
Aku masih mengatur nafasku dan berpura-pura untuk tidur kembali, namun bahasa tubuhku tak bisa aku ajak untuk berdamai, karena mas Rian semakin mengeratkan pelukannya.
Rasa tegang dan tiba-tiba saja tubuhku berkeringat padahal udara masih dingin dan masih pagi subuh.
Tiba-tiba mas Rian sedikit bergerak dan melepas pelukannya, semakin kupejamkan mataku, hingga beberapa menit kemudian terasa hembusan napas mas Rian sudah ada di wajahku.
Semakin mendekat dan "cup ini untuk ciuman pertama di pipimu" ucapnya .
Kembali mendekat dan mencium keningku dan kini turun lagi ke kedua mataku, cup, cup, dan ini yang ciuman pertamaku untukmu semakin mendekat kan bibirnya ke bibirku.
Melihat ku semakin tegang mas Rian nampak menghentikan kegiatannya.
Dan kembali tidur di sisiku dan merangkulku lagi "jangan pura-pura tidur Pram!!"
"Ayo, shalat subuh dulu" sembari meletakkan kepalanya di leherku.
Dengan malu aku membuka mataku dan tersenyum "Ayo mas duluan yang ambil air wudhu" ucapku sembari turun dari ranjang.
Ini adalah shalat pertama kali setelah menikah
melihatnya berdiri dengan tenang mas Rian mengucapkan niatnya dan memulai shalat.
Tak berapa lama kami pun menyudahinya, setelah salam kuraih tangan mas Rian kemudian mencium nya.
"Mas, jangan lupa hari ini pengambilan toga di kampus" ucapku sembari melepas mukena ku.
Mas Rian masih diam dan menatapku kemudian tersenyum.
"Pram, jangan ngomongin toga dulu ada yang lebih penting dari itu ucap mas Rian "hem ....sini" sembari menepuk tempat di sebelahnya.
Aku hanya tersenyum kikuk "kau itu kayak baru ketemu kemarin saja Pram, ish, kau itu sudah jadi isteri aku juga."
"Lagian aku tak ingin meminta hakku saat ini, lagian rumah masih rame, tapi ... aku hanya mau ini" sembari menyentuh bibirku.
"M .... setelah subuh, dhuhur, ashar dan kalau setelah isya maunya dobel kiss" ucap mas Rian sembari tersenyum.
"Ish .... mana ada peraturan seperti itu" ucapku pelan.
Tak lagi menunggu kata ya dariku mas Rian langsung saja memelukku dengan erat.
"Pram ... aku ingin melakukannya saat kamu benar benar siap, tidak tegang dan juga berkeringat dingin, pelan pelan kita belajar sama-sama, ya?!!"
"Lagian kita juga masih harus mengurus wisuda dulu, ucap mas Rian lagi"
__ADS_1
"Hem .... ini selesai sholat subuh, jadi ini pajak pertamanya" dengan menangkup wajahku.
"Cup, cup dan mencium bibirku dengan lembut dan menuntut, aku masih terdiam belum tahu apa yang mesti aku lakukan "Hem ... cukup, nanti setelah shalat dhuhur kita lanjut pelajaran yang keduanya, ucsp mas Rian sembari menatapku.
"Lah, mana ada yang seperti itu" jawabku sedikit malu.
"Adalah karena mas yang baru buat peraturannya."
Setelah itu kami hanya berbaring dan tak ingin keluar dari kamar "Mas sarapan yuk!! laper"
ucapku sembari bangun dan duduk.
"Mau ... tapi selesai pelajaran kedua" sembari tersenyum menatapku.
"Kan .... katanya setelah shalat dhuhur?"
"Menyelesaikan pelajaran kedua dulu atau ....."
ucap mas Rian lagi.
Seketika aku memejamkan mataku sembari menunggu apa yang akan di lakukan mas Rian.
"Pelajaran kali ini, tidak boleh memejamkan mata dan ini akan cepat Pram!!"
Rasa hangat seketika menjalar ke seluruh tubuhku dan wajahku menghangat "huf .... sembari ku dorong tubuh mas Rian
karena nafasku sedikit sesak.
