
Setelah aku ke luar dari kamar bersama mas Rian, Kinara masih mengikut berjalan di belakang ku hingga kami duduk di ruang tengah, napasku masih terlihat berat dan berusaha untuk mengatur napasku.
Tanpa ku sadari ada tangan kecil yang menempel di punggungku, sembari tersenyum Kinara berusaha menyalurkan energi baru padaku.
Aku sedikit menoleh "hanya ini yang bisa aku bantu buat ibu, selebihnya aku masih belum bisa" ucapnya sembari tersenyum.
Mas Rian yang sedari tadi memperhatikan kami seakan tak percaya melihat kemajuan Kinara yang pesat.
"Bapak, jangan menatapku seperti itu, aku tahu bapak tak percaya dengan kemampuanku" ucap Kinara sembari duduk di tengah-tengah kami.
Beberapa saat Kinara terdiam kemudian menatap kami berdua "boleh, Kinara bercerita? ucapnya pelan sembari menatap kami.
Sesaat aku dan mas Rian saling bertatapan
"Terima kasih, Kinara bantuannya" ucapkku sebelum menjawab pertanyaan Kinara.
Aku langsung menyenggol lengan mas Rian memberinya isyarat untuk menjawab.
Dengan terkejut mas Rian kemudian menjawab
"Memang, anak bapak mau cerita apa? Bapak dan ibu akan mendengarkan" jawab mas Rian tenang sembari sesekali menoleh ke arah kamar belakang.
"M ... sebenarnya, tentang sosok ini, aku sudah mengetauhi sejak ibu sakit dan sejak Arion sering merengek minta di belikan makanan itu, warung itu memang belum lama buka pak!Tapi pembelinya sudah sangat rame" ucap Kinara terputus.
Aku sudah mengingatkan mbak Ning dan mbak Yas, tapi karena Arion yang sering merengek dan gak mau makan jika tak membeli makanan di sana, aku dan Zubaid selalu berusaha menghalau sosok ini untuk masuk dalam tubuh mbak Ning dan mbak Yas, Zubaid yang menjadi alarm ku jika sosok yang ada di warung itu berusaha melakukan sihir di makanan itu" cerita Kinara panjang.
"Maaf, jika hari ini aku dan Zubaid belum memperbaiki pagarnya, karena semenjak ibu sakit dan bapak menjaga ibu banyak sekali sosok-sosok yang ingin masuk dalam rumah ini. Karena aku belum bisa memperbaiki pagarnya secara permanen jadi .... " Kinara tak melanjutkan ucapannya kini kepalanya tertunduk menatap lantai penuh penyesalan.
Aku dan mas Rian terkejut mendengar pengakuan Kinara, jadi selama ini Kinara yang sudah mengambil alih semua tugasku.
Ku tatap tubuh mungil Kinara dan langsung memeluknya "maafkan ibu nak" ucapku dengan suara tersekat, tak terasa air mataku sudah menitik dengan sendirinya.
Masih dalam pelukanku "bapak dan ibu tak akan marah, terima kasih sudah membantu bapak dan ibu" ucap mas Rian sembari mengusap kepala Kinara.
Dengan menghela napas panjang aku melepas pelukanku "Kinara, istirahatlah, sekarang ada ibu dan bapak" ucapku pelan.
Namun Kinara tak kunjung beranjak dari duduknya "bu, hati-hati sosok ini tak sendiri dia seperti yang di rumah mak Siti dan waktu di Mall dulu bu,"ucap Kinara mengingatkan.
__ADS_1
Aku tersenyum, mendengar semua cerita Kinara "ibu sudah tahu dan dengan segera ibu akan memperbaikinya dan jangan takut ibu akan menjaga anak-anak ibu, "ucapku meyakinkan Kinara.
Sesaat kemudian aku berdiri meraih tangan Kinara "pak ayo ke atas kira lihat anak-anak" ucapku sembari ku tuntun tangan Kinara ke atas.
Sesampainya di atas ku lihat Arion dan Lintang sudah tidur sementara Kinanti tengah duduk menatap ke luar, melihat aku masuk Kinanti langsung tersenyum melihatku.
Nampak jelas dari wajah Kinanti tersirat perasaan lega, kemudian berdiri menghampiriku "Kinara baik-baik kan bu?tanyanya pelan.
"Semuanya baik-baik, sekarang sedang di kamar dengan bapak"ucapku meyakinkan.
"Untunglah .... hanya itu yang ku dengar.
Kini aku tak langsung beranjak pergi, mendengar ucapan Kinanti aku sedikit terusik dengan apa yang ku dengar.
"Ada yang ingin Kinanti ceritakan?" tanyaku pelan.
Kinanti menatapku sejenak ada rasa ragu ku lihat dari sorot matanya, kemudian menatap ke luar jendela.
"Bu, jika aku cerita berarti aku sudah melanggar janjiku pada Kinara, tapi .... jika aku tak cerita aku takut Kinara akan mengalami hal seperti dulu lagi," ucap Kinanti lagi.
Aku tak segera ingin mengetauhi cerita dari Kinanti sengaja aku diam untuk melihat reaksi Kinanti.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Kinanti, sembari ku usap kepalanya "jika itu demi kebaikan, insyaallah itu tidak salah" ucapku pelan.
"Memang apa yang akan Kinanti ceritakan" tanyaku pelan.
Kini Kinanti menatapku "tapi janji jangan menegur Kinara, karena aku tak ingin Kinara nantinya tak percaya lagi padaku dan Kinanti ingin ibu juga tahu dan memantau Kinara seperti dulu."
