
Setelah mapel ke dua Pram benar-benar membuktikan ucapannya , meminta surat ijin ke Guru piket untuk pulang.
Setelah berlalu dari ruang Guru piket Pram menyerahkan, ke Guru Mapel ke tiga.
Melihat Pram keluar kelas Rian langsung melotot, sedikit melirik Pram, tetapi dengan sengaja Pram tak memperhatikan tingkahnya.
Langkah Pram terhenti saat ponselnya berdering. "Ibu," ucap Pram. Segera mematikan ponsel dan memasukkan lagi dalam tas. Dengan sedikit berlari Pram pulang kerumah, tetapi kenapa belum juga sampai pikir Pram, terasa sangat lambat dengan napas ngos-ngosan Pram tiba dan masuk ke dalam rumah.
"Bu ... Ibu panggil Pram. melihat Ibunya hanya duduk terdiam Pram sedikit mendekat.
"Simbahmu Pram."
"Ada apa Bu? Simbah kenapa?"
Pram mendekat, memegang tangan, kaki semua sudah dingin begitu juga tubuh Simbah, yang terasa hangat hanya bagian kepala ke atas. Napasnya pun terdengar lemah, ibu sedari tadi tak putus-putus membaca doa, dua kalimat sahadat selalu Pram bisikkan di telinga Simbah, teringat akan pesan Simbah leluhur.
Hingga menjelang isya terdengar lagi suara.
"Gedubrak ... gedubrak ... Pram menghetikan sejenak mengucap dua kalimat syahadat.
Sukma Pram kini sudah melangkah menuju ke pintu. "Jangan mendekat Pram," ucap Simbah leluhur mencegah, kembali tuntun Simbah mu sudah semakin dekat Pram, bantu dengan doa."
Kembali ke raga sebelum benar-benar Pram mengatur napas, kembali terdengar burung gagak bersuara mengitari atap rumah, dengan suaranya yang serak dan berat. Tak lama terdengar lagi suara burung gagak bersuara dengan keras, kini ada dua burung gagak yang tengah bertarung dengan suara nya yang keras dan nyaring, membuat bulu kuduk meremang seketika. Semakin sering Pram dan Ibunya mengucap doa bersama.
"Kraaaak ... kraaaak ... kraaaaak ... terdengar suara saling menerjang dan bersahutan, tak lama dua-duanya terdengar hinggap di pohon sawo dan kembali bertarung.
Dadaku berdesir hebat, saat satu burung gagak terbang menjauh kini hanya tinggal satu burung gagak yang terus berbunyi dengan suaranya yang serak dan nyaring.
Beberapa menit kemudian angin mulai berhembus, daun-daun pohon sawo mulai mengeluarkan suaranya sangat ramai.
Semakin lama semakin keras kini suara Pram dan Ibu nyaris tak terdengar, Pram berhenti membaca doa, saat napas Simbah mulai ter engah-engah. "Bu ... lihat simbah," panggil Pram saat ini.
Ibu langsung sedikit mendekat. "Simbah ayo tirukan ibu membaca syahadat," ucap Pram.
Simbah tak menjawab, Ibu kini tengah membisikkan kalimat syahadat tanpa henti.
Telinga Pram samar-samar mendengar suara gong di pukul lagi. Gong ... gong ... terus berulang-ulang.
"Pram ... iku makelar Simbah wes teko," ucap Simbah pelan.
"Mbah jangan bilang begitu. Ayo Mbah ikuti bisikan Ibu di telinga Simbah."
"Sudah terlambat Pram, makelar Simbah tak memberiku waktu lagi dan kau tahu mereka tak mau menunggu lagi seperti kemarin Nur.
__ADS_1
Perjanjian Simbah sudah tiba."
Secara tiba-tiba napas Simbah tersengal, napasnya mulai tak beraturan suara gong makin sering di pukul satu-satu. Gong, gong, gong ... suara itu kembali terdengar.
"Maafkan Pram Mbah, cucumu ini tak bisa membantumu."
"Pram ... se-se ...mua, su ... dah, ja ... di, kehendaknya."
Kemudian napas Simbah tersengal beberapa kali, kini yang terlihat hanya wajah yang sedikit tersenyum.
Badan Simbah tiba-tiba lemas, melihat Simbah lemas Ibu langsung memeriksa napas Simbah dengan mendekatkan jari telunjuknya ke hidung Simbah.
"Pram ... seketika ibu memeluk, kita sudah berusaha Pram," ucap ibu terdengar suara Ibu tercekat sesaat kemudian Ibu menangis.
"Simbah sudah pergi Pram."
Pram merangkul ibu dengan erat dengan tangis dan sedih di hati Pram kian terasa, ternyata beberapa kejadian terakhir ini merupakan firasat dari Simbah akan berpulang.
Saat semua sudah sedikit tenang, masih dengan terisak Pram melepas pelukannya.
"Bu ... Pram ke Pak RT dulu, buat laporan kalau Simbah sudah pergi," ucap Pram pelan.
