
Pulang beriringan dengan beberapa pekerja ternyata seru, terdengar di belakang tawa dan candaan mereka.
Mendengar semuanya aku juga ikut tersenyum saat tiba-tiba Mak Sara dan Mak Sunar menjerit secara bersamaan," ada apa? tanya Pak Man, mereka hanya terdiam di tempat nampak tubuh mereka sulit di gerakkan.
Aku yang melihat nya sedikit terkejut karena dua kaki mereka sedang di pegang dua anak kecil, karena mainan mereka di injak Mak Sara dan Mak Sunar.
"Biasa," ucap Pak Man seketika," kono nyeseh," ucap Pak Man sembari mengibas ngibaskan tanaman yang di petiknya, tiba-tiba di sekitar kaki Mak Sara dan Mak Sunar," sana kalau main jangan di jalan."
Para pekerja hanya melihat," sudah biasa Nak," ucap lelaki yang sedikit muda, aku hanya mengangguk saja.
Beberapa saat terlihat Mak Sunar dan Mak Sara sudah bisa bergerak lagi," jangan mengganggu, Mak juga nggak tau kalo kamu di situ," ucap Mak Sunar.
"Ayo Nur, Pram," ajak Mak Sunar. "Memang ada apa Mak? biasa Pram ada yang ke injak," ucap Mak Sunar.
Sembari berjalan Mak Sunar mulai cerita," dulu waktu masih ada juragan Rum, sudah pernah di pindah tapi nggak mau, katanya dia pertama kali datang di sini," ucap Mak Sunar lagi.
"Maksudnya Mak! tanyaku pura-pura nggak mengerti.
Mak Sunar nampak menoleh ke kanan dan ke kiri, dulu ... kata juragan Rum ada yang buang bayi di sini," ucap Mak Sunar sambil setengah berbisik.
"O ... begitu," aku menjawab. "Nur ati-ati," ucap Mak Sunar mengingatkan saat meniti jembatan," iya Mak," jawab ibu lagi.
Matahari makin tinggi saat melewati tikungan
"Nur, Mak jalan lurus saja," ucap Mak Sunar. "Hiya Mak, hati-hati," jawab ibu sembari tersenyum.
"Nggak pingin mampir rumah Simbah Pram?tanya Ibu. "Memang Ibu sering mampir? aku bertanya lagi. Kalau Ibu nggak capek Pram sekalian ibu bersihkan dan kirim doa," ucap ibu sembari menunduk terlihat ada sedih yang tersimpan.
"Ayo Bu, sudah lama juga Pram nggak nengok, gimana Nu apa ada yang aneh-aneh? aku bertanya memastikan.
"Asal kita tak mengusiknya, mereka juga nggak akan menganggu," ucap Ibu. Beruntungnya warga sekitar rumah Simbah paham akan warning yang kau tulis Pram.
Tak terasa berbincang sembari berjalan akhirnya sampai juga di halaman rumah Simbah, menatap pohon sawo semakin tinggi daun dan buahnya yang lebat, kini dari dahannya mulai keluar sulur-sulur panjang menambah kesan angker.
Benar kata Ibu, meskipun rumahnya sudah nampak tua tapi halamannya masih terawat
kini di bawah pohon sawo bukan dua makam tapi tiga makam dengan makam Budhe Lastri.
__ADS_1
Ibu kini menarik untuk duduk mengirim doa membaca surat al fateha dan surat yasin .
setelah selesai membaca doa aku dan ibu
naik ke teras, memilih duduk sejenak di teras sembari menunggu Ibu membuka pintu.
"Pram .... panggil Ibu. "Jangan melamun ayo masuk, nampak sekelebat bayangan mbak kunti mengintip di balik pohon mangga.
Memindai ruang tamu sudah mulai banyak yang keropos dan temboknya pun sudah mulai berlubang-lubang karena temboknya mulai tua dan lembab.
Aku menatap daun pintu kupu tarung masih kuat dan kokoh, sejenak aku penasaran dengan ukiran daun pintu kini merabanya sejenak, sepertinya bukan ukiran biasa , semakin aku meraba rasanya semakin membuat aku penasaran.
Jadi teringat pelajaran waktu masih SD dulu
'Ya, ini huruf jawa kuno, betul ini akasara jawa honocoroko,' ucap batinku.
Saat aku tengah berusaha menginggat satu persatu hurufnya ibu kembali memanggil
"Pram bantu ibu, masuk keruang tengah dan menuju dapur, membantu mengeluarkan barang-barang di halaman belakang.
