
Sebelum menuju ke dapur kaki Pram melangkah dulu menuju kulkas, melihat ada telur, tomat dan sosis lalu mencari mie soto.
Setelah melihat semua yang Pram butuh kan lengkap. "Pas," ucap Pram sembari membawa semuanya ke dapur.
Meletakkan semua bahan-bahannya menjerang air hingga mendidih, membuat teh hangat tiga gelas kemudian menyiapkan bahan untuk membuat mie. Pram juga baru sadar, jika selama tiga bulan Pram tak menyentuh apapun dan Pram tak merasa lapar atau haus sedikit pun.
Tak berapa lama setelah semua siap Pram membawanya ke kamar ibu. "Bu ini teh hangatnya. Kemudian menyerahkan satu untuk Rian. Rian menatap Pram sejenak kemudian tersenyum. "Terima kasih," itu yang Pram dengar.
Tak menyahut ucapan Rian, kini Pram menyerahkan semangkuk mie yang masih mengepul pada Rian. "Ini hukuman untuk kamu karena sudah membuat aku sakit hati. Itu juga ucapan terima kasih karena sudah membantu ibu selama aku pergi. Makanlah Rian," ucap Pram lagi.
Rian seakan terkejut sembari menerima mie pemberian Rian. "Duh ... mimpi apa aku di buatkan mie kesukaan aku."
Mendengar Rian berbicara seperti itu, Pram langsung tersenyum kecut. "Apa Hanifa nggak pernah bikin?"
"Nah. Kan itu lagi. Pram! Kita baru ketemu," ucap Rian sembari mengaduk mienya dan kemudian meletakkan begitu saja mienya.
"Aku sudah menjelaskan semuanya pada Hanifa, Pram?"
"Hem. Hanya itu yang Pram ucapkan.
"Makanlah ke buru dingin," ucap Pram sembari menyesap tehnya.
"Pram ... panggil ibu tiba-tiba. Mendengar panggilan Ibu Pram langsung begegas masuk kamar. "Mau duduk Bu?" tanya Pram.
"Duduk saja di samping ibu," ucap Ibu lagi. Menuruti saja permintaan ibu dengan sesekali memijit kakinya. "Hem. Enak Pram," ucap ibu, sembari merasakan pijatan Pram.
Melihat Rian belum juga memakan mienya. Pram hanya menatapnya dengan heran.
Rian melihat Pram sejenak kemudian berdiri, lalu menarik Pram keluar kamar. "Aku akan memakan mienya dengan satu syarat kau mau balikan denganku," ucap Rian sembari menatap Pram.
"Aneh," ucap Pram lagi.
"Ya sudah. Aku makan saja kalau begitu," ucap Pram sambil berlalu masuk kamar.
Merasa Pram pergi begitu saja. "Pram ... apa kau belum puas menghukum aku."
"Aku maafkan, tapi dengan satu syarat harus cerita semuanya," ucap Pram.
Tak menjawab ucapan Pram, Rian kini berjalan ke ruang tengah sembari membawa mienya. Melihat Ibu Nur yang bekali-kali menguap membuat Pram teringat akan perjalanan yang di lalui. Dengan tiba-tiba Pram memegang kalung pemberian simbah Wigati. 'Sudah sore pikir Pram.'
Melihat ibu tertidur, aku keluar dari kamar dan duduk menemani Rian di ruang tengah.
"Belum juga kau, makan mie nya?" Rian tak menjawab, tetapi melihat Pram sesaat.
"Duduklah aku akan cerita," kini sembari menyuapkan satu sendok mie ke mulutnya.
"Pram ... pedas sekali," ucap Rian.
Melihat Rian kepedasan dengan iseng aku comot sosisnya dengan garpu, itu membuat Rian melihat dan tersenyum.
"Kau mau aku cerita dari mana?" tanya Rian sembari meletakkan garpunya. "Pram sejak kau marah-marah, aku langsung menjelaskan semuanya pada Hanifa. Benar. Hanifa sangat marah Pram. Dan ini juga salahku kenapa aku memberi celah padanya untuk masuk di antara kita," ucap Rian kini sudah menyodorkan mienya pada Pram.
"Maafkan aku dengan sengaja telah menyakitimu," ucap Rian sembari memegang tangan Pram.
