
Berjalan bersama Aroin membuatku sesekali tertawa, mendengar semua ocehan dan tingkahnya.
Hingga tiba di halaman Arion langsung menarik makanan yang di pesannya tadi, langsung berlari ke dalam rumah, suaranya yang keras hingga terdengar sampai teras, memanggil mbak Yas dan mbak Ning dengan kencang.
Setelah mereka berdua datang, Arion langsung menyerahkan makanan itu "mbak ini" mbak Yas dan mbak Ning langsung membuka tas yang di sodorkan Arion.
"Ayo, Den di makan bareng" ucap mbak Ning dan mbak Yas bersamaan. "Makan saja mbak aku sudah kenyang" masih mendengarkan Arion berbicara, aku yang baru masuk pun tersenyum melihat mereka bertiga.
Hingga beberapa saat "mbak aku sudah gak mau beli makanan di situ lagi" ucap Arion sembari memperhatikan mbak Yas dan mbak Ning makan.
Masih dengan makan "memangnya Den Arion gak suka?" Tanya mereka hampir bersamaan.
"Dulu suka mbak, tapi sekarang Arion sudah gak suka lagi" kemudian ku lihat Arion mendekat "mbak, aku tadi di warung makanan ini, lihat orang yang berdiri wajahnya jelek dan tangannya terus melambai pada semua orang dan satunya orang ini terus mengeluarkan air liurnya di kuali yang besar itu,"hii.....tiba-tiba aku jadi jijik" ucap Arion lagi.
Enak mbak ?! tanya Arion menyelidik.
"A, Aden ngomongnya kok pas mau habis, perut mbak jadi mual sekarang" sembari berdiri berlari ke wastafel dengan berkali-kali meludah.
Sementara mbak Ning sudah berlari ke kamar mandi, sementara Arion dengan merasa tak bersalah memandang kedua mbak sembari tersenyum.
Setelah semua mereda, akhirnya aku memanggil juga mbak Ning dan mbak Yas untuk duduk di ruang makan, menceritakan semua yang ku lihat bersama Arion.
Mendengar ceritaku akhirnya, mereka berdua dapat menyimpulkan bahwa warung itu memakai penglarisan.
Sudah pukul dua siang, saat Lintang dan dua gadis kembarku datang.
Mengucap salam bersama-sama nampak wajah lelah mereka, melempar begitu saja tas yang di pakainya di ruang tengah sembari mengipas ngipas wajah mereka "panas sekali bu" ucap mereka saat melihatku duduk di ruang makan dengan mbak Yas dan mbak Ning.
Arion yang mendapati tiga saudaranya datang langsung berhambur mendekat menceritakan semua yang di alaminya pagi ini.
Tiga saudaranya seketika menatap heran "apa benar bu?! tanya mereka bersamaan. Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan mereka.
"Sudah, sudah makan siang dulu setelah itu istirahat" ucapku sembari menyiapkan makanan.
Setelah makan mereka langsung bergegas naik
ke kamar masing masing, aku masih sibuk menyiapakan catatan-catatan untuk ke perluan untuk toko ku, membacanya sekali lagi, setelah semua keperluan toko selesai, aku melihat amplop yang tergeletak begitu saja di meja.
Melihatnya sekilas aku termenung sesaat, andaikan sawah itu jadi terkena sebagian untuk jalan raya, lalu bagaimana aku mengatakan pada mereka?! teringat akan ucapan ibu, ku hembuskan napas beratku, serasa semua menjadi masalah baru.
Kembali membuka surat dari Kelurahan, membacanya hingga berulang kali dan membuatku faham akan isi surat ini, apa sebaiknya aku kumpulkan mereka dan membicarakan dengan mereka, kini tanganku mulai mengetuk ngetuk di meja makan, sembari berfikir apa yang sebaiknya aku lakukan.
__ADS_1
Masih dengan risauku, saat mas Rian datang dengan tersenyum menghampiriku "kok melamun" jangan biasakan Pram.
Aku tersenyum mendengar ucapannya "minum kopi mas?tanyaku lagi.
"Hem" hanya itu yang ku dengar, hingga tak berapa lama "ini kopinya mas"sembari menyodorkan kopi di dekatnya.
"Terima kasih Pram!Kemudian menyesapnya sedikit dan meletakkannya lagi.
Melihat amplop yang tergeletak begitu saja, mas Rian langsung mengambil dan membacanya.
Melihat ini seketika aku berucap "mas, apa para pekerja kita kumpulkan untuk berembuk" ucapku sembari membereskan yang lainnya.
"Kita lewati saja Pram, semua masih rencana dan nanti jika itu benar benar terjadi, nanti kita pikirkan lagi" sembari menyesap kopinya lagi.
"Mas, besok Pram akan mulai buka toko lagi tapi aku belum memberi tahu para pegawai" ucapku ringan.
Mas Rian hanya tersenyum "pelan-pelan Pram, semua di atur yang benar dulu, jangan grusa grusu! Kamu juga baru sembuh."
Sejenak mas Rian menoleh ke atas "tumben anak anak sepi?! Berangkat mengaji mereka?!
Mendengar pertanyaan mas Rian aku kembali terdiam "lantas siapa yang mengajar mereka mas, Gurunya sudah...." kembali hatiku seperti ngilu menginggat ibu, ada penyesalan yang harus aku bawa seumur hidup ku.
Melihat aku tertunduk, mas Rian langsung menatapku.
