OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 77 . PERSIAPAN


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Pram aku langsung membekap mulutnya


"Jangan aneh-aneh," ucap Rian lagi.


"Pulanglah Mas dan jangan menganggu aku akan melakukan persiapan dulu," ucap Pram dan langsung berjalan masuk ke rumah.


Memasuki rumah Pram melihat ibu masih dengan wajah sedihnya.


"Bu, panggil Pram sembari mencium tangannya."


"Pram ... ya Bu, Pram sudah datang. Bu tolong untuk sehari ini apapun yang terjadi jangan ganggu Pram hingga magrib nanti walau itu Mas Rian sekalipun."


Setelah mengatakan itu Pram kemudian masuk dalam kamar. Membersihkan tubuh mandi, bersuci dan shalat setelahnya kini aku memposisikan tubuh untuk duduk bersila mengatur napas dan menghembuskan dengan pelan.


Mencoba untuk fokus dan kosentrasi, suasana terasa sepi, hening, sembari merapal beberapa mantra memanggil para leluhur untuk meminta bantuan, nampak simbah leluhur, simbah Rum dan simbah Wigati tersenyum menatap. "Kami akan mendukungmu Pram lanjutkan dan ini memang sudah saatnya."


Kembali melakukan semedi mengumpulkan kekuatan alam di sekitar, hening hanya hembusan angin yang terasa kini kembali Pram kembali merasakan sesuatu hangat, dingin hingga muncul sinar putih terpancar dari depan ku.


Dengan sedikit gerakan semuanya telah berpindah dalam tubuhku dan aku menutupnya dengan rapal mantra.


Bersamaan dengan suara ketukan pintu aku meyudahi semedi ku, berdiri sejenak menatap langit melalui cela-cela jendela kamar, melakukan shalat magrib dan setelahnya keluar kamar.


Melihat Mas Rian sudah bersiap. "Tampan," ucap Pram sembari menyentuh pipinya.


Masih memandang lekat calon suamiku, entah setelah ini aku masih bertahan atau hanya tinggal nama.


"Bu, tolong carikan aku benang putih dan sedikit tebal."


Tak banyak kata yang ibu ucapkan hanya berusaha memenuhi apa yang Pram minta.


Setelah menerima benang itu. "Bu, bantu Pram dari rumah, doa ibu adalah segalannya," ucap Pram sembari mencium tangannya.


"Mas Rian sudah siap," panggil Pram dan itu membuatnya sedikit terkejut.


Berjalan berdua tanpa ada suara, Mas Rian nampak tertunduk dan sesekali menatap dan aku sendiri tengah menyiapkan hati untuk malam ini.


Melihat Hanifa dan Rina masih duduk di sisi Mira dan berdoa sementara yang lainnya duduk di belakang nya.


"Mana ibu Asih Mas?" tanya Pram. "Sebentar akan menyusul Pram."

__ADS_1


Aku segera menuju teras menatap sejenak Mira, sudah sedikit terlambat," ucap Pram lirih.


"Mas Rian. Panggil Pram sembari aku keluarkan benang dari ibu dan mengigit ujung jariku, hingga berdarah. Membalur benang dengan darah Pram dan beberapa saat benang itu memancarkan sinar putih terang.


"Ini pengikat arwahku Mas," ucap Pram. Setelahnya Pram mengikat di tubuhnya,


kini Pram berbalik kembali ujung benang satunya, mengikat ujung satunya di tubuh Mas Rian. Bantu aku tolong jaga benang ini, jangan sampai putus dan jika benang ini tertarik kencang berarti di sana aku dalam bahaya, bantu aku Mas," ucap Pram sedikit pelan.


"Mas, kemanapun aku melangkah tolong ikuti aku, ini hanya sebentar."


Kini aku turun mengitari pohon sawo ini menatapnya lekat dan lama. Ayo mas," panggil Pram dan mengajak kembali duduk bersila.


"Mas tahu nama lengkap Mira?" tanya Pram.


"Mira Karmila," ucap Rani tiba-tiba.


"Pram, ingat ada aku yang selalu menunggu kepulanganmu," ucap Mas Rian sebelum aku bersiap.


Kini aku sudah kembali duduk bersila merapal mantra, udara yang sedikit dingin kini mulai menghangat, angin yang tadinya tenang kini mulai bertiup sedikit kencang memberikan suara pada daun pohon sawo, daun yang beradu antara angin yang bertiup dan daun yang bergerak tertiup angin hingga menimbulkan suara ramai dan berisik.


Sedikit tersenyum. "Ini baru awal," ucap Pram pelan.


Terdengar suara gemuruh dan tawa yang menggema. "Huahaha haha ha, akhirnya yang aku tunggu datang juga kemudian suara itu berangsur menghilang."