Hanya suara ini yang keluar dari mulutku dan seketika tubuhku terasa lemas.
Sesaat mas Rian menghentikan semuanya memindai wajahku dengan tenang kemudian tersenyum "pelajaran kedua sudah selesai, ayo sarapan" ucap mas Rian sembari turun dari ranjang.
Aku masih terdiam dan masih menormalkan napasku yang sedikit memburu "apa ini?" perasaan apa ini dan "huf .... kembali ku atur napas ku serasa ada yang bergejolak di dadaku ini."
"Pram, ayo" panggil mas Rian.
"Sebentar mas" bukannya ikut keluar tapi aku menuju kamar mandi untuk mencuci muka ku
dan setelahnya baru keluar mengikuti langkah mas Rian.
Benar begitu keluar dari kamar nampak suasana masih rame, para biodo juga masih sibuk ini dan itu, nampak makanan sudah tersaji di meja makan.
Tak nampak ibu, aku sedikit melongok ke dapur, ibu juga tak nampak.
__ADS_1
Melihat mas Rian sudah duduk di meja makan aku langsung ikut duduk, membuka tudung saji mengambil nasi beserta lauknya dan memberikan pada mas Rian.
"Mau kopi mas? hanya anggukan yang ku terima.
Menuju dapur membuat kopi dan setelahya kembali duduk dan makan bersama mas Rian.
Selesai makan mas Rian tersenyum setelah melihat ku "kenapa?" kini senyumya semakin lebar dan segera menghabiskan kopi nya.
"Pram ... kini dengan isyaratya mengajak kembali masuk ke kamar.
Aku langsung mengikutinya tanpa banyak bicara, begitu masuk kamar mas Rian langsung menarikku ke ranjang.
"Eh .... kok tidur lagi mas, sudah aku mau bantu ibu dulu" ucapku sembari berdiri.
"Boleh setelah melajutkan pelajaran kedua yang terputus tadi"ucap mas Ria sembari mendekap ku.
Tangan mas Riam kini sudah ada di balik bajuku dan membalik tubuhku untuk menghadap padanya.
Membuka tiga kancing atas piyama yang aku pakai, seketika aku tertuduk.
Bukan tangannya saja yang sudah meraba ke sana, seluruh tubuhku bagian atas ku tapi kepala mas Rian sudah menunduk dan bermain di sana.
Seketika tubuhku sedikit tergetar dan meremang hingga suara mendesah keluar dari mulutku begitu saja, seketika mas Rian mengangkat kepalanya dan berganti menutup mulutku dengan bibirnya menyesap dengan penuh gairah "balas pagutan ku Pram" suara mas Rian serak.
Aku masih terdiam dan kembali tangan mas Rian bermain di dua gunung ku.
Hingga tak lama kemudian mas Rian menyelesaikan semua kegiatannya, tubuhku langsung lemas dan ada rasa aneh yang serasa ingin berontak keluar dari dadaku.
"Kita lanjutkan nanti setelah dhuhur, istirahat lah Pram" ucap mas Rian sembari menuju kamar mandi.
"Pelajaran apa ini, hanya membuat tubuhku lemas dan membuat kepalaku pusing saja" omelku sembari memejamkan mataku.
Mendengar omelan ku mas Rian berhenti sejenak dan memandangku "karena kau belum lulus dalam pelajaran ini Pram."
Kini berbalik mendekat ke arahku "mau di lanjut pelajaran yang ketiga" ucap mas Rian sembari mengelus wajah ku.
Seketika mataku terbuka dan "nggak, nggak janjinya kan nanti setelah shalat ashar" ucapku kemudian aku bangun dan duduk di hadapan mas Rian.
"Lihat, bibirku rasanya tebal sekali mas, aku kan jadi malu kalau keluar kamar" sembari kusandarkan kepalaku di dadanya.
Hanya tersenyum sembari menatapku dan mengusap pipiku "sini" di rengkuh tubuhku "masih pusing?"
Aku langsung menggeleng karena takut dengan pelajaran selanjutnya.
__ADS_1
"Tidurlah, nanti sebelum dhuhur mas bangunin, mas mau lihat kedepan dulu Pram, bantu ibu" ucap mas Rian sembari menutup pintu kamar.