
Di sinilah Pram, setelah pindah di ruang paviliun Pram kini hanya bisa berbaring karena tangan dan kaki masih di gips, menunggu Dokter untuk mengontrol nya.
Sudah pukul sepuluh pagi saat Dokter masuk
"Pagi Pram? Nama yang bagus, Dokter periksa ya? Pram hanya mengangguk."
"Coba gerakkan jari-jari tanganya, melihat sebentar, bagus!! Sekarang coba ujung jari kakinya di gerakkan juga, Dokter melihat dengan seksama. Kemudian Dokter tersenyum. Sudah dua bulan pasti sudah sembuh."
Menuliskan sesuatu di secarik kertas .
"Ternyata kamu anak yang hebat, selamat
besok sudah bisa di lepas gips nya dan ingat harus hati-hati!! Oh ya Bu, usahakan besok setelah di lepas gipsnya, harus pelan-pelan geraknya," ucap sang Dokter, lalu menyerahkan secarik kertas pada ibu.
"Besok kalau sudah di ruang Ortopedi serahkan kertas ini." Ibu menerima secarik kertas itu lalu menyimpannya.
Simbah dan Rian kini sudah berpamitan
"Lekas sembuh Pram, aku pulang dulu besok aku kemari lagi," ucapnya sembari keluar kamar.
"Nur, ibu pikir kamu dan Pram tinggal di sini saja biar memudahkan kalau kontrol ataupun yang lainnya. Ibu akan mencarikan rumah di sekitar rumah sakit sini."
Lalu simbah mengeluarkan sesuatu di tasnya "Ini untuk biaya Pram, ibu nggak ngerti gimana menyimpannya, tapi tadi Rian menyarankan agar di masukkan rekening."
"Ini terima dan simpan baik-baik Nur, kalau bisa pindah jadi namamu atau Pram," ucap Simbah.
Ibu menatap Simbah Rum lekat. "Terima kasih Bu," ucap Ibu dengan menatap wajah Simbah.
"Kalau biayanya kurang minta saja Nur, ibu akan jual lahan kita yang di sebelah timur," ucap simbah lagi, kini Pram melihat ibu hanya mengangguk saja.
"Pram, seng ati-ati," ucap Simbah.
Setelah semuanya pulang. Pram memindai kamar paviliun ini, Pram masih belum bisa turun karena kakinya, untuk urusan kebelakang di pasang alat di bawahnya entah apa itu dan yang jelas agar Pram tak repot jika ingin pipis.
Sekali lagi Pram pindai paviliun ini. "Kenapa Simbah menaruh Pram di kamar ini? Kan kamar lainnya ada."
Pram terkejut saat ibu sudah duduk di depan Pram. "Kok ngelamun Pram?" tanya Ibu.
Pram hanya menjawabnya dengan gelengan.
"Bu, kok di kamar bagus ini? Kan ada kamar yang biasa," tanya Pram pada Ibu.
"Sudah nggak apa-apa, supaya kamu nggak terganggu."
Pram meraba lehernya. "Kalungnya Bu!!Tanya Pram pada Ibu.
" Ada sama Ibu, tadi Simbah bilang di suruh simpan saja, kata simbah itu sudah nggak perlu, tapi kalau kamu ingin pakai boleh."
" Istirahatlah Pram, biar lekas sehat."
Kini Pram melihat Ibu sudah berkali-kali menguap.
__ADS_1
"Istirahat Bu? Aku juga ngantuk," ucap Pram.
Tak lama Ibu sudah terlihat tidur di sofa panjang yang mirip kasur kecil.
Suasana sepi, angin sepoi-sepoi membawa hawa dingin bercampur air, terasa sejuk meski sudah jam dua belas siang.
"Rasanya seperti akan hujan, bila ada hawa seperti ini pasti tak lama lagi hujan," ucap hati Pram.
Benar suara rintik hujan mulai turun, lama kelamaan sedikit jelas itu terdengar dari suara gemuruhnya.
"Huf ... dingin."
Pram hanya bisa merasakan tapi tangan dan kakinya masih belum bisa di gerakkan.
"Ishh, kenapa lagi pikir Pram, tiba-tiba ada sosok wanita berdiri di sudut kamar ini, dia menatap dan Pram hanya melirik tak menanggapinya.
Pram tak ingin bersikap ramah pada sosok ini cukup Srikanti yang jadi pembelajaran.
Apalagi dengan kondisi tubuh Pram saat ini
hanya bisa tidur terlentang di bed rumah sakit.
Mereka seakan penasaran dengan kehadiran Pram, kadang ada yang tiba-tiba mendekat kearah Pram, ada juga yang hanya mengintip, ada pula yang tiba-tiba muncul dan pergi.