Ada jalan setapak dan dari bentuknya ini jalan menuju rumah Simbah, sedikit masuk sudah nampak rumah, rumah yang berjajar dan setiap rumah di huni lebih dari sepuluh orang.


Mencari sosok yang bernama Mira namun aku lihat tak ada cahaya yang berbeda semua sama hanya cahaya abu-abu.


Langkah Pram makin masuk ke dalam hingga menjumpai sosok yang tak asing bagi ku tapi sosok ini memilih menghindar dan menjauh.


Hingga tiba di suatu tempat yang luas dengan beberapa rumah dan satu rumah besar berdiri megah dan berbeda dengan yang lainnya.


Ini bukan tempat yang sepi tapi sangat sangat ramai mereka nampak berduyun duyun menuju satu tempat dengan suara ramai.


Kaki Pram kembali melangkah mengikuti mereka Mira karmila kembali aku sebut namanya.


Di tempat keramaian ini nampak kilatan cahaya putih tapi jauh di dalam sana.


'Jangan kau masuk kesana suara seseorang di bekakang Pram, tunggulah sesaat, lihat lah apa yang mereka lakukan pada arwah teman mu mereka menahan nya.'

__ADS_1


Kembali aku mundur dan menunggu, benar aku melihat arwah Mira tengah terikat di tiang yang tinggi dan dengan udara yang sedikit terik.


Kembali kaki Pram melangkah mendekat saat tanah yang aku pijak bergoyang dan terasa hentakan-hentakan berat, kembali aku mundur ke belakang.


Nampak sosok tinggi besar tengah berdiri di tengah halaman ini dan hanya seringainya


yang nampak. Tak lama sosok ini pergi meninggalkan tempat ini. Sejenak Pram berfikir sengaja meninggalkan tempat ini atau hanya taktiknya saja. Akhirnya melihat mendapat kesempatan ini, sukma Pram melesat dan membuka ikatan Mira.


"Pulang cepat," kini aku telah membuka portalnya dan melempar sukma Mira dalam portal. Belum sempat Sukma Pram melesat masuk dalam portal, kini sukma Pram serasa terhalang oleh dinding gaib.


Terpental hingga tersungkur di bawah sosok tinggi besar ini, seketika tawa nya sudah terdengar mengelegar.


Sosok-sosok yang tadi ribut kini diam dan langsung tertunduk hormat.


Melihat ini Pram hanya berusaha untuk kembali merapal mantra, Namun, sosok-sosok ini sudah membopong tubuh Pram ke atas dan berjalan masuk lebih ke dalam dengan sorak sorainya dan sosok tinggi besar ini tertawa dengan puas.


Masuk lebih ke dalam bukan seperti yang Pran kira, ruangan yang sangat luas.


"Ini seperti istana, sesaat Pram melihat benang pengikatnya, sedikit mengencang.


Masih dengan sadar ku , kembali ku baca mantra memanggil para leluhur dengan kekuatan alam yang aku peroleh dalam semediku kini aku pusat kan semua pikiran dan dengan sedikit gerakan aku bisa melepaskan diri dari sorak sorai ini. Terdengar sayup sayup suara memanggil namaku semakin sering aku dengar dan di ucapkan.


"Kau kira akan lepas dengan mudah suara ini mengejutkan Pram, seketika Pram terkejut dengan sosok yang berdiri di depannya."


"Bukan, bukan. Ini hanya jebakan saja, ucap Pram saat mengetauhi sosok ini telah berubah menjadi wajah ayahnya.


Kini Pram memejamkan mata untuk memastikan dan belum semuanya terlihat jelas.


"Bawa dia dan pastikan dia tak lari," ucap sosok ini. "Mas Rian ... panggil Pram pelan saat sadar tali ini semakin kencang dan beberapa saat kembali mengendur .


"Dengan pengawalan yang sangat ketat kembali aku di bawa masuk ke ruangan tadi."


Selanjutnya tak ada percakapan sosok ini telah menghilang hanya para penjaganya yang setiap saat semakin banyak


"Kenapa di sini serasa siang terus, Pram memilih mengatur posisi duduk, berusaha mencari celah dan kembali duduk bersila,


kembali samar-samar terdengar suara memanggil tapi sangat jauh sekali."


Setelah semua terkendali dan tenaga Pram sedikit memulih dengan sekali hentakan tangan Pram, kini para penjaga sudah berjatuhan.

__ADS_1


"Dhuarrr ... terdengar suara keras saat Pram menghentak tangannya, seketika para penjaga sudah terjatuh."


Tak menyia nyiakan kesempatan ini dengan sisa tenaga yang Pram punya Pram langsung melesat keluar dan tiba-tiba ada sesuatu yang menghantam dadaku. Bersamaan dengan tubuhku kembali terpental dan jatuh.


__ADS_2