Dengan cepat Pram melepas tangan Rian.
__ADS_1
"Kau kurusan dan kau tak kuliah?" tanya Pram lagi .
Memandang lekat wajah Rian. Mengingat ucapan Bu Wigati. "Laki-laki yang baik. Apakah Rian?"
"Pram. Panggil Rian pelan. Mulai besok kau harus kuliah juga dan aku sudah mengurus semuanya dan uang semesteran juga sudah di bayar Ibu, untung kau cepat pulang kalau tidak kau benar-benar di DO," ucap Rian sembari memandangku.
"Dari mana saja Pram? Tiga bulan, bukan waktu sebentar. Ibumu ... Rian diam sejenak menatap Pram dan mendekat. Kemudian menyentil dahi Pram dengan keras. "Pasti kau kelayapan ke tempat nggak jelas," ucapnya sembari menatap mata Pram.
"Cuma tujuh hari," ucap Pram pelan sembari menggosok dahinya karena panas.
"Tujuh hari apa? Hiya di sana, di sini sudah tiga bulan Pram!!"
"Tega kamu, lihat ibumu dan kau tak memikirkan betapa repotnya aku dan ibumu mencari Pram.
Mendengar Rian mengomel. "Ih. Kenapa marah, aku kan di undang."
"Aku tidak mau tahu, besok kamu harus minta maaf pada mertuamu. Seketika mata Pram melotot. "Sejak kapan aku menyetujui nya," ucap Pram sedikit keras.
"Ini keputusanku dan besok aku akan melamarmu," ucap Rian sembari tersenyum.
"Enggak !!"
"Jangan menolak ibu saja sudah merestui nya."
"Ih, ucap Pram sambil masuk ke kamar ibu.
Begitu aku mendekat di ranjang ibu. "Ibu mau sesuatu?" tanya Pram. Ibu hanya tersenyum menatap. "Melihat Pram ada di rumah ibu merasa sehat," ucap ibu sembari mengusap kepala Pram.
"Pram," Panggil Rian.
"Ya Rian," jawab Pram malas.
"Sama calon suami, keren sedikit apa manggilnya," ucap Rian sembari mendekat.
Ibu yang mendengar perdebatan ini tertawa terbahak sembari sesekali menggelengkan kepalanya.
"Sana-sana kuliah," ucap Pram sembari mendorong tubuhnya.
"Kuliah apa jam segini," jawab Rian.
"Pulang. Pulang kalo begitu!" Belum selesai Pram bicara kini ibu sudah menjewer telinga Pram. "Anak bandel, masih juga tidak belajar dari pengalaman, dulu saja sibuk menghindar dan sakit hati," ucap Ibu.
"Aduh Bu. Sakit. Hiya-hiya Pram mengerti," ucap Pram pelan. Seketika ibu tersenyum dan memeluk. "Jangan pergi-pergi lagi selesaikan semuanya dengan hati dingin Pram."
"Kau tahu selama tiga bulan ada yang sibuk mencarimu dan merutiki kebodohannya," ucap ibu sembari melirik orang yang di maksud.
"Sudah jam berapa?" tanya Ibu. Kini ibu menyingkap selimutnya. "Badan ibu rasanya langsung sembuh Pram!"
"Pindah saja semua makanan ini di meja makan, antar ibu ke kamar mandi, mau bersih bersih shalat."
Dengan sabar Pram menghantar ibu ke kamar mandi hingga selesai dan menunggunya hingga selesai sholat.
"Mau berbaring lagi Bu? Ibu hanya menggeleng kemudian menggerak-gerakkan badanya.
"Ayo Rian, kita duduk di teras." Seketika aku melongo mendengar ucapan ibu. "Kok Rian?Anaknya kan Aku? ucap hati Pram.
__ADS_1
Melihat Rian dengan sabar mendampingi ibu aku lebih memilih menyibukkan diri membuat teh dan membawanya ke teras. "Teh nya Bu."
Belum lama dufuk di teras Pram melihat seseorang datang dan melangkah ke halaman. "Rian yang tahu siapa yang datang langsung berdiri menarik tubuh Pram dan memeluknya.
Sedikit berontak dengan perlakuan Rian. "Diam dan ikuti saja," ucapnya sembari mengeratkan pelukannya. Ahirnya Pram diam berdiri dengan tubuh kaku.
