OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 111 . ARION JADI BERUBAH


__ADS_3

Setelah Arion ketemu, aku dan mas Rian serta ibu mengucapkan terima kasih atas pertolongan mereka, satu persatu mereka juga mulai berpamitan pulang.


Mas Rian langsung menggendong Arion masuk dan membersihkan tubuhnya.


Mbak Ning dan mbak Yas masih nampak ketakutan dengan menunduk mereka mendekat dan meminta maaf karena sudah teledor menjaga Arion.


"Sudahlah mbak aku gak marah, ini bukan salah mbak , Arion di bawa sesuatu" ucapku pelan.


"Sudah mbak istirahat saja" ucapku sembari melangkah naik ke atas.


Tubuhku masih sedikit lelah, melihat ke kamar anak-anak mereka sudah tertidur dari kegaduhan hari ini, tak bisa aku bayangkan betapa repotnya mereka mencari Arion, langkah ku menuju kamar Arion, membukanya perlahan terlihat mas Rian masih menunggu Arion.


"Terima kasih tanpa bantuan mu, mungkin anak kita belum ketemu sembari memelukku erat."


Aku terhenyak sejenak menatap mas Rian "mas ... "panggil ku, pelan.


Mas Rian yang ku panggil menatapku dengan penuh khawatir.


"Pram .... aku sedikit khawatir dengan Arion saat ku panggil namanya dia hamya menatapku seperti tak mengenalku Pram!"


"Apa ada yang salah?" dengan Arion!"


"Mas, Arion di bawa sosok penunggu pohon beringin dekat makam mak Sunar dan sosok itu juga sudah membuntuti Arion, sembari ku tatap wajah anakku yang tertidur lelap. "Kinara sudah menyadari itu dan khawatir akan ini, saat itu aku hanya mengusirnya" ucapku sembari bersandar di tepi ranjang.


"Sosok itu menyukai Arion dan menyembunyikannya di balik *********** mas dan aku sangat beruntung Arion masih mau mendengar panggilanku."


"Tidurlah mas, biar aku yang berjaga" ucapku sembari naik ke sisi ranjang.


Belum juga mas Rian keluar dari kamar tiba tiba, Arion terbangun matanya melotot terbalik dan hanya warna putihnya saja yang kelihatan dan wajahnya merah panas.


"Mas, jangan keluar dulu" ucapku pelan.


Dengan cepat mas Rian berbalik "kenapa Pram?" lihat Arion mas!! sejenak aku duduk terdiam menatap Arion.


"Mas, baju Arion mana" tanyaku sembari berdiri.


"Di ranjang Pram,kenapa? aku terdiam saja dan masih memeriksa baju Arion.

__ADS_1


Napasku berhembus kasar saat menemukan rambut panjang di baju Arion, "mas tolong bacakan al fateha Arion dan aku akan mengurus ini sebentar.


Setelah mas Rian membacakan al fateha pada Arion aku mengambil air putih dan mengusapnya pada wajah Arion.


Dengan mantraku aku berusaha untuk membakar rambut di baju Arion, tak berapa lama tercium aroma rambut yang terbakar menandakan yang menempel pada Arion telah pergi, kembali aku melihat baju dan celana Arion lantas memasukkannya dalam tas dan membawanya keluar dari kamar Arion.


Untuk mengamankan Arion sengaja baju yang di pakainya aku buang ke tempat sampah yang ada di luar halaman.


Aku masih berdiri di halaman saat ku lihat sekelebat Zubaid, berpindah tempat.


Aku menatapnya saja kini dia duduk di dahan yang sedikit melandai sembari kakinya berayun.


Aku kembali masuk ke dalam sudah hampir dini hari, kembali aku melihat Arion badanya sudah dingin kembali hingga saat adzan berkumandang Arion bangun dan menatap heran padaku dengan tatapan kosongnya aku masih membiarkan Arion seperti ini, ini karena efek Arion berpindah dunia.


"Sudah bangun?" sini kita shalat subuh ya? masih menatapku sesaat kemudian menunduk. "Mak, mak, panggil Arion pelan.


