
Setelah kejadian kemarin Simbah kini mulai berangsur-angsur membaik begitu Pram masuk bersama Rian Simbah tersenyum.
"Ayo, duduk sini," ucap simbah.
"Mbah, Pram cari ibu dulu," ucap Pram sembari masuk ke dalam.
Membiarkan Rian duduk dengan Simbah dan Pram langsung ke dapur memasuki area belakang rumah.
Melihat ibu memasak di dapur. "Masak apa Bu?" tanya Pram tiba-tiba.
"Ih! kau membuat ibu terkejut saja."
"Pram, semalam Simbah mu mengigau terus merancau tak karuan," cerita ibu. Pram terdiam mendengarkan cerita ibu, hanya sedikit terkejut dan memang Simbah separah apa pikir Pram, setelah ibu selesai bercerita.
"Kenapa ibu tak menelpon. Bu ... semalam burung gagak berputar-putar terus di atas rumah apa itu pertanda baik atau buruk Bu."
Sesaat ibu menghentikan masaknya dan melihat. "Pram ... sungguh Bu, Pram nggak bohong."
Belum ibu menjawab kini Pram sudah berjalan ke belakang. "Hei mau kemana Pram!Tak menghiraukan panggilan Ibu, kaki Pram sudah melangkah ke area kamar belakang.
Terlalu banyak ruangan kosong sayang sekali
tapi semua bangunannya masih kokoh sembari Pram pegang temboknya.
Empat kamar satu di ujung sekali, Pram terkejut saat Rian sudah ada di dekatnya.
"Besar sekali rumah simbahmu Pram, tapi sayang energinya banyak yang negatif," ucap Rian, tetapi Pram memilih diam tak menanggapi ucapan Rian.
Pram dan Rian berjalan melihat satu persatu setiap kamar dan membukanya. "Pram kenapa kamar ujung itu sangat gelap," ucap Rian ketika kami berada di ujung halaman belakang.
Pram hanya tersenyum hingga beberapa saat. "Itu ruangan pribadi Simbah Rian. Mendengar jawaban dari Pram, Pram melihat Rian hanya mengangguk.
"Simbah mu pagi ini tingkahnya aneh Pram wajahnya kadang terlihat segar dan kadang terlihat pucat."
Mendengar perkataan Rian, Pram jadi teringat dengan kejadian semalam.
"Rian, semalam burung gagak terus terbang di atap rumah, Pram takut itu mungkin firasat yang tidak baik ucap Pram."
Mendengar cerita Pram, Rian diam sejenak.
"Doakan terus Simbah Pram tuntun syahadat jangan putus-putus," ucap Rian sembari membuka pintu kamar yang ada di sisinya.
Saat Pram berbicara dengan Rian tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang. "Braaaak, jueeeder ... suaranya yang keras seketika membuat Pram dan Rian terlonjak kaget.
Kemudian terdengar suara pintu seperti terbuka dan tertutup dengan sendirinya.
"Seperti orang marah saja," ucap Pram sembari mencari di mana sumber suara berasal.
Melihat tingkah Pram, secara tiba-tiba bibir Rian berucap.
"Pram ... ingat kontrol rasa penasaranmu," ucap Rian mengingatkan.
Kini Pram sudah mundur teratur dan berdiri di sisi Rian, mrngurungkan niatnya.
"Pintar," ucap Rian sembari berlalu dan mengajak kembali ke depan .
Sampai di ruang tamu, melihat Simbah kini sudah duduk bersandar dan sedang di suapi ibu.
"Ayo sarapan sekalian," ucap ibu.
Tiba-tiba Pram dan Rian saling berpandangan dan tersenyum.
"Kenapa?" tanya Pram, Rian hanya menggeleng.
__ADS_1
"Yakin?" tanya Pram.
Merasa kikuk akhirnya Risn mengalihkan topik bicaranya.
"Jangan bosan-bosan menuntun simbahmu membaca syahadat Pram," ucap Rian lagi.
"Sudah pulang," usir Pram sembari mendorong tubuhnya, Pram mau bersih-bersih mumpung masih libur sekolah.
"Kamu mau nekat ke kota Pram?" tanya Rian tiba-tiba menyinggung soal ini. "Kau tak kasihan dengan ibumu."
"Sepertinya ... Pram."
"Pram ... suara ibu memanggil, Pram dan Rian langsung berhambur masuk ke dalam, kini Pram melihat Simbah sudah bertingkah aneh lagi.
Melihat ini Rian langsung memintaku membaca ayat-ayat suci al quran sementara dia berlari keluar.
Ibu sangat kerepotan memegang tubuh Simbah.
"Hahahaha ... suara tawa Simbah menggelegar ke seluruh ruang tamu, Pram langsung duduk di sebelah Simbah.
"Apa yang bisa Pram bantu Mbah. Apa Simbah masih menyembunyikan sesuatu rahasia pada Pram dan ibu?"
Tak menjawab pertanyaan yang Pram lontarkan, hanya sorot matanya yang tiba tiba redup dan sedikit sedih.
"Ceritalah Mbah, Pram dan ibu siap mendengarkan," ucap Pram pelan dengan sedikit berbisik di telinganya.