Hanifa makin mendekat ke tengah halaman.
Sudah hampir pukul delapan anak ini masih kelayapan pikir Pram. "Hei. Hanifa," sapa Pram sedikit lembut.
Tak menjawab sapaan Pram. Hanifa kini melotot. Melihat sikap Hanifa yang aneh Rian mengajak Pram maju ke depan untuk menghalangi Hanifa naik ke teras, mengingat ibu sedang duduk di sana.
Begitu sampai di tengah halaman, secara tiba tiba. "Rian. Awas teriak Pram," sembari membalik tubuh Rian.
Melihat aksinya berhasil, Hanifa langsung tertawa puas. "Hahahah ... akhirnya sekarang aku bisa melukaimu Rian. Baik aku maupun Pram tak akan ada ya bisa memilikimu Rian."
Masih terkejut dengan ulah Hanifa. Pram sedikit oleng bersamaan tubuhnya jatuh menimpa tubuh Rian. "Pram ... teriak ibu seketika berdiri dan mendekat pada Pram.
Masih bingung dengan situasi ini dan Pram yang masih di atas tubuh Rian, sekilas Pram melihat Hanifa lari dan melajukan motornya.
Setelah sadar dengan apa yang terjadi Pram langsung berdiri, mengamati seluruh tubuhnya. Hal yang sama Rian juga memeriksa tubuhnya juga.
Ibu yang dekat dengan Rian langsung memeriksa tubuh Rian. Untuk ke dua kalinya aku di buat terkejut dengan sikap ibu, seakan aku tak ada.
"Kau baik-baik saja suara Rian mengejutkan aku. "Hm ... hiya-hiya aku baik-baik saja," jawab Pram sembari mencari sesuatu yang menembus tubuhnya tapi mental.
"Tunggu jangan di pegang kini Rian masuk sambil menuntun ibu ke dalam, tak berapa lama kemudian Rian sudah ke luar lagi. "Mana Pram?" tanya Rian kemudian memungutnya dengan menggunakan kain lalu menyimpan nya dalam tas Plastik. "Jangan memegangnya langsung dengan tangan Pram!"
Kemudian Rian langsung mengajak masuk dalam rumah, memeriksa tubuh Pram dalam terang.
"Tak ada yang luka Pram.Tapi tadi seperti ada yang menancap di sini," ucap Pram sembari menunjukkan tempatnya.
"Eh ... mau apa? Sembari aku pukul tangannya. "Biar ibu saja pinta Pram pelan."
Seperti sedang ketauhan akan melakukan kecurangan Rian tertunduk malu dan menggaruk kepalanya. Sudah sana," usir pram.
Ibu yang masih bingung dengan kejadian ini masih terlihat duduk terbengong.
"Bu," sapa Pram seakan membuat ibu tersadar. Aduh kau tak apa-apa, coba sini ibu lihat mana yang sakit."
Pram membuka punggungnya. "Gimana Bu?" tanya Pram. Tak menjawab tapi Ibu kini memanggi Rian. "Eh. Kok manggil Rian!" Protes Pram. "Yang sopan itu calon suami mu." Pram sedikit melotot mendengar ucapan ibunya. "Belum Bu," jawab sembari Pram menurunkan bajunya.
Rian yang merasa di panggil akhirnya datang juga. "Ya Bu! jawab Rian sembari mendekat. "Sini," panggil ibu. "Eh. Nggak-nggak berdiri di situ!" ucap Pram sembari melotot.
"Ssssttt ... berisik, sini!" Tarik ibu paksa. "Lihat punggung Pram tak ada luka, tapi ada lebam merah sedikit besar.
"Ih ... Ibu," protes Pram sembari menurunkan bajunya."
"Puas ... ucap Pram sedikit marah. kemudian memilih duduk.
"Pram. Ibu ingat sekarang, itu pembungkusmu yang di lebur Simbah dalam tubuh mu dan benar kata Mak Yem," jadi ini khasiatnya.
Aku yang masih jengkel dengan ibu dan saat Pram melirik, melihat Rian senyum-senyum semakin membuat Pram jengkel.
"Pram, Rian ... panggil ibu lagi.
__ADS_1