
Masih pagi, suara ramai orang di dalam rumah membangunkan aku dengan mata terkejap aku melirik jam, sudah jam delapan pagi rupanya dengan malas merenganggkan badan dan berkali kali menguap.
Rupanya Ibu dan Bu Asih sudah terbangun lebih dulu karena tak nampak keberadaanya di kamar.
Tak lama kemudian terdengar suara ibu memanggil sembari mengetuk pintu "Pram, Pram."
"Ya Bu, sudah bangun ini sembari membuka pintu dan ibu langsung masuk kamar."
"Segera mandi Pram," ucap Ibu sembari membereskan tas dan yang lainnya. Aku langsun bergegas mandi tak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya, keluar dari kamar mandi melihat ibu sudah duduk di ranjang.
"Setelah ini kita bersiap-siap pulang Pram, Asih dan Rian juga sudah bersiap tinggal nunggu Pak Paijo," ucap ibu sembari menatap Pram.
Setelah berberes aku dan ibu keluar kamar menenteng tas nampak Mas Rian sedang berbincang dengan Hanifa, entah apa yang mereka bicarakan tapi sejak kemarin mereka selalu terlihat bersama-sama. Sembari berjalan menuju mobil Pram menepuk-nepuk kepalanya. 'Jangan lagi-lagi Pram, buang pikiran jelekmu itu,' ucap hati Pram sembari menaruh tas di mobil.
"Pram .... sedikit menoleh dan tersenyum kemudian kembali lagi dengan kesibukan.
"Pram ... panggil Mas Rian. "Sebentar," jawab Pram.
Mas Rian kini mendekat, karena merasa panggilan nya tak aku hiraukan.
Sedikit merapat berdiri di dekatku. "Eh ... ngapain, sembari aku dorong tubuhnya."
Hanya tersenyum. "Jangan mulai cemburu-cemburu yang nggak jelas. "Ayo, kita pamitan ke Pak Martoyo dan yang lainnya," ajaknya sembari menarik tangan.
Dengan sedikit cemberut akhirnya aku ikut juga berpamitan satu persatu hingga ibu Hanifa menepuk bahuku dengan lembut.
"Beruntung sekali kamu memiliki seseorang seperti Rian, terima kasih karena kemarin Rian sudah membantu Hanifa mengurus sesuatu di kota." Mendengar ini aku hanya tersenyum menanggapinya dan langsung mencium punggung tangannya.
Berjalan beriringan dengan ibu dan kemudian masuk dalam mobil, mengambil posisi ternyaman tak lama Pak Paijo juga masuk dan menyalakan mobilnya.
"Tidak ada yang tertinggal kan bawaanya?" ucapnya mengingatkan sembari menoleh ke belakang.
Perjalanan yang melelahkan sama-sama terdiam hingga suara ibu Asih memecah sepi.
"Rian. Pram ! Bagaimana kuliah kalian sudah beres kan?"
"Belum Bu, tinggal menunggu wisuda saja Bu," ucap Pram sembari menatap kedepan.
__ADS_1
Nampak olehku Ibu dan Bu Asih saling berpandangan dan tersenyum. Melihat ini aku langsung menggaruk kepala. "Jangan aneh-aneh Bu," ucap Pram pelan.
Mendengar ucapan Pram. Ibu dan Nu Asih tersenyum dan Mas Rian yang berada di depan langsung menoleh kebelakang.
"Maunya sih aku yang aneh-aneh Pram, Satria saja udah menikah sebentar lagi Hanifa juga, lalu kita?"
Aku terdiam tak meyangka jika Mas Rian langsung berbicara seperti itu. "Ya ... nunggu kita selesai wisuda," jawab Pram sedikit pelan.
Nampak Ibu dan Bu Asih langsung berjabat tangan dan saling berbisik. Perbincangan kami terhenti saat Pak Paijo berhenti secara tiba-tiba. "Ada apa Pak?"
Nampak mobil berderet di depan. Macet Bu, padahal tinggal satu belokan lagi," jawab Pak Paijo. Membuka pintu mobil dan berjalan keluar sesaat dan tak lama kembali lagi masuk dalam mobil .
Menunggu hingga beberapa menit. "Rupanya tabrakan Bu, karena ada mobil ambulans, sepeda beradu dengan truk tronton dan kepalanya hancur," ucapnya sembari bergidik membayangkan apa yang di lihat barusan.
"Innalilahi ... ucap kami serentak."
Beberapa saat kemudian nampak kemacetan sudah mulai ter urai.
