
Setelah berganti pakaian dan yang lainnya tak lupa membawa map yang di berikan ibu
aku bergegas ke luar kamar, melihat Mas Rian duduk sembari memainkan ponselnya.
Melihat aku datang senyum nya langsung terkembang. "Jangan aneh-aneh," ucap Pram sembari bergidik mengingat notif yang di kirim semalam.
"Mas ini, ibu tadi ngasih ke aku," sembari menyerahkan map nya.
"Periksa dulu Pram, kini aku dan Mas Rian sibuk menyiapkan berkas-berkas nya dan memilah sesuai urutan nya.
"Dari Pak RT dan Pak RW kita ke kampus dulu Pram menemui Dosen Pembimbing dan semoga saja kita dapat wisuda setelah menikah," ucap Mas Rian.
Setelah merapikan berkas berkasnya aku segera berpamitan ke ibu masih pagi
memang, mendatangi pak RT dan RW setelah mendapat berkas yang wajib di bawa ke Kelurahan. "Aduh kok ribet gini ya, mas ngurusnya !"
"Mangkannya kalau sudah memutuskan untuk menikah jangan main-main tanggung jawabnya besar Pram," ucap Mas Rian sembari tangan mas memasang helm di kepalaku.
"Kita kampus, dulu Pram !"
"Apa nggak ke Kelurahan dulu Mas, keburu tutup lho!"
"Hm .... besok juga bisa Pram, kalau selesai hari ini semua, besok aku nggak bisa lihat kamu," ucap Mas Rian sembari menstater motornya.
"Ih, maunya," ucap Pram lagi.
"Ayo, naik Pram !"
Benar, Mas Rian kini melajukan motornya ke arah kampus tak berapa lama kami pun sampai di kampus memakirkan motornya.
"Ayo, kini menarik tangan Pram untuk mengikutinya."
"Mas pelan jalannya."
Berjalan sedikit tergesa, kita harus buruan Pram, keburu Dosen Pembimbingnya pergi
kita terlambat sepuluh menit, kini sembari mengulir ponselnya dan melakukan panggilan.
Berhenti sejenak kemudian tersenyum dan memandang ku. "Siap Pak, baik dan terima kasih, kemudian menutup ponselnya kembali."
"Kenapa Mas?" tanya Pram bingung. Mas Rian langsung merangkulku dengan senyum.
"Eeh, kok rangkul-rangkul di depan umum malu mas!"
"Ayo, kita ambil surat edarannya di kantor Dosen Pembimbing."
Berjalan dengan tenang hingga tiba di kantor, tak perlu menunggu lama karena surat edarannya sudah di siapkan dan tertumpuk rapi di meja. Setelah menerima surat edarannya aku dan Pram mencari tempat untuk duduk di tempat yang sedikit teduh.
Sama sama membukanya. "Ini kan dua bulan kedepan Mas, karena bulan ini jadwalnya sudah penuh."
"Ini rejeki kita Pram, setelah nikah nanti kita baru wisuda."
__ADS_1
"Tapi Mas, pengambilan toga dan perlengkapan wisudanya sehari kita menikah lho!"
"Sudah, nanti Mas bisa hubungi panitianya.
sembari memeriksa kembali surat edarannya."
"Ini waktunya empat hari Pram, untuk pengambilan toganya."
Kemudian melipat surat edaran dan memasukkan dalam tas nya.
"Jangan sampe ilang lho Mas, entar ke selip dengan berkas-berkas lagi."
"Ayo, cantiknya Mas, kita pulang, langsung ke Kelurahan dan besok kita ke KUA," ucap Mas Rian sembari tersenyum.
Perjalanan di siang mendekati dhuhur terasa panas yang sangat menyengat, jalanan beraspal serasa meleleh karena teriknya matahari.
Hingga tiba di kantor kelurahan suasana sudah mulai sepi, para pegawai sudah pada beristirahat.
"Betul kan Mas, ini waktunya jam makan siang Pak Lurah nya juga sudah pergi."
"Kita pulang Pram, besok pagi-pagi kita kemari lagi. Huf, lagian panas Pram sembari mengusap keringatnya."
"Diam Mas jangan bergerak," ucapku pelan
saat sosok cantik ingin mendekat ke Mas Rian. Menatap lekat sosok ini dengan membaca rapal dalam hati, kini jemariku siap menyentil sosok ini tapi aku urungkan karena dia sudah menghindar lebih dulu.
"Benar-benar panas Mas," ucap Pram dan berusaha menghindar dari tatapan Mas Rian.
"Jangan aneh-aneh Pram, ini tempat umum,";
Kembali pulang, melajukan motornya dengan tenang hingga tiba di rumah terlihat Ibu tengah sibuk dengan Bu Asih.
