
Berbeda dengan Ardan dan Ilham, Kinara yang sudah masuk dalam kamar kini duduk termenung menatap gambarnya, mengingat sejenak dengan apa yang di lihatnya gambar yang di dapat saat mengaji dulu.
Karena rasa penasaran kini Kinara mencoba untuk melihat dari dekat seperti apa bentuk rumah ini sesungguhnya, berkali-kali mencoba untuk berkomunikasi tapi tetap seperti menemui jalan buntu, kembali energinya terpental dan membuatnya sedikit
terhentak dari duduknya.
Namun, beberapakali mencoba membuat hatinya semakin penasaran, senyumnya tersungging saat mengingat Zubaid.
"Zubaid," panggilnya dengan pelan.
Tak perlu menunggu lama, Zubaid yang di panggil akhirnya muncul juga.
"Zubaid, bantu aku untuk ke sini," ucap Kinara sembari menunjuk gambarnya.
Setelah melihat gambar yang aku tunjuk seketika Zubaid mundur dari sisiku dan menunduk.
"Jangan pernah membuka dimensi yang sudah tertutup Kinara, jangan pernah menyentuh tempat itu, jika tidak dengan Ibu Kinara," ucap Zubaid masih dengan menunduk dan kemudian mengeleng.
"Zubaid, benar kan? Memang rumah ini dulunya ada? Kembali tanya Kinara penasaran.
"Maaf, jangan paksa saya untuk hal yang satu ini! Maaf Kinara, Zubaid tak bisa membantu," ucapnya semakin menunduk.
Mendengar jawaban penolakan dari Zubaid akhirnya Kinara menutup buku yang di bukanya.
"Terima kasih Zubaid," ucap Kinara.
Kini memilih keluar dari kamar menuju kamar Kinanti sedikit menggeser pintu kamar Kinanti terlihat Kinanti sedang membaca sesuatu.
"Kinanti," panggil Kinara sembari duduk di ranjangnya. Mendengar panggilanku Kinanti langsung menutup bukunya dan melihatku.
"Hem ... ada apa?" jawabnya sembari berdiri dan duduk di sisiku.
"Kinanti, ini tentang gambar Kinara tadi, kenapa Zubaid melarang Kinara untuk mencari tahu tentang apa yang Kinara gambar, sepertinya Zubaid juga takut," ucap Kinara pelan.
"Kinara, ingat kontrol rasa penasaranmu dan ingat setelah kau muntah darah jangan di ulangi," ucap Kinanti khawatir.
Kinara terdiam hingga beberapa saat.
"Kinanti kau ingat foto yang aku temukan di kertas-kertas lama ibu? Kau lihat foto nenek yang berdiri di depan pintu itu? Kembali Kinara bertanya dengan penasaran.
"Terus ... untuk apa kau menanyakan itu Kinara?Jangan aneh-aneh dan jangan membuatku takut Kinara!!"
Tak mendengarkan ucapan Kinanti, tetapi kini bibirnya tersenyum penuh arti.
"Jangan macam-macam," ucap Kinanti sembari memukul pelan lengan Kinara.
Masih dengan senyumnya,kemudian menatap kinara.
"Kinanti tak mau menolong, jangan buat Ibu marah Kinara?"
Mendengar jawaban Kinanti. Kinara langsung berjalan keluar dari kamar dengan wajah cemberutnya. Kinanti masih bingung harus berbuat apa untuk mengingatkan Kinara, melangkah sedikit ke depan, untuk menutup pintu kamar. Gerakan Kinanti terhenti sejenak saat melihat Kinara berdiri saja di depan pintu kamarnya. Cukup lama Kinanti melihat dari pintu kamarnya, hingga tiba-tiba Kinara berdiri sedikit terhuyung dan hampir jatuh. Dengan cepat kaki Kinanti melangkah dan menyanggah tubuh Kinara.
"Kinara ... teriak Kinanti sedikit keras."