Mobil berjalan lambat merayap, masih nampak sisa-sisa kecelakaan saat aku mengintip di balik kaca mobil, seketika Pram menundukkan tatapannya karena Pram melihat arwah pengendara motor tengah bingung di antara laju mobil yang berjalan lambat.
Dengan hati-hati Pak Paijo membelokkan mobilnya, hingga tiba di tikungan aku tersenyum 'hm .... udara khas kampungku sudah tercium, udara yang khas dan sejuk.'
"Sudah saya dan ibu turun sini saja Pak, tolong antar Bu Asih dan Mas Rian" ucap Pram sembari menutup pintu mobil.
"Terima kasih Pak" ucap Pram dan tak lama melihat mobil sudah melaju pelan menuju rumah Bu Asih.
Memasuki rumah melihat kondisinya rapi dan bersih sesaat kemudian terlihat Mak Sunar keluar dari halaman belakang.
"E ... Nur sudah datang, kini meraih tas yang aku pegang.
"Capek Mak," kini aku sudah duduk dan berselonjor di kursi hingga beberapa saat kemudian.
Seketika Mak Sunar ke belakang dan aku bergegas menuju kamar, melihat tumpukan kertas yang masih sama letaknya seperti saat aku tinggalkan, memeriksanya sebentar kemudian bergegas bebersih diri.
Masih dengan handuk tersampir di bahu aku kembali duduk memeriksa lembar demi lembar tugas revisi, setelah aku merasa semuanya lengkap dan benar berarti aku langsung bisa menghubungi dosen pembimbing untuk menyelesaikan dan melengkapi tugas akhir ini.
Setelah shalat isya aku pun langsung merebahkan diri di ranjang, mata yang mengantuk dan badan yang lelah serasa paket komplit untuk tertidur.
__ADS_1
Merasakan tidur yang sangat nikmat dan nyenyak, hingga pukul sepuluh pagi baru terbangun dengan mata yang masih sembab aku keluar kamar sembari menguap dan menggaruk kepalaku.
Rumah sudah sepi, menuju meja makan langsung membuka tudung saji aku tersenyum melihat menuny. "Mewah," itu yang aku ucapkan.
Setelah menyesap teh yang sudah dingin kini aku kembali ke kamar dan melanjutkan tidur lagi. Buih ... serasa nyaman sekali.
Masih merangkul guling, tak ada niatan sama sekali untuk membersihkan diri, hingga suara adzan berkumandang, terdengar suara ribut ribut di depan.
Terdengar pintu depan di buka dengan kasar dan suara beberapa orang masuk dalam rumah.
"Semuanya taruh di situ saja Pak dan tolong yang ini langsung taruh di belakang saja" terdengar suara ibu memberi komando.
Tak lama suasana kembali sepi, masih belum mau beranjak keluar dari kamar kini aku malah memindah posisi tidurku menghadap dinding dan kembali tidur.
Dan lagi-lagi aku tertidur, hingga ibu masuk ke kamar dan membangunkan aku dengan omelannya.
"Aduh ... Pram, sudah jam dua siang kamu masih tidur, jendela tak di buka, belum mandi, ih ... malasnya."
Berjalan menuju jendela dan membukanya lebar-lebar masih dengan marahnya.
"Tidur hingga jam segini awas nanti malam kalau sampai begadang."
"Ayo, bangun Pram !"
Dengan menggeliat aku, menjawab ucapan ibu
"Hem ... maaf Bu, kan baru sekali ini saja."
Sembari turun dan langsung membersihkan diri di kamar mandi, ibu yang masih menunggu di kamar hanya geleng-geleng kepala saja melihat aku keluar dari kamar mandi.
"Jangan biasakan Pram, kamu bukan
gadis-gadis tapi kamu wanita dewasa dan sebentar lagi juga menikah. "Oh ya, dua hari lagi Mas mu akan datang melamar dan selanjutnya juga akan menentukan tanggal pernikahannya"
"Lebih cepat, lebih baik dan jangan terlalu lama menundanya Pram, nggak baik, ingat itu! ucap ibu sembari keluar kamar.
"Bu ... ucap Pram sembari menyusul langkah ibu, aku kan belum di wisuda Bu !!"
__ADS_1
"Jangan menolak lagi Pram, lebih cepat lebih baik lagian terlalu lama kalian tunangan." Perkataan ibu tanda tak mau di debat lagi.
"Huf, akhirnya nikah juga, sembari mendudukkan tubuh di kursi ruang tengah.