OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 45 . CERITA 2


__ADS_3

Pram masih duduk di teras, saat Ibu datang dengan tergesa.


"Ada apa?" tanya Pram saat Ibu sudah di teras.


"Sebentar," ucap Ibu sembari berlalu ke belakang.


Tak lama Ibu muncul. "Kamu Ibu tunggu di rumah Simbah. Eeee, malah pulang untung ketemu Rian dan untungnya lagi dia ngasih tahu," ucap ibu.


"Hehehehe ... maaf Bu, Pram lupa, Pram kangen rumah ini."


"Gimana Pram dari rumah Rian?" Ah begitu begitu saja Bu."


"Begitu-begitu gimana? Pram tak menjawab,


tetapi langsung berdiri.


"Bu... Ibu sudah beli mie?" tanya Pram, tiba-tiba.


"Itu ada di tas kresek," ucap ibu sembari berdiri juga.


"Ibu mau? nggak Pram, kamu saja," jawab ibu.


"Oh, ya habis ini ibu berangkat ngaji Pram dan


belajar, katanya mau ujian."


Mendengar ibu mengaji, muncul ide di kepala Pram.


Aku bergegas mandi, bikin mie Pram undur karena ingin ikut ibu mengaji.


"Ya, Pram akan mengikuti ibu diam-diam dan menyelesaikan cerita yang belum tuntas tadi, tak berapa lama aku sudah duduk di ruang tamu.


Tak lama kemudian kini ibu sudah keluar dan menoleh ke arah Pram.


"Tumben pakai baju seperti itu rapi sekali," ucap iIbu sembari merapikan hijabnya dan kemudian keluar.


Setelah ibu keluar kini aku yang berjalan keluar dan mengunci pintu, berjalan sedikit menjauh. "Ah ... kenapa, Pram sembunyi sembunyi toh ini baik."


Bergegas Pram menyusul ibu dan berjalan di sampingnya.


"Bu, panggil Pram."


Ibu menoleh dengan heran.


'Mau kemana?"


"Rumah Rian dan ikut ibu ngaji," ucap Pram tanpa berbohong.


Melihat sesaat kemudian Ibu menggelengkan kepalanya tapi masih berjalan beriringan.


Rumah Rian nampak rame semuanya ibu-ibu dan beberapa nenek-nenek.


"Tuh kan ibu bilang nggak ada seumuran dengan kamu."


Melihat Pram datang bersama ibu, ibunya Rian tersenyum.


"Kamu nyimak di dalam Pram dan belajar pelan-pelan," ucap Ibu Rian kemudian mengajak ibu dan yang lainnya masuk.


Pram memilih duduk di antara ruang tamu dan ruang tengah yang di batasi dengan kelambu begitu kelambu Pram buka, ada Rian sedang duduk sembari membaca sesuatu.


Sedikit terkejut melihat tapi kini tersenyum sembari melakukan gerakan tangannya dan dengan suara yang tak terdengar.

__ADS_1


Dengan gerakan tangan melingkar di atas kepala kemudian mengajungkan ibu jarinya dan mimik mulutnya.


"Cantik," ucapnya.


Pram langsung menyentuh hijab yang Pram pakai dan dia mengangguk.


"Gombal", seketika Pram tutup kelambu tapi sembari tersenyum senyum.


Ibunya Rian yang melihat langsung mendekat.


"Masuk saja dari pada kamu di sini senyum-senyum sendiri, tuh di lihat ibu-ibu."


Pram langsung beringsut sedikit masuk kedalam tapi aku langsung duduk menghadap ruang tamu, karena tak ingin Rian melihat aku senyum senyum sendiri.


Mengikuti pengajian dengan hikmad tak menghiraukan Rian yang duduk di kursi bekakang.


Hampir jam delapan malam saat semua ibu ibu sudah pulang kecuali aku dan ibu.


"Bu ... jangan pulang dulu, Pram masih ada yang mau di omongin sama ibunya Rian," ucap Pram sembari duduk.


"Ibu sedikit heran mendengar apa yang Pram ucapkan."


" Ini, Asih anak Pram mau ganggu kamu!" ucap Ibu sembari duduk di sebelah Pram.


"Pram masih ingin mendengarkan yang tadi sore Tante."


Mendengar ucapan dari Pram, ibunya Rian langsung menegur ibu.


"Gimana Nur masak kamu belum cerita sama sekali, kasihan Pram Nur."


"Maafkan aku Asih, aku bingung harus aku mulai dari mana kau tahu sendiri kan?"


"Ingat jangan sampai keceplosan," ucap Nur.


"Sabar Nur aku tahu."


