OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 105 . KEANEHAN MULAI TERJADI


__ADS_3

Mendapati Kinara seperti ku, kini semua keluarga sudah mengetauhi dan memaklumi keadaan Kinara dengan ke anehan nya namun yang membuatku semakin terharu ternyata Kinanti sangat mendukung Kinara, itu terbukti saat ini Kinanti mulai mempercayai apa yang Kinara lihat.


Namun Kinara saat ini makin sering di datangi sosok astral hingga di suatu malam sepulang dari mengaji, Kinara pulang dengan napas tersengal sembari meninggalkan Kinanti dan dua adiknya.


Hingga sampai di teras rumah Kinara baru menghentikan langkahnya sembari duduk menutup matanya.


Mas Rian yang melihat Kinara langsung berjalan menghampiri dan menggedongnya masuk, mbak Yas yang menyiapkan makan malam pun bergegas mengambil air putih untuknya.


"Mas ...." ucapku terjeda saat melihat Kinara ketakutan, dengan isyaratnya mas Rian menyuruhku untuk menjauh sejenak.


Tak berapa lama nampak Kinanti dan dua adiknya datang, tatapan mereka sedikit meneduh seperti ikut merasakan, apa yang Kinara rasakan hingga beberapa saat kemudian Kinara sudah kembali tenang.


" Kinara ...." kenapa lari? tapi pertanyaan mas Rian tak di lanjutkan saat melihat ke tiga anak berdiri di belakangnya.


"Bu .... ajak yang lainnya makan malam dulu, bapak mau sama Kinara sebentar.


Hingga beberapa saat Kinara masih terdiam menatapku "bapak akan percaya dengan yang ku ceritakan nanti?ucapnya pelan.


"Bapak akan, akan sangat percaya, ingat itu?"


"Sekarang mau makan malam dulu atau cerita


atau? "Kinara makan dulu saja pak, habis lari kok tiba tiba lapar" ucapnya sembari melangkah ke ruang tengah.


Tapi begitu melewati jendela perbatasan dengan ruang tamu dan ruang tengah Kinara menarik tanganku "pak, aku kenalkan temanku namanya Zubaid, itu tuh sekarang dia berdiri di halaman, katanya gak berani masuk karena rumah ini sudah di pagari, sehingga makhluk seperti Zubaid tak bisa masuk."


"M .... memang gak boleh sayang, biarkan mereka di luar dan ingat Kinara tak boleh mengundang Zubaid masuk dalam rumah ingat itu."


"Ayo, kita makan" ajakku sembari menuntun tangan Kinara.


"Kinara paham bapak" ucapnya sembari duduk di meja makan.


Sesaat setelah makan malam tiba-tiba Kinara mencolek tangan Kinanti sembari berucap


"Kinan mau tau kenapa aku lari tadi?" tapi belum selesai ucapan Kinara sudah di potong lebih dulu dengan bapak.


"Lintang, Arion tidur, istirahat" ucap bapak memberi perintah.

__ADS_1


Lintang dan Arion langsung di ajak ibu ke atas sementara, dua nenek dan mak Sunar masih duduk di meja makan.


"Kinan ...."Hem, jawabnya pelan.


"Mau tau nggak? tanyanya lagi.


"Kenapa aku lari tadi? kata Zubaid aku harus memberitahumu supaya kamu hati-hati karena wajahmu mirip dengan aku.


"Mau tau nggak?"Hiya Kinara" jawabnya dengan sedikit cemberut, toh nyatanya sehabis mendengarkan cerita Kinara pasti aku terus ke inget.


"Kin, sebenarnya saat aku mau berangkat tadi aku sudah merinding, apalagi melewati itu, rumah yang di pojok yang ada pohon sirsatnya" ucapnya pelan.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Kinanti berdiri.


"Ih, aku mau pipis, cerita dulu sama bapak" ucap kinanti menghindar.


"Terus .... tiba -tiba suara bapak terdengar menyela.


"Hiya bapak, wanita itu awalnya berdiri menatapku, tapi aku tak menghiraukan, malah Zubaid menyuruhkun agar aku tak melihat."


"Wanita itu dengan pelan memanggil namaku dan berbisik dengan pelan dan serak ditelingaku kinara .... kinara .... kinara .... hingga tiga kali sosok itu memanggilku, tapi, lama kelamaan suaranya sedikit keras dan wujudnya berubah, ada aroma busuk keluar dari mulutnya, lidahnya menjulur dan berusaha menggapai wajahku, karena terkejut akhirnya aku mundur beberapa langkah agar bisa menghindar."


