OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
57 . MELIHAT SENYUM MEREKA HATIKU IKUT BAHAGIA


__ADS_3

Melihat Ibu berdiri di teras sesaat aku tersenyum, berjalan semakin mendekat aku mengucap salam," assalammualaikum," ucap Pram dengan sedikit keras. Mendengar suara salam Pram dengan seketika Ibu menjawab," waalaikum salam," jawab ibu sambil menatap. Pram. "Kok sampai malam Pram? kini aku mendekat dan duduk di ayunan, tak menjawab pertanyaan ibu tapi aku ganti bertanya," tumben ibu berdiri di teras, dingin Bu," ayo masuk," sembari aku berdiri.


"Oh ya, besok pagi aku sempatkan ke sawah Bu, melaksanakan janjiku pada pekerja," ucap Pram lagi.


"Apa nggak kuliah Pram? tanya Ibu. Besok masuk siang Bu ... jam sebelas," sembari aku tuntun Ibu masuk.


"Ayo, Pram tunjukkan hasilnya," sembari aku raih tangan Ibu masuk dalam rumah.


"Begitu sampai di ruang tengah, aku mengeluarkan amplop yang berisi foto dan memberikan pada Ibu. "Pram mandi dulu, Ibu lihat-lihat foto dulu," ucap Pram sembari masuk kamar.


Tak butuh waktu lama untuk Pram mandi, hawanya juga dingin. "Kok cepat Pram mandinya," ucap Ibu sembari melihat fotonya. "Pasti mandi bebek," ucap ibu lagi.


"Dingin Bu," hanya itu jawab Pram. "Bu, punya plastik bening untuk tempat sayur? ibu langsung menatap. "Buat? hem, aku ingin memilah fotonya dan memasukkan dalam plastik.


"Kau sudah melihat fotonya pram?" tadi sudah Bu, tapi hanya sekilas saja.


"Coba kau lihat foto ini," ucap ibu sembari menyodorkan foto itu padaku."


"Lihatlah yang benar Pram? ucap Ibu lagi. "Benar Bu, siapa yang berdiri di samping Pak Man Bu? tanya Pram.


'Ternyata sang mandor mau ikut foto juga pikirku.'


"Sebaiknya foto itu kita simpan sendiri saja Pram."


"Ibu takut kalau mereka melihat foto ini, nanti mereka takut ke sawah.


"Oh ya, mana plastiknya Bu," tanyaku lagi.


"Ambil di atas kulkas Pram," ucap ibu sembari masih melihat foto -foto itu lagi.


"Kalau capek besok saja Pram, lagian juga sudah malam." Aku hanya menuruti ucapan ibu saja, membereskan semua foto itu dan plastik yang aku ambil di atas kulkas dan kemudian masuk dalam kamar.


Di dalam kamar bukanya tidur, tapi aku memilih, memilah foto-foto itu dan memasukkan dalam plastik.


Setelah aku pastikan semuanya beres aku meraih ponselku, mengulir tanda notif masuk berharap ada kabar dari Rian.


Pram menghembuskan napasnya dengan kasar, ternyata apa yang di harap kan tak sesuai harapannya," sudah dua hari Rian tak memberi aku kabar," ucap Pram pelan.


Aku membalikkan badan menatap langit langit kamar, ada rasa ragu di hati,' apa Rian benar benar menyukaiku atau .... ah, kok jadi mikirin ini.' Sesekali aku menguap melirik sekilas jam di tembok sudah pukul sebelas malam tetapi mata ini belum juga mau terpejam.


Aku beranjak dari ranjang memilih duduk di depan jendela, membuka tirainya sedikit, aku tersenyum saat melihat bintang layang-layang muncul.


"Hai CRUX ternyata malam ini kamu tak sendiri kamu muncul bersama teman-teman, lihat ada URSA MAYOR, ORION dan itu si penjepit SCORPIO," ucap Pram pelan.


Melihat bintang kesayangan di langit muncul dengan formasi lengkap membuat aku betah duduk di depan jendela," hai bulan malam ini teman mu banyak dan kau menang, ucap Pram lagi.


Sebelum sempat aku menutup tirai jendela terdengar notif di ponsel berbunyi.

__ADS_1


Aku sedikit terkejut,' tumben malam begini?' ucap hati Pram.


Aku segera meraihnya, mengulir tanda notif dari Rian, seketika aku tersenyum membacanya," sudah malam masih duduk di depan jendela."


Aku langsung mendekat ke arah jendela, mencari sosok yang mengirim notif, tak ada lalu tahu dari mana tahu aku duduk di depan jendela, tak lama kembali muncul notif masuk.


"Cepat tidur nggak usah di cari," tulisnya lagi.


"Awas kalau sampe keluar rumah, tidur ! tulis Rian."


Aku tersenyum membacanya," tidur !!


tulisnya lagi. "Nggak usah nelfon, tidur !! tulis Rian bersamaan ponselnya tak aktif lagi.


Pram langsung merebahkan tubuh di kasur, mendekap ponselnya dengan tersenyum.


Hingga pagi menjelang, saat mentari baru muncul Ibu sudah ribut memanggil.


"Pram ... bangun ingat janji nya, Pram ... panggil ibu lagi."


Sedikit menggeliat tubuh, tumben ibu berteriak.


