunjuk ke arah punggung Kak Ardan.
"Ha-ha-hantu ... ucapnya sembari berlari ke teras menuju ke arah Kinanti.
"Ada apa?" tanya kak Ardan dengan napas terengah-engah dan tatapannya terus melihat ke arah Kak Ilham. Hingga beberapa saat tersadar dan melihat ke arah punggungnnya
Sosok ini tersenyum cantik, meskipun wajahnya tak berbentuk dengan mata melototnya dan tersenyum menyeringai menjijikkan," Mas ... gendong ... ", ucapnya sembari masih tetap di punggung Kak Ardan.
Melihat siapa yang nangkring di punggungnya seketika Kak Ardan jatuh pingsan. Hingga cukup lama. "Sial .... "
umpatku saat melihat sosok ini tak mau pergi dari punggung Kak Ardan.
Zubaid yang melihat itu hanya tersenyum. "Mbak kunti rupanya suka sama Dia," ucap Zubaid lagi. Dengan langkah cepat aku menyuruh Kinanti memanggil Ibu.
"Cek ... sungguh merepotkan," ucapku sembari kembali duduk di dekat Kak Ardan.
Ibu yang datang seketika tersenyum tapi begitu melihat siapa yang ada di sisi Kak Ardan seketika ibu menatap tajam.
"Kenapa kau ikut kemari? Pulang ... atau aku usir kau dari rumahku itu. Tak menunggu lama sosok itu langsung menghilang, cukup lama Kak Ardan pingsan, hingga tersadar saat ibu menepuk punggungnya beberapa kali.
Melihat Kak Ardan bangun dan langsung melihat ke segala penjuru ibu tersenyum," apa yang kau cari Ardan, cewek tadi?! ucap ibu sedikit meledek.
Terdiam sesaat. "Maaf, Tante saya salah, ternyata cerita ibu nggak bohong, maaf telah mengusik rumah leluhur Tante."
"Masih mau lihat lagi?" tanya ibu pelan, terlihat Kak Ardan menggeleng.
"Kinara tutup lagi apa yang kau buka," ucap ibu dengan berlalu.
Mendengar ucapan ibu, Kak Ardan langsung berdiri," Tante biarkan begini, bolehkan?! ujar Kak Ardan.
Ibu langsung melihat ke arah Kak Ardan dengan tatapan teduhnya kemudian tersenyum.
"Mendekatlah aku akan memberi pagar untukmu."
Tak perlu waktu lama ibu menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
"Jangan kau salah gunakan, gunakan untuk kebaikan," bisik ibu lagi.