
Mendengar panggilan ibu aku bergegas beranjak melangkah dan langkah Pram belum benar-benar keluar dari tempat itu.
"Pram. panggil Simbah Rian. Perjodohan ini tak bisa kamu batalkan." Simbah Rian terlihat dengan yakin mengatakan dan setelahnya menghilang begitu saja.
"Pram ... kini panggilan ibu terdengar lagi.
"Ya, Bu," jawab Pram dengan sedikit berlari.
Melihat Pram keluar dari batu besar, terlihat Ibu sedikit mengkerutkan keningnya dan hanya menggeleng.
Setelah sampai di depan Ibu. "Sini Bu," sembari Pram meraih bawaan Ibu. Melangkah bersama melewati pematang sawah. "Sore begini cuacanya tambah indah ya Bu!"
"Ya Pram, tapi lebih baik pagi hari udaranya lebih sejuk," ucap sembari melewati jalan kecil. Tak terasa sampai rumah juga, menaruh hasil panen yang di petik Ibu. Aku segera menuju kamar mandi belakang mencuci tangan dan kaki langsung melangkah ke kamar.
Menyelesaikan mandi dan melaksanakan kewajiban yang sedikit terlambat.
"Buih ... libur satu bulan lagi pikir Pram. Kini tangan Pram mulai mengulir-ngulir ponselnya. Namun, hati Pram sedikit sedih melihat ponselnya tak ada satupun notif dari Rian.
"Kamu jahat Rian. Sudah satu minggu tak berkabar. "Apo aku salah!"
Pram, hanya menatap foto saja sebagai pengobat Rindu.
"Andaikan aku memutuskan perjodohan ini apa Rian dan Bu Asih setuju. Hanya menghembuskan napas saja. Mengingat percakapan dengan Simbah Rian, kembali hati Pram gundah. "Tadi saja simbah Rian juga sudah menolak," dilema pikir Pram.
Banyak pertanyaan di benak Pram. "Apa aku yang terlalu egois atau aku yang salah tanggap. "Argh ... teriak Pram memecah sepinya kamar.
Tak lama Pram berteriak. "Pram ... panggil ibu, saat mendengar teriakan Pram dan mendorong pintu kamar.
"Ada apa? Aku benci Rian Bu. Aku benci," ucap Pram berulang kali.
Ibu tersenyum sekilas menatap. "Selesaikan Pram jangan berlarut-larut, bisa di sayangkan kalau anak sebaik Rian kau lepas begitu saja."
"Lagian apa yang membuatmu membencinya dan menghindar darinya. Semalam ibu juga melihatnya, berdiri menatap jendela kamar mu dari sudut halaman. Ibu nggak suka seperti ini. Cepat selesaikan jangan berlarut larut, dosa sudah lebih tiga hari tak bertegur sapa," ucap ibu sembari mengusap kepala Pram dan beranjak pergi.
Mendengar ucapan ibu Pram seperti di sadarkan dengan sikapnya. Sudah pukul delapan malam saat aku berniat duduk di jendela kamar tapi aku urungkan saat mengingat ucapan ibu.
Mengulir ponsel, akhirnya dengan menekan egonya Pram mengulir nama Rian.
"Hei ... "
"Hei ... "
"Riannnn ... "
Tulis Pram dan langsung aku kirim, hanya centang biru dua berarti sudah terbaca dan meletakkan kembali ponselnya. Menunggu beberapa saat mungkin ada balasan pikirku.
Cukup lama tak berbalas. Karena haus Pram keluar menuju dapur untuk minum dan mengisi botol minum yang sudah kosong.
__ADS_1
Saat melewati rung tengah Pram sedikit terkejut saat ada suara yang memanggil.
"Pram." Suara yang tak asing bagi Pram. Saat Pram menoleh, melihat siapa yang memanggil akhirnya Pram tersenyum datar sembari melangkah mendekat.
Sebenarnya ada beribu-ribu rindu yang Pram tahan. "Hai, sapa Pram. Nampak sorot mata bersalah yang terlihat. Membalas sapaan Pram dengan senyum kikuk."
"Ibu masuk dulu, sudah dari tadi Rian di sini Pram. Saat kau teriak tadi. Selesaikan masalah kalian," ucap ibu sembari melangkah ke kamar.
Kini sudah duduk berhadapan, diam tak ada yang ingin memulai pembicaraan hingga,
"Pram. Maaf dengan sikap aku selama ini." Kemudian memilih diam tak melanjutkan ucapannya.
Hanya napas kasar yang Pram hembuskan kemudian menatap Rian sejenak.
"Rian. Apa aku salah bila aku cemburu?"
"Apa salah aku, hingga kau berbuat begitu?"
"Terus terang aku sakit hati melihatmu berdua dengan Hanifa. Apa Hanifa tahu hubungan kita, status kita?"
Aku diam menunggu jawabannya, tapi tak satupun kata yang terucap dari mulut Rian.
"Rian. Kau tahu! Sejak kau menerima telfon dari Hanifa, aku sadar kau mulai berubah pelan namun pasti, kau mulai sedikit menjauh dari aku. Awalnya aku ingin mengabaikan tapi aku sadar saat melihatmu berboncengan dengan Hanifa, kau sedikit pun tak ingin menyapa aku."
