
"Kau .....teriak Kinara keras, sesaat wajah Kirana memerah dan giginya ter lihat beradu dengan keras.
Namun pandanganku bukan pada amarah Kinara tapi sosok yang di belakang Kirana,ada sepasang Harimau yang mengawalnya dan .... seketika aku tersenyum siapa yang telah datang, ya, leluhurku datang dan membantu Kinara.
Dengan percakapan batin yag aku lakukan akhirnya aku sedikit maju dan berdiri di belakang Kinara.
"Sudah, aku peringatkan sejak awal jangan ganggu saudariku, pergi atau aku ......akan" ucapannya terhenti sesaat.
Membuatmu kehilangan tempat mu di sana itu sangat mudah untukku dan kau akan terusir dari mall itu untuk selamanya" ucap Kinara dengan suara besarnya.
Seketika ibu keluar dari kamar mendengar keributan ini, menatap dengan heran, sementara Lintang dan Arion terduduk takut di kursi.
Masih ku kawal anakku yang penuh amarah dan berusaha membereskan ini .
Tiba-tiba Kinara mendekat ke arah Kinanti memegang satu tangannya, lama hingga keringat dingin ke luar dari tubuhnya, ku lihat dia sedang berusaha untuk melawan sosok tua, berwajah seram dengan menggunakan baju berwarna hitam dengan surban hitam di kepalanya serta rambutnya yang tergerai panjang.
"Hhhhhhh .... tiba-tiba Kinanti tertawa dengan keras, aku hanya ingin mengenalmu cah ayu, aku seneng karo cah ayu iki."
"Aku sudah menolakmu dan kau masih belum mengerti, pergilah sebelum aku benar-benar marah, jangan pernah lagi menganggu saudariku, teriak Kinara lagi.
Aku yang sedari tadi diam akhirnya secara diam-diam aku mulai membantu Kinara dengan menyalurkan hawa murni melalui jurus ku dengan begitu sepertiga ilmuku sudah masuk ke Kinara.
Sesaat mata Kinanti melotot dan menepis tangan Kinara serta berkacak pinggang .
Menatap ke arahku tajam, kemudian tertawa terkekeh bukan dengan suara kerasnya seperti tadi.
"He, he... "ternyata sumber ilmunya darimu, sesaat Kinanti sedikit tersenyum kemudian.
Kini tawa sosok ini berubah lagi menjadi tawa yang keras.
"Hhhhhh .... kembali Kinanti tertawa tak jelas.
"Hem .... jaga anakmu ini, suatu saat dia akan lebih baik darimu dan lebih berbakat, jika kau lengah aku akan datang lagi, cah ayu aku suka caramu, kamu seperti air tenang menghanyutkan dan mematikan."
Tanpa ada celotehan dari Kinanti lagi, akhirnya sosok ini pergi begitu saja dan Kinanti terkulai lemas, sementara Kinara masih berusaha mengatur napasnya yang sedari tadi memburu, perlahan kembali tenang seperti semula.
"Ya, sosok ini memberikan aku peringatan, bahwa Kinara seharusnya lebih aku jaga begitu juga dengan anak-anakku yang lain.
Setelah Kinara kembali tenang, ku lihat pendamping Kirana sudah pergi dan menghilang, tubuhnya seketika lemas.
__ADS_1
"Mbak tolong ambil dua gelas air putih, sesaat suasana masih hening dan mencekam.
Sisa-sisa kemarahan Kinara membuat kami terkejut, hingga suara ibu mertuaku memecah kesunyian "Rian apa sebaiknya Kinanti kita buat seperti mu dulu, memiliki pendamping yang akan muncul saat darurat dan genting" ucap ibu mertuaku.
Mas Rian menatapku "gimana menurut ibu, sudah dua kali Kinanti malam ini kerasukan aku jadi kasihan bu" ucap mas Rian sembari terus mengusap kepala Kinanti.
Ibu mertuaku masih terdiam sesaat kemudian menatap ke Arion dan Lintang "kalian tidurlah sudah malam."
"Mbak, tolong antar mereka ke atas" ucap ibu mertuaku lagi.
Setelah Arion dan Lintang ke atas, tiba-tiba Kinara menangis "bu .... aku kan sudah pernah bilang, ini yang aku takutkan bu, ini ... sembari mengikis air matanya, aku, aku, seketika ku dekap tubuh Kinara, "ssstttt .... tenang, tenang nak" ucapku sembari mengusap kepala Kinara.
"Bu .... aku takut, jika ini terulang lagi dan aku juga gak mau Kinanti terus terusan menjadi ikut tersiksa.
Ibu mertuaku masih mendengarkan percakapan kami kemudian "gimana Nur, ini kan pernah kita bahas, kau setuju!"
Ku lihat ibu ku mengangguk "Rian ibu akan memberi pendamping pada Kinanti, tapi ini dari leluhur kita dan yang dulu selalu mendampingi mu, seperti halnya dulu dirimu dia akan datang dan muncul saat Kinanti dalam bahaya" ucap ibu menjelaskan.
"Pram, gimana menurutmu?tanya ibu mertuaku, "aku setuju bu, jika itu baik untuk Kinanti.
"Kinara dan aku, tak mungkin akan terus mengawasi Kinanti, dia juga butuh berkembang dan maju" ucapku sembari menatap Kinanti yang tertidur.
