OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 48 . MASIH BANTU AKU


__ADS_3

Pram merasakan dadanya semakin sesak, ada rasa sedih mendalam melihat ini. Akhirnya dengan sedih Pram memilih untuk kembali ke raganya, Budhe Lastri langsung sedikit menjauh begitu juga dengan Sofia, terisak sendiri di dalam kamar, begitu rumit kah semua ini?" ucap Pram di tengah isaknya.


Banyak misteri yang harus di selesaikan, kini pikiran Pram tertuju pada Ibu.


"Ya ... ibu."


Tak ingin berlama-lama, jujur Pram juga perlu waktu untuk mencerna semua ini, sudah hampir subuh saat Pram tersadar dari semua pikiran yang menganggu, mengambil napas sejenak mencoba untuk menenangkan hati. Letih saat ini yang Pram rasakan. "Rian ... ucap Pram pelan seakan mencari sosok yang


membuatnya tenang.


Sepuluh menit kemudian terdengar adzan berkumandang, Pram segera mandi melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, menyerahkan dan memasrahkan semuanya pada Sang Maha Pencipta.


Setelah melepas mukena dan sajadah pagi ini Pram merebahkan tubuhnya di kasur, memejamkan mata untuk hening sejenak


mengistirahatkan raga dari aktifitas semalam.


Sudah hampir senja saat ponsel Pram terus berbunyi, meraba-raba di mana ponselnya berada dengan mata masih mengantuk.


Langsung mengulir tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelpon. "Pram ... suara tak asing seorang di seberang sana." Seketika Pram membuka mata lebar saat mendengar itu suara Ibu.


"Ya ... jawab Pram."


"Besok pulang Pram bantu ibu, kamar belakang Simbah roboh tertiup angin kencang," ucap Ibu menjelaskan.


"Ya, Bu," ucap Pram tanpa menolak.


Mendengar di seberang sana mematikan ponsel dengan bergegas Pram mandi dan beberes tak mungkin menunggu esok.


"Budhe," panggil Pram pelan, seketika Budhe dan Sofia mendekat.


"Budhe kenalkan aku Prameswari aku tak berjanji tapi aku akan berusaha," ucap Pram sembari menatapnya .


"Tolong sempurnakan aku dan temukan tulang belulang Budhe," ucap Budhe pelan. Aku hanya mengangguk tanda setuju.


"Sofia kamu akan sendiri disini, mau ikut? ajak Pram. Melihat sekilas Sofia menggeleng.


"Sofia menunggu cahaya Kak, menunggu seseorang datang menjemput Sofia," ucap Sofia sembari menunduk.


"Andaikan itu belum juga datang? Pram melihat Sofia tersenyum. "Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba dan biarkan aku jadi penghuni taman Kakak," ucap Sofia pelan.


"Kakak ijinkan dan jangan pernah berpindah tempat Sofia."

__ADS_1


"Budhe kembalilah ke raga Pram," pinta Pram dengan hormat.


Beberapa saat badan Pram tergetar pertanda Budhe sudah masuk, Pram melihat jam masih pukul setengah enam sore, jika pulang sekarang berarti nanti kurang lebih pukul delapan sampai.


Benar dugaan Pram pukul delapan aku sudah sampai, melihat kedatangan Pram tiba-tiba seketika ibu terkejut. "Katanya besok Pram ? Aku terdiam sesaat tak menjawab pertanyaan Ibu.


Saat aku tiba di ruang tengah, aku langsung menarik Ibu untuk duduk juga. "Ada apa Pram?" tanya Ibu heran.


"Bu ... jika aku tanya sesuatu pasti ibu mau menjawab dengan jujur? Kini aku menatap Ibu dengan takut.


"Kau baik-baik Pram?" tanya Ibu lagi.


"Bu ... apa benar aku punya Budhe? Mendengar ini ibu melihatku lagi.


"Pram ... "


"Jujurlah Bu, karena aku tahu pendamping kecil Pram ternyata Budhe Pram."


Aku melihat mata ibu berkaca-kaca. "Akhirnya kau tahu Pram, maafkan Ibumu ini jika tak cerita jujur."


"Pram sebenarnya Ibu baru tahu ini juga dari cerita ibunya Rian," ucap Ibu menatap jauh ke depan.


"Sebenarnya ... kini Ibu mengambil napas dalam-dalam. Budhe mu meninggal karena tertusuk Pram dan yang melakukan itu masih satu garis lurus dari keturunan leluhurnya Srikanti."


tanpa sepengetauhan Simbah mereka menguburkan Budhe di kamar, Pram


dan mengatakan Budhe mu hilang."


"Ya, sejak saat itu Simbah mu sangat terpukul hingga simbah mu sedikit sakit dan lama setelahnya, hingga melahirkan Ibu kembali.


