OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 96 . TEMU NGANTEN


__ADS_3

Melihat aku membuka pintu lebar lebar mas Rian hanya tersenyum dan terus menatapku.


"Ayo Pram" ajakku sembari menggandeng tangannya, tak menyahutiku tapi kini melihat wajahku dan tersenyum kemudian mengambil tisu.


"Jangan buat malu" sembari mengusap bibirku.


Begitu di tempat resepsi nampak ibu berbicang dengan laki laki bersurban dan banyak anak anak.


Seketika senyumku terkembang mengetauhi siapa yang datang "Abah ....rasa bahagia tak terhingga ternyata Abah datang juga.


"Langsung ku raih tangannya untuk salim dan untuk Pram hanya cukup menangkupkan kedua tangan nya.


"Selamat ya nak" ucap Abah.


"Maaf terlambat, tapi abah juga harus segera kembali sesuai keinginan mu, Abah juga membawa serta beberapa anak anak di pondok."


"Terimakasih Abah, kembali ku peluk Abah.


Kemudian Abah tersenyum "Aminkan, Abah akan berdoa untuk kalian" dengan khidmad Abah membaca doa.


"Amin..." kata penutup yang kami ucapkan setelah Abah selesai berdoa.


Hingga pukul dua siang saat rombongan Abah kembali pulang, beribu rasa terimakasih aku haturkan atas kedatangan Abah dan rombongan.


Kembali ke kamar dengan Pram, saat salah satu MUA memintaku untuk mengikutinya.


"Mas, kita rias di rumah sebelah saja, kalau dari rumah mas Rian kejauhan " ucap MUA ini sedikit melambai.


Hingga pukul tiga sore riasan ku selesai.


Memakai baju kemanten khas jawa timur berwarna hitam dengan payet benang emas dan kain bercorak senada.


MUA melambai ini tak henti menatapku "sempurna " ucapnya sembari memasang kalung melati dan menyelipkan satu-satu di telinga kanan dan kiriku kuncup kembang kantil.


Suara sound yang sedari tadi sudah mengalun dengan keras, mulai dari lagu dangdut, malaysia, keroncong, langgam jawa dan kini lagu khas dari cak Nun, Lir ilir yang di putar.

__ADS_1


Hingga pukul setengah empat sore lagu kembali di ganti, lagu langgam jawa khas temanten sebagai pembuka lagu inti kebo giro.


Dengan kode dari pihak wanita aku di arak keluar menuju jalan, nampak di depanku dua jejaka memegang kembang mayang dengan busana beskap jawa timur ran .


MUA melambai sibuk mengatur posisi para pengiring manten, pembawa kembang mayang, kemudian aku dan di belakang ibu beserta pengiring lainnya yang membawa begitu banyak hantaran.


Berjalan perlahan menuju tempat resepsi dan berhenti sejenak saat mendekati pintu masuk, begitu juga dengan rombongan Prameswari.


Diiringi Lagu kebo giro aku kembali melangkah masuk sembari memegang gantal ( daun siri yang diisi bunga pinang , kapur sirih , gambir dan tembakau hitam )


mataku bukan tertuju pada dua gadis yang membawa kembang mayang tapi gadis yang berdiri di belakangnya yang baru tadi pagi sah menjadi milik ku.


Setelah menukar kembang mayang dan melempar ke atap, kembali MUA mengingatkan aku untuk fokus ke acara berikutnya balang gantal dalam hitungan ketiga ternyata aku kalah cepat dengan Pram karena fokus dengan kecantikannya.


Acara demi acara terlewati, ngindak endog, sindur, kacar kucur, dulangan, bubak kawah.


Setelah semua terlewati kini aku dan Pram duduk di kuade dan dua ibu bersebelahan di samping kami hingga beberapa saat Pram memegang tangan ku untuk berdiri dan berharap aku mengikutinya sembari berbisik "mas tolong bilang pada pak Man untuk mengosongkan satu baris kursi depan hingga pesta ini selesai."


Seketika mas Rian mengikuti arah jari telunjukku dan paham akan itu, hingga beberapa saat kemudian aku dan Prameswari menunduk untuk memberi hormat.


