
"Pram ... suara Rian terdengar keras memanggil."
"Sini, ayo naik," ajak Pram. Tetapi Rian hanya diam. "Ayo," ajak Pram lagi.
"Turun Pram, cepat turun," teriak Rian lagi.
"Tinggal satu buah itu yang di ujung," jawab Pram sembari menatap keatas.
Naik lebih ke atas, sedikit menaiki dahan yang sedikit menjorok,' buah yang cukup besar,' batin Pram.
"Saat tangan yang satu mulai meraih dan yang satunya masih berpegangan pada ranting di atasku.
Tiba-tiba kalung yang Pram gunakan sedikit bergetar. Pram langsung melepas tangan satunya, mencoba untuk mencari pijakan yang lebih kuat. Benar sekarang Srikanti sudah di depan Pram.
Namun tak berani mendekat, hanya tatapan yang tajam yang srikanti berikan. Pram masih mengatur napasnya yang sedikit terkejut, saat tiba-tiba Srikanti sudah menghentak dahan yang Pram naiki.
Dengan sedikit oleng , Pram pun terpeleset.
"Akh ... suara teriakan Pram mengagetkan Rian yang ada di bawah. Bersamaan dengan tubuh Pram yang jatuh. Saat tubuh Pram melesat ke bawah Pram melihat Srikanti tertawa menyeringai dan yang terakhir yang Pram dengar hanya suara tubuh Pram yang jatuh.
"Bruuuughh ... suara keras, saat tubuh Pram menghatam dahan-dahan kecil di bawah, seketika Rian berteriak. "Pram ... sembari berlari memburu kearah Pram.
Setelah Pram tak mengingat apapun, kini hanya sukma Pram, yang melihat tubuhnya banyak goresan.
"Ya, kepala Pram sedkit mengeluarkan darah, Rian berlari ke dalam memanggil ibu dan tak lama berlari keluar memanggil tetangga untuk minta pertolongan untuk membawa Pram ke rumah sakit.
Selama perjalanan ibu menangis dan sesekali memanggil namaku.
"Pram. Pram ... bangun kamu harus kuat Pram."
Suara ibu, kini terdengar sambil menangis dan Rian masih duduk di samping tubuh Pram sambil memegang tangannya.
Memasuki area rumah sakit. Pram melihat kalung di tubuh Pram masih bergetar, setelah mencapai UGD Pram segera di tangani melihat kesibukan sana sini, kini ada beberapa alat menancap di tubuh, kepala Pram di perban dan tangan serta kaki Pram juga sudah di gips.
Tapi begitu Pram ingin memasuki raganya seperti ada sesuatu yang menghalangi sukma Pram masih berdiri terpaku melihat raganya .
"Mana Simbah? Kenapa dia tak kunjung datang menolong, Ibu-ibu mana."
Sukma Pram sibuk mencari. "Kemana mereka?"
__ADS_1
Sukma Pram kini berjalan keluar ruangan kamar, melihat mereka duduk di depan kamar. 'Kenapa, mereka tak masuk pikir Pram.'
Kembali sukma Pram mencoba untuk masuk ke raganya, tetapi seakan ada sekat tipis yang menghalangi. Saat Pram akan kembali masuk ke raganya.
Tiba-tiba, ada sosok yang membawa Pram dengan cepat. Sosok yang tak pernah Pram kenal. Memakai sorban putih dengan baju gamis putih langsung hingga menyentuh tanah.
Hingga sampai di suatu tempat, tempat yang aneh pikir Pram, hanya ada kabut. Kabut hitam dan putih yang bersebelahan.
Sosok ini masih memegang erat tangan Pram tanpa bersuara, seperti menunggu sesuatu entah apa itu.
Perlahan kabut hitam itu menepi kini tinggal kabut putih, tapi secara tiba-tiba ada sosok tangan yang mencoba meraih Pram, karena merasakan kalung dari Simbah bergetar hebat.
Tetapi dengan tersenyum sosok berjubah putih itu sudah memberi kibasan dengan tangannya, seketika hanya teriakan yang terdengar.
Tak berapa lama kabut itu sudah menjadi kabut yang putih jernih dan tembus pandang.
Perlahan genggamannya di longgarkan namun, tak melepaskan genggamannya .
"Kau sudah siap," tanyanya berwibawa. Aku masih belum menjawab, bingung dengan keadaan ini.
"Jawablah karena waktumu tak banyak," sebelum menerima jawaban Pram sosok ini sudah mengajak Pram berjalan masuk di tengah tengah kabut, melepas tangan Pram dan mendorong Pram.
