
Arion hanya tersenyum dan mengusap pipinya "ayo, ganti baju dulu dan tasnya di bawa juga ke atas" ucapku sembari menyesap kopi ku lagi.
"Bu, Arion minta kopinya, kini sudah menghabiskan hampir setengah gelas kopinya. Kemudian dengan cepat langsung meraih tasnya dan berjalan menuju ke atas.
Sudah hampir jam dua ku lihat Kinara dam Kinanti datang "mana Lintang kak? tanyaku karena Lintang tak terlihat ikut masuk.
"Dengan mengucap salam yang terlambat Kinara dan Kinanti menghampiriku di meja makan. Tak lama dua gadisku duduk, kini Arion berteriak dari atas "kak ... " ibu bilang gelangnya bagus" ucapnya sembari masuk ke kamarnya lagi.
Sejenak Kinara menatapku "maaf, bu jika Kinara mendahului ibu" ucapnya sembari menunduk.
Karena semalam ku lihat Arion, seperti itu, Kinara jadi tidak tega dan takut terulang lagi" kembali Kinara berucap sembari menunduk.
Seketika aku tersenyum melihat ketakutan di matanya "terima kasih Kinara, karena sudah membantu ibu untuk mengawasi adik-adikmu, ibu sangat menghargai itu, hanya satu pesan ibu jangan pernah keluar malam dan jalan jalan dengan Zubaid" ucapku sedikit pelan, kemudian aku sedikit mendekat "karena semalam ibu melihat Kinara berbicara dengan Zubaid."
Mendengar ini Kinara langsung tersenyum dan menunduk, kini aku berdiri lebih dulu "Kinara, Kinanti bantu ibu bersih-bersih kamar ibu yang di bawah yuk!" ucapku sembari berjalan.
Mendengar ucapanku mbak Yas dan mbak Ning langsung bertanya "terus makan siangnya bu?!" kami hanya sebentar mbak, siapkan saja, mbak yas dan mbak Ning makan dulu saja jangan menunggu" ucapku sembari melangkah ke kamar dan di ikuti oleh dua anak gadisku.
Hingga kami bertiga masuk dalam kamar, aku menutup pintu kamar dengan perlahan, hanya mencari alasan dan ingin berbincang dengan dua anak gadisku, aku akhirnya mengeluarkan beberapa kertas-kertas tua di atas lemari.
Hanya beberapa menit kemudian, sembari duduk bertiga kami memilah kertas-kertas itu sembari mencari kesempatan untuk berbicara dengan Kinara.
"Kinara" ucapku pelan, kini aku sudah menghentikan tanganku untuk memilah kertas.
Kinara dan Kinanti langsung menatapku "boleh ibu bertanya sesuatu?Kembali aku menatap dua anak gadisku sembari ku sandarkan tubuhku di sisi ranjang.
Ku lihat dua gadisku saling menatap kemudian tersenyum dan mengangguk.
"Boleh" ucapnya bersamaan.
__ADS_1
Sebenarnya pertanyaan ini, khususnya untuk Kinara" ucapku sembari melihatnya dengan kikuk Kinara membalas tatapanku.
"Kinara, mungkin ibu sudah melewatkan banyak hal selama ini tentang kalian berdua dan adik - adik, tapi ibu bersyukur dengan adanya kakak seperti Kinara dan Kinanti bisa membantu ibu dalam banyak hal, tapi ada yang mengusik hati ibu selama dua hari ini dan ibu juga penasaran untuk Kinara, sejak kapan kakak bisa Raga sukma" ucapku pelan.
Kinara langsung menatapku "Bu, maaf kan Kinara" ucapnya takut.
"Kinara ..." bisa dengan sendirinya dan jangan salahkan Zubaid dia hanya jadi pendampingku tidak lebih" ucapnya lagi dengan kata terbata.
Aku tersenyum dengan menggeser sedikit tubuhku untuk mendekatn"anak ibu hebat."
"Lalu sejak kapan itu?" hm ... " tanyaku memastikan. Dengan pelan Kinara menjawab, "saat ibu di rumah sakit dan saat itu Arion, sedang di rasuki oleh sosok yang Kinara tak tahu dari mana dan dengan bantuan Zubaid Kinara berusaha mengusirnya, tapi ... " Kinara memutus begitu saja ucapannya.
"Kenapa?! Tanyaku pelan, sosok itu ternyata tangguh bu, akhirnya dengan susah payah dan dengan bantuan Zubaid dan suara yang selalu menuntun ku akhirnya aku bisa mengalahkannya dan meski Kinara harus muntah darah.
Aku masih terdiam mendengar cerita Kinara, ternyata cerita ini sesuai dengan cerita Kinanti.
" Lalu?" tanyaku lagi "sejak hari itu Kinara sering melakukan perjalanan secara diam-diam bu dan Kinanti yang sering aku minta untuk menjaga ragaku" ucapnya sembari melihat Kinanti sejenak.
