OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 40 . SIMBAHKU


__ADS_3

Genap tiga minggu sudah keadaan Simbah tak kunjung membaik, Dokter Edi yang setiap hari datang untuk mengecek kondisi Simbah selalu mengatakan baik-baik saja perbanyak doa hanya itu saja yang selalu di ucapkan.


"Pulang Pram tidur di rumah,"ucap Ibu suatu hari. "Nanti malam kamu bisa balik ke sini."


" Fokus dengan ujian kamu, jangan buat kecewa Simbahmu, karena ingin melihatmu kuliah."


Pram hanya menurut saja dan biar nanti malam ibu bisa bergantian tidur pikirnya.


Keadaan Simbah semakin parah, saat malam hari meludah sana sini, tangannya selalu mencoba meraih apapun seperti menggapai sesuatu, semakin meracau tak karuan.


"Simbah .... panggil Pram pelan, di suatu sore tak menoleh kearah Pram tapi suaranya yang menjawab.


"Hem ... hanya itu jawaban yang Pram dengar."


"Apa yang Simbah inginkan?" tanya Pram. Kini tak menjawab malah tersenyum. Kemudian menatap jauh kedepan hanya itu yang di lakukan.


"Pram ... ambil ini menyerahkan sesuatu di tangan, kembalikan ke pemiliknya."


Pram memandang benda ini , mirip yang di ambil ibunya Rian. "Kenapa?" tanya Simbah, Pram hanya menggeleng.


Simbah menatap Pram dalam. "Simbah tak ingin kau terjebak seperti Simbah dengan perjanjian gila ini, tolong kembalikan ke tempatnya."


"Kau pasti tahu tempatnya!" Pram hanya mengangguk tanda mengerti.


"Pram ... ingat pesan Simbah, segera potong pohon itu, ini amanat Simbah Pram."


"Mbah, Pram tak ingin seperti Simbah melakukan ritual-ritual itu," jawab Pram menolak amanat Simbah.


"Pram ingin mengubah tradisi itu Mbah."


"Simbah ikhlas kan! Biar Pram halau dengan cara Pram, sendiri."


Simbah menatap Pram lagi. "Aku sudah ikhlas Pram, ingat ini amanat simbah."


Setelah berbincang dengan Pram Simbah kembali lemas, tubuhnya yang nampak kurus serta wajahnya yang terlihat kembali pucat.


Memegang erat tangannya. "Maafkan Pram Mbah," ucap Pram tersekat, tak bisa Pram tahan air mata ini, kini sudah keluar dengan sendirinya.


Menyeka air mata ini saat Ibu datang. "Kenapa Pram?" tanya Ibu bingung. Seketika tangis ini makin menjadi.


"Simbah Bu," ucap Pram sembari terisak.


Merasakan akan ada hal aneh yang terjadi dengan Simbah. "Sudah-sudah jangan menangis," ucap Ibu kini sembari menyeka air mata ini.


"Sebaiknya kita bantu Simbah dengan berdoa Pram." Aku kemudian mengambil air wudhu untuk meredakan gundah di hati Pram.


Sudah pukul delapan Pram melihat Simbah sedikit tenang tak lagi meracau, tangannya sudah tak ingin menggapai atau meraih sesuatu.


Malam ini Pram, Ibu dan Simbah tertidur dengan pulas, saat terbangun Pram melihat barang yang di berikan Simbah padanya.


Pram duduk bersila menenangkan hati untuk memanggil Simbah leluhur. Aku menunduk hormat saat mengetauhi kehadirannya. "Simbah bantu," ucap Simbah leluhur seakan mengerti akan ke inginan hati ini.


Dengan tenang Pram kembali bersila, kini Pram sudah menggenggam benda itu, tak lama benda itu bersinar terang. "Buka tanganmu biar benda itu melesat ke asalnya," ucap simbah leluhur.


"Pram ... jaga Simbah mu, akan ada sesuatu yang terjadi bukan untuk hari ini tapi tiga hari ke depan bantu dengan doa Pram."

__ADS_1


"Kasihan sungguh berat jalannya!" Hanya itu yang Pram dengar dan Simbah leluhur kini sudah menghilang.


"Krak ... krak ... krak ... kembali terdengar suara burung gagak dengan terbang kemudian hinggap di atas atap, lama sambil terus bersuara. Ibu yang berada di kamar langsung keluar.


"Pram tunggu Simbah terus dan bantu dengan doa Pram."


Mendengar ucapan Ibu, Pram bergegas mengambil tas, mengambil al quran kecil dan membacakan perlahan di dekat telinga simbah.


Melihat simbah bernafas dengan tenang hingga tengah malam, saat ibu membangunkan Pram karena tertidur di sisi Simbah.


"Pram, Pram," panggil Ibu dengan pelan. Pram menggeliat sesaat.


"Ibu ngantuk, gantian yuk! mendengar ucapan Ibu, Pram langsung kembali duduk di dekat Simbah.


Melihat Pram duduk di sisinya sesaat Simbah tersenyum, hanya itu yang di lakukan. Kembali menuntun Simbah membaca syahadat, meskipun tak mengikuti dengan mulutnya Pram berharap Simbah mengikuti dalam hati.


Entah mengapa saat duduk di sisi simbah kembali Pram mendengar suara.