Kamar ini, ternyata tak sesuai penampilannya bersih, rapi tapi ful penghuni astralnya. Melihat ibu sedikit menggeliat saat hujan tinggal rintik-rintik gerimis kecil.
Kemudian berpindah posisi mungkin capek pikir Pram, di kamar ini Pram belum berani melakukan apapun, Pram ingin menikmati masa istirahat ini.
Lama kelamaan Pram tertidur juga, entah berapa lama itu, Pram terbangun saat merasakan ada yang menyentuh tangan Pram.
Pram sangat terkejut, sosok ini tersenyum.
Ada seseorang tetapi, Pram tak mengenalnya, ini bukan dari golongan manusi tetapi ini orang dari dunia lain, kini sudah berpindah di sisi Pram dengan tersenyum dia menatap.
"Jangan menganggu, Pram tak pernah mengusikmu," ucap Pram lagi.
Kini sosok ini sedikit menyeringai, belum sempat dia tertawa kini Pram sudah mengikatnya dengan mantra.
"Apa maumu, pergi jangan menganggu, mau Pram pindah atau membakarmu."
Mendengar ucapan Pram sosok ini langsung menghilang tapi belum lama muncul lagi, Pram sedikit tersenyum melihatnya.
"Oh ... disini ternyata portalnya tempat lalu lalang dan mereka sangat penasaran dengan Pram karena energinya sangat kuat.
Memindai sekali lagi paviliun tempat Pram di rawat.
Tak berapa lama sosok itu muncul lagi, kini sedikit mendekat.
"Apa maumu? Tak menjawab hanya menunjuk sesuatu kesatu titik.
Seketika Pram tersenyum saat melihatnya.
__ADS_1
"Mau Pram pindah ke sana? Dengan yang lainnya ?" tanya Pram. Terlihat sosok ini mengangguk tanda setuju.
Masih dengan berbaring tiba-tiba tangan Pram bergerak sendiri seperti ada yang menuntun tak berapa lama angin berhembus lembut dan dingin.
Setelahnya melihat tempat ini sudah sepi hanya tinggal sosok yang duduk di sudut ruangan.
Sosok itu memandang Pram sesaat dan menunduk.
"Kau masih ingin tinggal di sini? sosok itu mengangguk tanda setuju.
"Jika kau mau tinggal di sini tolong jangan menganggu." Sosok itu tersenyum dan mengangguk.
"Menghilanglah selama Pram di sini. Pram merasa tak nyaman kau berdiri di situ," ucap Pram lagi ."
Pram kembali tersenyum saat dia tiba tiba menghilang.
Pram menatap keluar sejenak, sosok itu tengah bersandar di pohon cemara dan menunduk.
Kini pandangan Pram mengalihkan pada ibu masih tertidur dengan nyenyak.
Tak terasa air mata Pram menitik, banyak penyesalan yang Pram rasakan serasa sesak dan menusuk di hati, mengingat banyak hal yang membuat Pram menyesal.
Saat sedih seperti ini tiba-tiba muncul gadis seusia Pram yang kini berdiri di depanku dan tersenyum.
"Jangan nangis Pram" ucapnya
"Kenapa kamu keluar? Hi hi hi ....hanya tawanya yang Pram dengar.
"Aku lupa !! Kalau kamu sedih di dalam jadi sesak Pram ?Sedihnya jangan terlalu."
Pram tersenyum saat mendengar ucapan sosok ini.
"Maaf ya? Kalau sudah bikin kamu sesak di dalam. Sosok ini hanya mengangguk dan kembali menghilang.
Menghembuskan napas panjang, mengeluarkan dan menghirupnya lagi hingga terasa ringan di hati.
Mendengar suara adzan ibu baru terbangun
wajahnya kini sedikit segar, duduk sebentar kemudian menghampiri Pram.
"Pram ingin duduk Bu, capek", ucap Pram pelan.
Dengan sigap ibu memutar gagang yang ada di bawah bed.
Melihat sesaat. "Begini Pram?" tanya ibu.
"Cukup Bu," jawab Pram lagi.
"Rasanya badan Pram pegel Bu, lihat tangan Pram sedikit bengkak, kaki Pram juga!"
"Sabar Pram tinggal nunggu besok," ucap sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ibu sibin ya? Lihat dakinya pasti banyak goda Ibu."
"Hiya Bu, pasti itu!! Dua bulan Pram nggak mandi, nanti kalau gips nya udah di lepas dan ini yang di bawah juga mau di lepas Bu kok sedikit nyeri," ucap Pram sembari meringis.