OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 138 . RENCANA UNTUK KEDEPAN


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Pak Man aku semakin sadar, semua memang sudah menjadi jalannya. Mas Rian kini nampak terlihat tenang dengan tersenyum merangkul bahu Pram.


"Jangan pernah berpikiran aneh-aneh Pram!! tak kau lihat betapa repotnya kami, untung Pak Man tadi datang," ucap Mas Rian sembari melangkah ke ruang tengah.


Tanpa di komando anak-anak langsung mengekor pada kami. Kinara ajak yang lainnya untuk naik, karena Bapak dan ibu ada urusan dengan Mbah Man," ucap Bapak lagi.


"Istirahat saja, Ibu baik-baik saja," kembali aku meyakinkan anak-anak untuk lekas beristirahat.


Setelah melihat anak-anak naik, aku dan Mas Rian langsung menyelesaikan urusan kami yang belum selesai dengan Pak Man. Hampir satu jam kami berembuk.


"Baik Nak Rian akan Bapak usahakan dan saya akan mendata mereka satu persatu dan sesuai pesan Nak Rian besok kami akan memanen tanaman yang di sebelah timur," ucap Pak Man lagi dan kemudian berpamitan untuk pulang.


Pram dan Mas Rian sedikit bernapas lega, satu masalah telah terselesaikan. "Mas ... " panggil Pram pelan.


Melihat ke arahku sejenak. "Sebelah timur sawah kita, berarti itu kan yang ada pohon beringin sebagai pembatas sawah kita?" tanya Pram sedikit heran.


"Sudah Pram, kita lihat saja, semoga semua berjalan lancar dan baik-baik saja," jawab Mas Rian.


Pram dan Mas Rian langsung masuk kamar, setelah melakukan shalat yang tertunda Pram dan Mas Rian memilih untuk tidur karena lelah yang sedari tadi Pram tahan. Tak ada perbincangan lagi dan kami pun benar-benar terlelap hingga pagi menjelang.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, ini sudah dua hari setelah percakapan dengan Pak Man, masih pagi Pak Man sudah datang ke rumah kami. Dengan senyum khasnya sangat terlihat wajah tuannya dan usia yang kini tak muda lagi, tetapi masih bersemangat mengerjakan ini dan itu.


"Pagi, Nak Rian!" Sapa Pak Man dan kemudian mengambil sesuatu di sakunya, menyerahkan pada kami selembar kertas dan mengeluarkan lagi sejumlah uang yang cukup banyak dari sakunya.


"Nak Rian, ini yang Nak Rian minta dan ini uang dari hasil penjualan kebun sebelah timur," ucap Pak Man sembari menghela napasnya sedikit berat.


Setelah Mas Rian membaca kertas yang di berikan Pak Man, Mas Rian tersenyum.


"Pak, saya minta tolong besok para pekerja di sawah agar datang ke rumah setelah mereka bekerja."


Pak Man pun mengangguk tanda mengerti. Setelah Pak Man pulang Rian masih melihat ke arah halaman dengan berbagai pikirannya.


"Akhirnya, sawah itu terlepas juga," ucap Rian pelan.


"Pram ... panggil Rian saat melihatnya tak di sampingnya. Memilih masuk ke dalam mencarinya, senyum Rian terkembang saat melihat Prameswari duduk di kamar.

__ADS_1


"Kok senyum-senyum Mas?" tanya Priameswari. Tak menjawab pertanyaanya Rian langsung menyerahkan uang hasil penjualan panen sawah. Dengan tersenyum Prameswari menerima pemberian Rian.


"Mas, uang ini kita buat sodaqoh ya? Sisanya nanti kita bagi-bagi ke pekerja sawah besok."


"Mas, bagaimana kalau Musholanya kita perbesar?" tanya Pram.


Kemudian Pram mendekat ke arah Rian dan berbisik, setelah mendengarkan ucapan Prameswari.


"Kamu yakin akan melakukan itu?" tanya Rian lagi. Dengan mengangguk Prameswari menjawab pertanyaan Rian.


"Dananya kita ambil dari penjualan sawah Mas, insyaallah cukup," ucap Pram lagi.


Nanti setelah pembangunan Masjid selesai, kita naik haji, kita lanjutkan keinginan dua ibu kita. Mas mau?" Kembali Prameswari bertanya.


Nampak raut tak percaya dari Mas Rian, kita umrohkan anak-anak, Mbak Ning dan Mbak Yas juga Pram," ucap Rian dengan tersenyum.


