
Setelah semua sudah masuk dalam mobil dengan tersenyum pak sopir menyapa.
"Pagi Bu, sudah siap berangkat," tanya pak sopir.
Sesaat Lintang menatap ragu kemudian maju mendekat.
"Kak Ihlam! Kemudian Lintang meraih tangannya untuk di cium, sesaat Lintang tersenyum."
"Bu, ini kak Ilham yang terus mendampingi aku di pondok sama bapak juga."
Ibu nampak sedikit terkejut wajahnya yang tadi murung kini sedikit tersenyum. Perlahan namun pasti kini Ilham melajukan mobilnya dengan sesekali melirik ke kursi tengah di mana Kinara dan Kinanti duduk, sementara Arion sudah terlelap di pangkuan Mbak Yas dan Mbak Ning, hening semua yang ada di dalam mobil diam tak ada yang ingin memulai percakapan.
Hingga tiba-tiba ibu mengerutkan keningnya
"Nak Ilham, sepertinya akan turun hujan. Langitnya juga terlihat mendung," ucap ibu kini melihat jam tangan yang di pakainya.
Kemudian melihat ke luar melalui kaca mobil.
"Masih pukul sepuluh pagi. Kenapa gelap sekali?" ucap Ibu pelan.
"Hati-hati saja Nak! meski sedikit terlambat tak apa," ucap ibu mengingatkan.
Nak Ilham hanya tersenyum saja, kini wajah ibu tak biasa-biasa saja, kembali melihat jam tangannya kemudian melihat ke luar lagi.
"Nak, Ilham apa kita tak salah jalan?" tanya ibu sembari sesekali melihat ke luar kaca mobil.
"Sudah dua jam kenapa kita masih terus berputar-putar di sini, rasanya sudah tiga kali kita melewati tempat ini Nak Ilham."
Seketika seisi mobil menatap Ibu.
"Cepat tutup kaca mobilnya dan naikkan saja AC nya," ucap ibu saat melihat keluar, karena kabut yang tiba-tiba datang.
"Nak Ilham jalankan mobilnya pelan-pelan saja!"
Lagi-lagi tak menjawab, tetapi memilih menghentikan mobilnya begitu saja.
"Maaf Bu, jika saya menghentikan mobil ini tiba-tiba, sebenarnya dari keberangkatan tadi ada seseorang yang berusaha mengundang Ibu, tetapi tujuan utamanya bukan Ibu tapi anak Ibu dan dari tadi saya sudah berusaha menutup energi Ibu dan anak Ibu. Tetapi maaf !! Saya belum bisa menyembunyikan energi yang Ibu punya," ucap Nak Ilham.
"Perkenalkan saya yang ada di samping anak ibu yang memakai baju biru," ucap Nak Ilham.
Seketika aku menoleh pada Kinanti, sesaat ku lihat Nak Ilham tersenyum.
"Atas ijin Bu Asih saya bisa melindungi anak Ibu, saya sengaja masuk dalam tubuh anak ini, karena dia bisa menerima energi dariku."
"Sekiranya ibu tak keberatan datanglah dan temui mereka, mereka tak akan melepas kepulangan anda sebelum keinginannya terpenuhi."
"Berangkatlah, saya akan melindungi keluarga anda dan saya ijin untuk sementara membuat mereka pingsan."
Setelah percakapanku dengan Nak Ilham, aku langsung ke luar dari ragaku, sukmaku kini berjalan menyusuri kabut ini.
"Aneh!! Ternyata berada di dalam kabut ini, sangatlah terang, seketika Pram melihat jam tangannya. Mati. Namun, sukma Pram mengajak untuk berjalan."
Entah, saat ini Pram berada di waktu yang mana berdiri di hamparan rumput yang tak begitu luas. Menatap sejenak tempat yang Pram pijak, udara sejuk, sedkiti panas namun terasa segar.
Hingga sesaat kemudian Pram melihat seorang wanita tua datang dengan tergopoh menghampiri, wanita bersanggul dengan kulit coklatnya, namun terlihat cantik dengan baju kebayanya, sekilas tersenyum kemudian membungkuk untuk memberi hormat. Tanpa banyak bicara, wanita ini mengajak Pram melewati sebuah tanah lapang yang tak begitu luas, nampak oleh Pram sebuah rumah kuno, yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu.
__ADS_1
Tak ada percakapan antara kami, hanya sesekali wanita ini melirik, hingga kami berhenti sesaat, saat tiba di depan rumah ini.
Sesaat angin berhembus menerpa wajah Pram pelan dan terasa dingin tapi terasa kering membuat hati seketika sedikit menciut.
Wanita di sebelahku seakan mengerti apa yang Pram rasakan, menatapku sekilas hingga tak lama muncul sosok wanita yang sedikit lebih tua, namun penampilannya berbeda wanita ini seperti seorang majikan dengan wajah bersihnya.
Melihat kedatangan kami, sosok wanita ini tersenyum.
"Masuklah," ucapnya.
Rumah tampak depan sederhana ada bangku panjang dan sedikit lebar terbuat dari bambu di sudut ruangan ada meja kecil untuk meletakkan sesuatu.
Setelah melihat Pram duduk.
"Maaf aku sudah menganggu perjalanan kalian, karena beberapa kali kalian melewati tempat ini dan ada energi yang sama berasal dari tempat ini, jadi aku memutuskan untuk mengundang kalian."
Terlihat wanita ini tersenyum misterius dan melihatku. "Sepertinya ada yang menghalangi niatku untuk bertemu dengan anakmu, karena aku sedikit sulit untuk menjangkaunya."