"Bu ... Kinara ... Kembali Kinanti berteriak hingga Kak Ardan dan Kak Ilham keluar dari kamar dan membantu membawa Kinara masuk ke dalam kamar.
Ibu yang datang dengan tergopoh pun kini sudah masuk dalam kamar dan menyuruh Kak Ardan dan Kak Ilham keluar.
__ADS_1
"Tutup pintunya Kinanti," ucap Ibu sembari memindai kamar Kinara.
Ibu sesaat sedikit menatap tajam pada sesuatu kemudian duduk di sisi Kinara. Hanya terdengar hembusan napas Ibu yang terdengar sedikit kasar dan memburu.
Ibu masih menatap Kinara, hingga beberapa menit kemudian ibu sudah duduk dengan tenang, melihat Kinara sudah kembali membuka matanya.
"Anak bandel, apa yang barusan kau lakukan menguras energi saja Kinara, apa yang kau cari Nak?? Tak menjawab pertanyaan sang Ibu kini Kinara memilih duduk bersandar, tatapan Prameswari masih dengan melihat wajah Kinara.
"Jangan coba-coba mencari sesuatu yang sudah tertutup dan tersegel, ingat ada hal yang tak semua rasa penasaran harus menemui jawabannya, biarakan semua pada tempatnya masing-masing."
Setelah berbicara kini Prameswari memilih untuk diam sejenak, sedikit tersenyum sekilas
"Anak bandel, duduklah!! Tanpa berbicara kini Prameswari sudah memegang punggung Kinara mengusapnya tiga kali, tutup matamu dan atur napasmu."
Setelah mengatakan itu kini Ibu duduk dengan tenang, hingga beberapa saat, suasana kamar tiba-tiba hening dan sepi. Kinanti yang menyaksikan semua ini seakan tak percaya.
Melihat jam di dinding. 'Hampir ashar,' ucap hati Kinanti.
Cukup lama Ibu dan Kinara melakukan duduk diamnya hingga nampak Kinara, ingin mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya.
Melihat hal demikian Ibu langsung berhenti sejenak sedikit mengatur napasnya.
"Ambil napasmu dalam-dalam Kinara, hembuskan perlahan saat Ibu menyalurkan hawa hangat ke tubuhmu."
Kemudian Kinara hanya mengangguk tanda mengerti.
Tak berapa lama kini Kinara mengeluarkan apa yang di tahannya dari tadi dan itu membuat Prameswari mengerutkan keningnya.
"Untung kau bisa mengeluarkannya Kinara," ucap Ibu sembari berdiri.
"Kinara, Kinanti temani saja anak Tante Ida, ibu akan menjaga kalian dari rumah dan bawa serta Zubaid," ujar ibu perlahan. Setelahnya ibu melangkah keluar dari kamar.
"Kinara, jangan macam-macam!! Sungguh Kinanti tak mau menolong, jika Kinara nekad."
Kinara hanya tersenyum.
"Tenang ... Kinara tak akan melakukan yang aneh-aneh kemudian berjalan mendekat ke arah Kinanti dan membisikkan sesuatu."
"Sungguh?" tanyaku tak percaya.
"Hem, betul !! Hanya itu yang terucap dari mulut Kinara."
"Kinanti, ternyata betul yang di ucapkan Kak Ardan, Kinara tadi di ajak jalan-jalan dengan ibu dan Kinara tak penasaran lagi dan semuanya, seperti yang aku lihat di foto," cerita Kinara lagi.
"Lalu ... apa yang kau muntahkan tadi? Apa itu ... belum selesai Kinanti bertanya."
"Oh ... itu karena luka yang waktu itu Kinanti," jawab Kinara sembari tersenyum. Kemudian senyum-senyum sendiri.
"Nah, kan? Sekarang senyum-senyum sendiri," ucap Kinanti sembari mendekat.
"Sadar Kinara," ujar Kinanti sembari menepuk dahi Kinara dan berlalu pergi.
"Kinanti ... teriak Kinara tanda tak terima saat ku tepuk dahinya."
