OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 23 . PERJALANAN 2


__ADS_3

"Lalu apa maksudnya ini dan apa tugas Pram."


"Lihatlah dengan cermat, tugasmu mengembalikan semuanya seperti dulu."


"Dan ke empat harimau itu? Mereka masih menjaga tapi karena terabaikan jadi kekuatan mereka lemah."


"Bagaimana caranya?" tanya pram.


"Tanyakan pada dirimu apa yang perlu di lakukan, ingat sejak kejadian kemarin di desa banyak kejadian-kejadian yang tak bisa kau duga."


"Boleh, Pram bertanya. Siapa Srikanti dan Simbah Rum sekarang? Kenapa Simbah tidak bisa menolong?" tanya Pram tanpa jeda.


"Kau akan mengerti sendiri setelah ini."


"Terus Kakek Buyut?"


"Dia terbius oleh cinta dan secara lambat laun Kakek Buyut telah kalah oleh cintanya.


Setelah anaknya dewasa dan setelah semua ilmunya di turunkan Kakek Buyut menjadi gila karena cinta."


"Lihatlah, semakin hari Nenek Buyut semakin cantik dan semakin muda, berbeda dengan Kakek Buyut setelah semua ilmu di dirinya sudah di wariskan ke anaknya, tubuhnya semakin renta dan tak mampu lagi menandingi hasrat dari Nenek Buyut."


"Lalu kemana Kakek Buyut?"


"Lihatlah!"


"Kakek buyutmu memang meninggal secara hampir bersamaan, tetapi Nenek Buyut," ucap sosok ini.


"Lihatlah!!" ucap sosok ini lagi.


"Apa? ucap Pram sedikit terkejut."


"Ya, itu yang terjadi."


"Nenek Buyutmu menjadi pengikut setan itu karena perjanjiannya."


Setekah menjelajah cukup lama di masa lalu.


Kini Pram berada maju beberapa tahun ke depan. Saat ini Pram melihat rumah sekarang yang sudah melalui perombakan.


Kakek suami Simbah Rum hanya memindahkan hadap posisi rumahnya dengan mengganti daun pintunya dengan kayu jati yang penuh ukiran dan kini Pram tahu ternyata ukiran kayu jati itu adalah rapal mantra yang di buat Simbah.


'Mengapa tiba-tiba Pram disini, toh Pram sudah tahu rumah ini,' batin Pram.


"Lihatlah Pram dengan cermat, lihatlah Simbah Rum itu."


Seketika Pram terkejut jadi?" ucap Pram pelan.


"Itu yang terjadi. Ini semua terjadi karena Simbah Rum mu terlalu percaya pada seorang pendamping."


"Lalu Simbah Lanang? Simbah mu meninggal karena memang benar-benar sakit Pram!"


Tubuhnya tidak kuat, jadi sebelum Simbah Lanang meninggal semua ilmu yang di miliki sudah di berikan pada Simbah Rum.


"Kau tahu sebenarnya ibumu sangatlah mampu dan bisa tapi ibumu menolak dengan keras, jadi Simbah Lanang menitipkan pada Mbah Rum.


"Apa itu bisa ?Bisa karena Simbah Rum sudah memiliki dasarnya."

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu setelah ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya suara itu lagi.


"Bisa Pram menolaknya?" tanya Pram lagi.


"Tidak bisa, ini semua sudah di atur, bukan kami para leluhurmu dan kamu juga tahu itu."


"Apa yang menjadi ganjalan hatimu !"


Pram masih diam. "Kenapa Srikanti membuat janji dan Pram yang mereka janjikan."


"Itu karena kau terpilih jika mereka mendapatkanmu, mereka akan tak tertandingi, tapi jangan khawatir Simbah Rum yang akan menyelesaikan semuannya."


"Ku harap niatmu dalam hati menjadi jalan satu-satunya dan aku merestuinya, aku akan mengawalmu tak perlu kau sampaikan dan meminta restu aku sudah merestuimu."


"Lihatlah sekali lagi rumah Simbah Rum itu."


Rumah ini kini sudah menggunakan lampu meski masih terlihat redup dan seram, pohon sawo masih berdiri tegak dan kini juga sudah diikat dengan mantra agar tak saling menganggu.


"Apa kau sudah yakin dengan apa yang kau lihat? Pram mengangguk tanda mengerti."


"Jangan pernah kau ceritakan pada siapapun tentang semua yang kau lihat di sini walaupun pada ibumu sendiri."


"Siapa anda? Seketika suara yang berbisik pada Pram memunculkan sosoknya, jadi?"


"Ya aku lah leluhurmu Pram, orang yang kau lihat membuka lahan."


"Ini. ucap leluhur Pram sembari meraih tangan Pram dan memberiakan sebuah benda."


"Sebuah keris kecil yang biasa di sebut cundik."


Kini benda itu sudah berada di tangan Pram dan secepat itu pula benda itu sudah lenyap di tangan Pram.


