
Melihat keadaan Simbah yang menghawatirkan. Akhirnya ibu mengijinkan
Pram menginap juga. Sudah hampir maqrib, saat Pram menyalakan semua lampu agar ruangan manapun jadi terang.
Pram berjalan ke area belakang, meski jika malam pintu penghubung antara dapur dan halaman belakang tertutup. Tetapi tetap saja terlihat tak nyaman.
"Bu, sebelah mana tombol lampu ruang belakang?" tanya Pram pada ibu saat Pram melihat disana gelap.
"Semuanya sudah rusak Pram," jawab Ibu.
"Sudah tutup dan kunci lagi, besok saja di betul kan," ucap ibu.
Kini Pram, beralih berjalan menuju ke teras depan. "Ih ... Simbah kenapa di depan juga nggak ada lampu nya, kasihan yang lewat sini," omel Pram.
Kini pandangan Pram tertuju pada pohon sawo. 'Apa sebenarnya yang terjadi di masa lampau dan kenapa Bapak bisa di makam kan di sini,' guman hati Pram.
"Bu ... ibu," panggil Pram, sembari bergegas berjalan ke dapur. Lalu Pram menengok ke kamar ibu. 'Duh! Ibu kemana juga pikir Pram.'
Langkah Pram, kini berpindah menuju ruang tengah, masih Pram ingat sosok kuntilanak yang muncul di hadapannya dulu.
Sejenak Pram melirik, toh kini sosok ini sedang duduk di atas lemari ruang tengah sembari kakinya di ayun-ayunkan. Akan tetapi sosok ini hanya melihat Pram dan tak berani mendekat.
"Pram .... panggil ibu secara tiba-tiba."
"Biasa, suka melamun," ucap Ibu sembari mengusap wajah Pram dengan tangan Ibu.
"Dari mana Bu?" tanya Pram.
"Dari kamar mandi Pram!! Simbah kok kamu tingal sendiri."
"Tadi tidur Bu," jawab Pram.
Setelah mrndengar jawaban dari Pram. Kini ibu sudah menyeret matras pendek untuk tidur di sisi simbah.
"Pram ... "suara Simbah mengigau memanggil, sesaat Pram dan ibu saling pandang untuk sesaat.
"Ngelindur Pram," ucap ibu.
Namun, sedetik kemudian Simbah sudah terlihat duduk dengan tegak. "Endi rokokku, endi kinanganku," pinta Simbah tetapi dengan mata terpejam.
Ibu kemudian mendekat dan menidurkan Simbah kembali, masih dengan ucapannya yang ngelantur. Hingga pagi menjelang kini mata Pram tak bisa di buka. "Tidur saja Pram nanti ibu bangunkan mumpung Simbah mu juga tidur."
Pram terbangun saat ibu membangunkan.
"Pram! Bangun. Cepat mandi gih! Lihat Simbah sudah jalan-jalan."
Pram seketika bangun mendengar suara Ibu. "Waduh! Bu. Pram mandi dulu nanti gantian ya?"
Ketika keluar dari kamar mandi, Pram melihat Simbah sudah duduk di kursi biasanya. "Nang di Pram iki? Mulai kemarin di tunggu kok gak datang-datang," ucap simbah sembari sesekali menengok ke pintu.
__ADS_1
"Bu ... iling, ingat," ucap ibu.
"Putu ku ... putuku endi?"
Melihat ini aku trenyuh , Simbahku yang sangat kuat dan sedikit keras tiba-tiba.
"Mbah ... panggil Pram, seketika simbah menoleh. "Weleh, weleh putuku, kene-kene lungguh, cedak-cedak kene," sembari menepuk bangku di sebelahnya.
( Walah walah cucuku , sini sini duduk dekat dekat sini , sembari menepuk bangku di sebelahnya )
" Simbah arep crito, rungokno yo."
( simbah mau cerita , dengarkan ya )
"Kenapa simbah ingin cerita sekarang, dulu saja Pram ngotot pingin tahu, Simbah selalu menolak."
"Wet sawo, ya ... pohon sawo, kalau bisa potong saja! Banyak hal yang buruk di pohon itu Pram! Sini Simbah, kasih tahu caranya." Simbah sedikit mendekat dan membisikkan sesuatu pada Pram.
'Baimana sudah paham."
Pram hanya mengangguk.
"Itu ... itu ... perjanjian itu," ucap Simbah.
Sesaat mata simbah meredup, itu salah S6imbah terlalu percaya pada Srikanti dan aku kasihan dengan gadis itu Pram, aku sudah merasa berdosa meski bukan Simbah yang melakukannya."
"Memang ada apa mbah?Kau tahu makam yang di bawah pohon itu? Itu makam Bapakmu Nduk."
"Lalu kenapa mereka meminta nyawa Pram Mbah ! Ada perjanjian apa lagi ini."
"Kau tahu Pram, kau adalah istimewa dengan kelahiranmu dengan sendirinya kau memiliki linuwih dari lahir, kau lihat sekarang selain ragamu ada hal lain yang mereka incar sesuatu yang kau bawa dari lahir Pram."
