OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 83 . CERITA MBAH LASMI


__ADS_3

Mendengar ucapan Mbah Lasmi Pak Martoyo langsung tersenyum. "Sudah Mbah, kami tak akan meributkan semuanya, kedepannya kami hanya berharap semua akan baik-baik saja, biarkan yang dulu dan memang ada yang salah tapi kami tak akan mendebatnya lagi."


"Ternyata anak muda sekarang lebih berpikiran luas dan harapan Mbah jadikan semua sebagai pengingat dan untuk tidak di ulang kembali."


Berhenti sejenak kemudian menatap Pram lekat.


"Masih ingin tahu siapa dia Pram?" tanya Simbah. "Ya Mbah," jawab Pram dengan cepat.


Pandangan Mbah Lasmi tertuju pada halaman dan menatap Pram. "Umurku tidak muda lagi, sekarang usia Simbah sudah seratus tahun, sudah waktunya Mbah istirahat, Pram setelah seminggu di sini Mbah harap kau mau menerima apa yang jadi milikmu, karena mereka telah memilihmu."


"Aku sekarang juga sudah tenang karena Ida pun sudah ada temannya dan tempat untuk cerita, tak menyangka kau membawa jodoh untuk cucuku," ucap Mbah Lasmi.


"Nur, apa ada keanehan saat kau melahirkan Pram? Ini juga karena ke lalaian Rum terlalu percaya pada pendampingnya dan kadang dengan suka rela meminjamkan raganya."


"Saat kau melahirkan anakmu bungkus kan dan jika terlambat sedikit saja nyawa anakmu ini meninggal, tapi ... sangat di sayangkan jalan yang di tempuh keliru Nur."


"Dengan meminjam raga Simbahmu pendamping Simbahmu melakukan perjanjian tanpa sepengetauhan Simbahmu dan yang jadi jaminannya adalah bayangan sukma mu Pram dan jika kelak kau sudah meninggal kau akan jadi pengikutnya dan kau pasti tahu, ceritannya kan?"


"Pram apa saat kau menyelamatkan teman mu kau pasti sudah bertemu dan sosok ini. sosok yang selalu bersembunyi, itu juga karena Simbahmu yang melindunginya dengan memasukkan teman lahirmu dalam tubuhmu dan dialah yang menyelamatkanmu Pram."


"Pram beruntung, saat kau sakit Satria menelefon Mbah, jadi Mbah tahu apa yang jadi penyebabnya. Berhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.


"Karena kau berusaha memusnahkan penghuninya dan mematikan pohon itu. Kini Mbah Lasmi sembari menatap lurus kedepan. Tetapi karena bayangan sukma mu ada di sana, dia juga ikut merasakan sakit dan itu juga berpengaruh pada dirimu Pram."


"Sekarang kau tahu apa yang menyebabkan kau muntah darah?" Karena bayangan sukma mu di sana juga merasakan hal yang sama, tetapi Mbah sekarang lega, karena sekarang kau sudah sempurna dengan bayangan yang lengkap."


Semua terdiam mendengarkan cerita ini, suasana tiba-tiba hening dan makin sepi.


"Aduh,v sudah malam siapa yang mengantar aku ke rumah Bu Asih," celetuk Hanifa memecah sepi.


"Sudah tidur di sini saja rame-rame," ucap ibu dengan tersenyum.


Seketika Hanifa berdiri. "Pram mau kan memaafkan aku," ucapnya tulus dan langsung memeluk tubuh Pram dengan erat.

__ADS_1


"Sebenarnya aku belum mau memaafkan tapi karena orang tua kita mau berdamai.


Aku memaafkan mu, tapi awas kalau kau rebut Mas Rianku."


Seketika semuanya tertawa, Hanifa langsung tertunduk malu dan tersenyum. "Janji aku gak bakalan lagi-lagi goda Mas Rian mu."


"Sudah, sudah ayo istirahat."


Memang sudah pukul dua belas malam, aku beringsut masuk kamar bersama Ida dan Hanifa sementara ibu dengan Mbah sedang Satria bersama Mas Rian tidur di ruang tengah.


Dini hari tubuh ku serasa gerah sedikit membuka jendela kamar, berdiri memandang langit, malam yang indah semua sudah terselesaikan, bintang berkedip satu-satu, rembulan bersinar terang, ya, bulan purnama, bintang kesayangan ku pun berjajar rapi sesuai dengan tempatnya. Senyum Pram terkembang saat menatapnya.


Hingga subuh saat suara adzan berkumandang aku menutup jendela melakukan kewajiban yang sempat aku tinggalkan.


