OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 36 . RIAN


__ADS_3

Berjalan beriringan dengan Rian tak banyak yang kami bicarakan.


"Kapan kau ketemu ibu Pram?" tanya Rian tiba-tiba suara dan mengejutkan, saat kami tiba di persimpangan.


"Akan Pram usahakan, sebelum Pram ke rumah baru di kota Rian," jawab Pram.


Mendengar jawaban dari Pram, terlihat wajah tidak suka dan itu terlihat jelas dari cara Rian menatap Pram.


"Maksudmu?"


"Pram akan melanjutkan kelas tiga di sana sekalian nanti kuliah di sana."


Kini Rian menatap Pram dalam. "Kamu tega ninggalin Ibumu dan Simbahmu yang sedang sakit Pram?" tanya Rian tak percaya.


"Entahlah, nanti Pram pikirkan lagi," ucap Pram sembari melangkah ke arah rumahnya.


"Sudah Pram duluan," ucap Pram sembari berlalu.


"Hati-hati Pram," ucap Rian dan Pram hanya mendengar suara Rian yang samar.


Pram hanya menghembuskan napas berat. Sembari berjalan Pram mengendus bau tubuhnya yang kini tercium asem. Pram makin mempercepat langkahnya. Begitu masuk rumah, Pram langsung menuju kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan air dingin yang terasa segar bahkan kepalanya kini terasa dingin.


Menuju kamar Pram duduk di depan nakas menyisir rambutnya. Tangan Pram terhenti saat pikiran Pram tertuju pada perkataan Rian. "Kau tega Pram meninggalkan Ibumu dan Simbahmu?"


Meletakkan sisirnya, berjalan menuju dapur dan ruang makan, toh nyatanya hampir sehari ini perut Pram belum terisi apapun, melihat kulkas isinya lengkap. Tetapi Pram malas untuk memasak.


'Mungkin membuat mie instan akan cepat, pikir Pram.'


Sembari mengambil telur , cabe dan sosis membuka lemari makan Pram sedikit tersenyum saat melihat dua bungkus mie instan.


"Hm ... rasa soto mantap," ucap Pram sembari menyalakan kompor.


Berkutat di dapur tak perlu waktu lama akhirnya siap juga. Membawa menuju meja makan saat terdengar suara ketukan di pintu, meninggalkan mie yang masih panas di meja begitu saja.


Melangkah ke ruang tamu, melihat siapa yang mengetuk pintu, sedikit membuka pintu, Pram sedikit terkrjut saat melihat siapa yang datang.


"Eh ... kamu! Rian!"


Tidak menjawab pertanyaan Pram, kini Rian malah duduk di teras dengan tidak tahu malunya, sembari hidungnya mengendus dan menghirup aroma sesuatu.


"Sepertinya aku mencium aroma mie Pram?" ucap Rian sembari hidungnya masih mengendus.


"Itu aku yang bikin," jawab Pram asal.


"Boleh aku minta?" pinta Rian dengan tak tahu malunya.


"Ibu pergi dan belum masak," ucap Rian.


Mendengar perkataan Rian


Pram langsung menggaruk kepalanya.


"Lalu apa hubungannya, kamu datang ke sini!"


"Eh ... hiya, ini!" ucap Rian sembari menyerahkan sesuatu yang di bungkus rapi.


"Simpan siapa tahu nanti kamu perlu, tapi imbalannya semangkuk mie ya?" ucap Rian meminta.

__ADS_1


"Aduh!! Pram bikin cuma semangkuk."


Mendengar ucapan Pram Rian menatap iba.


Akhirnya hati Pram luluh juga.


"Ya, sudah! Kita bagi dua," ucap Pram sembari masuk. Kini Pram sudah keluar lagi, membawa dua mangkuk lalu memberikan satu mangkuk pada Rian.


"Ini silahkan ambil dulu," ucap Pram sembari menyerahkan satu mangkuk kosong pada Rian.