"Tapi dengan instingmu kau bisa mengetauhi niat buruk Srikanti, tapi semua sudah terjadi bagaimanapun mereka tak akan melepas janji itu."
"Dan Srikanti siapa dia Mbah ? Pram melihat Simbah mengambil napas panjang dan membuangnya pelan."
"Sebenarnya dia adalah anak sahabat dari Simbah leluhurmu, dia nekat mengakhiri hidupnya karena dia di tinggal pergi dengan calon suaminya yang memilih menikahi wanita lain," cerita Simbahm
"Maksud Simbah?"
"Dia adalah calon isteri kakek buyutmu , tapi karena kakekmu buyutmu lebih memilih wanita yang menjadi istrinya. "Ya," karena kejadian itu persahabatan antara Simbah dan dua lainnya pecah akhirnya mereka memilih meninggalkan desa ini Pram.
"Kau tahu kenapa Srikanti meminta ragamu karena Srikanti tahu kau yang tepat dan wajahmu sangat mirip Simbah buyutmu dalam versi perempuan.
Aku dan ibu saling berpandangan.
"Pram ... ada hal yang lebih mengejutkan dari ini Nduk, kau tahu!! Simbah buyutmu? Ada hal yang terjadi dengan penghuni pohon sawo ini perjanjian mereka tentang sesuatu dan Simbah tak paham akan itu."
Aku masih diam mendengarkan toh Simbah leluhurku sudah menceritakan semuanya.
__ADS_1
"Dan dengan bodohnya Simbah melakukan hal yang sama, menerima ilmu itu dengan suka rela dan yang jadi imbalannya simbah harus ... tak melanjutkan bicaranya.
"Mengganti dengan nyawa Pram, Mbah!!Mendengar aku bicara seperti ini simbah terdiam menatap. Maaf Nduk ... hanya itu yang Simbah ucapkan."
"Mbah andai ilmu itu telah lenyap dan lebur?
Simbah diam menatapku dan langsung menggeleng.
Kenapa rumah ini terlalu banyak kamar Mbah? Toh yang tinggal di sini juga hanya ibu dan Simbah, terus kamar yang paling ujung ?"
"Simbah hanya menantu di sini, hanya sebatas cerita ini yang Simbah dengar, maaf kalau Simbah tak bisa menjawab itu."
Simbah tahu dengan ibunya Rian? Seketika tawa simbah terdengar. "Hahahaha ...
Simbah tak mau cerita soal, itu carilah sendiri dan nanti kau juga akan tau dengan sendirinya."
Datanglah jika ibunya Rian menginginkanmu mengunjungi rumah nya," ucap simbah sembari tersenyum.
"Pram, Simbah tahu. Sedikit banyak kau sudah tahu tentang cerita ini dari pada Simbah. Simbah hanya melengkapi cerita yang belum kau mengerti."
"Mbah, andaikan aku tak bisa melakukan pesan simbah? Simbah yakin pasti akan ada yang membantumu."
"Nur ... panggil simbah," mau tidur mbah."
"Mbah, sepertinya simbah masih menyembunyikan sesuatu cerita dari Pram," tanyaku penasaran.
"Simbah tak perlu menceritakan semuanya Pram suatu hari kau akan mendengar cerita dari orang lain."
"Jam piro iki Pram, ra sekolah? Libur Mbah dua hari lagi baru masuk."
"Nur .... teriak simbah lagi, aku pingin mlaku mlaku mumpung awakku bergas ngene."
"Nur .... tak berapa lama ibu sudah datang," ayo pingin ngenguk sawah ro tegal Nur."
"Wes pirang dino ra tak inguk, melu Pram."
Ibu memberi kode agar aku ikut saja, setelah melewati halaman kini aku dan ibu berjalan di belakang Simbah, setelah melewati jembatan bambu aku sudah sampai di tengah sawah yang luas dan berjalan agak sedikit ke timur ada berbagai macam tanaman jagung, pohong, kacang panjang dan cabai dan masih ada lagi yang aku tak tahu namanya.
"Ini semua yang akan jadi milikmu Pram ingat kelola yang baik, banyak yang menggantungkan hidup mereka di sini bukan dari kampung kita saja tapi juga ada dari kampung kampung sebelah Pram sekolah seng pinter," ucap Simbah. "Bantu ibumu mengurus semua ini nantinya."
"Mbah kenapa ada yang berdiri di sana?" tanya Pram.
O ... iku seng Mbah tugasi njogo sawah Pram."
"Masak lelembut," ucap Pram.
Seketika simbah sudah menyentil dahiku.
"Yo, apa simbah mampu mengawasi lahan segini luas sendiri Pram, biar kalau ada yang niat jahat itu tak terjadi Pram.
__ADS_1
"Ih ... simbah masak ngasih tugas mesti berhubungan dengan yang begini-begini omelku. Simbah hanya tersenyum,bocah bocah," ucap simbah sembari tersenyum.