"Kinara sudah, menjelajahi dusun ini, hingga suatu hari Kinara tersesat di dusun sebelah dan itu merupakan daerah baru untuk Kinara hingga tanpa sengaja Kinara ... menghentikan ceritanya begitu saja.
"Ceritalah mungkin ibu bisa membantu" ucapku lagi.
Memandang Kinanti sejenak setelah menerima anggukan dari Kinanti, aku lupa menutup rapat celah yang telah ku buka, hingga ada satu sosok yang mengikuti masuk rumah bu dan sosok itu tertarik dengan Arion, berkali-kali Kinara mengusirnya tapi sosok ini masih saja mengikuti Arion dan bersembunyi di rumah ini, maaf ... ini kecerobohan Kinara bu," cerita Kinara sembari tertunduk.
"Jadi ... ?!Tak ku lanjutkan ucapanku "ya bu" ucap Kinara cepat.
Kini hanya hembusan napas ku saja yang terdengar 'dalam diamnya Kinara ternyata dia lebih tangguh dan berani tidak seperti ku dulu, aku masih belum tahu apa yang mesti aku lakukan, akankah seperti diriku dulu atau aku harus menunggunya hingga cukup umur?!' kembali hatiku bergelut dengan berbagai pertanyaan.
Ku lihat jam sudah hampir setengah tiga, sudah lewat untuk makan siang "ayo kita bereskan ini, Kinara dan Kinanti terima kasih sudah jujur dengan ibu dan bercerita, pesan ibu untuk kalian berdua, merendahlah dengan apa yang kita miliki, jaga agar rasa penasaran yang kalian miliki tak menyesatkan kalian dan yang penting jujurlah dan jangan pernah menutupi suatu kebohongan" ucapku sembari mencium kening mereka, makanlah dan tolong panggil mbak Yas untuk membantu ibu.
__ADS_1
Sembari berdiri Kinara menunjukkan sesuatu padaku "boleh ini untuk Kinara" ucapnya sembari menunjukkan dua foto padaku.
Sembari melihat foto itu, ini foto nenek Nur yang berdiri di rumah yang sangat ... angker" ucapnya sembari menatap foto itu.
"Boleh Kinara memiliki foto ini?! dan satu ini, ini foto mbah Man kan?Kinanti lihat yang berdiri di belakang mbah Man, ini yang sering ku lihat di sawah kan?! ucap Kinara lagi.
"Sudah ibu saja yang menyimpan foto ini" ucapku sembari meraihnya dari tangan Kinara.
"Bu ... " bolehkan fotonya untuk Kinara" ucapnya memohon.
"Ibu yakin kau pasti penasaran dengan rumah yang di belakang foto nenek" ucapku pelan.
Kinara hanya tersenyum mendapati aku menebaknya, suatu saat ibu akan cerita tentang rumah ini, jika sudah waktunya, ingat pesan ibu barusan dan kau Kinara jangan pernah jalan jalan dengan sukma mu jika tak di perlukan hanya membuang energi saja!!" Ingat jika semua ucapan ibu kau langgar, bapak yang akan bertindak," ucapku lagi.
"Masih lama bicaranya" terdengar suara di depan pintu yang mengejutkan kami bertiga.
"Sampai kapan bapak menunggu, sudah lima belas menit bapak mendengarkan ceritanya lihat perut bapak sampai lapar."
Mendengar suara bapaknya dua anak gadisku langsung berhambur keluar di susul bapak mereka menuju ruang makan dan tak lama aku pun juga ikut menyusul, terlihat dua jagoanku makan dengan lahap dan tanpa suara hingga kami datang untuk makan bersama.
Mas Rian menatap ku penuh tanya dengan apa yang di dengarnya, aku membiarkan mas Rian dengan beberapa pertanyaan yang belum terjawab akhirnya, kami menyelesaikan makan siang yang tertunda ini.
Setelah semuanya selesai kini aku menarik mas Rian untuk mengikuti ku ke kamar, banyak hal yang harus aku ceritakan dan tak mungkin semuanya aku pendam sendiri.
Masih dengan berbaring di ranjang ini, aku menyelesaikan semua ceritaku dari kejadian semalam yang ku alami hingga perbincanganku dengan dua anak gadisku ini dan mungkin mas Rian juga sudah mendengarnya.
"Bagaimana aku menyikapi ini mas?! ucapku sembari menatap langit-langit kamar ini.
Mas Rian hanya menatap ku sesaat "mungkin ini sudah waktunya Pram, bagaimanapun kita berusaha untuk menghindari tapi waktu lebih menentukan semua, sudah ada jalannya kita lewati bersama dan kita bimbing secara perlahan hingga anak kita tetap pada jalur nya yang aman" ucap mas Rian.
__ADS_1
Aku tak menjawab mas Rian tapi mataku masih menatap langit-langit kamar ini dengan kosong.
"Tidurlah, kau terlalu lelah kini mas Rian sudah merengkuh tubuhku dan merangkul ku dengan posisi ternyaman nya "istirahat Pram, masih banyak waktu untuk memikirkan semuanya" ucapnya sembari memejamkan matanya.