Setelah Kinanti pergi Kinara memilih merebahkan dirinya, seduai pesan sang Ibu, nanti malam akan menjadi malam yang sedikit melelahkan. Dengan perlahan Kinara terlelap hingga menjelang magrib Kinanti datang membangunkan Kinara, masih dengan kantuknya.
"Bangunlah, shalat dan kita harus bersiap untuk menemani Kak Ardan dan Kak Ilham," ucap Kinanti malas.
__ADS_1
"Sebenarnya Kinara juga malas, tapi ... ini tugas dari Ibu," ucap Kinara pelan.
"Kinanti nanti dampingi Kinara terus, ingat harus dekat denganku jangan jauh-jauh," ujarku lagi.
Kinanti seakan tak percaya mendengar ucapan Kinara kemudian tersenyum mencibir.
"Berangkatlah sendiri, Kinanti malas," kembali Kinanti menolak."
"Kinanti ... panggil Kinara berharap cemas."
"Ayo, shalat dan segera turun di tunggu Bapak juga!!" ujar Kinanti sembari keluar kamar Kinara.
Suasana sudah ramai saat Kinara turun, terlihat Arion dan Lintang sedang bermain dengan Kak Lintang, sementara Kak Andra tengah sibuk berbicara dengan Bapak di ruang tengah. Ibu terlihat sedang sibuk di bantu dengan Kinanti menyiapkan makan malam.
"Kinara ayo, bantu ... panggil Kinanti padaku."
Tanpa menjawab panggilan Kinanti tetapi Kinara melangkah menuju ke arahnya dan berdiri di dekat Kinanti dan setengah berbisik Kinara mengajak Kinanti berbicara.
"Kinanti, janji mau temani Kinara," bisiknya pelan pada Kinanti.
"Berisik," ujarnya sembari menyerahkan mangkuk sayur padaku.
"Kinan ... panggil Kinara lagi sedikit keras."
Mendengar suara berisik Ibu langsung melihat.
"Apa lagi Kinara?" tanya ibu pelan.
Kinanti seketika langsung membekap mulut Kinara.
"Hiya ... aku temani. Ish ... kau itu," gerutu Kinanti sembari duduk di sisi Kinara.
Ibu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya kemudian memanggil yang lainnya untuk duduk. Makan malam dengan suasana hening semua sibuk dengan piring dan sendoknya beradu hingga mengeluarkan bunyi kecil yang khas.
Sesaat Ibu berdiri, seakan melihat sesuatu yang aneh, menatap satu persatu dari kami kemudian tersenyum dengan aneh.
"Ini bukan Ibu," ucap Kinara tiba-tiba. Kemudian berdiri dan sedikit memberi hormat.
Bapak yang melihat ini langsung berdiri di belakang Ibu, masih menatap kami satu persatu.
"Hormat Kinara untuk Leluhur, maaf ... ucap Kinara pelan.
Ibu tak menjawab apapun, hanya tatapannya yang di tujukan pada kami satu persatu hingga tak lama Ibu kembali tersadar. Kak Ardan yang sedari tadi melihat kejadian ini sedikit terkejut begitu juga dengan Kak Ilham.
Hingga beberapa menit kemudian.
"Ardan dan Ilham ke inginan kalian sudah di setujui lelehur tapi ingat jangan sampai kalian kelewat batas, ingat tujuan kalian dan kalian akan di temani Kinara dan Kinanti," ucap ibu sembari menoleh ke arah kami.
Kinara melihat wajah Kinanti sedikit cemberut.
"Bu, boleh Kinanti tak ikut?" tanya Kinanti ragu.
"Temani Kinara, kalian berangkatlah setelah makan malam ini, jangan malam-malam," ucap Ibu.
"Kinara, ingat pesan ibu," ucap ibu lagi.
Setelah itu ibu berdiri.
__ADS_1
"Lintang, Arion, istirahat dan jangan menganggu ibu selama beberapa jam.
"Mbak Yas, Mbak Ning temani Arion dan Lintang," ucap ibu sembari melangkah masuk dalam kamar bersama Bapak.