Melihat kami datang ibu dan bu Asih tersenyum. "Assalammualaikum," ucap Pram dan Mas Rian bersamaan.
"Waalaikumsalam, sembari menerima tangan kami untuk salim.
"Sudah beres Rian?"
"Belum Bu, menyempatkan ke kampus dulu ngambil surat edaran wisuda dulu, cerita mas Rian."
"Kalian itu, segera di selesaikan mumpung masih jauh jauh begini, ini nanti juga kalian harus mengikuti penasehatan perkawinan BP4 juga, jangan mepet-mepet ngurusnya."
"Hiya ibuku sayang !" ucap Mas Rian menimpali.
Melihat ibu sedang memilah kartu undangan dan membedakan menjadi tiga golongan.
"Kok banyak Bu, apa nggak di adakan sederhana saja" ucap Pram lagi.
Ibu dan Bu Asih langsung saling memandang
dan tersenyum.
__ADS_1
"Ini hanya pesta sekali seumur hidup kalian terutama kamu Pram. Ibu ingin ada kenangan indah yang kelak bisa kamu ingat dan untuk pesta ini mau tidak mau kamu harus menuruti nya, betulkan Asih?"
"Iya, lagian Pram! Kita tidak mengundang banyak orang yang penting para tetangga dan keluarga Martoyo juga Ida."
"Jangan bilang ibu nanti akan nanggap wayang juga."
"Itu, rahasia," ucap ibu sembari melanjutkan memilah kartu undangan.
Mas Rian yang sudah tiduran di kursi tersenyum mendengar jawaban ibu.
"Pram kedalam dulu Bu, sembari mengambil tasnya."
"Bu, Mas Rian belum shalat," ucap Pram lantang karena melihat Mas Rian mulai terlelap dan sudah mengantuk.
"Eee, sudah mau menikah masih teriak-teriak Pram. Omel dua ibu bersamaan."
Begitu masuk dalam kamar bukannya bergegas mandi dan sholat, aku malah merebahkan tubuh di ranjang.
Belum juga beranjak dari tempat tidur, rasa lelah mengurus berkas-berkas pernikahan yang belum kelar dan esok harus kembali lagi
Kembali menguap hingga suara ketukan di jendela mengejutkan aku sedikit menoleh melihat siapa yang mengetuk.
"Dasar usil," ucap Pram sembari membuka jendela.
Sedikit melongokkan wajah keluar jendela. "Apa?" tanya Pram mengejutkan Mas Rian.
"Mas Pulang Pram, istirahat besok aku jemput pukul delapan sudah harus siap dan nggak ada jam karet."
Aku masih manggut-manggut mendengar ucapan Mas Rian. "Mas pulang Pram," sembari menunduk dan kini sudah mencubit pipiku. "Ihh, sakit Mas," ucap Pram sembari mengusap pipinya karena rasa panas bekas cubitan besar di pipi.
"Aduh, maaf ya! Sini coba lihat, sembari mengusap usap pipiku."
"Tutup rapat-rapat jendelanya Pram, mandi dan istirahat," kemudian berlalu menuju motornya.
Menatapnya hingga menghilang di balik pagar masih mengusap pipiku yang terasa panas kemudian bercermin dan ternyata benar-benar merah.
Setelah mandi aku kembali keluar melihat ibu sedang menghitung sesuatu.
"Pram, apa Hanifa dan Ida di beri seragam juga? Aku sedikit mengerutkan dahiku dan tak menjawab. Sembari duduk di hadapan ibu.
"Bu, memang mau mengadakan resepsi semegah apa?"
"Ini di kampung Bu! nggak usah macam macam terus terang saat ini aku malah kepikiran biaya wisuda dan rencana kita membangun mushola."
Sesaat ibu menatap dan tersenyum. "Urusan kuliahmu dan wisudamu sudah beres Pram ! Masmu sudah membereskan semuanya."
"Mesti ibu gitu, seakan aku ini nggak bisa
apa -apa," jawab Pram sembari cemberut.
"Pram, untuk urusan biaya Mushola ibu juga sudah menyiapkannya dan itu murni simpanan uang simbahmu dan untuk rencana resepsi ini, ini tabungan ibu sendiri."
__ADS_1
"Ibu merasa tanggung jawab ibu berkurang setelah menikah kan mu dan harapan ibu semua yang terbaik untuk kalian."
"Ibu juga lega karena kau berjodoh dengan Rian, laki laki baik, sabar dan dari dulu selalu menjagamu serta tak aneh-aneh," ucap ibu sembari menatap Pram lekat dan tersenyum.