Rasanya semua sudah berjalan sesuai dengan keinginan, kini Rian dan Prameswari tinggal melanjutkan semua niatan kami, sembari menata kembali secara perlahan.


Benar, selepas dhuhur para pekerja di sawah sudah berkumpul di rumah, sebenarnya tak ada acara istimewa Mas Rian sengaja mengumpulkan mereka untuk berterima kasih sekaligus melihat calon-calon para pekerja yang akan ikut di toko.


Kesibukan terjadi di dapur menyiapkan kudapan sederhana dan beberapa masakan untuk menjamu mereka, para Ibu-ibu di sawah langsung membantu di dapur untuk menyiapkan ini dan itu, seketika hatiku sedih.


Teringat akan dua ibu, keramaian seperti ini sering terjadi saat mereka masih ada, tak terasa Pram sedikit terharu.


Setelah Mas Rian membuka acara dan menerangkan maksud dan tujuan mereka di undang ke rumah, nampak suasana hening, tanpa di komando mereka diam dan mendengarkan dengan seksama dan tenang.


Hampir ashar acara yang kami buat baru selesai, terlihat jelas mereka sangat bahagia.


Rumah kembali sepi kini kembali hanya kami yang ada, membantu Mbak Yas dan Mbak Ning membereskan ini dan itu dan semua benar-benar selesai saat adzan magrib berkumandang. Mas Rian langsung mengajak kami untuk sholat di Mushola rumah. Sholat jamaah yang jarang sekali kami lakukan.


Melakukan kegiatan seperti semula. "Mas!" panggil Pram saat melihat Mas Rian akan naik ke atas.


"Jangan naik dulu ada yang ingin Pram bicarakan dengan Mas Rian," ucap Pram sembari menghitung sesuatu.


Rian memilih menghampiri dan duduk di sisi Pram.

__ADS_1


"Ada apa Pram?" tanya Mas Rian tak sabar.


"Sebentar Mas," jawab Pram sembari membereskan hitungannya. Kembali menatanya dengan rapi.


"Ini tentang sumber di balik batu, sangat di sayangkan jika sumber air itu nantinya rusak, mengingat jaraknya yang hanya beberapa meter dari jalur jalan raya, Pram ingin tempat itu di bikin tembok dan di buat kolam sesuai dengan besarnya kubangannya Mas, terus Pram ingin juga di tengah tembok kolam ada pipa yang mengatur air keluar agar dapat di gunakan pekerja sawah untuk bersih-bersih," jelas Pram pada Mas Rian.


"Mas, ini sesuai dengan permintaan Mbah Winarsih," ucap Pram sembari menatap jauh.


"Pram sudah memisahkan dananya, tolong Mas, minta Pak Man untuk mengawasi pengerjaanya," ucap Pram dengan tenang.


"Sudah!" kini Mas Rian yang bertanya pada Pram.


"Sudah!" jawab Pram sekenanya, memilih untuk berbaring di ranjang.


"Capek Mas, tidur yuk," ajak Pram sembari raih tubuh Rian.


"Jangan menggoda Pram," ucap Mas Rian ikut berbaring di sisi Pram.


Pram hanya tersenyum saja. "Jangan berpikir yang aneh-aneh Mas, kita tidur saja," ucap Pram sembari merangkul tubuh Rian.


"Pram ... "panggil Mas Rian.


"Hem ... hanya itu jawab Pram.


"Tidur Mas," ucap Pram lagi.


"Mas belum bisa tidur Pram, Mas mau kita kelelahan malam ini, mau kan?" tanya Mas Rian pelan dan menuntut.


Pram hanya tersenyum saja menanggapi permintaan Mas Rian. Benar Mas Rian tak main-main dengan ucapannya. Malam ini, Mas Rian benar-benar membuat Pram lelah dan tertidur dengan nyenyak setelahnya dan itu membuat Mas Rian tersenyum puas di pagi hari saat Pram terbangun sembari menatap wajahnya.


"Jangan menggoda lagi Pram, terdengar suara serak Mas Rian sembari tersenyum."


"Jangan juga menatap Mad seperti itu," guman Mas Rian lagi.


"Bangun mandi subuhan Mas," ucap Pram dan itu membuat Mas Rian segera terbangun.

__ADS_1


Masih dengan melihat Pram, kemudian Mas Rian tersenyum sembari menuju kamar mandi.


__ADS_2