"Ya boleh mas" ucapku pelan. Setelah menjawab ajakan mas Rian kami sama-sama terdiam, hanya menatap ke luar, hingga teriakan keras dari kamar belakang mengejutkan kami, aku dan mas Rian saling pandang sementara anak-anak juga sudah turun satu persatu ke bawah dan penasaran dengan yang di dengarnya.
"Bu ..." teriak mbak Yas, tambah mengejutkan kami, dengan bergegas aku dan mas Rian menghampiri.
" mAda apa mbak? Kok tumben?! Tanyaku lagi.
" I- i-itu, itu ... "Ning, kesurupan, setelah berteriak tadi, belum selesai mbak Yas, bercerita aku langsung melangkah ke kamar belakang.
Masih terdengat desisan dari suara mbak Ning, layaknya ular, badanya menggeliat sembari tiduran di tanah.
Begitu melihatku datang, mbak Ning menatapku merah dan nanar, kemudian duduk tegak, masih dengan tatapan tajam nya.
Aku memindai ruangan kamar ini, masih dengan heranku"dari mana masuknya sosok ini? hingga suara teriakan kembali mengejutkan aku.
"Hhhh ... "Akhirnya aku bisa juga menembus pagar yang kau buat di rumahmu" kini sembari badan dan kepalanya meliuk-liuk.
Mas Rian langsung berdiri di sampingku, memegang erat tanganku "Pram... "kau baru sehat, jangan lakukan itu."
__ADS_1
Kini kamar ini, sudah berbau anyir darah, aku masih diam menatap sosok yang merasuk di tubuh mbak Ning, mas, di sini saja dan mbak Yas, tolong anak-anak di bawah ke atas" pintaku pelan.
Setelah anak-anak pergi, sesaat kemudian aku sudah berjalan mengitari mbak Ning, menatapnya sejenak kemudian aku tersenyum.
"Hem... jadi ini, maksudmu, kau merasukinya melalui makanan yang ku beli?! .
"Kini mbak Ning sudah tertawa, menyeringai menyeramkan "ternyata kau cepat mengerti, ck, ck, ck, tapi sayang tak kau gunakan, biarkan aku berkenalan dengan anakmu, aku sering melihatnya berjalan di depan warung itu" ucap sosok ini.
Kini tak ada ampun untuknya, sosok ini telah menyentuh hal pribadiku dan sekali baca mantra aku telah membuatnya terkulai, tapi kekuatannya seperti terisi kembali.
Mbak Ning kini mengamuk di kamar ini, menggeliat ke sana kemari dan secara diam diam mas Rian juga membantuku dengan membaca doanya.
Kembali ku baca mantra untuk ke dua kalinya, cukup lama aku bergulat mengadu kesaktian dengannya, hingga ku hentakkan kaki ku di tanah tiga kali, seketika muncul sosok Harimau putih di sampingku, mengawalku dengan gesit.
Hingga akhirnya dia mengakhiri pertempuran ini, lalu membungkuk memberi hormat padaku, "maaf jika aku telah mengusikmu, tugasku sudah selesai, sesuai perjanjian jika suara adzan magrib berkumandang aku belum bisa mengalahkanmu berarti aku telah kalah" kini dia berjalan mundur untuk pergi.
Namun karena aku tak ingin melepaskan sosok ini, akhirnya aku mengikat sosok ini di tubuh mbak Ning untuk sementara.
Aku sengaja membiarkannya di tubuh mbak Ning hingga adzan magrib berkumandang, terdengar suara rintihan menyayat dari mbak Ning "aku sudah mengaku kalah, biarkan aku pergi" ucapnya sembari memohon.
Aku berjalan mendekat hingga secara tiba-tiba mas Rian menarikku dengan cepat, hingga sepersekian detik aku berhasil menghindar.
" Dasar..." kini amarahku sudah memuncak "siapa yang menyuruhmu, kau sudah berani berani mengusik keluargaku dan kini kau menyerangku tiba tiba?!"
Kini aku sudah duduk bersila merapal mantra dalam sekejap sukmaku sudah keluar dari ragaku, saat ini aku bisa melihat sosok ini dan siapa yang menyuruhnya dan asalnya.
Dengan tersenyum, kini aku sudah kembali ke ragaku "dasar..." masih saja penasaran dengan Kinara" ucapku pelan.
Nampak mas Rian masih duduk di belakangku,
"Puanglah" sampaikan pada pesuruhmu sampai kapan pun aku tak akan membiarkan anakku berkenalan dengan majikanmu.
"Dan satu hal dan bisa aku pastikan, warung yang kau jaga secara cepat atau lambat akan hancur, ini bukan salahku tapi kau yang telah mengusikku dan kau tahu apa hukumannya untukmu jika kau gagal melaksanakan tugasmu" ucapku sedikit lantang.
Kini aku membaca mantra sekali lagi "pulang dan sampaikan pada tuanmu, ingat aku mengawasimu" sembari ku hentak lagi lantai kamar ini tiga kali.
Setelah beberapa saat, mbak Ning terlihat lemas dengan keringat di sekujur tubuhnya.
Membiarkan tenang sejenak, hingga mbak Yas masuk dan Kinara di belakangnya "Bu, jadi benar bisik-bisik para lelembut jika ibu sangat tangguh!!"
Seketika mas Rian dan aku menoleh dengan terkejut "jangan bilang kau melihat semuanya Kinara!!"
__ADS_1
Hanya anggukan kepala Kinara yang ku lihat, sesaat aku dan mas Rian saling memandang "sudah waktunya Pram" hanya itu yang keluar dari mulut mas Rian dan mengajakku keluar dari kamar.