OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 132 . DUA TAMU BANDEL


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku sedikit terkejut melihat keadaan rumah, daun kering Bugenfil bertebaran di mana-mana, begitu pintu mobil terbuka Arion langsung berhambur turun begitu juga dengan yang lainnya. Namun, berbeda dengan Kinara memilih turun paling terakhir kini matanya memindai pohon Bugenfil sesaat kemudian melihatku, sinar matahari mulai sedikit meredup.


"Bu, Zubaid?" tanya Kinara pelan.


Masih menatap saat Nak Ilham mulai turun setelah memakirkan mobilnya.


"Lintang .... panggil Pram sesaat."


Merasa Ibunya memanggil Lintang langsung mendekat.


"Bilang pada Mbak Yas untuk menyiapkan kamar atas, untuk Kak Ilham," ucap Pram sembari mengusap kepala Lintang.


Ilham langsung mengekor begitu saja dengan Lintang.


"Bu, Zubaid kemana? Lihat kenapa pohon ini jadi kering? Kembali Kinara bertanya."


"Kita masuk dulu, siapa tahu Zubaid lagi jalan-jalan," jawab Pram sembari melangkah masuk.


Tak lama Kinara menyusul.


"Bu ... aku sudah memberi tahu Zubaid jika kita akan pulang!! Kembali Kinara berucap."


"Masuk Nak! kita juga masih capek."


Seperti kehilangan sesuatu Kinara masih berusaha mencari Zubaid, kemudian duduk di ruang tengah dengan menghempas tubuhnya di sofa begitu saja dengan keras.


Kinanti menoleh sesaat.


"Kenapa mesti begitu, tak ada yang mengusikmu juga."


Setelah mengatakan itu Kinanti memilih naik ke atas begitu juga dengan Kinara dengan sedikit berlari berusaha menyusul langkah Kinanti.


"Kinanti ... panggilnya pelan. Zubaid pergi, apa ? Kinara tak melanjutkan ucapannya saat melihat Ilham berdiri di pagar tangga."


"Dek ... Ibu Pram, ada dimana?" tanya Ilham sedikit ragu.


"Tadi, ada di dapur sama Mbak Yas. Mas!!" jawab Kinara sembari berlalu.


Hanya mengangguk dan langsung turun, tak lama terlihat naik lagi. Sudah hampir isya, Kinara masih memikirkan tentang Zubaid. Kinara memanggil berulang kali tetap Zubaid tak terlihat muncul hingga suara ketukan di pintu kamar mengejutkan Kinara.


"Kak ... Suara Arion mengejutkan Kinara, Arion yang mengetuk pintu kamar berulang kali dengan bergegas Kinara membuka pintu kamar dan begitu pintu terbuka.


"Di panggil Ibu," ucapnya sembari berlalu pergi.


Setelah memakai hijab, kemudian Kinara turun terlihat mereka sudah berkumpul, senyum Kinara sedikit terkembang saat melihat Bapak juga sudah ikut duduk di meja makan.


"Bapak ... katanya menginap sedikit lama di pondok?" tanya Kinara sembari duduk.


Mendengar pertanyaan Kinara, Bapak hanya tersenyum saja. Tak menjawab pertanyaan Kinara malah Bapak berbicara yang lainnya.

__ADS_1


"M ... nanti anak tante Ida juga akan datang kemari, mungkin juga akan menginap beberapa lama seperti Kak Ilham," ucap Bapak menjelaskan pada kami.


Kinara dan Kinanti seketika saling memandang kemudian terdiam. Hingga makan malam selesai, Kinara dan Kinanti masih terdiam hingga Kak Ilham dan Lintang naik lebih dulu.


"Pak, Kinara sedikit keberatan jika anaknya tante Ida menginap di sini," ucap Kinara protes.


Ibu hanya tersenyum.


"Memang kenapa? Toh, Kak Ilham dan anaknya tante Ida itu berteman dan mereka satu sekolah dan satu pondok jadi Bapak setuju-setuju saja," ucap Bapak sembari menyesap kopinya.


"Ini waktunya libur bagi mereka Kinara dan Kinanti, mereka juga anak teman baik Bapak dan Ibu, Bapak harap kalian kelak bisa terus menjaga tali silahturahim ini," ucap Bapak sembari berdiri.


"Bapak istirahat dulu, ingat mereka tamu."


Kini bapak sudah masuk dalam kamarnya.


Semua sudah masuk ke kamar masing-masing tapi tidak dengan Kinara, memilih keluar berjalan ke teras, masih tak terlihat sosok Zubaid dengan sedikit kecewa akhirnya Kinara memilih untuk masuk dalam kamar, berbagai pertanyaan muncul dalam benak Kinara tentang Zubaid.


Tak menunggu lama kini Kinara sudah melangkah keluar kamar, sukma Kinara telah berjalan di kampung ini, tak ada satupun sinar milik Zubaid dengan lelah akhirnya Kinara kembali dalam raganya, seakan tak rela jika Zubaid pergi begitu saja.


Pagi menjelang, anak tante Ida akhirnya datang juga, seakan mendapat teman sepantaran Kak Ilham kini mulai terlihat tersenyum memeluk erat anak tante Ida.


"Andra," panggilnya dengan tersenyum.


Setelah berkenalan akhirnya Kinara tahu bahwa Kak Ilham dan Kak Andra satu pondok tempat di mana pondok yang kami datangi, masih kelas sebelas dan mungkin dengan Kinara dan Kinanti memiliki perbedaan yang cukup jauh.