Melihat empat kamar lainnya kini atapnya mulai nampak runtuh sedikit demi sedikit.
"Bu ... kenapa nggak di bongkar saja," ucapku pelan.
Ibu menatap sekikas kemudian tersenyum
"Ibu lebih rela jika rumah ini runtuh dengan sendirinya Pram, ini rumah masa kecil ibu banyak kenangan di sini baik itu senang dan sedih, ibu hanya ingin mempunyai kenangan
yang indah di rumah ini Pram."
"Ya, terserah ibu," ucap Pram lagi dan Pram menghargai keputusan Ibu.
Setelah semuanya beres aku dan ibu bergegas pulang karena sudah hampir ashar, setelah ibu mengunci pintunya secara reflek aku kembali meraba daun pintu itu lagi.
"Pram, ayo," ucap ibu lagi.
Berjalan beriringan kali ini aku dan ibu sama sama diam, hingga sampai di rumah saat adzan berkumandang. "Lekas mandi dan sholat Pram, biar badannya nggak gatal-gatal," ucap ibu sembari menyimpan topi yang aku pakai.
__ADS_1
Benar setelah mandi badanku terasa segar dan ringan, melakukan panggilan wajib sejenak tak berapa lama kantukku pun mulai datang.
Berkali-kali menguap, seharian di sawah kini aku teringat akan Rian, mengambil ponsel yang tergeletak sedari pagi, kini aku mulai mengulir ponsel membuka notif satu persatu sembari sesekali menguap," huuam ... masih menatap ponsel, kembali memeriksa notif yang masuk.
Kini mataku tak dapat aku tahan lagi seingat aku, masih memegang ponsel saat aku terlelap.
Melihat Pram tak keluar dari kamar dari tadi ibunya langsung mengintip di balik pintu
"Sepi, benarkan pasti ketiduran dan mesti memegang ponsel," ucap ibunya, sembari mengambil ponselnya dan menyelimuti Pram.
Memandang anak satu-satunya yang mulai tumbuh menjadi gadis manis dan cantik, meski kini mulai berkurang sifat tomboy nya dan srudak sruduknya.
Sembari mengecup kening anaknya," ibu tak menyangka kau sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang manis," sembari merapatkan kembali selimutnya, nampak Pram menggeliat. Tidurlah Pram pasti kau pun juga capek."
Berjalan keluar dan menutup pintu kamar anaknya, kini langkah Nur menuju ruang tamu.
Duduk sesaat, kemudian berdiri melangkah ke teras dan menatap langit malam," Mas anakmu sudah tumbuh besar dan dewasa, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan manis dan yang membuat aku bangga Pram bisa menjaga dirinya dengan baik Mas."
"Aku sudah merasa puas melihatnya seperti ini dan Mas tahu, perjodohan yang di rencanakan akhirnya anakmu setujui dan hanya satu harapan Nur, kelak mereka bisa berjodoh hingga sampai maut memisahkan mereka."
"Mas, maafkan aku jika aku belum bisa mendidiknya dengan benar, aku pun sudah berusaha Mas."
Inilah yang sering di lakukan Nur beberapa bulan belakangan ini mengadukan semua keluh kesahnya pada almarhum suaminya sembari menatap langit malam, menumpahkan semua resah di hatinya dan segala gundah hatinya.
Cukup lama berdiri di sana hingga angin malam yang berhembus dingin mulai menusuk kulitnya, membuyarkan segala lamunannya memilih melangkah masuk dan menutup pintu dan menguncinya serta menutup tirai jendela.
Berjalan menuju kamar anaknya melihatnya sekali lagi dan untuk memastikan kemudian berjalan menuju kamarnya sendiri.
Sudah pukul tujuh pagi, tapi Pram belum juga terlihat keluar dari kamarnya," Pram ...
dengan penasaran Ibunya membuka pintu kamar anaknya, sedikit merasa heran karena Pram sedang berdiri mematut dirinya di depan kaca. "Eh ... di panggil kok nggak jawab," tanya sang ibu.
"Mau kesawah lagi atau di rumah Pram?
"Ke sawah Bu, tapi nanti pulangnya mampir ke rumah Simbah lagi kan?
"Tumben Pram? tak menjawab pertanyaanku tapi malah meraih tas kecilnya dan memasukkan ponselnya.
__ADS_1
"Ayo Bu! kita berangkat," ucapnya semangat.