
Perjalanan waktu begitu cepat setelah dari KUA dan mendapatkan penasehatan perkawinan BP4.
Tinggal satu minggu waktu pernikahan ku "jangan pergi-pergi Pram diam di rumah saja" ucap ibu.
ibu benar-benar melarang ku ke luar untuk pergi ataupun ketemu mas Rian, "buuh ..... ucapku sembari melangkah ke teras.
Suasana nampak rame, pagi ini nampak warga menyiapkan panggung besar dan tak lama ada mobil datang dan menyusul beberapa mobil pik up juga datang, mengeluarkan alat musik gamelan dan barang lainnya.
Beberapa wanita cantik nampak keluar dari mobil "kan masih seminggu kenapa sudah rame begini?" setelah mempersilahkan tamu masuk aku bergegas ke dapur mencari ibu.
Dapur sudah penuh dengan para tetangga dan celoteh mereka sembari mengerjakan ini dan itu.
"Mak, budhe, ibu kemana ya?"
"Aduh .... calon nganten kenapa mesti masuk dapur!"masuk, masuk ke dalam, usir mak Sunar.
"Ibu, di kamar" jawab mak Sunar lagi.
Bergegas menuju kamar kulihat ibu tengah sibuk menyusun sesuatu.
"Bu, tamunya sudah datang dan duduk di ruang tamu, ucapku sembari kembali keluar kamar. "Temui sebentar Pram, habis ini ibu keluar, terdengar suara ibu dari dalam kamar.
Nampak dari ruang tengah, halaman penuh orang sibuk memasang terop, membuat panggung, kini pikiranku sudah tertuju pada niatan ibu, " pasti ini, mau nanggap wayang ucapku pelan.
"Lho, sudah datang sekarang, acaranya kan nanti sore!" ucap ibu mengejutkan aku.
"Hiya bu kan mesti juga harus siap siap sembari menunggu jawab sang tamu. "Oh ... silakan-silakan" ucap ibu lagi.
Aku yang ada di ruang tengah berpindah masuk kamar, suasana makin siang makin rame.
Beberapa wanita yang tadi duduk kini mulai sibuk berdandan tak lama di halaman mulai rame memainkan musik "tes, tes, suara percobaan, itu yang kudengar "hm ... chek sound " gumanku.
Setelah semua siap kini para lelaki mulai menata panggung memasang kelir atau yang biasa di sebut layar, debog, meletakkan boneka wayang, kotak, gedhog atau cempala, keprak, blencong atau pelita dan gamelan.
__ADS_1
Setelah semua tertata rapi kini gantian penata lampu yang beraksi setelah semua beres kini kembali chek sound, seketika kepalaku berdenyut menyaksikan keramaian ini.
Benar juga tak berselang lama suara musik gamelan berbunyi, anak anak kecil mulai berdatangan duduk manis di pinggir panggung, berjoget mengikuti suara alunan gending yang di mainkan, senyumku sesaat terkembang melihatnya.
Beberapa saat kemudian terdengar pintu di buka "Pram .... terdengar ibu memanggilku.
Tanpa bersuara aku berbalik masih dengan senyum tersisa di bibirku "Bu .... ternyata ibu nanggap wayang juga!" sebenarnya gak usah begini juga, gak usah seperti ini juga bu, gak apa apa bu!" ucapku lagi.
Sembari memelukku erat dan tersenyum
"Pram, kau itu anak satu satunya ibu tak ada salahnya jika ibu melakukan ini" jawab ibu asal.
Hanya nafas kasar yang kuhembuskan mendengar jawaban ibu.
"Oh, ya ini hanya sehari saja Pram!"
"Meskipun sehari bu!" sudahlah kau itu anak satu satunya Pram."
Sudah hampir sore saat meja prasmanan di tata tak berselang lama sudah ada beraneka jajajanan dan makanan sudah tersedia atasnya.
Dengan aksinya mak Sunar, mempersilahkan para biodo dan tamu untuk menikmati hidangan yang tersedia dan semua terlihat jelas dari dalam kamarku.