Kembali Pram menghembuskan napas nya dan menatap mata Rian mencari sedikit kejujuran di sana.
"Rian. Terima kasih sudah baik, menjaga, serta melindungi. Aku tahu kamu selalu
ada saat aku butuhkan dan mungkin saat ini kamu masih yang terbaik dan aku menjadikan kamu orang pertama yang ada di hati aku.
"Rian," ucap Pram sedikit tercekat.
"Mungkin sebaiknya kita putus dan membatalkan perjodohan ini. Karena aku yakin kau hanya terobsesi dengan perjodohan ini. Demi menghormati amanat dari leluhur kita dan menyenangkan hati ibu kita saja."
Aku berhenti sejenak untuk melihat ekspresi
wajahnya, nampak rahangnya mengeras dan tangannya mengepal.
"Aku mohon jika kau memang sudah tak menyukai aku mohon lepaskan perjodohan ini. Rian, kita putus dan akhiri semuanya," ucap Pram sembari menunduk.
Hening untuk beberapa saat.
"Sudah. Sudah kau keluarkan semua isi hatimu? Pram. Panggilnya sambil memegang bahuku. Lihat lah saat aku bicara."
"Dengar Pram, sampai kapanpun aku tak akan melepaskan perjodohan ini dan tak akan putus darimu. Aku tak pernah sedikitpun terobsesi dengan perjodohan ini. Aku benar benar menyukaimu Pram. Itu tulus dari sini sembari meraih tangan Pram untuk menyentuh dadanya. Itu tulus Pram."
"Jangan pernah kau ingin putus dan melepas kan perjodohan ini. Kau bilang aku menyukai Hanifa? Kau salah. Sedikit pun aku tak menyukainya dan kau jangan salah paham."
__ADS_1
Kini tak lagi memegang bahuku dan berdiri sedikit menjauh lalu menatap Pram.
Pram merasa sudah tersulut emosi kini berganti menatap Rian.
"Rian. Kau bilang tak menyukai Hanifa?"ucap Pram sedikit emosi. "Tapi bagaimana dengan perasaan Hanifa. Apa kau tak memikirkan itu Rian?"
"Pram. Percayalah aku tak menyukai Hanifa," kembali Rian berucap dengan tulus.
Aku dan Rian sama-sama diam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Rian. Panggil Pram pelan."
"Mungkin ada baiknya kita break dulu, pastikan perasaanmu akan kau labuhkan pada siapa."
"Aku akan menerima semua keputusanmu Rian. Mulai sekarang sebaiknya kita berteman saja dulu."
"Rian. Terima kasih untuk semuanya," ucap Pram sembari menjabat tangannya.
"Pram. suara Rian tercekat dan kini dia sudah merengkuh tubuh Pram dalam dekapannya. Apa aku tak salah dengar? Pram hanya mengangguk saja."
"Tapi satu yang perlu kau ingat aku tak akan memutuskan perjodohan ini Pram! Aku akan mengejarmu seperti dulu Pram, hingga kau memaafkan aku."
"Aku tahu kau sedang marah saat ini. Pikirkan sekali lagi Pram dan jangan menghindar lagi. Aku tahu aku salah dan aku juga kurang tegas dengan Hanifa."
"Sudah. Tanya Pram lag." Kemudian mengurai pelukan Rian.
"Oh ya. Jangan pernah lagi melihat aku dari jendela," ucap Pram kasar. "Pram ... panggil Rian pelan.
Aku tinggal Rian begitu saja di ruang tengah. Saat ini dada Pram serasa penuh sesak dengan amarah. Sembari berjalan berkali-kali Pram minum air putih untuk meredakan rasa sesak di dada. Masuk dalam kamar, kini tangis Pram pecah, menyesal dengan keputusan yang Pram buat sendir."
Semalaman Pram menangis. Pram tak mampu memejamkan mata, dada Pram masih sesak dengan amarah.
Sudah pukul tiga dini hari, membuka jendela kamar. Mengharap angin dingin di pertiga malam dapat menyejukkan hati masih dengan mata sembab aku berdiri menatap langit.
Seakan mengadukan semua keluh kesah dan semua yang terjadi. Hingga subuh menjelang saat aku lihat sosok berdiri di halaman menghadap jendela kamar di mana aku berdiri.
Entah apa yang di lakukan semalaman berdiri di halaman, aku beringsut menjauh dari jendela mengambil ponsel. Mengulir nama Rian dan menuliskan sesuatu.
"Pulanglah , aku baik-baik saja jangan berdiri di situ atau aku akan makin membencimu tulis Pram.
"Pulang. Rian," tulisku lagi.
Beberapa saat ku lihat sosok itu telah pergi
aku bergegas keluar kamar aku lihat ibu sudah sibuk menyiapkan ini itu.
"Bu. Pagi ini Pram ingin ke kota, ijinkan Bu.Satu minggu saja," pintaku pada ibu sembari tangan Pram mengerjakan ini dan itu." Dan setelahnya Pram akan bantu ibu di sawah," ucap Pram dengan sungguh sungguh.
__ADS_1
"Ibu menatapku lekat, apa pun keputusanmu ibu akan mendukungmu Pram," pergilah jika itu membuat hati mu tenang."