OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 82 . MBAH LASMI


__ADS_3

Begitu masuk kamar aku sangat terkejut, aku melihat Pram sudah kembali muntah, tubuhnya semakin lemas dan muntahan darahnya sudah membasahi bantal.


Dengan segera aku bantu untuk duduk mendengar keributan di kamar Mbah Lasmi dan ibu langsung masuk.


Melihat ini ibu terus menangis menatap anak semata wayangnya. "Rian, panggil ibu mu Nak, di sela-sela tangisnya."


Merasa bingung apa yang harus aku lakukan lebih dulu. "Mas Rian ... panggil Pram dengan lemah."


"Hem ... tatapan Simbah kini tertuju padaku."


"Nak, katakan di mana letaknya sumber dari masalah ini dan bisa kau antar Mbah kesana? Bawa serta Pram ke sana Nak."


Masih bingung harus memilih yang mana


"Cepat," ucap Mbah Lasmi lagi.


"Mari mbah," sembari berjalan keluar aku mendekati Hardan.


"Tolong panggil ibuku Dan dan tolong bawa ke rumah Simbah Pram." Hanya itu langsung aku masuk kembali ke kamar memapah Pram.


Karena tubuhnya yang semakin lemah akhirnya Pak Paijo ikut membantuku, serta merta mereka juga ikut, sepanjang perjalanan menuju rumah Simbah para tetangga melihat dengan heran dan saling menatap.


Tak butuh waktu lama akhirnya kami datang juga, sangat aneh saat aku melihat pohon sawo, pohonnya sudah mulai mengering dan lubang itu juga semakin besar daunnya yang tadi mulai menguning sana sini sudah mulai kering dan meranggas.


Saat tiba Mbah Lasmi langsung tersenyum


"Belum ada seminggu," ucapnya pelan.


"Nak, siapa ibu Pram?" tanya Mbah Lasmi sambil melangkah masuk.


"Dudukkan Pram dulu Nak dan tolong bersihkan dulu makam ini, aku dan yang lainnya langsung membersihkan makam ini.


Nampak Mbah Lasmi langsung duduk dan komat kamit. "Rum, Rum ... hanya itu yang di ucapkan langsung kembali berdiri.


Melangkah mendekat ke Pram duduk di belakangnya, suasana terasa hening hanya suara angin yang berhembus perlahan.


Kini tangan Mbah Lasmi memegang ubun ubun Pram dan membaca mantra, suasana menjelang sore serasa makin mencekam saat keluar sosok cantik dari pohon sawo dan masuk ke raga Pram.


Pram sedikit terbatuk dan kembali mengeluarkan darah, saat aku berjalan mendekat Mbah Lasmi melarangku dengan tanda dari tangannya.

__ADS_1


Tak berapa lama Mbah Lasmi kembali komat kamit, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang daun pohon sawo yang telah kering kini berjatuhan dan kini hanya menyisakan pohon sawo yang mulai terlihat tua dan berlubang.


"Kalian menepilah dan sedikit menjauh,"


ucap Mbah Lasmi, lagi.


Sudah tak memegang kepala Pram, tapi tangannya masih sibuk mengusap punggung Pram, angin masih bertiup sedikit kencang makin lama makin kencang, dahan-dahan dan ranting pohon sawo mulai jatuh dan turun ke tanah, tak lama setelah itu terdengar suara retakan. Kreeeek, krrreeeek, krrrreeeeek ... dan dumb ... "


Suara keras pohon tumbang membuat warga di sekitar rumah Simbah berhambur keluar untuk melihat apa yang terjadi .


Mbah Lasmi hanya tersenyum setelahnya


"Sekarang semuanya sudah selesai dan kau Pram, tinggal kau pulihkan kondisimu."


"Dan aku sendiri yang akan menjaga mu."


"Nak, tolong bawa dia pulang dan Ibunya Pram, kemarilah," aku melihat Simbah hanya tersenyum dan menepuk bahu ibu Nur tiga kali bergantian kanan dan kiri.


"Sudah, semuanya sudah aman dan sudah saya kembalikan ke asalnya."


Ibu hanya terdiam tanda tak mengerti, melangkah kembali menuju rumah.


Masih sama Pak Martoyo masih belum juga beranjak untuk pulang dalam keributan ini pak Martoyo lebih mengikuti apa yang terjadi.