Sejenak menatap Pram dan tiba-tiba kembali tertawa keras, tubuhnya yang tadinya lemah kini seperti punya tenaga penuh. Pram sedikit menjauh menarik serta ibu.
"Mbah panggil Pram sedikit keras, Simbah yang mendengar panggilan Pram langsung menoleh ke arah Pram dengan matanya yang merah menyala. Melihat ini Pram hanya tersenyum."
Kini leluhur secara tiba- tiba sudah berdiri di belakang Pram.
"Jadi ini yang Mbah sembunyikan dari kami, jadi perjanjian ini jadi benar."
Sesaat kemudian Rian datang dengan napas yang masih ngos-ngosan di belakangnya nampak ibu berhijab.
Dengan tiba-tiba dia memberi hormat pada Pram dan saat Pram menoleh di sebelah Simbah leluhur tersenyum.
Tak ada hal yang aneh, ibu ini langsung berjalan menuju ranjang simbah dan mengucap salam, mendengar salam dari Ibu ini, Simbah semakin berontak.
"Assalammualaikum, Mbah .... "
"Rian bantu ibu dan kau juga Pram."
Tanpa membantah, Rian langsung mengajak untuk membaca ayat-ayat suci al quran seketika tubuh Simbah limbung dan langsung ambruk di ranjang.
Melihat itu ibu langsung berjalan sedikit mendekat.
"Nur diam di situ."
"Ada satu ilmu yang masih di sembunyikan Simbahmu Pram, ini bukan ilmu dari leluhurmu," ucap Ibu ini, kemudian perlahan ibu ini mulai membaca sesuatu, Pram masih terdiam mendengarkan.
Perlahan-lahan dari tubuh Simbah keluar benda bulat pipih seperti permata dengan cepat ibu Asih langsung menarik dan mengenggamnya.
"Ibu akan simpan ini dan menetralkannya Pram."
"Setelah ini Simbahmu akan lemah dan... terima kasih," ucap Pram untuk menutupi perkataan ibu ini agar ibu tak mendengar.
"Jangan berterima kasih, kami lah yang harus berterima kasih karena bisa membantumu."
"Nur ... antar Pram ke rumah, biar dia tahu kelebihannya," ucap Ibu ini dan Ibu hanya mengangguk saja serta tersenyum.
Kini ibu ini mendekat ke ibu berbicara berbisik, sesaat ibu tersenyum dan sesekali melihat ke arah Pram.
__ADS_1
"Aku pulang Nur," pamit Ibu ini dengan penasaran Pram sedikit mendekat.
"Maaf, atas kejadian kemarin ucap Pram pelan.
"Nggak apa-apa Pram."
"Bu, ayo pulang," ajak Rian sembari menoleh ke arah Pram.
Merasa terkejut dengan apa yang Pram dengar, Pram langsung melihat ke arah Rian.
"Jadi ini ibu kamu Rian?" tanya Pram pelan.
Rian hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Pram.
"Aduh ... maaf, maaf tante saya tidak tahu."
"Sudah di maafkan Pram tapi ada syaratnya harus main ke rumah."
Mendengar ucapan ibunya Rian Pram hanya bisa menggaruk kepalanya saja.
"Hm ... saya belum bisa berjanji tante."
"Ayo ... Bu ajak Rian lagi."
"Assalammualaikum," ucap Ibunya Rian sembari melangkah ke luar.
"Ingat ke rumah Pram."
Pram masih menghantar hingga ke teras, hingga tiba di bawah pohon sawo ibu Rian berhenti sejenak dan tersenyum.
Sebenarnya semuanya berasal dari sini dan benda ini yang membuat Simbahnya Pram terikat dengan pohon ini.
"Panggil Pram sekarang."
Rian menoleh kearah Pram dan kini melambai pada Pram agar mendekat.
Setelah Pram mendekat ibu nya Rian tersenyum melihat.
"Pram sebenarnya semua yang terjadi di sini karena pohon ini dan benda ini, kini ibu Rian membuka tangannya."
"Ya , kini benda bulat pipih itu bersinar terang."
"Kita kembalikan benda pusaka mereka Pram agar Simbahmu sedikit tenang."
Entah apa yang di baca benda itu kini sudah melayang dan melesat dengan cepat menghantam pohon sawo itu.
"Assalammualaikum," ucap ibu Rian sembari
melangkah keluar halaman.
"Pram, Ibu tunggu kedatanganmu kapan pun," ucapnya lagi dan kini benar-benar pergi.
Pram kembali masuk ke dalam rumah, melihat simbah sudah tidur tetapi tak tenang.
"Bu ... apa Simbah pernah bercerita tentang pohon depan rumah itu dan siapa sebenarnya ibunya Rian."
Ibu hanya diam tak menjawab hanya menatap.
"Apa yang ingin kau tahu Pram?"
"Jangan membuat Pram bingung Bu, jujur Pram takut dengan semuanya dan sangat khawatir, tolong Bu, ceritakan semuanya, dari dulu ibu selalu menunda-nunda saja," ucap Pram lagi.
"Tenang Pram, ibu juga belum paham tentang semua ini, simbahmu juga nggak cerita sepenuhnya ke ibu."
__ADS_1
Mendengar ini Pram hanya mengambil napas panjang dan membuangnya lagi.