OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 44. CERITA


__ADS_3

Setelah mengatakan itu ibunya Rian berdiri


tak lama kemudian duduk lagi.


"Siapa tante?"


"Ada yang menguping omongan kita Pram, setan gundul yang suka berdiri di bawah pohon sawo di rumahmu."


"Loh aku kok nggak pernah tahu Tante?"


"Dia itu akan muncul kalau ada yang membicarakan golongannya, memang ada yang seperti itu."


"Mereka itu seperti kita Pram dan rasa penasaran mereka juga tinggi."


"Tante apa yang ada pada diriku bisa hilang?" tanya Pram sembari menunduk.


"Kau yakin akan hal itu Pram? Kau tahu dari semua yang ada di dunia ini siapa yang paling maha memberi, mematikan dan menghidupkan serta di atas segala-galanya.


"Yakinlah pada hatimu, Tante yakin jika kau pasrah dan ingin mendapatkan kebaikan dari apa yang kau miliki Allah pasti mengabulkan."


"Membuang yang jahat dan jelek dan menetapkan yang baik dan akan jadi milikmu, ingat pasrah dan yakin jika kau ingin mendapatkan kebaikan dan manfaatnya."


"Tante, mengenai pertanyaan Pram yang tadi


apa selama aku sakit dulu, ada yang meninggal di bawah pohon sawo itu?"


" Siapa yang bilang?" tanya Tante lagi.


"Simbah," jawab Pram.


Melihat ibunya Rian tersenyum. "Sebelum Tante menjawab boleh Tante bertanya?"


"Memang ada apa dengan pohon itu Pram?"


"Pohon itu adalah pohon perjanjian dan sukma Pram yang menjadi taruhannya Tante dan jika Simbah menolak maka secara tiba tiba akan ada gadis yang seumuran Pram akan meninggal secara mendadak di bawah pohon itu," ucap Pram sembari menatap ibunya Rian.


Setelah mendengar cerita Pram ibunya Rian diam sembari menghembuskan napasnya.


"Aduh aku kok yang tegang Bu," ucap Rian sembari mengambil kue dan menyuap kan pada Pram. "Eh ... mesti ucap Pram, tak urung kue itu masuk juga ke mulut Pram.


"Pram yang salah sebenarnya bukanlah pohon sawo itu, tapi orang nya pasti kau pun sudah tahu dari mana makhluk itu."


Pram hanya mengangguk, toh memang kini mulut Pram masih penuh dengan kue suapan Rian.


"Sebenarnya mereka di paksa pindah Pram dan itu juga harus dengan perjanjian dan kau tahu kan akibatnya? Lagi-lagi aku mengangguk.


"Tapi kenapa aku yang ikut di jadikan perjanjian Tante?"


"Itulah sifat serakah Pram dan selalu merasa kurang hingga akhirnya anak cucu yang tak ada sangkut pautnya akhirnya ikut menanggung juga."


"Tante juga masih kurang paham perjanjian apa yang mereka sepakati tapi, yang tante tahu makhluk itu yang berada di pohon sebelah timur dusun kita Pram.


"Ya Pram tahu tante, tapi apa betul tante tentang gadis itu? Rian kau tahu juga kan?"

__ADS_1


Yang Pram tanya langsung mengangguk.


"Kasihan," ucap tante tiba-tiba.


"Kau tahu Pram gadis itu jauh dari kampung kita, saat ini Ibu dan Bapaknya juga masih mencarinya."


Mendengar ucapan ibunya Rian. "Jadi ... uacp Pram seketika menutup mulutnya.


"Ya, Pram," ucap ibunya Rian.


"Amanat apa yang di pesankan Simbahmu Pram."


Aku menjawab dengan sedikit gemetar.


"Simbah menyuruh Pram untuk ... "


Aku langsung berbisik pada ibunya Rian, seketika ibunya Rian terkejut dan memandang.


"Kau akan melakukan Pram? Aku tidak akan pernah melakukan Tante dan Simbah juga sudah menyetujuinya.


"Simbah bilang aku harus memotong pohon itu tapi dengan syarat seperti itu."


"Saran tante biarkan mereka dan jangan mengundang rasa penasaran mereka dengan hal-hal itu Pram, yakin dan terus berdoa Pram, ada yang lebih Maha menentukan."


"Mulai sekarang rubalah semuannya aku yakin ibumu juga paham akan ini."


"Melakukan semua itu kau akan mengundang lebih banyak mereka lagi Pram."


"Jangan pernah melakukan apapun kita lihat nanti kelanjutannya seperti apa," ucap ibu Rian lagi.