"Ibu akan berusaha demi anak-anak ibu, "ucapku lagi.
"Bu, maaf, kejadian ini terjadi waktu ibu sakit, Kinara dengan di bantu Zubaid berusaha untuk menghalau apapun yang berusaha masuk dalam rumah ini, hingga suatu malam Kinara muntah darah dan beruntung saat itu aku ada bersamanya, saat ada sosok jahil yang berusaha menganggu Arion.
"Maksudnya? tanyaku terkejut.
"Hampir semalaman Kinara pingsan hingga akhirnya Kinara meminta Zubaid untuk masuk dalam rumah ini dan masuk dalam tubuh Kinara karena separuh tenaga Kinara sudah lemah dan sosok itu yang merasuki mbak Ning, cerita Kinanti lagi.
Aku sangat terkejut mendengar cerita Kinanti
__ADS_1
"Aku bisa mengetauhinya karena Kinara juga membuka mata batinku, meskipun aku tidak bisa menggunakannya tapi Kinanti bisa melihat apapun yang Kinara lakukan dan beruntung sosok ini tak sampai masuk dalam rumah, hanya sampai di teras saja."
Kembali perasaanku tercubit, benar kata mas Rian banyak hal yang terlewatkan selama aku sakit dan semua seakan terlihat saat ini.
Aku memeluk Kinanti dengan erat "apa Kinanti ikhlas jika mata batin Kinanti di buka Kinara dan Kinanti tahu kan resikonya?! tanyaku pelan.
Ku lihat Kinanti mengangguk kemudian menunjukkan sesuatu padaku "Kinara memberi ku ini bu" gelang yang di pilin dari benang berwarna warni seperti gelang model jaman-jaman anak muda saat ini.
"Kinara bilang ini bisa menghalau lelembut meski mereka melihatku tapi mereka tak berani mendekat, lalu Kinanti menatapku.
Sekilas aku menatap gelang itu, memang benar gelang itu berisi mantra, kini hanya pandanganku yang ku alihkan menatap ke luar jendela, terdiam sesaat semakin pesat Kinara selama aku tak ada.
"Bu, janji kan gak akan cerita ke Kinara tentang ceritaku ini ?! Aku hanya mengangguk memastikan.
"Istirahatlah nak, terima kasih sudah jujur dengan ibu dan ibu akan menjaga rahasia ini baik-baik, "ucapku sembari mencium pipi Kinanti "segera tidur, ibu tutup pintunya,"ucapku sembari ke luar.
Masih berdiri di depan pintu kamar Kinanti, masih dengan pikiran ku sendiri 'ternyata banyak yang sudah terlewat dan aku seperti tertinggal jauh' ucap hatiku.
Kini aku kembali melangkah menuju kamar Lintang, meskipun aku tahu Lintang sudah ada yang mendampingi meskipun itu sifatnya seperti mas Rian dulu, hanya akan muncul jika Lintang dalam bahaya, melihat nya sejenak kemudian menutup kembali pintunya.
Langkahku kini menuju ke kamar Arion, sedikit membuka pintunya, sedikit melongokkan kepalaku ke dalam kamar, nampak Arion teridur dengan nyenyak, sesaat aku terkejut saat melihat Zubaid ada di kamar Arion, begitu melihat kedatanganku Zubaid kemudian menunduk memberi hormat "maaf jika saya berada di sini" ucap Zubaid pelan.
"Ini sesuai perintah Kinara, karena Arion belum kuat di buatkan pagar untuk dirinya jadi aku hanya mengawasinya kemanapun Arion pergi karena saat ini, ada beberapa makhluk dari alam lain yang berusaha menerobos rumah ini dan hanya Arion saja yang masih kosong dan saya juga tahu bahwa anda juga dalam keadaan lemah saat ini" ucap sosok Zubaid panjang lebar.
Aku kembali terkejut ternyata bukan anak - anakku saja yang bercerita seperti ini, tapi sosok Zubaid juga bercerita, masih duduk menatap Zubaid "kembalilah Zubaid tolong jaga halaman depan, aku akan berusaha memperbaiki semuannya, terima kasih, "ucapku bersamaan menghilangnya sosok Zubaid.
Kini fikiranku bukan bagaimana memperbaiki pagar rumah ini, tapi bagaimana aku menjaga Arion lebih dekat, teringat akan gelang Kinanti akhirnya aku memikirkan cara itu dan baru memperbaiki pagar rumah ini.
Ku rapatkan kembali selimut Arion, kemudian melangkah keluar dan menutup pintunya, belum benar-benar aku menutup rapat kamar Arion, nampak senyum aneh tersungging di bibirnya.
Kembali ku buka pintu kamar Arion lebar-lebar untuk memastikan bahwa ini bukan pandanganku sekilas saja, melangkah sedikit mendekat ke arah ranjang Arion dan melihat sedikit mendekat dengan bersamaan terbangunnya Arion secara tiba-tiba dan langsung melotot padaku.
"Arion ..." panggilku pelan.
Tak menyahut panggikanku, masih dengan mata melotot kini tersenyum mengerikan.
Sudah hampir tengah malam, aku langsung duduk bersila untuk menyelesaikan semua masalah ini, hingga sebuah benda sudah terlempar hingga mengeluarkan suara yang sangat keras "bruuggghhhh" terhempas begitu saja terbentur dengan dinding.
__ADS_1
Mendengar suara berisik di kamar Arion dengan cepat mas Rian sudah masuk dan memegang Arion .
"Pram .... ada apa ini? tanya mas Rian menuntut penjelasan.