Mas Rian yang selesai shalat pun langsung berjalan mendekat "mak, mak, kembali Arion memanggil mak.


"Nak, mak siapa? tanya mas Rian tak sabar.


"Pram, kenapa dengan Arion?" ucap mas Rian sembari menatap ku.


"Hm .... lalu Arion di ajak ke mana lagi?"


"Hm .... hanya di rumah itu, aku tidur di kasur yang sangat empuk dan hangat.


"Tapi emak itu pelit, aku tak di beri minum sedikit pun, di rumahnya juga tak ada kue sampai Arion kelaparan dan tertidur."


Seketika aku tersenyum "masih beruntung mas Arion belum menyentuh makanan dan minuman dari dunia lain, andai itu terjadi ....."


Pram langsung memutus ucapannya begitu saja lantas beristifar "Astafirullah semoga itu tak terjadi pada anak anak ku" ucapnya sembari mengetuk ngetukkan tangannya di lantai tiga kali.


"Hm, jadi sekarang Arion lapar? hanya anggukan yang ku lihat .


"Hayo shalat dengan ibu lalu kita buat makanan, setuju!!"


Arion masih diam menatapku "ibu ..... " sembari menunjuk padaku, "hem .... benar ini ibu, ini bapak."

__ADS_1


Akhirnya dengan sedikit mantra aku meniup ubun-ubun Arion tiga kali dan memaksa ingatannya kembali dan efek dari dunia lain segera menghilang toh nyatanya Arion tak seperti Kirana, kembali masih mengingat yang terjadi itu sudah bagus dan masih bisa berkomunikasi pun juga sudah baik.


"Pram .... "kita tunggu hingga besok mas, jika Arion masih belum bisa lepas dari sosok itu besok aku akan mengobrak abrik tempat wewe gombel itu.


"Mas, ajak turun saja kasian perutnya juga sudah lapar, tanpa banyak bicara mas Rian langsung membawa Arion turun.


Mbak Ning dan mbak Yas yang melihat Arion langsung memeluk Arion "Aden, maafkan mbak ya? ucap mereka bergantian.


"Sudah mbak, tolong buatin Arion susu dan makanan, lapar katanya" ucap mas Rian saat aku turun dari tangga.


Seperti pagi biasanya, semua sudah berkumpul Kinara tak henti menatap Arion kemudian mendekat, kamu sangat nakal, sana pulang adikku jangan di ganggu" ucap Kinara sambil melotot.


"Kinara? panggil mas Rian heran.


"Bu .... "lihat ada kabut yang menutup kepala Arion, buang bu!"atau aku yang lakukan" ucap Kinara sembari berdiri berkacak pinggang.


Semua mata, menatap Kinara baru kali ini Kinara benar-benar marah.


Tanpa banyak bicara Kinara langsung mendekat dan mengibas ngibas kepala Arion dan sesekali meniup.


Masih berdiri di dekat Arion, kemudian dengan cepat Kinara mencubit Arion dengan keras "ish .... kau bukan adikku" kemudian kembali mencubit untuk kedua kalinya dan kali ini Arion menjerit kesakitan.


"Kinara ...." yang ku panggil hanya tersenyum.


"Itu yang teriak adik aku bu, "hay Arion panggil Kinara" yang di panggil masih menatap kemudian tersenyum "kakak......"


"Tuh .... kan sembuh" lalu Kinara berlari ke halaman memanggil Zubaid, entah apa yang di bicarakan, semua masih menatap heran.


"Kata Zubaid tenaga ibu lelah jadi, ibu tak bisa memindai kabutnya, kan semalam pasti ibu tidak tidur."


"Bu .... aku lapar" ucap Arion lagi.


"Mbak, tolong sarapannya dan sekalian sarapan bareng -bareng sini, "Lintang panggil nenek dan Kinanti ibu tak melanjutkan bicaranya tapi sedikit terkejut melihat Kinanti.


"Ibu...dari tadi aku di sini, jangan aneh-aneh bu ...." ucap Kinanti lagi.


"Aku gak mau sekolah, aku ngantuk"ucap Arion lagi dengan merajuk

__ADS_1


__ADS_2