Berhenti sejenak kemudian "hiiiii ...." sembari bergidik seperti membayangkan yang di lihatnya, "hiiiii .... " kembali mengucapkan kalimat itu, kini suaranya sedikit pelan.


"Kenapa" ucap bapak pelan juga.


"Saat lidahnya menjulur, keluar air liur dan dari mulutnya ke luar beberapa lidah kecil dan lidah lidah itu seakan berebut keluar dan ingin meraih wajahku dan yang membuatku ngeri."


Menjeda sejenak ucapannya "Ada satu lidah lagi yang agak besar, "lalu ..... lidah itu memakan lidah lidah kecil itu sekali telan dan .... lidah itu semakin besar, begitu juga dengan tubuh wanita itu, aku hanya melihat bayangannya di jalan remang itu, aku sangat takut pak" ucapnya sembari menutup matanya.


"Lidahnya terus mengejarku pak, semakin aku kencang berlari lidah itu seperti mengikuti terus" ucapnya kini sembari terisak.


"Sini" sembari menarik putrinya untuk mendekat dan mendekapnya "maafkan bapak


dan ibu ya?"


"Aku takut, gimana dengan Kinanti dan adek adek dan temanku yang lain?" ucapnya sembari terisak.

__ADS_1


"Insya Allah mulai besok ibu dan bapak akan mengantar kalian dan pulangnya akan kami jemput"


Sesaat nampak wajah lega dari Kinara dan menghapus ingusnya dengan tangannya.


Dua nenek dan mak Sunar hanya bisa menarik napas panjangnya, sementara mbak Yas dan mbak Nig mendengarkan dengan duduk saling berhadapan.


Mas Rian masih mendekap erat tubuh gadis kecilnya, entah lelah menangis, entah karena takut yang di rasakan atau karena lelah berlari


kini Kinara telah tertidur di dekapan sang bapak dengan perlahan mas Rian mengangkatnya naik ke atas.


Aku yang sedari tadi mengikuti di belakang mas Rian sesaat terkejut saat melihat tangan Kinara sedikit tergores, seketika hatiku berdesir tak nyaman.


Aku masih bertahan di kamar Kinara sesaat mas Rian akan ke luar "mas tolong bilang ke mak Sunar untuk tidur dengan Arion, malam ini aku akan menemani Kinara, aku khawatir jika nanti dia terjaga di tengah malam" ucapku sedikit pelan.


"Aku saja Pram, kasian mak Sunar, biar aku yang tidur dengan Arion."


Mendengar jawaban mas Rian aku sedikit lega,


sesaat kemudian mas Rian sudah keluar dari kamar dan menutup pintunya.


Setelah kepergian mas Rian, mataku pun masih belum mau terpejam dan aku pun


masih terjaga hingga pukul dua dini hari


pikranku kini tertuju pada sosok yang di ceritakan Kinara.


Dengan sedikit membaca mantra, kini sukmaku sudah keluar dari tubuhku dan langsung melesat menuju tempat yang di ceritakan Kinara.


Aku sedikit terkejut saat melihat rumah ini, rumah yang masih kosong beberapa minggu.


Benar kata Kinara karena di bawah pohon sirsat ada sosok pendatang baru dan itu juga sosok yang di buang oleh pemiliknya.


Melihat kedatanganku sosok ini langsung menyeringai, kembali ku baca mantra ku dengan sedikit menyentilnya dengan ilmu ku sosok ini langsung tertuduk "kau telah salah menggoda anak, kini aku minta dengan sukarela kau meninggalkan tempat ini atau aku akan membuangmu ke tempat yang lebih jauh atau kau mau ku lempar ke jurang di bawah sana!"ucapku sedikit membentak, ini bukan rumahmu dan wilayahmu pergilah" kembali suaraku terdengar keras.


Namun sosok ini seakan ingin melakukan gerakan, akhirnya dengan sentilan penuh dan membaca mantra akhirnya aku bisa menemukan bungkusan yang di lempar begitu saja bercampur dengan sampah.


Kini dengan mantra kembali aku menyegelnya dan menguncinya dalam bungkusan itu dan benar-benar dengan mantraku aku melemparnya ke jurang.

__ADS_1


__ADS_2