
Setelah ibu mengijinkan, aku langsung berkemas membawa pakaian seperlunya.
Duduk sebentar. Pram kini mengulir ponselnya, melihat begitu banyak notif dari Rian, Pram hanya menghembuskan napasnya. Membiarkan saja dan hanya melihat. Akhirnya Pram memilih mematikan ponselnya.
Masih pukul enam pagi. Pram sudah mencari ibu untuk berpamitan. Melihat mata sembab Pram, ibu hanya tersenyum. "Bersenang senaglah Ibu tunggu seminggu lagi sesuai janjimu. Hati-hati," ucap ibu.
Dengan mata sembab sepanjang perjalanan di gang, Pram hanya menunduk karena malu. Hingga Pram menginjak selembar
kertas yang menarik perhatiannya.
Dengan sedikit membungkuk Pram meraih dan membacanya. "Sepertinya bagus."
Pram berhenti sejenak untuk mengambil ponselnya. Mengulir untuk mencocokkan
dengan lokasinya. "Sepertinya tak jauh dari rumah di kota lalu memfoto dan membuang selebaran itu."
"Masih pagi. Mungkin aku akan tiba lebih cepat." Pram akhirnya membatalkan tujuan ke rumah kota dan memilih pergi ke tempat wisata ini.
"Mbak," sapa seorang gadis seumuran dengan Pram memanggil. Ini selebarannya terjatuh." Gadis ini menatap selebaran itu sejenak kemudian berganti menatap Pram. "Mbak mau ke tempat ini?" Ya, jawab Pram pelan.
"Jangan ke sana Mbak, tempatnya nggak baik," ucap gadis itu dan langsung menghilang. Sedikit terkejut saat melihat gadis itu menghilang. "Masih pagi sudah dapat penglaris," ucap Pram pelan.
Pram kembali melanjutkan langkahnya. "Mbak. Sungguh jangan kesana," ucap gadis ini yang tiba tiba sudah berdiri di dekatku.
"Coba cek di ponsel Mbak tempat apa itu?"
Merasa penasaran akhirnya Pram mengulir ponselnya juga. Nampak sedikit mengkerutkan dahi. "Ternyata," ucap Pram masih dengan terkejut.
Seketika gadis ini tertawa terbahak.
"Hahahaha ... selebaran ini menipu. Ini undangan dari alam ghaib. Mbak habis putus cinta kan? Mbak nggak fokus padahal Mbak ini pinter dan ngerti. Tetapi kok nggak di asah. Kalung itu kembalikan saja pada tempatnya buat apa terus di pakai."
"Ups ... maaf. Kemudian menunduk. Ikuti aku." Kini Pram berjalan bukan menuju ke rumah di kota tetapi membelok menuju tempat yang sedikit asing baginya.
Hingga tak berapa lama. "Ayo masuk," ucap sosok gadis ini. Gadis ini mengajak Pram masuk ke sebuah rumah kecil di bawah pohon bambu.
"Ini rumah mu?" tanya Pram. "Duduk saja sebentar, Ibu akan datang. Aku menemui Mbak juga permintaan ibu," ucapnya sembari masuk.
Tak lama keluar seorang ibu-ibu yang tidak begitu tua tapi wajahnya cantik.
"Loh. Wes ketemu anaknya." Gadis ini melihat kemudian tersenyum dan menatapku.
Mengetauhi tempat ini berada di dimensi lain aku sedikit berjaga. "Ra usah wedi, ibu ra bakal nyilakani awakmu," ucap gadis ini tiba-tiba seakan tahu isi hati Pram.
__ADS_1
Sesaat menatap dan langsung tersenyum. "Hem. di dunia sana saat ini ada yang sibuk mencarimu Nduk," ucap ibu ini sambil tersenyum. "Dia bersungguh-sungguh Pram, tapi ada baiknya dia di beri pelajaran dulu, mangkannya Ibu mengundang kamu kemari."
"Sini mendekatlah Ibu akan membantu mengurai semua nya hingga kau bisa menggunakan semuanya dengan baik dan bermanfaat."
"Maaf Bu. Pram mohon jangan menambah apapun di tubuh saya. Saya sudah sangat tertekan dan setelah semuanya selesai saya ingin membuangnya satu persatu."
Seketika ibu ini tertawa terbahak. "Pram, Pram. Tidak semudah itu. Lalu memandangku sesaat. Kembalikan kalung itu pada tempat semestinya dengan memakainya hanya akan menimbulkan banyak kedengkian dan satu hal siapa yang kau temui akhir-akhir ini? Aku diam tak menjawab," tak perlu kau jawab Pram."
"Nduk ... panggil ibu ini pada anak gadisnya.
Aku tak akan memberimu makan dan minum di sini, ini tirakatmu dan kau pun tak akan pernah merasa haus atau lapar, untuk mengurai semuanya kau harus puasa.
"Tujuh hari Pram sesuai janji yang kau buat pada ibumu. Aku akan mengembalikan mu. "Rum iku bodoh hanya itu yang terucap dari mulut ibu ini."
"Ibu tahu Simbah Rum?" tanya Pram pelan. Mendengar pertanyaan Pram Simbah ini hanya tertawa keras. "Sopo seng ra weruh Rum kae," jawab ibu ini.
"Duduklah bersila, tenangkan hatimu dan pikiranmu keluarkan semuanya lewat hembusan napas mu perlahan-lahan.