"Ya Bu, jawab Pram sembari keluar kamar dengan rambut yang awut awutan dengan mengucek mata aku menuju meja makan.


"Ai, ai ... anak perawan, sana mandi dulu," ucap ibu sembari mendorong Pram masuk ke dalam kamar.


"Nggak biasa biasanya seperti itu," ucap pelan. 'Ibu bicara dengan siapa pikirku.' Setelah mandi dan beberes Pram kemudian keluar lagi dengan membawa tas dan ponselnya.


Ibu masih tersenyum saat samar-samar Pram mendengar suara laki-laki berdehem di belakangnya, karena penasaran dan begitu aku menoleh "Rian ... kapan datang? tanya Pram penuh semangat.


"Semalam," jawab Rian sembari tersenyum. "Kasihan tante semalam ada yang melamun di jendela, Tante," ucap Rian kini duduk di dekat Pram.


Aku tersenyum melihat Pram malu dsn jelas Pram berusaha untuk menghindar," Bu, buruan," ucap Pram untuk mengalihkan pembicaraan.


Melihat Ibunya Pram kerepotan akhirnya Rian ikut berdiri," mana Tante," kini Rian sudah meneteng dua ceret. "Lha, kok ikut," ucap Pram sembari membawa dua rantang andalan.


"Sini Pram panggil Ibu, sembari memakaikan topi nya. "Eh itu sepatunya di pakai juga," ucap ibu mengingatkan. Rian hanya tersenyum melihat penampilanku.


Seperti biasa Mak Sunar mengambil rantang satunya, berjalan beriringan Rian menarikku sedikit ke belakang," eh ... memangnya gak kuliah?" awas bolos."


"Tenang ... ucapnya lagi .


Setelah melewati jembatan bambu nampak para pekerja sudah berkumpul, aku dan Rian langsung meletakkan rantang dan yang lainnya.


"Juragan jangan memberi perintah dulu," ucapku pada ibu. Ibu yang mendengar ucapanku hanya melotot.


"Oh ya, sesuai dengan janji saya kemarin ini," sembari mengeluarkan bungkusan dari tasku.

__ADS_1


Rian hanya melihat kesibukanku," ayo monggo yang merasa fotonya, monggo di ambil," setelah aku meletakkan di pondokan.


"Antri nggih," nampak senyum dari bibir mereka sembari menatap fotonya, aku tersenyum bahagia melihat semua ini.


"Jabang bayi Nur, delengen fotoku," ucap Mak Sunar memecah sepi.


"Sudah sudah ayo kerja," ucap ibu, setelah membagi tugas masing-masing. "Kamu nggak usah bantu-bantu dulu Pram temani Rian," ucap ibu sembari melangkah pergi.


Berdua dengan Rian membuat aku sedikit grogi," ish ... dulu, dulu juga enggak begini," ucap batinku.


"Nggak kuliah? nanti masuk siang," jawabku sembari menatap sawah.


"Memang dari sana ke sini berapa jam perjalanan," tanyaku lagi.


Tak menjawab pertanyaanku malah ganti bertanya.


"Kamu kuliah jam berapa? tanya Rian," habis ini jam sebelas," sembari aku keluarkan ponselku dan melihatnya sekilas," masih dua jam lagi," ucap Pram.


Secara tiba tiba Rian menarik ponselku," sini," dan menarikku untuk mendekat dan mengambil foto kami berdua dan setelahnya mengembalikannya lagi padaku. Simpan ini dan gunakan sebagai WP," ucapnya lagi.


"Ayo keliling," ucapku sembari menarik tangan Rian.


Berjalan ber iringan berdua, para pekerja yang melihat kami kemudian langsung menunduk hormat," ayo ada tempat bagus di sebelah kebun kacang," ucap Pram sembari menariknya lagi.


"Mak sunar," panggilku sedikit keras. "E ... jabang-jabang bayi ," jawabnya tak kalah keras.


"Dosa loh pram," ucap Rian mengingatkan


tak berapa lama kami tiba juga di tempat yang aku maksud. "Jangan ke area sana Rian," ucap Pram mengingatkan.


"Aneh, kenapa simbah itu langsung menunduk hormat," kau kenal," tanyaku saat itu juga.


Rian hanya mengangguk dan berbisik padaku," jadi ... sssst jangan berisik," ucapnya sembari mengajakku pergi dari tempat ini.


"Ayo pulang, katanya mau kuliah pram."


Berjalan sedikit tergesa hingga di pondokan," untung kamu ingatkan Rian! mengambil tasku.


"Pak Man sanjang ibu nggeh, kulo mantuk rumiyin," yang aku ajak bicara langsung tersenyum dan mengagguk.


Tiba di halaman rumah," terima kasih," ucapku dan aku lanjutkan melangkah ke teras.


"Loh, kok ngikut nggak kuliah? aku mau numpang mandi," sudah bawa ganti juga pingin berangkat dari sini."


"Loh ... rumah mu kan dekat? "nggak, nggak," ucapku lagi.


"Jangan pelit lah ibumu loh tadi juga ngijini,"

__ADS_1


sembari berjalan mendahului aku.


"Ih .... kenapa ibu kasih ijin, wah ... nggak bener ini," omelku sembari menyimpan topi dan sepatuku.


__ADS_2