
Waktu terus berlalu, tak terasa anak-anakku tumbuh dengan cepat Kinara dan Kinanti sudah masuk SMP, Lintang kini sudah kelas empat sementara Arion sudah masuk TK B.
Semua hal terjadi silih berganti aku juga mulai merintis usaha baru meski masih tahap awal sengaja aku membeli ruko dulu dan mulai menjalankan nya sesuai rencana awal sementara dua ibu, kini bersiap-siap untuk pelatihan naik haji, semua terlihat sibuk.
Namun ada hal yang membuatku semakin takut, Kinara mulai semakin terasah kemampuannya, semakin sering bertanya ini dan itu padaku dan tentang Zubaid, sosok ini seperti alarm untuk Kinara dan Zubaid benar benar menjaga Kinara.
Hingga di suatu sore, Kinanti marah besar dengan Kinara dan itu membuat dua anak kembarku ini melakukan perang dingin dengan marah tak saling menyapa satu sama lain.
Sudah hampir dua hari mereka terus bertahan dengan sikap mereka, hingga Lintang menceritakan pada ku, sesaat aku menatap dua twin K mungkin aku yang tak peka atau aku yang terlalu sibuk.
Hampir malam aku masuk ke kamar mereka menghampiri kamar Kinanti lebih dulu, melihatnya serius membaca tak sadar saat aku masuk dalam kamarnya.
Sesaat aku memegang bahunya "kok belum tidur, nak? sudah malam" ucapku sembari duduk di sisinya.
Kinanti menatapku sejenak kemudian menutup bukunya dan duduk di sebelah ku.
"Kenapa?ada yang mau di ceritakan!" tanyaku lagi.
Masih diam dan menatapku , sesaat kemudian
" Bu ....apa menjadi seperti Kinara itu berat ?
ucapnya sembari memainkan jari jari tangannya .
Ku tatap Kinanti sejenak "Kenapa memang?"
Kini Kinanti menggeleng "aku sering melihat Kinara diam saja bu, seperti ada yang membuatnya terus menghindar dan terus menahan sesuatu kadang seperti benci, takut dan kadang terlihat sedih" ucap Kinanti lagi.
"M .... aku sebenarnya lagi marah dengan Kinara karena dua hari yang lalu, aku berdebat dengannya hingga akhirnya Kinara membuktikan sesuatu padaku dan dengan mudahnya Kinara melakukannya bu, hanya dengan menyentuh kening ku Kinara sudah membuka mata batinku, pertama Kinara mengenalkan aku pada sosok Zubaid bu, tapi ada yang membuatku takut bu ....secara perlahan banyak sosok-sosok aneh yang datang mendekat dan semuanya tak baik dan itu sangat membuatku takut bu, akhirnya Kinara kembali menutup mataku hanya dengan kembali menyentuh kening ku lagi."
Aku sedikit terkejut mendengar cerita Kinanti secepat ini Kinara kemajuannya, hanya napasku saja yang terdengar berhembus dengan kasar.
"Lalu, sekarang menurut Kinanti harus bagaimana dan apa yang membuat Kinanti marah"
"Sebenarnya aku gak marah bu, hanya jengkel karena Kinara melakukan itu tanpa ijin dariku dan dengan seenaknya Kinara menyuruh Zubaid menjaga ku."
__ADS_1
"Aku kan takut bu dan aku tak mau jadi seperti Kinara bu."
Kembali aku terkejut, se khawatir inikah Kinara dengan saudari kembarnya atau ....."
"Hm....hanya itu? ku lihat Kinanti mengangguk.
"Kinanti .... "gak boleh jengkel seperti ini, dosa lo gak saling bertegur sapa, apalagi bersaudara
besok harus sudah baikkan, Kinanti terkadang niat baik seseorang harus kita hargai nak, mungkin ada hal yang di khawatirkan Kinara padamu hingga Kinara berbuat demikian."
"Menghadapi Kinara harus sabar, toh Kinara kan selama ini baik sama Kinanti, ingat kalian bersaudara dan kalian harus menjaga agar hubungan kalian baik tak untuk Kinara tapi untuk dua adik kalian juga, ingat itu nak."
"Sekarang tidur" sembari ku peluk Kinanti.
Kembali ku tatap wajah Kinanti saat akan keluar dan betul-betul menutup pintu kamarnya.
Berhenti sejenak untuk menenangkan hatiku, kini langkahku menuju kamar Kinara, sedikit membuka pintu kamarnya, aku sedikit tersenyum melihatnya, Kinara berdiri menatap ke luar jendela dan memandang langit.
Melihat Kinara seperti itu jadi teringat diriku yang dulu, berjalan mendekat ke arahnya, "kok belum tidur nak? sembari ikut berdiri di depan jendela kamar Kinara.