"Pulanglah sebelum malam menjelang, aku akan mengawalmu dari sini, ikuti kabut putih itu."


"Tapi." Belum sempat Pram menyentuhnya sosok itu telah mendorong Pram.


"Pulanglah ikuti cahaya putih itu."


Seketika awan berputar membuat lingkaran, hingga terbentuk sebuah lorong kecil sukma Pram seakan melesat cepat dan langsung turun ke tubuh Pram, tanpa ada penghalang.


Saat sukma Pram kembali ke tubuhnya, napas langsung tersengal sebentar, hingga beberapa saat kemudian alat yang menempel di dada Pram langsung mengeluarkan suara.


"Tit... tit ... tit ... perlahan dan teratur mata Pram kini mulai mengerjap, tangan dan kakinya sedikit berat untuk di gerakkan.


Melihat pergerakan pelan di tangan. Ibu segera berdiri memencet tombol darurat memanggil Dokter, seketika ruangan jadi sedikit ramai, melihat ibu menangis tanda bahagia.


Setelah melakukan penanganan sana sini


akhirnya sang Dokter tersenyum.


Selamat anak anda sudah selamat dari komanya dan masa kritisnya sudah terlewati, kini tinggal pemulihan kesehatannya. Dan untuk luka dikepalanya semuanya aman."


Setelah para dokter dan perawat pergi ibu mendekat langsung memeluk.


"Akhirnya selama dua bulan kau sadar Nak?"


Pram masih terdiam saat ibu mengatakan dua bulan, jadi selama dua bulan Pram ber pergian dengan leluhur dan selama ini Pram koma.

__ADS_1


Ada rasa tak percaya di hati Pram, melihat sekeliling kamar dan pandangan Pram jatuh pada tangan dan kakinya.


Tangan Pram masih di gips begitu juga kakinya. Luka di kepala Pram sudah mengering begitu juga luka-luka di tubuhnya yang menabrak ranting dan dahan kecil.


"Mau minum?" tawar ibu seketika. Ucapan Ibu membuyarkan lamunan Pram. Pram hanya mengangguk untuk menjawab.


"Pelan-pelan," ucap Ibu yang sudah memberi sebotol air mineral dan sedotannya lalu mendekatkan ke bibir Pram.


"Terima kasih Bu," ucap Pram sedikit terbata.


Tak berselang lama seorang Dokter sudah datang lagi, melihat Pram dan sedikit tersenyum. Lalu memeriksa tubuh Pram sekali lagi.


"Semuanya baik, Sus tolong lepas semua alatnya dan sudah boleh di pindah di ruang sebelah dan tolong kontrol per lima belas menit sekali dan kemudian menandatangani berkas yang di sodorkan oleh suster."


Dokter itu mendekat ke arah ranjang yang Pram tiduri.


"Semangat ya!! Lekas sehat," sambil mengelus kepala Pram kemudian tersenyum.


Ibu menatap dengan hangat, kesibukan terjadi saat suster memindahkan ke ruang sebelah, setelah semua beres suster itu pun berlalu pergi.


Belum sampai di depan pintu suster itu kembali lagi.


"Maaf nanti pukul sepuluh ada pemeriksaan untuk tangan dan kaki Mbak!!"


Setelah itu berlalu pergi. "Pram ... kini ibu sudah menangis dan merangkul.


Hanya diam yang bisa Pram lakukan, air mata Pram juga mulai menitik.


"Sudah-sudah jangan ikut menangis," ucap Ibu sembari mengusap air mata Pram.


"Maafkan Pram Bu," ucap Pram dengan sedikit terbata.


Ibu tersenyum sembari menahan tangisnya.


"Temanmu Rian, dia setiap hari datang kemari menjenguk Pram, kadang dia rela menggantikan ibu menunggumu."


Kini ibu merapikan rambut Pram dengan pelan.


"Maaf kalau rambutmu ada yang dipotong


untuk memudahkan menjahit bagian yang terluka Pram!!" ucap Ibu. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.


Senyum Pram terkembang saat melihat Simbah dan Rian datang bersamaan, Simbah langsung menciumi wajah Pram dan baru kali ini Pram melihat Simbah menangis.


"Hem ... Simbah seneng Pram kamu sudah siuman.


Sesaat kemudian Simbah berdiri sedikit menjauh, kini Pram melihat raut wajah Simbah telah berubah dan kemudian mendekat lagi.


"Sudah Simbah duga," hanya itu yang di ucapkan Simbah.


Setelah itu kembali mundur dan mencari tempat duduk, Rian mendekat dan tersenyum sembari memegang tangan Pram serasa ada hawa hangat yang menyebar.


"Aku seneng banget Pram kamu sudah sadar maaf teman-teman tak bisa datang karena mereka sibuk ujian."


Pram langsung menatap Rian.


"Jangan khawatir, aku sudah menyelesaikannya, aku nggak bolos," ucap Rian jujur.

__ADS_1


Mendengar jawaban Rian, Pram langsung membalasnya dengan senyuman.


__ADS_2