
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, satu persatu rencana yang kami buat terus berlanjut, akhirnya kami membeli lagi sebuah lahan dan membangun untuk gudang.
Sawah yang kami kelola pun sebagian dari hasilnya kami produksi sendiri dan sebagian kami jual ke luar. Seakan tak percaya dengan kemajuan pesat yang kami alami. Tinggal rencana-rencana besar yang kami jalankan satu persatu. Tahun ini kami memulai pemugaran Mushola setelah melakukan pembangunan sumber mata air di sawah.
Pembangunan besar-besaran yang kami lakukan seakan mendapat dukungan dari warga kampung. Warga kampung tanpa kami minta pun sudah membuat jadwal sendiri untuk bekerja bakti tiap hari minggu.
Hingga tak terasa pembangunan Masjid ini sudah mendekati finish, sempat terjadi keanehan pada seorang pekerja, gangguan yang tak ku duga sama sekali. Panggilan para warga di siang hari membuatku terkejut saat seorang pekerja tak bisa menggerakkan badannya, tangannya kaku dan badanya juga sudah miring ke samping dan mulutnya tiba-tiba perot.
Tak ada yang bisa menjelaskan sampai semua ini terjadi, pertanyaan yang ku ajukan pun tak ada yang bisa menjawab. Akhirnya Pram pun harus turun tangan juga.
"Cek ... kenapa kamu juga usil," ucap Pram sembari memindai seluruh area Masjid ini.
Pram sedikit tersenyum saat melihat sosok berdiri di sudut halaman, sosok cantik, berkemben hijau lumut, berhias benang kuning emas, memakai mahkota kecil di kepalanya. Namun, Pram sedikit heran saat melihat sosok ini berjalan mundur, layaknya seekor ular.
"Aneh," penampakan yang berbeda dari penampakan yang sebelum-belumnya. Penampakan menawan bagi siapa saja yang baru melihatnya.
Sosok ini masih menatap Pram bukan tatapan menantang atau bermusuhan. Sekilas Pram paham tentang sosok ini. Ini seperti sosok bawaan seseorang.
Berjalan mendekat kearah pekerja ini.
"Itu milikmu?" tanya Pram pelan. Tak ada jawaban .
"Pak Mandor, tolong istirahatkan para pekerja dulu untuk beberapa saat," ucap Pram seketika.
Pekerja ini masih dengan posisinya tadi. Aku memegang bahunya sejenak. Berusaha mengembalikan tubuh pekerja ini kembali normal.
"Kenapa juga dengan mulutmu itu? Kau meludah di mana? Kembali Pram bertanya dan kembali tak mendapat jawaban.
Kini hanya hembusan napas Pram saja yang terdengar sedikit berat. Masih melihat sosok di sudut halaman Masjid dan mencoba untuk mengajaknya berbicara. Namun ini adalah sosok yang keras kepala. Tolong panggilkan Pak Man pinta Pram pada salah satu pekerja.
Sembari menunggu Pak Man datang Pram masih melihat sosok ini menyeringai. Sesaat Pram tersenyum. "Mulai menampakkan wujud aslinya," ucap Pram lirih.
Setelah cukup lama menunggu, Pak Man tak datang sendiri kini Pram melihat Kinara juga ikut.
"Ash ... anak ini," ucap Pram menggerutu.
Setelah berbicara beberapa saat dengan Pak Man, sesuai dengan permintaan Pram akhirnya Pak Man meminta para pekerja untuk pulang.
"Ibu, kelamaan," ucap Kinara.
__ADS_1
"Sosok nyasar Bu, kembalikan saja ke tempatnya, ini dari seberang jalan yang di bangun itu dan rupanya mencari tempat baru Bu!! Dan dia ... " ucapan Kinara terhenti seketika sembari mencari sesuatu.
"Sudah sebaiknya lekas Ibu sembuhkan dan Bapak ini juga tak sengaja meludah dan terkena sosok ini," ucap Kinara tanpa jeda.
"Sosok keras kepala," ucap Kinara lagi.
Nampak, Ibu cukup lama menyembuhkan pekerja ini. "Pulang, tempatmu bukan disini, Aku menolakmu, tak ada perjanjian atau apapun," ucap Ibu yang Kinara dengar.
"Ish, kenapa juga, sosok ini tak mau memaafkan pekerja ini?" Hem, seketika aku tersenyum.