Bersama matahari yang mulai merambat naik, sinarnya yang cerah dengan udara sejuk di pagi hari seperti inilah harapan ku untuk esok hari menjalaninya tanpa beban dan melangkah kan kakiku dengan ringan.


Menuju dapur, melihat ibu sudah sibuk dengan Mak sunar dan Mbah Lasmi. "pagi," sapa Pram dengan riang.


Semua sudah tersaji, aku mengintip Mas Rian dan Satria yang masih terlelap, Memandang laki-laki yang akan jadi suami ku itu dengan senyum. 'Tampan, sabar dan sangat mengerti dan apa lagi yang harus aku ragukan darinya.'


"Hee, pagi-pagi sudah melamun," ucap Ida sembari ikut mengintip. "Hehehe," tawanya keluar sembari berbisik. "Ternyata Mas Satria kalau tidur tambah ganteng," ucapnya tanpa malu-malu.


"Pram, Ida," terdengar suara Mbah Lasmi memanggil dengan sedikit keras. Nggak sopan mandi dan kau Pram setelah mandi temui Mbah di kamarmu."


Dengan malu aku dan Ida masuk kamar, sembari tersenyum terkikik, Hanifa yang baru membuka matanya hanya melotot menatapku dengan heran. "Ada apa? Tetapi aku langsung bergegas masuk kamar mandi bergantian dengan Ida, Han mandi sudah di tunggu sarapan."


Tanpa ba, bi, bu, Hanifa bergegas mandi dan langsung ke ruang tengah, sudah nampak semuanya berkumpul makan bersama mengambil tempat duduk sesukanya, makan bersama yang seru setelah sekian lama.


Mbah Lasmi langsung mengajakku ke kamar kami sama-sama duduk bersila, setelah mengatur napas Mbah Lasmi menyentuh punggungku menyalurkan energi ke tubuhku


rasa hangat mulai menjalar di seluruh tubuh ku dan kini dadaku pun ikut menghangat.


Terasa sesuatu yang hangat mengalir di dadaku hingga Mbah Lasmi menghentikan gerakannya.

__ADS_1


Kembali sama-sama mengatur napas dan menyudahinya.


"Semuanya akan kembali seperti semula Pram, lebih berhati-hatilah untuk kedepannya karena, semuanya jauh berbeda dengan Pram yang dulu kau akan lebih kuat dari yang dulu, ingat jangan pernah kau tunjukkan apa yang kau punya, menirulah seperti pohon padi, lebih berisi pohon ini akan selalu merunduk."


"Terima kasih Mbah, Pram akan berusaha untuk itu dan akan selalu mengingat ucapan Mbah."


"Ayo, ajak mbah untuk keluar kamar."


"Lho, yang lainnya kemana? Kok sepi?"


"Masmu dan Masku ngampus, Hanifa juga katanya mengajukan skripsi," jawab Ida.


Lha kenapa aku nggak di ajak? Kamu nanti dapat pengawalan khusus dari Masmu," jawab Ida lagi.


Melihat Mbah Lasmi sudah siap-siap.


Kemana, Mbah ? Ikut ibumu ke sawah Pram, sakit semua badan ku kalau nggak gerak."


"Ikut yuk," ajak Pram pada Ida. Dan dengan senang Ida mengekor di belakang ku, seperti biasa rantang andalan dan ceret sudah siap Mak Sunar pun juga sudah membawanya.


Berjalan ber iringan menuju sawah. Banyak yang sudah berubah," ucap Mbah Lasmi pelan dapat ku lihat Mbah Lasmi seperti bernostalgia, memindai setiap tempat yang di lewati, ternyata hanya rumah Simbahmu yang tak berubah Pram," sembari menatapku.


Setelah melewati jembatan bambu senyum Mbah Lasmi terkembang, sawah yang sama dan masih sama. "Pram, apa masih ada batu yang besar dengan sumber airnya?"


"Masih ada Mbah, Mbah mau ke sana?"


"Ha ha ha, tawa Mbah Lasmi terdengar sedikit keras. Winarsih," ucap Mbah Lasmi pelan.


"Ayo Pram, aku dan Ida menyusulnya dengan sedikit berlari. Buih, Mbah dapat tenaga dari mana jalannya cepat sekali."


Ida yang di belakang ku mulai berkeringat


"Mbah pelan," teriakan Ida membuat para pekerja menoleh. Pak Man yang berdiri sedikit jauh memandang dengan heran.

__ADS_1


__ADS_2