Melihat Pram membagi mie, Rian langsung tersenyum. "Begitu sama temen nggak pelit," ucap Rian sembari tersenyum.


"Kamu mesti begitu," ucap Pram sembari menyerahkan sendok dan menaruh segelas air putih.


"Wih ... mantap ini, ada sosis dan telur dan cabenya," ucap Rian. Sementara Pram sendiri sudah menelan ludahnya dari tadi.


"Sudah segini saja," ucapnya.


"Kok cuma sedikit Rian?" tanya Pram memastikan. "Nanti kamu kelaparan kalau aku ambil banyak-banyak," ucap Rian sembari mengambil mangkuk yang di sodorkan Pram.


Memakan mie berdua di teras, sesekali berebut telur dan sosis, hingga di suapan terakhir, terligat wajah Rian yang berkeringat dan bibirnya yang merah. Setelah meletakkan mangkuknya Rian langsung meneguk air putih hingga habis karena kepedasan.


"Mantap Pram mie buatanmu kapan-kapan buatin lagi ya?"


Pram tak menjawab tapi hanya mengangguk karena mulutnya kini juga kepedasan. Hingga beberapa saat kemudian.


"Sudah! aku pulang Pram terima kasih mie nya."


Belum sampai langkah Rian di luar pagar. "Rian ... yang ku panggil langsung berbalik.


"ya!"


"Kamu itu ! Aku kira ada apa."


Setelah memanggil Rian Pram lalu masuk ke dalam sebentar dan ke luar lagi sambil menyodorkan hpnya.


Tak lama Rian tersenyum setelah memasukkan nomor miliknya.


"Ini simpan baik-baik jangan sampai kau blokir lo."


"Sudah cepet pulang hampir magrib sambil Pram mendorong tubuh Rian.


"Terima kasih," ucap Pram sembari menunjukkan hpnya.


Selepas kepergian Rian, Pram langsung ke kamar menaruh hp dan bungkusan dari Rian. Kemudian mengambil air wudhu, melakukan shalat dengan khusuk, menyerahkan semua yang terjadi hari ini dengan ikhlas melupakan sejenak tentang urusan dunia.


Pram menyudahi shalat, saat mendengar beberapa kali hpnya berdering, masih memakai mukena. Pram meraih hp nya. Mengulir tanda hijau, tetapi kini panggilan sudah terhenti.


Melepas mukenanya dan melipat begitu juga dengan sajadahnya. Sengaja menuju tempat faforit sembari menunggu isya tiba, ruang tamu dan jendela lebar tempat Pram menatap langit malam.


Masih dengan lamunan, sesaat Pram tersenyum saat mengingat tentang Rian.


Rian cowok ini, Pram kenal saat akan masuk SMA, anak pindahan dari kota yang selalu merasa cocok dengan Pram, cowok yang mempunyai kesamaan dengan Pram yang memiliki pendamping namun sangat berbeda dengan Pram, Rian kalem tenang dan selalu baik dengan Pram.


Cowok ini sangat khawatir dengan keadaan Pram, saat Pram mengalami musibah. Menemani saat Pram terkena musibah selalu menemani Simbah dan dengan sabar membantu Simbah. Mengajari dengan sabar dan telaten hingga akhirnya Pram bisa sampai saat ini, ikut ujian kenaikan kelas. Satu hal yang pasti dia bisa membuat Pram tenang dan menurut dengan Rian, hanya ini saja saat ini.


Masih duduk di ruang tamu, sudah pukul delapan malam, masih menatap langit mencari bintang kesayangan, bintang yang berbentuk layang-layang. Senyum Pram terkembang saat melihat bintang itu muncul.

__ADS_1


"indah," ucap Pram saat menemukannya di antara ribuan bintang.


Setelah puas menatap langit, Pram berdiri menutup tirai jendela dan mengunci pintu serta memeriksa sekali lagi setiap pintu dan jendela.