"Gedubrak ... gedubrak ... tapi kini ada yang membunyikan gong yang di pukul satu satu.


"Gong ... "


"Gong ... "


Hingga beberapa kali, burung gagak juga sudah mengeluarkan suaranya sangat serak tak sekeras kemarin.


"Kraaaaaak ... kraaak ... terus berulan-ulang.


Pram hanya menahan napasnya sejenak dan menghembuskan dengan pelan.


Pram hanya memandangnya, mulut ini tak berhenti membaca doa, mengingat pesan Simbah lelehur.


Saat mulut ini terus berdoa, tiba-tiba Simbah meraih tangan Pram. "Dapat kau bantu Simbah?" ucap Simbah.


Pram tak menyanggupi tapi hanya menjawab.


"Apa?"


"Tolong kau ambil yang ada di kaki Simbah Pram."


Pram bergegas berjalan di sisi kaki Simbah.


"Kau lihat di telapak kaki Simbah Pram, cabutlah."


Pram sedikit meraba, benar ada suatu benda di sana.


"Tarik saja," ucap Simbah .


Saat menarik keluar benda tipis tapi runcing menyerupai jarum sepertinya terbuat dari emas.


"Satunya lagi," ucap Simbah lagi.


"Tolong nanti itu di buang di sungai Pram," ucap Simbah lagi. Pram membungkus benda itu dengan kain dan menyimpannya dengan rapi.


Hingga hampir subuh mata ini baru terlelap. Pagi ini Pram berangkat dengan sedikit terlambat untung tak ada ulangan dan itu membuat Pram sedikit tenang.

__ADS_1


"Bu, Pram nanti pulang sekolah mampir ke rumah Rian," ucap Pram pelan karena melihat Simbah tidur, Ibu hanya mengangguk tanda mengerti.


"Dari rumah Rian langsung pulang Pram, tidur dulu dan belajar," ucap ibu mengingatkan dan berbicara sedikit pelan.


Sebenarnya tubuh Pram sudah capek tapi mau bagaimana lagi? melangkahkan kaki dengan sedikit tergesa. Berharap nanti tiba di sekolah pintu gerbang belum di tutup.


Begitu tiba di sekolah semua tak sesuai harapan. Betul pintu gerbang sudah di kunci melihatnya sejenak. 'Aku malas ke guru piket pasti juga hukumannya berdiri juga,' ucap batin Pram. Berbalik arah hingga tubuh Pram, memutar untuk bergegas pulang.


"Pram ... terdengar seseorang memanggil. Ayo mau bolos? Aku lo ... sudah nungguin dari tadi," ucap suara itu lagi.


Seketika kembali Pram berbalik badan sedikit terkejut saat melihat siapa yang bicara.


"Kamu kok nggak masuk?" tanys Pram sembari mendekat.


"Nunggu kamu," jawabnya sembari bersandar di pagar. Melihat siapa yang bicara Pram sedikit mendekat.


"M ... rencana nih, Pram mau bolos terus ke rumah kamu, ketemu Ibu, ada yang mau Pram ceritakan," ucap Pram setengah berbisik .


Seketika matanya melebar. "Tunggu," sembari menengok ke kanan dan ke kiri lalu memanjat pagar. Belum sampai setengah pagar yang di panjat.


"Rian ... teriak Pak Satpam saat sudah memanjat hampir setengah pagar. Turun!! Dan kamu Pram tunggu di situ, bisa-bisanya nggak masuk, malah pacaran," ucap Pak Satpam.


Seketika wajah Pram merah karena malu, sedang Rian yang sudah turun di bawah malah senyum-senyum. Pak satpam langsung membuka pagar dan menyuruh Pram masuk, kemudian menjewer telinga kami berdua hingga sampai di ruangan Guru piket.


Merasa telinga Pram panas dan sakit.


"Pak, maaf, lepas jewerannya," seketika Pak Satpam melepas tangannya dari telinga Pram dan Rian. Guru piket hanya tersenyum melihat kami kemudian menyerahkan surat ijin.


"Langsung ke kelas," ucap pak satpam.


Berjalan dengan Rian menuju kelas, melihat telinga Pram merah Rian berusaha meniup niupnya. "Ih ... ngapain juga niup telinga Pram punyamu juga sama merahnya."


" Kasihan gara-gara aku, kamu jadi kena jewer," kini sudah mengusap-usap telinga Pram.


"Ih ... mulai," ucap Pram sembari berjalan mendahului.


Ya, akhirnya berdiri juga di depan kelas hingga mapel pertama usai.


"Tahu begini, mending Pram bolos saja." ucap Pram kesal.


"Rian kalau begitu, Pram batal kerumah kamu," ucap Pram dengan dongkol.


"Lah ... kok begitu?" tanya Rian bingung.


"Mod Pram jelek hari ini, nanti Pram mau ijin pulang tidur saja di rumah."


"Loh ... kok begitu?" tanya Rian lagi.


"Apaan sih! Kok, lah, loh," ucap Pram lagi.


Melihat Pram dongkol akhirnya Rian diam.


"Baik tuan putri," ucap Rian sembari membungkuk.


Mendengar ucapan Rian, Pram berusaha menahan senyum hingga terdengar mapel pertama selesai.

__ADS_1


"Ayo masuk jangan cemberut, nanti cantiknya hilang," ucap Rian sembari melirik Pram.


__ADS_2