Ternyata benar yang di ucapkan Pram, kini para leluhur duduk menempati bangku kosong yang terdepan.


Para tamu undangan datang silih berganti para sinoman sudah hilir mudik mengisi makanan dan membereskan piring kotor dan suara musik mengalun dengan keras benar-benar hajatan ala desa.


Masih pukul delapan malam mas Rian sudah seperti cacing kepanasan duduk tak tenang dan sesekali menatapku dengan aneh.


Tamu mulai berkurang saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, suara musik juga berhenti, penghuni bangku kosong deretan depan pun sudah pergi sejak setengah jam yang lalu.


Rasa capek yang tiba-tiba terasa dan kaki pegal ini karena sedikit lama berdiri.


Pihak MUA pun sudah menyuruh kami masuk ke dalam kamar dan langsung berpamitan pulang, membiarkan baju yang kami pakai di ambil esok siang.


Masih dalam balutan baju kemanten saat aku dan mas Rian memasuki kamar.


Dengan wajah letih dan riasan tebal ku membuat aku semakin terlihat sangat capek belum lagi hijab yang ku pakai berlapis ini.

__ADS_1


Masih duduk di tepi ranjang saat mas Rian ke luar dari kamar mandi dan sudah berganti dengan baju gamis dan sarung.


Melihatnya aku sedikit heran "mau di bantu ganti baju Pram!! "buih .... mendengar ucapan mas Rian badanku kembali panas dingin dan langsung berkeringat.


Belum aku menjawab mas Rian sudah membantuku melepas hiasan hijabku dan kemudian melepas kaitan hijabku dengan pelan.


"Hati hati mas, tadi ada beberapa jarum pentul" ucapku untuk mengurangi rasa gugup ku.


Ku lihat mas Rian tersenyum sembari melepas jarum pentul di hijabku.


Begitu hijab ku terbuka, mas Rian sedikit tekejut melihat lapisan dalam nya.


"Kapan selesainya Pram kalau berlapis begini?tapi tangannya sibuk melepas satu persatu jarum pentul dan kini yang terlihat tinggal rambutku yang di ikat.


Setelah urusan hijab selesai kini mas Rian berdiri sembari menatapku "sini ku bantu buka juga" ucap mas Rian.


"E .... kalau ini aku bisa mas, berjalan sedikit tergesa hingga tak sadar kalau memakai kain, setelah mengambil baju ganti aku bergegas ke kamar mandi toh ada hajat yang harus aku selesaikan juga.


Setelah hajat ku selesai dan mandi aku sedikit ragu untuk keluar kamar dan sedikit takut kalau mas Rian akan meminta hak nya tiba-tiba.


Semenit, dua menit aku masih duduk di kloset kamar mandi hingga sepuluh menit kemudian.


Tak ada tanda tanda pergerakan dari mas Rian dan suara apapun dari kamar ku.


Sedikit membuka pintu kamar mandi dan mengintip ke luar, sepi .... sedikit melongokkan kepalaku lebih keluar, sembari membawa baju yang aku lepas tadi, kini kaki ku melangkah sedikit keluar selangkah lagi.


"Benar benar sepi dan mas Rian? senyum ku sedikit tekembang saat melihat sosoknya tengah tertidur lelap sembari memeluk guling dengan suara nafasnya yang teratur.


Dengan perlahan aku melangkah mendekat ke arah ranjang dan naik dengan perlahan membaringkan tubuhku di sisinya dan menatapnya lekat.


"Ya, laki laki ini yang sedari kecil telah sabar mendampingiku, menerimaku dengan segala ke kurangan dan kelebihan ku.


Ku biarkan mas Rian tidur dalam lelap, senyumku terkembang saat mas Rian tiba-tiba tersenyum dalam mimpinya, sembari menatap wajah suamiku dan kini telah menjadi hak ku seutuhnya untuk memilikinya.


Tanpa terasa aku pun tertidur dengan lelap hingga pagi menjelang, terbangun saat sesuatu yang berat melingkar di pinggangku.

__ADS_1


Seketika tubuhku menegang dan tak berani bergerak dan berpura-pura kembali memejamkan mataku.


__ADS_2