"Sepi ... batin Pram. Kini kakinya sudah melangkah menuju kamar. Langkahnya mendadak terhenti saat mendengar suara burung hantu bersuara satu-satu.


"Nguk ... nguk ... nguk ... nguk."


Suara yang menyeramkan hingga beberapa saat terdengar suara kepakan sayapnya yang terbang pergi menjauh.


Masih dengan terkejutnnya, tak berapa lama kembali terdengar suara burung gagak.


"Krak ... krak ... krak... hening sejenak. Kemudian kembali terdengar lagi.


"Krak ... krak ... krak ... dengan suaranya yang serak, kembali burung ini terbang berputar di atap rumah hingga tiga kali putaran."


Seketika bulu Pram meremang, Pram mengambil napas panjang, hatinya yang tiba-tiba serasa makin berdebar dan secara tiba-tiba Pram teringat akan Simbah.


Seakan ini menjadi pertanda jika ini adalah burung pembawa kabar bahwa akan ada orang yang meninggal. Mengingat ini kenapa tiba-tiba bulu Pram meremang, merapatkan selimutnya setelah menaruh hp Pram di sebelahnya tidur.


"Hsssss ... dingin, kembali terasa hawa dingin yang tiba-tiba, sembari menaikkan selimutnya lagi. Tetapi hingga malam Pram masih belum bisa juga memejamkan mata.


"Kenapa hati Pram jadi merasa gelisah?"


Pram hanya tidur bolak balik di atas ranjang.


Melihat sudah pukul dua belas malam, Pram teringat akan bungkusan dari Rian. Pram kemudian beringsut mendekat dan meraihnya dengan cepat.


Bungkusan kecil tapi tebal, Pram menggoyang-goyangkan benda kecil itu, tak ada suara dari dalamnya. Kemudian Pram membolak balik kotak itu tak ada catatan apapun.


Pram sedikit tersenyum. "Ada-ada saja Rian ini," ucap Pram pelan sembari menyobek pembungkusnya dengan perlahan.


Mata Pram sedikit melebar saat ada tulisan di balik pembungkus pertama tersebut.


"Semoga berguna baca bila merasa kesepian."


Kembali Pram membuka pembungkus keduanya kini sudah terlihat sebuah al quran saku beserta pembungkusnya.


Mencium al quran itu dan meletakkan di atas meja nakas. 'Pram akan membacanya Rian, terima kasih,' ucap dalam hati.


Entalah, perasaan Pram sedikit tenang hingga beberapa menit kemudian, Pram kini sudah menguap dan kantuknya sudah datang, memejamkan mata dengan sendirinya.


Terbangun saat subuh, tak mendengar alarm yang Pram setel pukul tiga pagi seperti pagi-pagi biasanya. Tetapi pagi ini Pram sempatkan untuk membaca al quran pemberiaan Rian.


Sudah pukul tujuh pagi saat Pram selesai membereskan rumah dan mandi, sengaja tak masak hanya ingin membuat makanan praktis saja.


"Pram ... Pram ... suara seseorang memanggil. Dengan bergegas Pram menuju ruang tamu dan membuka pintu.


"Hus ... masih pagi," ucap Pram saat melihat siapa yang datang.


"Jangan teriak-teriak Rian," ucap Pram begitu tahu siapa yang memanggil.


Rian hanya menggaruk kepalanya. "Ayo ke rumah Simbah kamu," ajak Rian.


Merasa heran dengan tingkah Rian.


"Kan lebih dekat dari rumahmu Rian?" ucap Pram. Tak menghiraukan ucapan Pram, kini Rian malah naik ke teras, meraih kunci yang Pram pegang lalu mengunci pintunya.

__ADS_1


"Jangan lelet Pram," sembari menarik tangan Pram dan sebelumnya menatap Pram dalam.


__ADS_2