
Setelah libur hampir tiga bulan banyak hal yang terlewatkan, pagi ini aku sudah bersiap
memakai seragam dan siap berangkat.
"Bu. Ayo," ajak Pram. Karena pagi ini sangat bersemangat.
"Ayo. Pram," jawab Ibu. Berjalan beriringan dengan ibu tak lama kami sudah di pintu gerbang sekolah.
Berhenti sejenak, menatap gedung sekolah yang lama aku tinggalkan.
"Pagi Pak," sapa Pram.
"Loh! Nak Prames sudah sembuh!"
"Alhamdulillah Pak, saya sudah sehat," jawab Pram pelan.
Berjalan menuju kelas, masih sepi hanya aku sendiri yang sudah datang.
"Pram ibu ke kantor Kep Sek dulu," ucap ibu.
"Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Tak berapa lama satu persatu teman Pram mulai berdatangan.
"Pram ... panggil mereka serentak kemudian memberi ucapan selamat atas kesembuhanku.
Aku terkejut saat Ndari langsung memeluk.
"Pram, maaf aku tak bisa menengokmu," ucap Ndari dengan sedikit menangis.
"Ah, nggak apa-apa Ndari," jawabku sembari memeluknya juga.
"Aku senang akhirnya kamu masuk," ucap Ndari.
Tatapanku kini tertuju pada seseorang yang baru datang, masih belum sadar akan kehadiranku.
Sesaat kemudian.
"Prameswari ... ucap Rian sembari memelukku.
Mendapat pelukan tiba-tiba dari Rian membuat aku jadi malu.
"Eh ... kok gini, lepaskan," ucap Pram sembari sedikit mendorong tubuh Rian.
Mendengar ucapan Pram seketika seisi kelas tertawa.
"Kamu tahu nggak Pram, selama hampir tiga bulan baru sekarang tuh Rian wajahnya berbinar," ucap salah satu siswa dan itu membuat Rian langsung menunduk.
Sesaat aku menatap wajahnya, yang jadi topik pembahasan langsung menunduk.
"Hai, Ruli awas kau," ucap Rian sembari bersungut- sungut.
"Ndari pindah di tempat gih, biar aku yang duduk disini," ucap Rian.
Ndari langsung menoleh ke arah Pram untuk meminta persetujuan.
"Ah. kelamaan," ucap Rian kini sudah meletakkan tas Ndari di meja depan.
Aku tersenyum geli melihat sikap Rian.
Setelah duduk di samping bangku Pram.
"Kapan kamu tiba Pram, kok nggak kasih kabar aku. kok ... dan bla, bla, bla," tanya Rian panjang.
Belum sempat Pram menjawab guru mapel pertama sudah masuk dalam kelas.
Setelah menyapa sesaat, Bu Wati langsung memulai pelajaran, ternyata banyak yang Pram lewatkan. Sedikit tersenyum sembari menatap Rian. Beruntung dekat dengan Rian, dengan telaten Rian mengajariku.
Setelah jam mapel pertama selesai.
"Nanti aku kerumahmu Pram, aku ajari yang belum kamu ngerti," ucap Rian.
Mendengar ucapan Rian aku langsung mengangguk.
"Rian, tumben dia mengikutimu terus," ucap Pram sembari melihat di sisinya, Rian hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Rian bagaimana kabar Simbah?Apa kau tahu?"
"Kamu belum ke rumah Simbahmu Pram?"
"Sebenarnya aku kemari, untuk mengejar ujian yang sebentar lagi. Bantu aku ya !"
"Simbah juga nggak tahu kalau aku datang dan pasti Simbah juga marah," ucap Pram pelan.
Rian hanya menggaruk kepalannya dengan bingung.
"Nanti aku cerita Pram."
Tak terasa bel istirahat berbunyi dengan tak sabar aku ingin mendengar cerita Rian.
Setelah membeli kue di kantin Rian mengajakku mencari tempat yang agak sepi.
"Rian lihat ibuku?" tanya Pram.
"Tadi sebelum aku keluar ibu menitipkanmu padaku," jawab Rian.
"Ihh. Ibu ! Aku kayak barang saja main di titipkan."
"Pram sini saja," potong Rian sembari sedikit meraih tanganku. Mengajak duduk di bawah pohon.
"Kamu tahu Pram sejak kejadian di rumahmu itu, rumah Simbah mu makin aneh, secara tiba-tiba kadang terdengar suara mengerikan."
"Kamu tahu Pram, setelah dua minggu kejadian yang kamu alami, secara tiba-tiba ada seorang gadis mati bunuh diri di bawah pohon sawo."
Mendengar ucapan Rian Seketika badan Pram tergetar. "Rian jangan membuatku takut," ucap Pram pelan.
'Ternyata perjanjian itu berlaku dan penunggu sawo menangih janjinya batinku lirih.'
"Rian bagimana keadaan Simbah," tanya Pram khawatir.
"Simbahmu sehat Pram, tapi minggu terakhir ini jarang keluar," jawab Rian cepat.
"Biar ibu saja yang aku suruh liat," ucap Pram lirih.
Mendengar ucapan dari Pram, Rian sedikit khawatir.