Tak lama ku lihat dua ibu ini sudah kembali dan duduk berdampingan," Pram sebenarnya kau sudah tahu siapa kami.


Ibu Rian mengawali bicaranya.


Yang perlu kau tahu Tante dan Rian bukan orang jauh, kita dekat leluhur kita pun saling berhubungan.


Kau ingat cerita Simbah tentang Srikanti?


Simbah leluhur membuka desa ini tidak sendiri, ada leluhur Srikanti dan ada juga leluhur dari Tante, pasti kau sudah mengerti akan itu. Tante dan Rian adalah anak dari leluhur M dan merupakan sahabat dekat dari simbah leluhurmu.


"Tapi kenapa Tante tidak tinggal di sini?"


" Leluhur tante merasa tidak cocok di sini Pram!"


"Pasti kau juga akan bertanya kenapa sekarang tante dan Rian di sini.


"Itu karena amanat Pram dan Tante mendapat tugas untuk melindungimu," ucap Ibu Riam lagi.


"Maksud tante?"


"Kau lihat percakapan kita kemarin dan yang kau lihat? aku mengangguk tanda mengerti, dialah yang asli dan masih menunggumu.


"Maksud Tante?" karena yang ada di sini sembari menyentuh dada Pram, keyakinanmu kamu masih takut dan belum ikhlas.


"Tapi siapa yang sering menemui Pram Tante?"

__ADS_1


"Kau sudah tahu siapa dia Pram, dia sering menyebutnya kan?" terus yang kemarin."


"Tante sudah menjelaskan Pram, ikhlas, percaya seutuhnya pada keyakinan mu," hanya itu ucap tante sembari tersenyum.


"Tante tahu sekarang kamu masih bingung dan gamang."


Aku masih terdiam lama, sudah semua baik baik saja yang penting percaya dan jangan jumawa dengan apa yang kau miliki Pram."


"Kau masih bingung dengan rumah Simbah mu dan pohon itu kan? aku kemudian mengangguk."


"Itu akan ada masanya Pram."


"Kita lihat dan ingat jangan pernah kau melakukan apa yang Simbah Rum ajarkan."


"Untukmu juga Nur, Kenapa aku di bawa bawa Asih," jawab Ibu.


"Tan, bagaimana caranya agar semuanya berhenti di Pram saja dan aku tak ingin nanti anak-anak Pram tak mengalami hal seperti ini.


"Kita pasrahkan semuannya kepada Allah Pram jalani semua yang menjadi takdir mu


ingat itu," Ingat Pram kontrol rasa penasaranmu hanya itu yang perlu kau ingat."


Aku masih terdiam setelah mendengarkan


semuanya, benar aku masih takut dan belum ikhlas menerima ini, ternyata aku masih setengah setengah menerimanya."


"Ayo pram pulang sudah malam," ucap ibu mengejutkan. Hanya meghembuskan napas kemudian aku berdiri.


"Asih aku pulang," ucap ibu kemudian aku meraih tangan ibunya Rian untuk salim.


"Terimakasih tante ," ucap Pram lagi. "Rian aku pulang kini sambil berjalan keluar.


Sepanjang perjalanan dengan ibu, aku memilih diam. Hingga masuk rumah dan tidur hingga pagi hari .


Terbangun di siang hari, kepala berdenyut dan sakit, kenapa tiba-tiba kepala aku jadi pusing padahal esok ujian.


Kembali aku rebahkan tubuh di ranjang mencoba untuk tidur, kini belajar bukan nomer satu sejak aku seperti ini.


Ibu sedikit marah saat melihat aku masih rebahan di ranjang," Pram ... sudah siang


bangun, bangun sembari menarik selimut.


"Anak perawan .... "


"Kepala rasanya berdenyut pusing Bu, tapi badan aku nggak panas.


Ibu menatap sejenak kemudian tersenyum," pasti kamu semalam nggak makan, sana bangun mandi dan sarapan.


"Ibu juga sudah masak, maaf ibu yang cantik spesial siang ini Pram akan bikin mie.


"Sakarepmu Nduk," ucap ibu sembari membuka jendela kamar.


"Eh ... Pram itu di depan ada Rian dari tadi ucap ibu lagi.


'Waduh ... kenapa mesti datang pikir Pram,' sembari masuk kamar mandi.


Aku sedikit terkejut saat melihat Rian di dapur


"Lihat Tante, anak cewek baru bangun pasti nggak subuhan," ucap Rian sembari mengunyah sesuatu.


Tak aku hiraukan akhirnya aku ke dapur. "minggir gih," ucap Pram sambil menyalakan kompor .

__ADS_1


__ADS_2