"Bu ... apakah ibu akan membantu Pram jika Pram mengatakan yang sesungguhnya."


"Maksud mu, kini aku mendekat dan merangkul, besok kita panggil pegawai sawah dan kebun untuk membantu kita membongkar rumah belakang."


"Budhe meminta tolong pada Pram untuk menyempurnakan dan mensucikan tulang Budhe, karena sudah ada yang menunggu Budhe."


Tanpa banyak kata ibu langsung memeluk dan menangis. "Sudah Bu, kita harus ikhlas dan Pram harap Ibu tak menyembunyikan apapun dari Pram, toh akhirnya Pram pasti tahu dengan sendirinya."


Ibu semakin erat memeluk. "Maafkan Ibu Nak."


Cukup lama duduk berdua di ruang tamu meski tak membicarakan apapun lagi.

__ADS_1


"Sudah tidur Pram, besok kita akan kerja keras," ucap Ibu sembari menutup tirai dan mengunci pintu.


Benar kata ibu pagi-pagi sekali aku dan ibu datang ke rumah Simbah. "Kenapa hanya kamar ini Bu yang atapnya hancur," tanya Pram pelan.


"Mungkin ini semua ada yang mengaturnya," ucap Ibu.


Tiba-tiba tangan Pram kini sudah menyisihkan beberapa barang. "Pram ... entah Bu, kok aku tergerak menyisihkan yang sebelah sini."


"ya, tepat di bawah ranjang Simbah, aku menyeretnya dengan bantuan ibu. "Pelan pelan Pram kendalikan dirimu," mendengar ucapan ibu aku terdiam, mengambil napas sesaat. 'Budhe sabar ya?' ucap batin Pram.


"Bu, Pram juga memerlukan bantuan beberapa orang lain," ucap Pram. Mendengar aku berbicara demikian. Ibu akan panggil pekerja di sawah dulu biar bantu-bantu," ucap Ibu.


Cukup lama ibu pergi , saat datang sudah ada beberapa pekerja yang ikut, tak berapa lama mereka sudah membongkar satu persatu menyisihkan ini dan itu, lalu menumpuknya di satu tempat, ranjang yang sempat Pram tarik kini sudah bergeser sesuai dengan arahan Pram.


Setelah ranjang berpindah tempat dengan tak sabar tangan Pram mulai mengeruk tanah tempat tulang Budhe di kuburkan.


Ternyata cukup dalam, begitu terlihat benda putih dengan hati-hati Pram mengeruknya kemudian menyisihkan tanahnya.


Badan Pram serasa lemas saat mengetauhi bahwa tulang Budhe masih utuh tak berserakan sama sekali. "Bu ... panggil Pram dengan lemas, beberapa saat ibu mendekat dan saat melihat apa yang ada di depan Pram. "Astafirullah," teriak ibu dan itu mengagetkan para pekerja.


Mereka segera berhambur untuk mendekat dan seketika mereka melotot setelah melihat


apa yang ada di depan mereka.


"Ya Allah," ucap mereka serentak, seketika Ibu tersadar. "Pak tolong buatkan lubang dekat dengan makam suami saya dan tolong belikan kain kafan dan perlengkapannya dan tolong untuk yang lainnya sembari menyerahkan beberapa lembar uang.


Aku dan ibu duduk terdiam menatap apa yang di depan kami. Kamar ini nampak terang dan terik karena tak beratap tapi masih terkesan singup.


Setelah semua siap akhirnya dengan bantuan para warga kami menyelesaikan semuanya.


Sudah menjelang magrib saat semuanya beres, secara tiba-tiba tubuh Pram bergetar, kini sosok Budhe telah keluar dari tubuh Pram. Setelah mengucap kata amin sebagai penutup dari doa yang kami panjatkan.


Terlihat di sudut sana, sudah ada Simbah yang menunggu dengan tersenyum, aku melihat Budhe membungkuk tanda terima kasih. Melangkah bersama Simbah hingga akhirnya mereka menghilang bersama kabut tipis yang turun.


Ibu masih menatap nanar tanah gundukan baru yang berukuran kecil.


"Pram," ucap ibu sembari merangkul.


"Sudah Bu kita pulang ya? Selanjutnya kita kirim saja doa dari rumah." Kini aku sudah menggandeng tangan Ibu.


Banyak yang terjadi tapi semua menjadi misteri, satu persatu terungkap hanya satu keinginan Pram, hingga suatu saat nanti akan ada seseorang yang selalu mendukung dan mengerti dan menjadi penguat, karena aku sadar sangatlah masih jauh dan banyak yang harus aku lewati.

__ADS_1


"Dingin Bu," ucap Pram sembari mengeratkan genggaman tangannya, Ibu hanya tersenyum menatap dengan teduh.


__ADS_2