
Seperti hari kemarin kini aku memilih mengikuti Mak Sunar," maaf, saat para pekerja sudah berkumpul," kita foto dulu sebelum kerja ya! nanti kalau sudah Pram cetak bakalan di bagi."
Ibu hanya tersenyum melihat aku berfoto bersama para pekerja dulu kemudian sendiri sendiri dan berkelompok sesuai dengan tempatnya," terimakasih besok akan saya cetak setelah pulang kuliah," ucap aku lagi.
Nampak tersirat rona bahagia di wajah mereka dengan senyum yang terlihat dari wajahnya," Mak Sunar bagian mana hari ini," tanya Pram penasaran.
"Lah hari ini Mak di tugasi bersihin cabe,
Nak Pram mau ikut? ayo Mak, aku sedikit mendekat, nanti di sana kita foto dulu ya? ingat pose yang cantik," ucap Pram menggoda.
"Jabang bayi Nur, anakmu," ucap Mak Sunar dengan kerasnya, seketika ibu dan yang lainnya menoleh. "Pram jangan goda Mak Sunar tugasnya banyak kalau mau bantu sana," ucap Ibu.
"Aku tersenyum dan memberi hormat," siap juragan," ucap Pram sembari memberi hormat .
Semua pekerja yang melihat Pram langsung tersenyum sembari geleng-geleng kepala," Pram, Pram," ucap mereka secara bersamaan kemudian menuju ke tempat masing-masing.
Ternyata Mak Sunar wanita yang sedikit latah
itu terbukti dari sikapnya yang mudah kaget dan suka meniru perkataan pekerja lainnya.
"Ya, hari ini sangat menyenangkan terhibur dengan tingkah Mak Sunar, seperti hari
kemarin setelah dhuhur ibu sudah menyuruh mereka pulang.
"Begitu sampai di tikungan," jadikan mampir ke rumah Simbah? tapi sebentar saja Pram ingat kau besok sudah masuk kuliah kan? mendengar kata masuk kuliah jadi teringat akan tugas yang di berikan Dosen Jurusan yang belum aku selesaikan," mampus aku," ucap Pram pelan.
"Ya, Bu sebentar saja," ucap Pram. 'Toh aku hanya ingin memfoto daun pintunya saja ucap', batinku.
Setelah sampai di rumah Simbah ibu langsung membuka pintu mengambil sesuatu di kamar Simbah, aku bergegas memfoto daun pintunya.
Belum sempat melihat hasilnya ibu sudah datang dan kembali mengunci pintunya momen ini aku gunakan untuk mengambil foto Ibu di rumah Simbah begitu juga dengan depan rumah Simbah aku foto juga.
"Sudah Bu," ucap Pram sembari memasukkan ponselnya. "Ayo Pram nampak ibu membawa map dan amplop yang warnanya sudah menguning, aku hanya meliriknya saja dan tak berani bertanya.
Hari ini benar-benar sibuk ingat akan tugas kampus aku langsung mengerjakan tanpa ingin mengoprek ponsel.
__ADS_1
Benar-benar memakan waktu pikir Pram.
Hingga pukul delapan malam aku baru menyelesaikan tugas, beberapa kali menguap membereskan semuanya dan pandangan Pram kini berpindah pada ponselnya.
"Kenapa Rian tak mengabariku, aku melihat sejak kemarin tak ada notif atau panggilan yang masuk, mungkin sibuk pikir Pram.
Kembali teringat akan foto tadi siang, mengulirnya perlahan untuk melihat hasilnya
senyum Pram selalu terkembang saat melihat hasilnya.
Hingga aku mengulir foto rumah Simbah, aku sedikit melotot saat melihat hasilnya, foto ibu nampak aneh ada yang berdiri di samping ibu," Astafirullah," ucap Pram sembari melotot kan mata. "Ini kan? ucap Pram setengah tak percaya. "Pasti bukan, ucap Pram lagi biar besok aku cetak saja.
Mengulir foto sekali lagi, melihat foto tampak depan rumah simbah benar-benar rumah yang seram pikir Pram dan masih ada dua lagi fotonya.
Aku semakin terkejut saat mendapati ukiran di pintu itu menghilang dengan sesekali melototkan mata namun hasilnya tetap sama dan kini aku mengulir lagi foto satunya, benar hasilnya juga sama ukiran itu menghilang.
Dengan penasaran kembali aku mengulir foto saat Ibu berdiri di depan pintu," ya, ukiran di daun pintu hilang dan daun pintunya seperti hanya terbuat dari papan biasa saja.