Sosok ini kemudian mundur beberapa langkah dan kemudian kabut ini kembali putih pekat tidak sejernih tadi.
Pram masih bingung dengan apa yang ada di depannya, mencoba berjalan dengan hati-hati saat Pram melewatinya, kabut ini tiba-tiba memecah seakan memberi jalan.
Perjalanan yang panjang, yang Pram lihat hanya ada kabut, kaki Pram tiba-tiba terhenti seakan ada yang menyuruhnya untuk berhenti.
Pram memindai sisi kanan dan kiri yang Pram lalui. Sesaat kabut itu menyibak melihatkan pemandangan yang sangat indah. Banyak pepohonan dan hamparan tanah yang luas, tak ada satupun rumah.
Kaki Pram kini sudah melangkah dengan sendirinya ke arah hamparan tanah yang luas itu, lama Pram berdiri hingga kabut itu seperti awan tipis. Kini Pram masih di hamparan tanah yang luas itu dan Pram melihat sosok laki-laki dengan postur tubuhnya yang tinggi, tegap untuk wajahnya Pram tak bisa melihat dengan jelas.
Dan sosok itu sedang berdiri memandang hamparan luas itu, seperti halnya Pram.
Tapi sepertinya sosok itu tak mengetauhi keberadaan Pram.
Tak berapa lama laki-laki itu telah duduk bersila di depannya ada bermacam-macam sesaji, dupa mulai mengepul dan sosok itu mulai merapal sesuatu yang Pram sendiri nggak mengerti artinya.
Beberapa detik kemudian muncul sosok yang tinggi besar dengan mata merah melotot,
__ADS_1
bulu yang tumbuh di sekujur tubuhnya, serta giginya yang panjang dan kuku jarinya yang panjang. Sosok laki-laki itu kembali duduk bersila.
Aku arep mbukak deso neng kene, nyisih o nang wet sese etan, ra bakal aku ngambah seng dadi kekuasaanmu samunu ugo kowe ra oleh ngambah seng dadi kekuasaanku."
( saya akan membuka desa disini , minggirlah ke pohon sebelah timur itu , aku nggak akan menganggu apa yang menjadi kekuasaanmu
begitu juga denganmu jangan pernah menganggu yang menjadi kekuasaanku )
"Huawhahaha ... terdengar tawa yang menggema.
"Ora segampang iku, opo seng dadi perjanjian iki, imbalanku opo!"
( Huawhaha tak semudah itu , apa yang membuat perjanjian ini , apa imbalanku )
"Tak ada perjanjian ataupun imbalan apapun, pergi atau ku musnahkan sekalian
kampungmu dan rumahmu."
Seketika laki-laki ini berdiri dan merapal mantra dan kemudian menjejakkan kakinya tiga kali ke tanah, hanya terdengar suara gemuruh dan beberapa kilatan.
"Bagaimana masih mau membangkang," ucap laki-laki ini. Sosok yang tinggi besar dan hitam itu langsung tunduk hormat tanda setuju."
"Aku setuju, tolong jangan kau rusak bangsaku," jawab sosok memyeramkan ini.
"Kalau begitu pindah dan sebagai tanda garis dari kekuasaanku, aku akan memagarinya hingga bangsa lelembut sepertimu tak menganggu keluarga dan keturunanku."
Kini sosok laki-laki ini telah berdiri dan memikul alat untuk menggali kemudian melangkah kesetiap sudut hamparan luas itu.
Sosok laki-laki ini menggali tanah tiap sudutnya dan menanam sesuatu, hingga keempat sudut sudah genap, tiba-tiba terdapat dinding tipis yang menghubungkan tiap sudut, tapi aneh dinding ini bisa di lewati oleh sosok laki-laki ini.
Dan sosok tinggi besar yang di suruh pindah pun kini telah menenempati pohon sisi timur beserta kelompoknya.
Pram seperti di hadapkan dengan cerita dulu, di tempat ini Pram seperti menyaksikan awal seseorang membuka awal suatu tempat perkampungan.
Saat Pram ingin melangkah namun, kaki Pram seperti tertancap di sini, tak bisa di gerakkan.
Ada pemandangan lagi saat laki-laki ini tengah memikul kampak, meletakkan alat itu dan mulai memilih pohon sedikit menepuk nepuk batangnya dan mengitarinya seperti sedang mengukur dengan jengkal tangannya dan sosok laki-laki itu melakukan hal yang sama dengan beberapa pohon lainnya.
Setelahnya kembali mengambil kampak dan "Crak ... crak ... hanya terdengar suara pohon yang di potong."
__ADS_1