"Ibu tak pernah menjawab semua pertanyaan Pram dan terkesan menutupinya dari Pram Tante," ucap Pram sembari menunduk.


Kini pandangan tante tertuju pada Pram sejenak.


"Ada luka di hati ibumu Pram, yang coba dia tutupi."


"Jadi ibumu juga belum menceritakan siapa kami sebenarnya!"


Aku kembali menggeleng dan memandang


Rian dan ibunya bergantian.


Merasa Pram perhatikan Rian langsung beringsut mendekat ke meja .


"Ayo minum dulu," ucap Rian menyela karena aku belum juga mengangkat gelasnya.


"Ayo minum biar tenggorokannya nggak kering," sembari mendekatkan gelasnya ke mulut.


"Rian ... tegur ibunya Rian."


"Jangan usil dan memaksa Le !"


"Bu ... sudah hampir sore suruh pulang gih besok saja ceritanya di sambung. Aku jamin kamu belum mandi dan dhuhuran."

__ADS_1


Seketika wajah Pram memerah karena benar apa yang Rian ucapkan.


"Lihat Bu, wajah Pram merah seketika, pasti bener nih ada yang belum mandi , pantesan ada yang asem ... tapi bukan cuka."


"Eh ... pas Rian cium dari sini Bu," ucap Rian lagi.


"Rian ... suara Ibu, menegur."


"Besok kemari lagi Pram , anak-anak juga mau ngaji, sungguh besok Tante tunggu loh."


Setelah mencium tangan dan berpamitan pulang, akhirnya dengan leluasa aku memukul pungung Rian.


"Kamu jahat Rian tega ngomong gitu di depan ibumu."


Mungkin merasa sakit akhirnya Rian memegang tangan Pram. "Sudah, sudah aku minta maaf, tangan cantik ini jangan buat mukul ya? ucap Rian sembari menatap Pram.


"Ih ... kamu," ucap Pram sembari mencoba menarik tangannya.


"Sudah aku pulang," saat melihat beberapa anak-anak sudah datang mengaji.


Kali ini aku langsung pulang ke rumah sepanjang perjalanan aku masih teringat akan ucapan ibunya Rian tentang gadis itu.


Saat hampir di dekat rumah ada suara yang memanggil dengan pelan bukan nama panggilan tapi dengan sebutan Mbak, mendengar ini pasti ini bukan orang yang terbiasa memanggil. Tapi aku tak membalik ataupun menoleh .


Aku langsung masuk halaman hingga sampai di teras aku langsung mencari kunci dan membuka pintu. Sejenak aku berdiri terpaku di ruang tamu.


"Lah kenapa aku lari, toh aku tahu itu mereka. Seketika aku berbalik dengan tiba-tiba sosok ini sudah berdiri di depan dan wajah nya.


"Ya, Allah apa yang terjadi dengan sosok ini, kenapa wajahnya?"


Sodok ini tersenyum dengan senyum jeleknya itu.


Aku mundur beberapa langkah untuk sedikit menjauh dan kenapa sosok ini terus mengikuti.


Tapi dia hanya menunjuk-nunjuk kakinya.


"Keluar dari sini berdiri di halaman sana, usir Pram sembari Menutup pintu rumah."


"Pulang, jangan ganggu! Perintah Pram lagi tapi sosok ini menggeleng masih menunjuk nunjuk kakinya.


"Kenapa? Kini aku duduk di teras, secara tiba tiba dia melihatkan kejadian yang menimpanya.


"Astafirullah," ucap Pram saat mengetauhi kejadian yang sebenarnya.


"Jadi," kini dia mengangguk. "Ya ada yang sudah menunggguku dan aku tak bisa membuka ikatan ini, kasihan dia sudah terlalu lama berdiri disana."


Pram mengalihkan pandangan ke arah halaman rumah. Nampak sosok bapak- bapak berdiri disana.


"Maaf .... kini aku duduk bersila, tiba-tiba tangan Pram merasakan ada tali yang mengikat dua kaki sisok ini, tangan Pram kini sudah mulai bergerak-gerak untuk melepas ikatan itu.


"Terima kasih," ucapnya sembari mundur ke belakang.


"Eh ... bawa ini jangan kau tinggalkan di sini," ucap Pram sembari melempar benda itu.

__ADS_1


Dia tak menghiraukan benda itu, Pram melihat kini mereka sudah bergandengan tangan dengan bapak-bapak itu dan melesat cepat menuju cahaya putih di awan.


Melihat ini aku jadi teringat akan shofia dan rindu dengan tingkahnya.


__ADS_2