"Kenapa aku tak menyadarinya, padahal nyata nyata ada ukirannya tadi.
"Jangan Kau cetak foto itu Pram, karena jika itu kau lakukan mantranya akan tak berguna dan tambar, belum waktunya nanti kau sendiri yang akan merapal mantra itu dan kau juga akan tahu fungsinya.
"Foto yang berkenaan dengan rumah simbah Rum jangan sampai kau cetak, ingat itu," kemudian kakek leluhur sudah menghilang saat ibu mengetuk pintu kamar. "Belum tidur Pram? tanya ibu. "Belum Bu," jawabku sembari menghapus foto rumah simbah.
"Tidur Pram," ucap ibu sembari mengintip di pintu," oke Bu " jawabku sembari melirik jam dinding, benar sudah jam sebelas malam.
Menaruh ponselku di meja belajar dan langsung merebahkan diri di ranjang, rasa capek yang aku tahan dari tadi akhirnya terbayar lunas dengan terlelapnya mataku dan terbang ke alam mimpi.
Sudah mandi sudah cantik dan sudah wangi saat aku keluar dari kamar pagi ini dan duduk di meja makan menyesap teh yang masih hangat dan mencomot perkedel," Bu mungkin nanti Pram pulangnya agak terlambat karena mau cetak foto dulu," pamitku pada ibu.
"Karena Pram juga sudah janji Bu," sekali lagi aku ijin pada ibu. "Boleh tapi jangan malam malam Pram ! jawab ibu.
Setelah menghabiskan dua perkedel dan meminum habis teh ku aku kemudian berdiri dan salim pada ibu.
"Kok gak sarapan Pram?"sudah kenyang Bu," jawabku.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan malam malam Pram,"ucap ibu sembari mengusap kepalaku.
"Hiya Ibuku yang cantik, Pram berangkat," ucapku lagi.
Seperti hari hari biasanya menunggu angkot yang datang memang sengaja berangkat lebih awal karena Dosen yang satu ini sangat di siplin.
Menjalani aktifitas kuliah seperti biasa hingga mata kuliah di jam terakhir usai memilih keluar lebih dulu ku lihat Santi tengah mengobrol dengan Nurdin dan Hanifa membereskan alat tulisnya dengan terburu buru.
Setelah sampai di depan kampus berdiri sebentar memilih angkot yang berbeda bukan tujuan rumah ku tapi angkot yang menuju tengah kota dan seperti tujuan awalku untuk mencetak foto.
"Hai Pram teriak Hanifa,mau kemana? entah mengapa aku tak menyukai sapaan nya, aroma melati ini selalu mengingatkan aku pada Srikanti dan secara tiba tiba aku meraba leherku," ya, aku sudah beberapa minggu ini tak memakainya kalung pemberian simbah Rum.
Tapi kenapa jika Srikanti ada, tak menampakkan wujudnya? ada rasa penasaran di hatiku tapi coba untuk aku tutupi.
"Hei Pram, kok melamun tegur Hanifa lagi.
"Oh. ini aku ada perlu sebentar," ucapku sembari masuk dalam angkot.
Saat aku masuk dalam angkot ku lirik Hanifa
tersenyum sinis padaku, tak menghiraukan senyumannya karena kini fikiranku lebih fokus pada tujuanku.
Hampir sepuluh menit akhirnya aku tiba juga di tempat yang ku tuju, menyerahkan Ponselku untuk di Scan dulu baru di cetak.
Akhirnya setelah tiga puluh menit semuanya sudah selesai, senyum ku terkembang saat melihat hasilnya," Mbak tolong di cetak semuanya sekali lagi," ucap aku pada Mbak nya.
Untuk cetakan yang kedua tak membutuhkan waktu yang lama, setelah membayar dan memasukan semuanya dalam tas aku kembali mecegat angkot, kulihat jam di ponselku ternyata hampir magrib," buih bisa bisa sampai rumah hampir isya pikirku."
"Mbak angkot terakhir," teriak kernet mengejutkan aku.
Dengan segera aku naik dan turun di depan kampus lagi untuk oper dengan angkot yang menuju rumah aku.
Ternyata jam segini di kampus masih rame juga pikirku, tak berapa lama datang angkot sesuai tujuanku.
Sudah setengah delapan aku sampai di rumah sedikit terkejut saat melihat sosok yang berdiri di teras sembari menatap langit.
__ADS_1