"Ternyata energi besarmu yang bisa aku lihat,
Aku pemilik desa ini dan aku yang masih mempunyai sangkut pautnya dengan desa ini."
"Akhirnya kau bisa bersama dengan anak turunku, ternyata Asih tak melupakan keberadan ku, kini akhirnya aku sendiri yang memanggilmu setelah sekian lama."
Tatapan wanita ini semakin tajam kemudian tersenyum lagi.
"Terima kasih masih mau mengakui keberadaanku dengan memakai energi pelindung bagi anakmu, kenalkan aku adalah
nenek buyut dari anak-anakmu."
"Aku titip untuk anakmu meski dia tak sehebat yang satunya tapi aku senang karena Asih masih mau mengakui keberadaaanku," ucap wanita tua bersanggul.
Tanpa banyak bicara lagi wanita ini memberikan gelang kuning berbentuk ular melingkar.
"Terimalah ini, sebagai pelengkap untuk anakmu, karena anakmu akan sering menjadi salah sasaran, karena mereka kembar dan banyak yang usil ingin menggoda mereka," ucap wanita ini dengan serta merta memberikan gelang itu.
"Ternyata semua kembali ke asalnya."
Tersungging senyum di bibirnya wanita tua ini kemudian wanita ini berdiri menatapku sejenak.
"Salam untuk leluhurmu sampaikan rasa hormatku padanya," ucapnya lagi.
"Maaf karena kau lambat menanggapi undanganku, jangan salahkan jika aku menghalangi mu untuk pulang."
Bersamaan dengan menghilangnya sosok wanita ini, keadaan pun berubah, kini aku bukan di tanah lapang lagi, kini aku berada di sebuah makam yang di bangun dengan indah, masih terlihat bunga segar di makam ini. Sesaat aku melihat sekitar makam.
"Aneh, ini di mana? Dan makam ini?Aku sedikit mendekat, terlihat tulisan di nisan Buyut xxx, seketika aku terkejut jadi ini?Makam yang sering di ceritakan semua orang."
Namun, secara tiba-tiba ada suara yang mengingatkan aku untuk segera kembali ke ragaku, kini dengan sedikit mengatur napasku aku sudah kembali ke ragaku, menatap ke seisi mobil.
Hingga suara besar mengejutkan Pram.
"Terima kasih anda segera kembali dan ijinkan saya untuk kembali," ucap suara ini.
Pram hanya mengangguk dan kini pandangannya tertuju melihat tangannya yang tengah memegang sesuatu.
__ADS_1
"Gelang ini," ucap Pram pelan.
Hingga beberapa menit, mereka semua tersadar dari tidurnya, langit sudah sedikit terang, kembali Pram melihat jam tangannya.
"Ini masih pukul sepuluh pagi," ucap Pram pelan.
Membuka sedikit kaca mobil, kini Pram sangat terkejut dengan apa yang Pram lihat.
"Ini ... !!"
Sesaat Pram terdiam, kembali menatap keluar.
Melihat anak-anak sudah sadar sepenuhnya dan Ilham juga sudah melihat ke belekang untuk memastikan.
"Nak Ilham, kita ada di mana?" tanya Pram pelan.
Dengan sedikit membuka kaca mobil kemudian melihat sedikit keluar dan melihat ke arahku.
"Maaf kenapa kita sampai di sini Bu, ini makam Buyut yang di tuakan dan sering di kunjungi karena ada hajat ataupun hajat yang sudah terkabul," jawab Ilham lagi.
"Maksud Nak Ilham?" tanya Pram lagi.
"Sebaiknya kita turun dan kirim doa saja Bu, mungkin kita diingatkan untuk ziarah kemari," ucap Ilham lagi.
Akhirnya kami turun untuk ziarah makam, tertulis di nisan nama yang sama dengan yang ku lihat di alam lain.
Makam yang di bangun dengan bagus, kijing kuat seperti rumah.
Setelah kami ziarah kami pun melanjutkan perjalanan kami, ternyata ini makam Buyut yang terkenal itu dan masih Buyut dari anak-anakku.
Dengan penasaran Pram memutuskan untuk bertanya pada Ilham.
"Nak Ilham kenapa makam ini ada di daerah ini, apa masih ada hubungannya dengan pondok?"
Ilham tak menjawab pertanyaanku malah tersenyum.
"Anda sudah mengetauhinya, tapi dari yang saya dengar dari cerita Abah, Nenek Buyut ingin di makamkan di daerah ini dan memang daerah ini perbatasan antara kota Anda dan kota pondok ini, maaf hanya ini yang saya tahu."
Pram sedikit terkejut mendengar cerita Ilham tetapi yang membuat Pram semakin terkejut saat Ilham menyebut nama Abah.
"Nak Ilham ini?" tanya Pram ragu.
Dengan tersenyum Ilham menjawab sembari melajukan mobilnya.
"Saya anak paling kecil dari Abah, maaf jika dalam beberapa hari saya belum menemui Anda, karena kesibukan di pondok," ucap Ilham lagi dengan tersenyum.
Sesaat Pram melihat anak-anaknya, mereka semua terlihat tenang menikmati perjalanan pulang ini.
"Maaf, sesuai pesan Pak Rian saya harus menginap selama satu minggu untuk menemani Lintang dan maaf jika saya baru menyampaikan ini pada Anda."
Aku tersenyum mendengarnya toh Mas Rian juga sudah menceritakan padaku.
Tak terasa perjalanan sudah hampir mendekati rumah, hampir ashar kami tiba sesaat senyum Pram terkembang.
"Rumah ini, begitu aku merindukannya," ucap Pram pelan.
__ADS_1