"Aku bingung Rian, ternyata dari semua yang ku lewati aku masih juga belum siap."
"Sudah ayo ... sembari menarik tanganku. Itu di pikir nanti, sekarang bagimana caranya kamu bisa menyusul ketinggalan pelajaran."
Bel tanda masuk kelas berbunyi, Rian masih duduk di sebelahku.
"Ndari kamu duduk di situ saja, tukeran ya"
"Nakalan kamu. Pram hati-hati, bisa-bisa Rian sudah jatuh cinta sama kamu," ucap Ndari begitu saja.
Aku terdiam mendengar omelan Ndari
Sesaat aku menyenggol lengan Rian.
"Ada apa? Lihat bisikku, Rian sudah melirik ke sisi kiriku.
"Jaga aku ya, aku akan mencari tahu," panggil aku saat Bu Guru mulai curiga.
"Jangan aneh-aneh Pram, kau baru sembuh bisik Rian," sebentar saja ucapku.
Kini aku sudah berdiri di depan sosok ini.
"Apa maumu, jangan bilang kamu mengintaiku itu tercium dari baumu."
Sosok yang ada di samping kiriku terlihat menyeringai, karena tak menjawabku akhirnya aku sengaja membuatnya tersesat lupa dengan pengirimnya.
Aku tersenyum puas, aku sudah kembali ke ragaku saat Rian menyentuh tanganku.
"Sepertinya puas Pram? Siapa yang ngirim dia ya?"
"Lalu kau apakan Pram, ku buat dia lupa pulang, seketika tawa Rian terdengar.
"Rian, Prameswari ... panggil Bu Haryati guru bahasa inggris.
"Ish ... kau terlalu kencang tertawanya, kau ada-ada saja juga balasnya."
__ADS_1
"Sedetik kemudian kapur sudah melayang ke meja kami, sekali lagi masih ribut ibu hukum," kembali Bu Haryati marah.
Mendengar ancaman Bu Haryati aku dan Rian terdiam. Asal tak di buat lupa pulang suara Rian sambil berbisik."
Aku hanya mengaruk kepalaku saja.
Kini Rian sudah menulis sesuatu di kertasnya
"Lupa pulang kemana?"
"Pengirimnya balasku lagi."
"Oh ... balasnya lagi."
Sehari di sekolah membuat aku sedikit terhibur sesaat memegang kalung pemberian Simbah, ada rasa aneh yang tergetar di hatiku.
Belum lagi Rian cerita, apa aku salah kembali ke mari atau memang kini sudah waktunya."
"Jam pelajaran terakhir membuatku semakin gerah, Rian melihatku dengan heran.
"Kenapa? aku hanya menggeleng.
"Kurang setengah jam Pram atau mau ijin pulang?" tanya Rian. Aku hanya menggeleng lagi.
"Entah kenapa hatiku sangat sedih Rian."
"Rasanya aku ingin menangis tapi aku tak tahu apa penyebabnya."
"Ambillah napas panjang Pram dan hebuskan secara perlahan hingga terasa ringan dadamu."
Aku berjalan keluar menuju kantin
membeli air mineral. Menuju kelas tapi suasana masih tetap sama seperti aku keluar tadi.
"Ini Pram minum biar tenang hatimu."
Menerima uluran tangan Rian dan membuka tutupnya, meminumnya beberapa teguk.
Rasanya masih sama dari mana datangnya rasa gelisah ini, aku langsung memindai ruangan kelas tak ada siapapun.
Melirik Rian yang masih mengawasiku.
"Jangan paksakan Pram, nanti hilang sendiri."
Mendengar ucapan Rian, aku berusaha mengabaikan perasaanku. Kini aku mengalih kannya dengan membaca buku.
"Pram ... hm," jawabku.
"Pram ... apa! Apa Rian?" jawab Pram lagi sembari menoleh ke bangku Rian.
"Loh! Mana Rian, lalu siapa yang memanggilku."
Aku melihat ke sekeliling, ramai karena guru mapel di jam terakhir ini tak datang.
Menutup buku yang aku baca, merapikan alat tulis di meja ku, kemana Rian kok tiba-tiba pergi.
Tak lama suara bel berbunyi tanda mapel usai. Berjalan keluar kelas beriringan dengan yang lainnya.
"Pram .... kini ada lagi yang memanggilku.
"Pram ... sembari menepuk bahuku, aku langsung menoleh."
"Ih ... kamu sengaja buat aku jantungan dari mana memang."
"Dari kantin laper .... "
"Ayo ... kemana? Pulang Rian."
Secara tiba-tiba langit mendung, sepertinya mau hujan Pram. "Ayo ... nanti kehujanan."
"Jangan buru-buru, aku masih belum terbiasa kamu boleh duluan, aku nanti bisa berteduh." seketika Rian melambatkan langkahnya.
"Maaf ya, jangan tersinggung," ucap Rian sembari menggandeng tangan ku.
"Kok di gandeng kayak orang pacaran saja, malu di lihat orang," jawab Pram sambil melepaskan tangannya.
__ADS_1
"He he he ... hanya itu yang Pram dengar.