OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 120 . PENYESALAN 2


__ADS_3

Sudah genap tiga minggu ibu di rawat di rumah sakit, meski di katakan selamat dari masa kritisnya, sepertinya ibu enggan untuk membuka matanya, alat-alat di tubuh ibu masih terpasang meski secara perlahan mulai ada yang di lepas, wajah ibu kini mulai terlihat sedikit pucat, bibirnya pun mulai sedikit kering.


Melihat kondisi seperti ini membuat kami sedikit down, Arion yang biasanya petakilan kini hanya tertunduk lesu sepanjang hari, Lintang pun banyak menghabiskan waktu di kamar dan keadaan rumah pun semakin hari semakin sepi.


Sementara bapak tak punya keinginan sama sekali untuk pulang, lebih memilih selalu menemani ibu, wajah bapak pun kini mulai nampak kurusan.


Hari ini aku dan Kinanti, sengaja langsung ke rumah sakit, selepas pulang sekolah, Kinanti yang dengan lesu berjalan di belakang ku tiba tiba berucap "Kinara andaika ibu dan bapak tak ikut nenek, mungkin .... " Kinanti tak meneruskan ucapannya lalu menunduk, aku yang melihat ini langsung memeluknya dengan erat.


"Kinanti kita ikhlaskan kejadian ini ya? sekarang kita doakan ibu agar lekas sembuh" bukannya mengamini ucapan ku Kinanti malah menangis dalam pelukanku.


Melihatnya menangis akhirnya aku mengajaknya untuk duduk sesaat sebelum aku dan Kinanti masuk dalam kamar rumah sakit.


Cukup lama Kinanti menangis hingga beberapa menit kemudian setelah Kinanti sudah merasa baik, aku segera mengajaknya untuk masuk, nampak bapak tertidur di sisi ibu sembari memegang tangan ibu, terlihat wajah lelahnya dan di sudut matanya masih tergulir air mata.


Aku dan Kinanti hanya menatap penuh haru, hingga beberapa saat bapak terbangun dengan sendirinya, benar mata bapak terlihat sembab.


Bapak tersenyum saat melihat kami, nampak rona sedih di wajah bapak ."Bantuin bapak ya? tungguin ibu, bapak mau shalat dulu" ucap bapak sambil berdiri serta merenggangkan tubuhnya.


Menatap ibu sejenak seperti memastikan sesuatu kemudian berlalu pergi.


Aku dan Kinanti langsung mendekat, Kinanti langsung mendekat ke telinga ibu dan membisikkan sesuatu dan di akhirinya dengan amin.


Aku pun juga sedikit mendekat, membacakan doa-doa dan setelah kata amin, aku membisikkan sesuatu ke ibu.


Menatap wajah ibu yang mulai pucat "bu...lekas lah sembuh bu" ucapku tertahan.


Ibu masih lelap dengan tidurnya dan entah kapan ibu ingin bangun.


Hingga beberapa menit kemudian terlihat


bapak sudah kembali dari mushola rumah sakit.


"Bapak, lihat ibu tubuhnya berkeringat dan terus berjingkat ucapku."


Dengan sedikit berlari bapak mendekat dan segera memencet bel darurat, masih dengan takut ku, aku sedikit menepi saat dokter datang kemudian memeriksa ibu dengan teliti.


Dokter dan perawat hanya tersenyum, menatap kami "semua akan baik baik saja dan memang perlu waktu" belum juga sang dokter pergi kembali alat ibu berbunyi dan berdetak dengan lemah.


Dengan sigap sang dokter kembali memeriksa


"cepat siapkan alat pacu jantung dan bla bla."


Sementara bapak sudah terduduk lesu sambil menangis, segera ku rangkul bersama Kinanti juga.


Hingga tiga kali sang dokter meletakkan alat itu di dada ibu " tit ...tit....tit...kembali terdengar suara detak jantung ibu, setelah sang dokter memberi arahan pada para perawat, kini sang dokter itu mendekat pada bapak dan menarik bapak sedikit jauh dan tak lama kemudian mengajak bapak ke luar ruangan.

__ADS_1


Aku masih di sini dengan Kinanti dan terus memegang tangan ibu yang mulai terasa hangat, sesaat ada harapan di hatiku meski itu kecil.


Sudah hampir satu jam bapak belum kembali


aku dan Kinanti masih memegang tangan ibu secara perlahan, kami merasakan gerakan dari tangan ibu "Kinanti ...." panggil ku pelan, benar ibu sudah mulai menunjukkan reaksinya melalui gerakan tangannya, meski pelan.


Aku langsung menekan tombol itu kembali dokter, perawat dan bapak juga nampak berjalan memasuki ruangan, setelah mendengar ceritaku bapak terlihat bahagia senyumnya langsung terkembang.


Sang dokter langsung kembali memeriksa kondisi ibu, kembali sang dokter tersenyum


"selamat, kondisinya sudah stabil dan semuanya sudah terlewati, nanti akan kami periksa per lima belas menit dan kami akan terus mengawasi perkembangan dari isteri anda" ucap sang dokter sembari membaca sesuatu dan langsung menandatangani berkas itu.


Mendengar kabar yang bahagia itu bapak langsung merangkul kami, senyumnya terus terkembang dengan sabar bapak menunggu ibu sadar kembali, hingga hampir tengah malam ibu kembali melakukan gerakan pelan di tangannya, matanya masih terpejam tapi mengeluarkan air mata di sudut matanya.


Dengan segera bapak mengusap air mata ibu


bapak yang tak tahan akhirnya memeluk ibu, "Pram .... kenapa kau menangis dalam tidur mu, mimpi apa Pram ? jangan buat aku semakin menyesali semua kejadian ini" ucap bapak semakin erat memeluk ibu.