Melihatku sejenak "belum ngantuk bu, lagian langit malam ini indah, banyak bintang berkedip, lihat bu, itu ada bintang layang layang" ucap Kinara sembari menunjuk langit.
Tapi kini terlihat diam dan menunduk dengan cepat Kinara dari yang ceria berubah ke wajah yang sedih.
"Hm, ada apa? ucapku sembari merangkul Kinara.
Ku lihat Kinara semakin menunduk "hey .... kok bersedih, mau cerita? tanyaku sembari tersenyum.
Lama tak menjawab, hingga "aku sudah membuat Kinanti marah bu dan dia tak menyapaku" masih dengan wajah menunduknya.
"Mau cerita? tanyaku untuk memastikan lagi.
ku lihat Kinara mengangguk "sini kita cerita" sembari duduk.
Setelah duduk dan aku masih menunggu Kinara untuk cerita.
__ADS_1
"Bu ....bapaa salah jika aku ingin berbuat baik pada Kinanti? tapi aku juga salah sudah membuat Kinanti ketakutan" ucapnya sembari menatap lantai kamar.
"Aku hanya ingin mengenalkannya pada Zubaid dan mengenalkan pada dunia ku bu, tak ada maksud lain atau jahat pada Kinanti. "Bu .... jika Zubaid aku minta untuk menjaga Kinanti apa ibu marah?"
Berhenti sejenak kemudian kembali melanjutkan bicaranya "Kinanti itu kembaranku bu dan wajahku mirip, sungguh bu aku takut, jika ada sosok-sosok yang ingin usil padaku tapi salah sasaran karena kemiripan wajah kami."
"Untuk aku, aku bisa melindungi diriku tapi untuk Kinanti? sungguh bu ini yang menjadi ketakutan ku, setidaknya jika ada Zubaid hatiku sedikit tenang bu."
Sesaat ku tatap Kinara, secepat ini dan sedewasa ini memikirkan sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh ku.
"Nak, sembari ku angkat wajahnya dan ternyata Kinara sudah menangis.
"E ... kok menangis, ibu gak marah Kinara, tapi sebelum melakukan sesuatu, tanya dulu pada Kinanti dan jelaskan maksud Kinara, karena tidak tahu dengan maksud Kinara kesannya Kinara jadi seperti mengerjai Kinanti, mulai sekarang jika Kinara punya keinginan bicarakan baik-baik dengan Kinanti, jika Kinanti menolak berarti Kinara harus menerima keputusan Kinanti.
"Kinara dan kinanti adalah saudara seharusnya hal seperti ini tak perlu terjadi, ibu yakin Kinara sudah paham dan ingat, tidak boleh marah terlalu lama, dosa nak."
"Ibu ingin kalian segera berbaikan bersaudara harus rukun dan ini berlaku juga untuk dua adik kalian, Kinara paham.
Ku lihat Kinara mengangguk dan tersenyum kemudian merangkul ku.
"Tidur nak dan jangan menggambar, tidur dan tirainya juga di tutup, nanti zubaid ngintip Kinara, ucapku sembari melangkah ke luar dan menutup pintu kamar Kinara.
Begitu keluar nampak mas Rian sudah berdiri di depan kamar dengan tatapan heran mencoba untuk bertanya aku berjalan mendekatinya dan mengajaknya masuk dalam kamar, ku hempaskan tubuhku di ranjang begitu saja.
"Ada apa? tanya mas Rian sembari mendekat.
Ku lihat mas Rian langsung berbaring di ranjang "sini" sembari menepuk kasur di sisinya.
Ku tatap sejenak mas Rian wajah yang selalu tersenyum menatapku "ya " dialah tempat terakhir ku untuk menumpahkan semua keluh kesah ku dengan ikhlas menyiapkan bahunya untukku bersandar dan berkeluh kesah, menyiapkan hatinya dengan hangat.
"Pram, panggil mas Rian dengan segera aku tidur di sisinya dan dengan senyum mas Rian merangkulku "cerita, jangan di pendam sendiri, masih banyak stok tong besar untuk menampung semua cerita mu" ucapnya sembari tersenyum.
Inilah yang ku suka dari mas Rian dalam keadaan apapun masih mau mendengarkan cerita dan keluh kesahku, secara pelan dan bertahap aku menceritakan semuanya tanpa aku kurangi dan aku tambahi.
Sambil beberapa kali menguap akhirnya ku akhiri ceritaku.
__ADS_1
"Ternyata anak gadis kita sudah pada besar mas" ucapku sambil kembali menguap.
"Tidurlah, kita lihat besok reaksi mereka" ucap mas Rian sembari mas Rian ikut memejamkan matanya.