Setelah itu kembali ibu mertuaku meniup ubun ubun Kinanti dan kini menutup tangannya di atas ubun-ubun nya sembari membaca sesuatu.
"Sudah ... bawa dia ke atasRian. "Cah ayu tidur sudah malam sembari mencium kening Kinara hati hati nak!" ucap ibu mertuaku.
Ku lihat mas Rian menggendong Kinanti sementara Kinara berjalan di sisi bapaknya sembari memegang ujung bajunya.
"Pram ... panggilan ibu mertuaku, sedikit mengejutkan aku, kenapa kau melupakan apa yang menjadi anugrahmu, jangan pernah kau lupakan itu, kau telah lama membiarkan dan tak menggunakannya makanya mereka memilih Kinara, untuk penerus selanjutnya" ucap ibu sembari menghembuskan napas kasarnya.
"Sudah lama ibu ingin berbicara, tapi melihat kesibukanmu seakan ibu lupa dan tak tega melihat mu, hingga sekarang aku berani berbicara padamu Pram.
"Pram ... mulai sekarang ibu akan ikut menjaga Kinara dan Kinanti, ibu tahu ini jadi tugasmu untuk mendidik mereka, tapi lihatlah Lintang dan Arion mereka juga butuh kamu" ucap ibu lagi.
Sesaat aku seperti melewatkan sesuatu ya, komunikasi yang sudah lama tak terjalin dengan baik, karena kesibukan kami masing masing.
Aku masih terdiam sesaat "bu, aku sangat menghormati keputusan ibu dan aku sangat berterima kasih, toh dulu ibu juga yang membantuku, aku tak akan ragu untuk itu bu."
Setelah mendengar jawabanku, ibu mertuaku dan ibuku langsung kembali menuju kamar masing-masing begitu juga dengan ku.
__ADS_1
"Mbak istirahat juga" ucapku sembari naik ke atas.
Melihat sejenak ke kamar Arion dan Lintang dan kemudian melihat ke kamar Kinanti, saat membuka pintunya aku sedikit terkejut saat melihat mas Rian tidur di tengah-tengah bersama ke dua anak gadisnya.
Dengan perlahan aku menutup pintu kamar, sedikit menghela napas panjang ku.
Kenapa semua terjadi lagi, ternyata dengan membiarkan anugrah yang ku miliki, akan berdampak pada anak-anakku, benar kata ibu aku telah melupakan anugrah ini, sehingga leluhurku memilih dari salah satu penerusku.
Aku berdiri menatap ke luar, semuanya sudah sepi hanya ada gelapnya malam.
Hanya ada suara angin yang berhembus hingga terdengar suara samar-samar, di telingaku "pasrahkan semuanya, dari semua yang terjadi sudah ada yang mengaturnya dan kau, kau harus ingat, ini akan terus berlanjut hingga tujuh turunan" sesaat aku menatap suara yang berbisik, setelah mengetauhi siapa yang datang, aku menunduk hormat pada leluhurku.
"Aku sudah memasrahkan semuanya, tapi sungguh hatiku berat melihat ini, seharusnya semua berhenti hanya padaku, kenapa leluhur juga memilih anakku" ucapku lagi.
"Itu karena janji dan janji adalah hutang yang harus di tepati" ucap leluhurku.
"Kau harus ingat perjalanan anakmu akan lebih mudah, tidak seperti mu dulu Pram, lihat lah dan amati serta jaga mereka, kau sudah lihat sendiri jika Kinara dalam bahaya dua Harimau itu akan datang mengawal untuk memberi keberanian pada Kinara dan kedatanganku akan mewakilimu di manapun nantinya Kinara berada" ucap sang leluhurku memberi pencerahan.
Tak terasa sudah dini hari, serasa aku kembali ke masa ku dulu di mana aku harus kembali sering begadang tiap malam.
Belum juga aku beranjak dari jendela, nampak bayangan berkelebat di halaman "mungkin Zubaid pikir ku, tapi .... sedetik kemudian nampak Zubaid duduk di pohon bugenfil.
Aku langsung keluar dari ragaku, sukma ku kini sudah memindai seluruh halaman Zubaid yang tahu kedatangan ku langsung turun dan memberi hormat.
"Tunggu di situ, jangan ke mana mana" ucapku sembari menatapnya.
"Zubaid, siapa yang baru lewat tanyaku menyelidik.
Dengan tertunduk Zubaid menjawab "dia memang sering lewat sini sekedar lewat, itu rumahnya di belakang rumah ini, ada pohon kelampis di sana dan dia tinggal di sana,aku juga selalu mengawasi siapa saja yang lalu lalang di sini" ucap Zubaid menjelaskan.
"Terima kasih Zubaid" ucapku sembari aku kembali ke ragaku.
Ayam jago sudah berbunyi, tanda hampir subuh, aku masih saja berdiri di jendela hingga sebuah tangan merengkuhku dari belakang.
"Kebiasaan kalau aku tak di kamar pasti akan begadang "tidurlah sejam dua jam, kasihan lah pada tubuhmu ini, Pram...."
"Sudah nanggung mas, nanti siang saja aku balas dendam tidurnya" ucapku sembari mengenggam erat tangan mas Rian.
"Shalat mas, sudah subuh" sembari ku lepas tangan mas Rian.
__ADS_1