Hingga suara tersedak ibu, membuat bapak melepaskan pelukannya, seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Bapak langsung menekan tombol darurat dan saat ini ibu benar-benar telah sadar dengan lemah dan pelan ibu berusaha membuka matanya dengan perlahan.


Aku dan Kinanti langsung berpelukan dan mendekat, senyum kami langsung terkembang melihat ibu sadar.


Setelah melalui pemeriksaan akhirnya ibu benar-benar di nyatakan selamat dari masa masa kritisnya tapi dokter belum melepas alat alat di tubuh ibu, hingga dua jam kedepan.


Ada sesak di hatiku, entah apa yang membuat ibu menjadi begini, bapak hanya melihat ibu dengan bingung.


Dan ibu hanya terbangun saat dokter jaga datang untuk mengontrol, sesaat kemudian melepas alat-alat yang sudah tak di gunakan di tubuh ibu, hanya cairan infus yang masih terpasang.


Hingga pagi menjelang ibu masih sama dengan sikapnya "Bu ... " panggilku dan Kinanti bersamaan, ibu hanya menatap kami sejenak dan tersenyum, aku dan Kinanti langsung memeluk ibu.


Tapi hanya air mata ibu yang keluar, bapak yang mendengar tangis ibu ikut mendekat


"Pram ...." bapak langsung memeluk ibu, banyak hal yang belum terucap dari ibu dan bapak, tapi mereka seperti sama-sama tersakiti.


Sejenak kemudian melepas pelukannya "maaf .... " hanya ini yang ke luar dari mulut bapak.


Ada sesuatu yang tak mampu bapak ucapkan mungkin ini tentang nenek Nur dan nenek Asih.


Pukul sepuluh pagi dokter datang untuk pemeriksaan terakhir, ibu di nyatakan benar benar sehat dan semua seperti mukjizat apa yang di khawatirkan dokter ternyata tidak berdampak apapun untuk ibu.


Setelah menandatangani berkas yang di sodorkan bapak segera ke bagian administrasi untuk membayar ini dan itu.


Dengan menggunakan kursi roda akhirnya kami membawa ibu pulang, kami sengaja naik mobil on line karena mobil bapak sudah rusak karena kecelakaan itu.

__ADS_1


Hingga beberapa lama kami pun sudah tiba di rumah, ibu menatap sejenak halaman rumah nampak Arion dan Lintang berlari menyambut kedatangan ibu, sementara mbak Ning dan mbak Yas membantu membereskan barang bawaan kami.


Sepanjang jalan masuk rumah, mata ibu terus memindai setiap ruangan seakan mencari sosok yang di rindukan.


Arion dan Lintang terus berceloteh sembari mengiring ibu masuk ke dalam rumah.


"Mas ...." panggil ibu pelan.


Mendengar ibu memanggil bapak langsung menghentikan langkahnya "antar aku ke kamar ibu mas, aku ingin melihat bu Asih dan ibuku dulu" ucap ibu mengejutkan kami semua.


Sesaat semuanya terdiam, mendengar ucapan ibu. kemudian ibu menatap kami satu persatu


dengan heran.


"Mana bu Asih dan ibu mas ?"


"Mbak Ning, mbak Yas" apa ibu belum pulang? kembali ibu bertanya.


"Arion, Lintang mana nenek? Arion yang mendapati ibunya terus bertanya akhirnya secara bersamaan kami memeluk ibu, sementara bapak langsung terduduk di sisi ibu.


Melihat sikap kami seperti ini, ibu kembali bertanya "hei .... ada apa ini? dan kenapa dengan kalian?"


"Bu ...." kembali ibu memanggil nenek dan kini semakin keras "Bu ...." kembali ibu berteriak.


Seketika bapak langsung memeluk ibu untuk memberi ketenangan.


"Mas .... mana bu Asih dan ibu, aku ingin melihatnya mas, "mas ..... " kembali ibu meronta.


"Kin .... ambilkan air putih segelas" ucap bapak pelan, masih dengan memeluk ibu.


"Pram ...." panggilan bapak membuat ibu terdiam sejenak dan menatap bapak, bersamaan dengan kedatangan ku membawa air putih, setelah menerima pemberianku.


"Minumlah dulu, seteguk saja, untuk mendinginkan hatimu" ucap bapak sembari menyodorkan air putih ke mulut ibu.


Dengan meminum beberapa teguk dan kemudian menolak untuk menghabiskan air putih nya.


Terlihat ibu sedikit tenang dan napasnya mulai beraturan.


"Pram ...." bapak kembali memanggil ibu, tenangkan hatimu dulu baru mas cerita, aku tak bisa cerita jika kau terus begini, lihat Arion, Lintang dan dua anak gadismu ini, tenang ya....." ucap bapak berusaha untuk tegar.


"Kita masuk dulu dan duduk dengan tenang" kembali bapak mendorong ibu dan mengajaknya duduk di ruang tengah.


Hingga beberapa saat "Pram .... apapun yang kau dengar nanti berusahalah untuk ikhlas meski aku sendiri sangat sulit untuk melakukan itu " ucap bapak pelan.


Bapak memandang ibu sejenak sebelum kembali bercerita, dengan berusaha tenang bapak menceritakan semuanya dan tanpa ada yang di kurangi maupun di tambahkan.

__ADS_1


Setelah mendengar cerita bapak ibu kembali pingsan, hingga beberapa saat ibu terbangun hanya tangisnya yang terus terdengar serta terus memanggil nama nenek Asih dan nenek Nur, mulut ibu terus mengucapkan kata penyesalan dan maaf.


Bapak masih terus berusaha menenangkan ibu dengan memeluknya.


__ADS_2