OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 110 . ARION HILANG


__ADS_3

Genap tujuh hari sepeninggal mak Sunar dan ini hari ke delapan sejak pagi Arion sudah mulai berulah dan terus terusan merengek.


Sedari tadi aku dan mas Rian terus melihat saja ulah Arion, semua kakaknya sudah berangkat tapi Arion masih juga belum mau sekolah dan memilih bersembunyi di kamar mak Sunar.


Kemudian ke luar lagi sembari tersenyum


"Arion, ayo sudah siang nak kita berangkat sekolah yuk" ucapku sembari melihat jam.


"Ayo ....nak" yang ku ajak bicara malah masuk kamar mak Sunar dan tak keluar lagi.


Dengan sedikit emosi akhirnya aku menghampiri Arion masuk ke kamar mak Sunar .


"Sssstttt, malah mengajak petak umpet" ucapku sembari mencari Arion.


"Ayo nak, panggilku lagi sembari menyibak tirai dan membuka almari, tapi kosong akhirnya aku melongok ke bawah kolong ranjang kenapa bersembunyi di situ Arion, ayo sekolah!" coba lihat bajunya jadi kotor."


Dengan tersenyum Arion keluar dari kolong ranjang " Arion gak bisa bolos hari ini kan ada ulang tahun, Arion lupa?


Sembari ku bersihkan bajunya "hari ini ibu memaafkan Arion, tapi jika besok-besok di ulang lagi ibu akan marah, kasian bapak nak sudah menunggu dari tadi."


Arion hanya diam menatapku, kemudian mendahului keluar kamar, langsung menghampiri mas Rian.


Setelah berpamitan padaku akhirnya Arion berangkat juga bersama mas Rian.


Hingga sudah pukul sebelas, aku yang sedari tadi juga sibuk dengan pekerjaanku ku tinggal begitu saja, setelah aku menumpuk nya dengan rapi di meja.


Dengan bergegas aku melangkah menuju sekolah Arion, dari kejauhan nampak sudah menunggu.


Bergegas menghampiri "ayo nak" sepanjang perjalana Arion tak bayak tingkah karena cuaca yang panas atau memang Arion lelah, hingga tiba di rumah pun Arion masih nampak malas malasan.


Setelah semua beres aku kembali berkurat dengan kerjaanku yang masih menumpuk di meja, tak berapa lama ponselku berdering.


"Tumben mas Rian nelfon di jam segini" kemudian mengulirnya sesaat.


"ya, assalammualaikum"


"Ya, mas ...."


Kemudian aku menutup ponselku kembali.


"Mbak yas, mbak Ning, panggilku sembari berjalan mencari keberadaan mereka.


"Mbak ..... " yang ku panggil masih sibuk di halaman belakang "mbak ....."


"Ya buk" jawab mbak Yas sedikit terkejut.


"Tolong, awasi anak-anak, terutama Arion dan juga bilang pada ibu, kalau saya pergi ke rumah di kota karena ada sesuatu yang harus saya urus."

__ADS_1


"Ya, bu" jawab mbak Yas lagi.


"Setelah bersiap beberapa saat tak terlihat Arion, mungkin di kamar pikirku sembari berjalan menuruni tangga.


Sudah jam satu saat mas Rian datang menjemput, perjalanan yang sedikit lama.


Semakin bagus, jalanan sudah banyak yang berubah sana sini, sedikit macet karena arus lalu lintas yang ramai, hampir satu jam lebih akhirnya kami sampai juga.


Rumah yang lama tak aku kunjungi mugkin dua tahun sekali, rumah masih kondisi bagus.


Begitu sampai di halaman kedatangan kami sudah ada yang menyambut, Sofia kecil tersenyum melihat kedatangannku.


Dan langsung menguntit di belakangku, rumah yang di sewa oleh orang ini juga tak berpengaruh pada sofia dan penghuninya.


Menatap ke seberang jalan, senyumku terkembang sudah banyak yang berubah, tamannya pun kini semakin di perlebar dan di perbaharui.


Aku sedikit terkejut, seseorang membuka pintu dan mas Rian menjawil bahuku.


"E....mbak dan masnya, mari silakan masuk" ucap sang pengontrak rumah.


Setelah kami duduk, kami langsung berbicara pada intinya dan menyelesaikan ini dan itu, hingga hampir satu jam akhirnya kami menyelesaikan semuanya.


"Terima kasih" ucap kami setelah semuannya beres dengan kesepakatan kami.


Hingga ponsel mas Rian berdering, sembari berjalan menuju mobil mas Rian mengulir tanda hijau dan mendengarkan sebentar kemudian memutus begitu saja panggilan yang entah dari mana.


"Pram, ayo kita lekas pulang" hanya ini saja yang mas Rian ucapkan dan melajukan mobilnya sedikit kencang.


Nampak berulangkali memukul setir mobil saat kamacetan belum terurai, nampak wajah mas Rian mulai cemas dan gelisah, masih setengah perjalanan.


"Mas, ada apa? tanyaku curiga. "Nanti Pram kalau sudah sampai di rumah mas ceritakan dan kini kembali melajukan dengan kencang kembali.


Hampir isya, saat kami hingga di belokan mas Rian sedikit melambatkan laju mobilnya dari kejauhan terdengar suara riuh barang yang di pukul, "tek tok tek tok ..... ting, ting .... pyeng, pyeng .... buk, buk .... klontang, klontang .... terdengar suara riuh tak beraturan tapi masih tetap memukul benda benda itu.


Aku dan mas Rian saling memandang heran.