Tak perlu menunggu kata iya dari Ibu, Pram langsung keluar rumah.
ada yang langsung mengeluarkan perabot ada yang mengambil keranda dan ada yang menambah penerangan di halaman sesuai permintaan Pram.
Ibu-ibu yang datang ingin membantu masak di dapur mundur teratur, Pram tahu mereka takut dengan keadaan rumah Simbah yang terkenal singup ini.
"Tolong masak di rumah ibu yang terdekat saja," ucap Ibu.
"Di makam kan besok atau langsung Nur tanya salah satu warga."
"Sudah malam besok saja, tapi tolong di sucikan malam ini saja," ucap Ibu.
"Nur, apa tak sebaiknya langsung di makamkan sekarang toh tak ada yang ditunggu oleh ibumu, kasihan Nur."
Ibu diam seperti sedang berfikir. "Tolong makamkan di sisi makam suamiku saja," ucap ibu dengan menunduk.
"Ya, sudah akan kami gali," ucap beberapa warga, kini ibu-ibu sudah mulai meronce bunga dan ada yang merajang daun pandan. Ada juga yang menyiapkan segala keperluan yang lainnya.
Ternyata berita cepat menyebar, para pekerja Simbah juga mulai berdatangan dan membantu kesibukan ini.
Aku hanya duduk di sisi jasad Simbah saat Rian dan Ibunya datang, merangkul Pram dengan tenang.
__ADS_1
"Sabar, ya ... kini beralih dekat ibu merangkul ibu dan membisikkan sesuatu. Melihat ibu tersenyum kemudian sama-sama membaca yasin.
Pandangan Pram tertuju pada seseorang yang berdiri di bawah pohon sawo, melihat Simbah leluhur tengah membuat pagar mantra di area pohon sawo agar tak menyentuh atau menganggu para penggali makam.
"Jangan melamun," ucap seseorang mengagetkan Pram. Pram tersenyum saat melihat sosoknya. Entah kenapa kini Pram sudah memeluknya dan menangis, serasa Pram menemukan sosok kakak pada diri Rian.
Melihat Pram memeluknya Rian sedikit terkejut.
"Sssssttttt ... kok nangis," kini sudah menepuk-nepuk bahu Pram.
"Sudah-sudah," sembari mengurai pelukan Pram.
"Jangan nangis Pram," ucapnya lembut.
" Maaf," ucap Pram lagi, tak ada percakapan selanjutnya kami hanya terus membaca doa untuk Simbah.
Tak berapa lama sudah pukul sepuluh malam Simbah sudah selesai di sucikan, dikafani dan di sholati karena di makamkan di halaman rumah prosesinya pun jadi cepat.
Hampir tengah malam semuanya beres, tinggal beberapa warga yang sengaja pulang terakhir dan pekerja Simbah masih membantu membereskan ini dan itu.
Masih termangu duduk memandang ke halaman semalam Pram tidak bisa terpejam memilih duduk menghadap halaman. Pram sedikit tercubit mengingat kejadian kemarin mengingat kata-kata simbah dan amanatnya.
Hingga pagi ini pun Pram masih belum bisa tidur. Sudah subuh, melihat ibu masih tidur di matras di bawah ranjang Simbah.
Nampak wajah lelah Ibu karena hampir satu bulan hampir selalu terjaga menunggu Simbah dan memang bergantian dengan Pram. Karena memang Pram sudah mulai mengantuk atau memang benar-benar capek Pram merebahkan tubuh di sisi ibu.
Ternyata rasa lelah tak tertahan Pram langsung terpejam begitu saja, pintu rumah masih sedikit terbuka, tak ingin memikirkan apapun toh Pram dan ibu masih tidur di ruang tamu. Kami sama-sama terbangun saat beberapa ibu-ibu datang mengetuk pintu.
"Nur ... tok, tok, tok."
"Mbak Nur ... mendengar suara ketukan di pintu membuat Pram dan ibu sedikit terkejut. Sembari menguap. "Huam ... Pram menggeliat sementara ibu masih duduk dengan bingung."
Setelah beberapa saat. "Aduh maaf Mbak, saya ketiduran," ucap Ibu sembari berdiri.
"Ayo masuk-masuk," ucap ibu. Nampak beberapa ibu saling dorong menyuruh teman yang lainnya untuk masuk lebih dulu.
Setelah Bu RT masuk lebih dulu akhirnya mereka ikut masuk dengan wajah yang nampak takut, menoleh kesana kemari.
"Maaf," ucap salah satu dari mereka.
"Ini sudah jam dua belas siang, apa ada yang bisa di bantu, tadi Pak RT pesan, kami di minta untuk menengok di sini."
Ibu masih diam. "Lah ini nanti malam kan tiga hari Simbah, kok belum apa-apa."
__ADS_1
"Aduh maaf," ucap Ibu dan nampak panik, kemudian masuk ke kamar dan kemudian keluar lagi.