"Tak ada maaf bagimu, karena kau sudah masuk dalam wilayahku dan tak ada tawar menawar pergi !! Atau ... ucap Kinara tiba-tiba. Ibu yang mendengar ucapan Kinara seketika tersenyum dan memberi hormat.
Tanpa banyak bicara lagi Kinara sudah memberi pelajaran pada sosok ini. "Pulang !! ucap Kinara lagi yang sudah di dampingi oleh leluhurnya.
Setelah itu nampak pekerja ini, sudah mulai membaik badanya sudah bisa di gerakkan, bibirnya sudah tak perot lagi dan jalannya sudah kembali tegap.
"Ayo Bu pulang," ajak Kinara tiba-tiba.
"Pak Man terima kasih," ucap Kinara sembari tersenyum.
Dalam perjalanan pulang Pram dan Kinara sama-sama terdiam hingga tiba di pertigaan.
"Bu ... akan ada kejadian aneh-aneh seperti ini karena tempat mereka terusik oleh pembangunan jalan itu, ada pula yang bertahan tapi ... Kinara menjeda ucapannya sesaat. Mereka akan menjahili siapapun itu," ucap Kinara lagi.
"Anak Ibu tambah pinter, cantik juga tambah gede, hati-hati dengan semua yang Kinara miliki," ucap Pram terhenti saat kami tiba di halaman rumah.
Memasuki rumah dengan tenang dan diam
memilih memasuki kamar masing-masing.
Pram tersenyum saat melihat Kinara naik ke atas.
"Tak terasa sudah mau masuk SMA," ucap Pram pelan dan masuk ke kamar.
Sesudah membersihkan tubuh Pram memilih berbaring di ranjang, masih mengingat kejadian tadi dan tentang Kinara. "Sudah waktunya," ucap Pram sembari tersenyum.
Hingga menjelang magrib Pram masih saja ada di tempat tidur, masih malas untuk turun dari ranjang. Suara ketukan di pintu memaksa Pram untuk turun. Dengan malas membuka pintu kamar.
Wajah dua pangeran kecilku kini sudah berdiri di depan pintu kamar.
__ADS_1
"Ada apa Aroin dan Lintang?" tanya Pram sembari menatap wajah mereka. Senyum mereka langsung terkembang begitu saja.
"Bu, ibu sakit?" tanya mereka hampir bersamaan .
"Ibu tidak sakit, hanya ingin istirahat saja," ucap Pram sembari memeluk mereka.
"Kenapa?" tanya Pram.
"Tidak ada apa-apa?" Arion yang menjawab.
"Ibu mau ikut kami keluar sebentar?" tanya mereka hampir bersamaan.
"Mau magrib ucap Pram pada mereka."
"Ayolah Bu, ini pasti akan asyik dan pasti ibu suka."
Mengikuti Arion dan Lintang, hingga sampai di teras rumah.
"Lihat langitnya Bu ! Dari kemarin Lintang dan Arion melihat ini baguskan?" ucap Lintang sembari tersenyum.
Kemudian mengajak Pram untuk duduk bersama mereka hingga beberapa menit.
"Bagus, Lintang suka melihat langit sore begini, Lintang suka warnanya Bu, indah."
"Bu ... ucap Lintang pelan.
"Ibu akan sering menjenguk kalau Lintang di pondok nanti?" tanya Lintang tiba-tiba dan itu membuat Pram sedikit mengerutkan kening.
"Lintang ... panggil Pram pelan, jika pergi ke pondok membuat Lintang merasa berat, Ibu tak memaksa Lintang untuk Mondok."
"Bukan begitu maksud Lintang Ibu, Lintang ingin Ibu menjengukku itu saja," ucapnya sembari menunduk.
"Pasti-pasti ibu akan menjenguk Lintang," ucap Pram sembari memeluk tubuhnya.
"Ayo, masuk sudah magrib," ajak Pram sembari tersenyum.
Begitu memasuki ruang tengah, kini Pram tersadar bahwa tahun depan Lintang akan pergi Mondok sesuai keinginannya, sejenak ada rasa sedih di hati Pram melepas Lintang kecil sedikit jauh dari rumah.
"Ibu ... suara Arion membuyarkan lamunan.
__ADS_1
"Ayo lekas bersiap, Bapak sebentar lagi
bersiap untuk shalat juga," ucap Arion lagi.