"Ada apa mas, rame sekali? tanyaku heran


tapi mas Rian tak menjawab hanya wajahnya saja yang terlihat gusar dan khawatir hingga


tiba memasuki gang rumah, mas Rian melajukan mobilnya dengan pelan, banyak warga berkumpul, para pekerja di sawah pun juga terlihat, ada yang memukul wajan, panci, tutup panci, kentongan dan benda-benda yang mengeluarkan bunyi bunyian, mereka berjalan menyusuri kampung dan kini menuju jalan sawah sambil meneriaki nama Arion berulang kali.


Mas Rian langsung menghentikan mobilnya begitu saja saat mendengar nama yang di panggil begitu juga dengan ku.


Mas Rian langsung berlari mengejar para warga yang masih saja terus membunyikan alat alat itu dan memanggil nama Arion, sementara aku langsung berlari menuju rumah.


Begitu memasuki halaman rumah, nampak semua berkumpul, dua ibu dan anak-anakku dan dua mbak di rumah serta beberapa tetangga.

__ADS_1


"Ada apa ini? dengan napas tersengalku.


Ku lihat satu persatu mereka dan seketika aku sadar "Arion mana? tanya ku sedikit keras.


Ibu langsung memeluk menenangkan aku, "Arion menghilang sejak siang tadi, kami sedari tadi sudah mencari nya Pram ..."


Sesaat aku terduduk lemas, nampak dua mbak ketakukan "bu .... suara Kinara mengejutkan aku kini ketiga anakku sudah memelukku nampak wajah sembab mereka karena menangis dan tak lama Kinara berbisik padaku.


Sejenak aku menatap Kinara dan memanggil dua ibu "bu .... jaga aku, jika dalam melakukan perjalanan ini tubuhku terlalu dingin sebut nama ku tiga kali di telingaku, jadi tolong pegang tangan ku sejenak, dan Kinara ibu minta awasi jika ada sosok yang mendekat, panggil ibu.


Aku hanya duduk bersila sesaat, kini sukma ku tengah berjalan menyusuri gang ini, ya, mungkin ini perjalanan ku yang akan sedikit lama, hingga di persawahan tak ada sosok Arion.


Aku kini menuju arah makam, ku lihat para penduduk juga menuju arah sini.


Hampir malam, aku masih memeriksa satu persatu tempat ini, tiba-tiba udara berbeda kabut turun begitu saja ini kan dekat makam emak, saat aku menatap ke atas bersamaan juga ada sosok yang menatapku dan tatapan kami bertemu dengan mata besarnya.


Aku mundur beberapa langkah, sosok tinggi dengan rambut panjang dan payu daranya yang panjang hingga perut.


Sosok ini hanya tersenyum seakan mengejekku


kemudian tertawa menyeringai "hhhhhh .... kau tak akan bisa menemukan anak itu aku menyukai anak itu."


Aku masih terdiam, 'ini sosok yng mengikuti Kinara waktu itu.' Aku melihat pohon di belakangnya, ya, ada pohon besar namun tak nampak Arion.


'Arion, Arion, Arion .....bpanggilku tiga kali sedetik kemudian terlihat gerakan di bawah payudara sosok ini, 'hm ..... kau menyembunyikan anakku di dawah payudaramu' ucapku tenang karena aku tak ingin membuat sosok ini marah.


Kembali aku menyebut nama Arion tiga kali bertepatan dengan suara bunyi-bunyian warga datang mendekat, sejenak sosok ini memegang telingannya, akhirnya untuk mencegah warga berpindah tempat aku membuat pagar agar warga ini berputar di sekitar pohon ini tanpa mereka sadari.


Merasa namanya di sebut Arion menunjukkan reaksinya, sementara sosok ini semakin erat menutup telinganya dan kini meliukkan badannya kekanan kekiri kesakitan, Arion yang berada di balik payudara sosok ini pun akhirnya terjatuh dan terduduk di tanah.


Kini untuk mencegah sosok ini kembali mengambil Arion, aku segera membuat pagar untuk Arion.


"Berhenti berhenti"ucap salah satu warga.


"Sepertinya aku mendengar suara benda jatuh" kembali orang ini memutari pohon ini, mengarahkan senter ke sekitar pohon ini.


Hingga salah satu warga menyadari jika Arion duduk dengan bingung di bawah pohon besar ini.


"Mas Rian..... anakmu di sini, mas .... teriak para warga, dengan senter para warga menerangi tempat itu, semua langsung datang menghampiri " Alhamdulillah .... ucap mereka serentak dan serta merta mengangkat Arion dan mengajaknya pergi dari pohon ini.


Setelah para warga pergi kini aku yang membuat perhitungan dengan sosok ini "kenapa kau membawa anakku " sembari aku membaca mantra untuk mengurungnya di pohon ini.


"Hhhhhhh .... aku suka dengan anakmu, aku suka anak-anak" ucapnya lagi.


"Aku tak akan menganggumu, tapi jika kau mengulangi perbuatanmu lagi, jangan tanya apa yang akan aku lakukan padamu."


"Dan sebagai peringatan dariku, tetaplah di wilayahmu, aku juga tak akan mengusik nya dan sekarang kau telah melanggar wilayah ku dan sekarang kau juga harus menerima peraturan dariku tetaplah di tempatmu, ingat ini" ucapku sembari mematenkan mantra ku.

__ADS_1


Tak berapa lama terdengar suara ibu dan Kinara memanggilku pelan dengan cepat aku kembali ke ragaku, mengatur napas ku sejenak dan membuka mataku.


Mas Rian sudah memasuki halaman bersama para warga, hanya rasa syukur yang ku ucap akhirnya Arion ku kembali dengan selamat.


__ADS_2