Masih seperti biasa kami sibuk dengan urusan kami dan melakukan kegiatan kami masing-masing. Hingga di malam kedua Kinara melihat kemunculan Zubaid yang tiba-tiba, tanpa mengatakan apa-apa Zubaid langsung masuk dalam kamar dengan menunduk Zubaid mendekat dan membisikkan sesuatu pada Kinara


Dengan bergegas Kinara mengikuti Zubaid, hingga Kinara tiba di Mushola kampung masih dengan terkejut.


"Apa yang mereka cari Zubaid?Jika Bapak dan Ibu tahu pasti akan marah, ini kan Mushola?" ucap Kinara seakan tak percaya dengan yang di lihat.


Kembali Zubaid membisikkan sesuatu dan Kinara hanya mengangguk saja.


Cukup lama mengamati Kak Ardan dan Kak Ilham, hingga akhirnya mereka kembali pulang.


Kinara masih memantau apa yang mereka lakukan. 'Sepertinya mereka mencari dan merekam sesuatu dan untuk apa? Kembali hatiku bertanya.'


Kini Kinara sedikit curiga dengan apa yang mereka lakukan, hingga pagi tiba Kinara masih melihat dan memperhatikan setiap gerakan mereka.


Merasa Kinara perhatikan nampak Kak Ardan mulai salah tingkah dan berkali-kali menyenggol lengan Kak Ilham. Dengan tersenyum Kak Ilham melihat, kemudian duduk di antara Kinara dan Kinanti.


Menunggu hingga Bapak berangkat, kemudian mereka mulai berbicara dengan Kinara.


"Apa, ada yang salah dengan kami?" tanya Kak Ardan.


Mendapat pertanyaan yang seperti ini, Kinanti langsung menatap Kinara bingung seakan ingin bertanya.


"Kinanti, ayo berangkat," ajak Kinara dan menarik tangannya. Kak Ilham dan Kak Andra hanya tersenyum melihat sikapku.

__ADS_1


"Boleh, kakak ikut ke sekolah kalian? Kata Arion ada sesuatu di dekat sekolah kalian."


"Rupanya Kak Andra pingin mencari sesuatu untuk konten youtube nya, pasti seru," ucap Kak Ilham tiba-tiba.


"Ish ... Arion pasti warung itu yang di ceritakan," ucap hatiku.


"Bagaimana? Kembali kak Ilham bertanya."


"Jangan macam-macam kak, kakak tak tahu seperti apa desa ini, nanti jika terjadi sesuatu pada kakak, biar tak ada yang mau menolong," ucap Kinara sembari melangkah masuk mencari ibu untuk pamitan.


Tak mendengarkan ucapan Kinara, malah mereka ikut berjalan di belakang.


"Kak, Kinara dan Kinanti pasti malu nanti kalau kakak ikut ke sekolah kami, ini juga waktunya ujian kakak."


Ternyata ucapan Kinara ampuh juga, mereka seperti berfikir sejenak, kemudian tersenyum dan kembali pulang.


Hingga tiba waktu pulang sekolah dengan senyumnya mereka sudah di gerbang pintu sekolah, seketika Kinara dan Kinanti saling memandang dengan tatapan tajamku.


"Kin ... lihat mereka," ucap Kinara dengan geram.


Kinanti hanya mengedikkan bahunya tanda tak mengerti, kemudian memilih untuk berlalu. Setelah sedikit mendekat.


"Akhirnya kalian pulang juga, sudah lama kami menunggu. Ayo ... kita lihat tempatnya," ajak Ardan kemudian.


Terus berjalan di belakang kami.


"Eh ... ini kan jalan ke arah rumah Kinara, Kinanti? Kini tatapan Ardan fokus pada Kinara dan sedikit mengerutkan keningnya.


"Jangan bilang, kalau Kinara ... kamu?" ucap Ardan sembari berjalan mengelilingi Kinara hingga dua kali putaran.


Nasih dalam diam Kinara.


"Kinara, ayo panas," ucap Kinanti sembari menarik tangan Kinara, untuk masuk rumah. Tanpa di perintah kak Ardan sudah mengikut di belakang dengan penasaran, sementara Kak Ilham yang tadinya diam kini juga mulai terusik dengan ucapan Kak Ardan dan ikut-ikutan menatap Kinara.


Merasa risih dengan kelakuan mereka.


"Bu ... teriak Kinara keras, saat melihat ibu tengah duduk melamun sembari memegang secarik kertas.


Dengan terkejut ibu langsung menoleh ke arah Kinara dengan tatapan herannya.


"Kenapa? Kinara, jangan biasakan seperti itu," ucap ibu sembari berdiri.


Melangkah menuju ke arah Kinara.


"Lihat kakak berdua ini Bu. Ih ... Kinara jadi takut," ucap Kinara sembari mengajak Kinanti naik ke lantai atas.


Ibu hanya menanggapi dengan tersenyum. "Jangan goda adik kalian seperti itu Ardan, Ilham lagian ... kenapa kau menatap Kinara seperti itu? Biar nanti Tante adukan pada Abah. Dan kau Ardan, ingat janjimu jangan aneh-aneh dan jangan buat mereka takut."


Terlihat jelas oleh Kinara dari atas, mereka seketika menunduk dan pamit ke atas.

__ADS_1


Melihat keduannya sudah di ujung tangga Kinara langsung masuk dalam kamar dengan senyum kemenangan dan menutup pintu.


__ADS_2