Setelah baqda magrib acara di mulai para sinden mulai naik ke panggung melakukan chek sound, menyelaraskan nada dan sebagainya hingga selepas isya pagelaran wayang benar benar di mulai.
Hingga ke datangan sang dalang, warga mulai satu persatu berdatangan untuk menonton, duduk di tempat yang di sediakan.
Hatiku berdesir saat ada beberapa sosok yang tiba tiba datang dan duduk di antara para penonton dengan tatapan datar tapi mereka fokus menatap ke depan lurus tak menoleh ke manapun.
Berbaur dengan mudahnya dan menyamar tanpa menunjukkan sosok aslinya, ada yang hanya duduk begitu saja di atas sound dan menggelantung di tiang terop dan ada yang langsung duduk di panggung berbaur di antara sinden.
Makin malam udara makin dingin berbagai makanan dan minuman hangat di sediakan
aku yang sedari tadi duduk di depan jendela kamarku kembali terkejut saat leluhurku datang dan berdiri di belakang ku.
__ADS_1
"Pagari rumahmu, karena makin malam makin banyak sosok astral yang penasaran dengan acara ini. Mereka juga tak akan pergi sebelum acara ini habis, pagari saja supaya mereka tak merasuki penonton."
Aku hanya mengangguk setuju "akhirnya yang aku khawatirkan" dengan duduk bersila membaca mantra sesaat kemudian nampak kabut tipis yang menjadi sekat membedakan antara manusia dan sosok astral ini.
Setelah aku melakukannya leluhurku langsung menghilang, rasa kantuk yang tadi ku tahan langsung menderaku, suara bising yang terjadi di halaman seperti tak berpengaruh sama sekali.
Hingga pukul empat pagi keadaan kembali sepi, entah jam berapa sinden dan dalang pulang, tinggal para pekerja saja yang membereskan semua peralatan nampak wajah lelah mereka begadang semalam suntuk.
Hingga pukul delapan pagi semuanya baru selesai, sarapan di pagi hari, kopi hangat dan jajanan yang masih mengepul menutup acara ini, wajah lega dan ucapan terima kasih mengiring kepulangan mereka.
Berjalan menuju ruang tengah nampak ibu duduk di meja makan sembari menyuapkan nasi dan lauknya "Sarapan Pram, biar di bereskan ibu-ibu di belakang sekalian, karena habis ini mereka pulang dan kembali esok pagi" ucap ibu lagi sambil mengambil kerupuk .
Aku masih diam dan menatap ibu, sibuk dengan pikiran ku sendiri "kok melamun, sarapan pram, toh habis ini ibu juga ingin istirahat sebentar."
"Nanti dulu bu biar, ku bereskan sendiri" ucapku sembari berjalan ke ruang tamu, terop masih berdiri, hatiku berdesir menatapnya.
"Kurang lima hari lagi" ucapku sembari duduk.
Serasa waktu cepat berlalu, hari sudah menunjukkan pukul dua belas siang, rumah masih sepi, sisa-sisa kegiatan semalam masih nampak, terop masih berdiri, meja di tata begitu saja dan kursi juga di tumpuk saja.
Hari yang panjang, ibu memasang terop nya hingga tujuh hari kedepan benar-benar hajatan besar-besaran di lakukan ibu.
Melihat ini semua rasa lapar di perutku seketika hilang hingga suara ibu yang datang mengejutkan aku.
"Belum juga sarapan Pram? sudah jam berapa ini, mau jadi nganten lho! jaga staminanya."
"Entalah bu, kok gak lapar."
Ibu hanya menatapku dengan heran "kenapa? ini pernikahan mu, sangat wajar jika kamu tegang" ucap ibu sembari mengambil nasi beserta lauknya di piring.
Setelah itu berjalan mendekat padaku "sini ibu suapin, anak cantik ibu ini, jangan sampai sakit Pram, lantas siapa nanti yang berdiri di kuade kalau calon mantennya gak mau makan, sembari menyendok satu sendok penuh nasi dan lauknya.
"Hm .... empat hari lagi menikah Pram" ucap ibu dengan menatapku lekat.
__ADS_1