Kemudian ibu ini duduk di belakang Pram.
"Pram. Winarsih memberi sesuatu padamu? Sesuatu yang berharga dan hanya yang dia punya benda itu dan tumben dia memberikan padamu !"
"Apa kau tiba-tiba sakit? Aku hanya mengangguk sembari berusaha mengatur kosentrasi.
"Berarti kau menerima ini tidak dengan sepenuh hati," ucap ibu ini.
"Jika semua jadi beban untuk Pram Bu," jawab Pram pelan.
"Semua sudah jadi jalannya dan beruntung kau di pertemukan laki-laki yang baik," ucap ibu lagi. "Ibu mengenal laki laki ini?" tanya Pram heran.
Setelah melakukan gerakan-gerakan khusus di punggung Pram, ibu ini menghentikan gerakannya. "Lakukan apa yang aku minta dan jangan mengubah posisimu dan apapun nanti yang kau lihat dan kau dengar abaikan aku akan menunggumu di dalam."
Sehari dua hari tak ada hal yang aneh. Pram makin memfokuskan pikiran dan kosentrasinya. Hingga hari ke tujuh muncul berbagai penampakan dan suara suara yang tak jelas. Kini aku memejamkan mata dan mencoba untuk tidak mendengarkan suara-suara itu.
Dengan kosentrasi akhirnya Pram menghalau semua itu hingga tepukan di pundak mengagetkan Pram.
"Sudah waktunya. Pulanglah dan kau sudah lulus dari semua ujian ini, secara tak sadar jika ada bahaya kau akan bisa mengatasinya."
"Kenalkan, aku guru dari winarsih dan Rum
dan jagalah baik-baik semua yang mereka berikan padamu. Aku akan memantaumu dari sini, ingat kembalikan kalung itu pada tempatnya, tancapkan saja pada pohon sawo itu."
"Nduk ... dia Gendis yang akan mengantarmu keluar dari tempat ini dan aku adalah Wigati."
__ADS_1
"Pulanglah," ucap ibu Wigati. Dengan sedikit menunduk aku memberi hormat.
"Ayo," ajak Gendis pada Pram.
Setelah melewati jalan pertama kali aku datang akhirnya tiba juga aku di depan gang. "Gendis kita tadi ada di daerah mana?"
"Panggil saja namaku jika ingin berkujung pasti aku akan datang, karena tak sembarang orang bisa berkunjung ke tempat ibu," ucap Gendis lagi. "Pulanglah ibumu sedang sakit dan menantimu."
Dengan sedikit bergegas aku berjalan menuju rumah. Sepanjang jalan orang-orang melihat Pram dengan heran. "Pram, dari mana saja kamu? Sudah hampir tiga bulan kamu pergi," ucap Mak Sara. Kemudian melihat Pram dengan heran baju yang Pram pakai sedikit lusuh serta rambut yang kusut.
Mendengar ucapan Mak Sara aku sedikit terkejut. "Tiga bulan? Aku sedikit terkejut mendengarnya lalu ibu dan kuliahku.
Dengan sedikit berlari aku masuk dalam rumah, mencari sosok ibu dan langsung menuju kamar nya tangisku pecah saat melihat ibu terbaring lemah di ranjangnya.
"Maafkan Pram Bu. Maafkan," ucap Pram sembari menangis.
Mendengar suara ribut keluar dari mulutku
Ibu yang tertidur seketika terbangun mendengar tangis Pram.
"Pram. Oalah Nduk, kemana saja? Tak menjawab pertanyaan ibu, aku langsung merangkul ibu. Untunglah kamu pulang. Ibu, Rian dan Bu Asih sudah mati-matian mencarimu Nduk."
"Maaf Bu. Maaf," hanya ini yang terus terucap dari bibir Pram. Memilih tak beranjak dari sisi ibu dan terus duduk di sampingnya.
"Mandilah dulu. Nanti kau tunggu ibu lagi," ucap Ibu dengan terbata dan tersenyum melihat Aku.
Aku mendongak sejenak dan berdiri saat tahu siapa yang datang. "Maafkan aku," ucap Rian tiba-tiba sembari merangkul Pram erat. "Jangan pernah meninggalkan aku dan ibu lagi," ucap Rian dengan isak yang tertahan.
Rian menatap Pram sejenak. Terlihat kurusan dan tak terawat," mandilah kasian ibu, baumu asem," ucap Rian sembari berganti duduk di sisi ibu.
Setelah mandi dan beberes aku mematut diriku di depan kaca, terlalu lama aku meninggalkan ibu.
"Pram ... panggil Ibu saat melihat aku masuk kembali ke kamar. Tersenyum sesaat," ibu mau apa?"
"Ah ... biasanya juga Rian yang meladeni ibu," ucap Ibu lagi.
Menatap sejenak Rian. Terima kasih," ucap Pram pelan.
"Mau, Pram buatkan sesuatu Bu? tak menjawab malah menyuruh Pram yang lain. "Lihat di meja setiap hari Asih mengirimi ibu berbagai masakan."
"Pram ke dapur dulu Bu. Mau di buatkan teh hangat ya?"
Menuju dapur sembari membuat teh, kini pikiran usil Pram kembali mungkin dengan ini caraku meminta maaf pada Rian. Melihat caranya merawat ibu hati Pram seketika meleleh.
__ADS_1