Sedikit terkejut saat semua sudah terlihat bersih. "Istirahatlah, jika bisa tidurlah," ucap Mbah Lasmi dan keluar lagi bersamaku dan memilih duduk di ruang tamu bersama yang lainnya.


Nampak Satria tengah berbicara dengan gadis yang baru datang tadi sedangkan Hanifa duduk manis dengan pak paijo dan Martoyo di sebelahnya duduk teman-teman ku.


Suasana nampak hening saat ibu datang dan masuk. Bagaimana keadaan Pram?" tanya ibu sedikit tergopoh.


Semua mata langsung menatap kearahku dan ibu. "Baik Bu, sekarang istirahat," jawab Rian pelan.


Tak lama ibu Nur keluar dengan Mak Sunar membawa minuman dan cemilan, menaruhnya di antara kami.


"Maaf, atas ketidak nyamanan ini, kenalkan saya Nur ibunya Pram, kini Bu Nur sudah bersalaman satu persatu dengan mereka.


Pak Martoyo yang sedari diam seperti mengingat sesuatu akhirnya membuka suara juga. "Kau Nur dan itu Asih kan? Sudah aku duga pasti Pram anakmu, menilik nama dan alamat yang di sebutkan, aku sangat yakin dan percaya jika Pram anakmu Nurlaila dan kau Asih kan?"


Kembali laki-laki ini mengulang ucapannya untuk meyakinkan.

__ADS_1


Ibu Nur dan ibuku saling berpandangan kemudian tersenyum. Kamu, Martoyo? Jadi gadis bandel ini anakmu."


Mendapat teguran seperti itu Pak Martoyo tersenyum malu. "Ayo sana minta maaf,"


ucap pak Martoyo pada Hanifa.


"Oh ya, kenalkan, ini Paijo, Mbah Lasmi dan Ida calon istri Satria," Seketika semua mata memandang dengan terkejut.


"Maaf Mbah, kalau saya belum bisa menyambut dengan baik," ucap ibu Nur.


Mbah Lasmi tersenyum dan menatapku," siapa namamu tanya Mbah Lasmi.


"Oh, ini Rian, calon suaminya Pram Mbah."


"M, kemudian manggut-manggut dan tersenyum penuh rahasia."


"Nur, aku ijin untuk tinggal di sini seminggu boleh kan? Lah geh monggo Mbah."


Tak lama kemudian nampak mereka sudah berbincang masing-masing, ibu yang sedari tadi sudah berbincang dengan Martoyo pun kini memanggil Bu Nur.


Aku masih diam dan memperhatikan hingga Mbah Lasmi menyentuh pundakku. "Setelah ini semua akan baik-baik saja, terima kasih sudah mau menjaga penerus kami."


Aku menatap Mbah Lasmi dengan heran


"Maksud Mbah? Hanya tawanya saja yang keluar.


Suasana makin malam makin rame dengan perbincangan mereka, Pak Martoyo akhirnya menginap juga, Nurdin cs pun juga sudah kembali sedari magrib tadi meninggalkan Satria yang ternyata juga ikut menginap.


Masih ada hal yang mengganjal di hatiku setelah mendengar ucapan Mbah Lasmi


penerus. 'Buh, apalagi ini' batinku berucap.


Hampir pukul sepuluh malam saat Pram sudah berdiri di pintu dan tersenyum.


"Sini panggil Mbah Lasmi, gimana sudah baik kan?"


Menatap Mbah. "Mbah siapa yang masuk dalam ragaku tadi?" Pertanyaan Pram membuat kami langsung menatap ke arahnya.


Mbah Lasmi menatap aku dan Pram kemudian tersenyum. Apa perlu Mbah cerita dan jelaskan Pram?" tanya Simbah sembari menatap jauh kedepan dan kemudian menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ini cerita lama yang salah, hingga semua jadi seperti ini," kemudian hanya napasnya yang kembali terdengar berhembus dengan kasar.


"Nur ... panggil Simbah Lasmi, mendengar itu ibu segera datang mendekat. Kau Asih dan Martoyo sebaiknya kalian jelaskan semua pada anak-anak kalian biar semuanya selesai dan tak ada dendam untuk kedepannya, meskipun aku hanya orang luar di sini, tapi aku orang yang dekat dengan kalian, apa kalian yang akan menceritakan atau aku."


__ADS_2